Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
73 : Sebelum Dia Membenci Kehidupan Yang Diberikan Untuknya.


__ADS_3

Rumah sakit dan Puskesmas terlalu jauh. Hingga Gautama memilih memberhentikan mobilnya di klinik bersalin yang dinaungi oleh keluarga Adiwangsa. Setelah itu, Gautama cepat-cepat mengendong sang anak memasuki klinik dan untungnya ini mendekati jam tutup, jadi tidak begitu banyak Ibu hamil.


"Tolong, dia pendarahan," ujar Gautama.


Para Bidan terlihat bingung. "Ta-tapi, Pak. Sebentar lagi---"


"Tolong. Demi Tuhan tolong anak saya. Rumah sakit dan puskesmas terlalu jauh. Saya benar-benar khawatir dengan keadaannya," jelas Gautama yang langsung meletakkan Mardiyah di brankar. "Saya sudah menghubungi ambulance setidaknya tolong lakukan pertolongan pertama pada anak saya."


Karena pendarahan Bidan membawa masuk Mardiyah pada tempat persalinan. Lantas meminta Gautama untuk menunggu di luar, sedangkan di dalam Mardiyah terus menerus mengeluh.


"Gumpalan darah."


Samar-samar Mardiyah mendengar Bidan saling berbincang. Kram parah benar-benar belum hilang dari perutnya. Ia rasanya tidak sanggup membuka mata lagi. Darah seperti tiada henti mengalir. Dia ... janin ini ... akan baik-baik saja 'kan? batinnya dengan air mata yang menetes. Kerudungnya telah di lepas, karena tadi Meera sempat memasangkan kerudung panjang berserta selimut yang menutupi kakinya.


Entah apa yang diberikan Bidan selanjutnya. Ia merasa sedikit membaik, tetapi rasa sakitnya masih terasa. Hingga salah satu Bidan keluar.


"Mohon maaf, Pak. Nona Muda harus segera di rujuk ke rumah sakit," ujar Bidan.


Terdengar suara ambulance mendekat. Maka dengan terburu-buru Mardiyah di bawah keluar dan di angkat memasuki ambulance secepatnya. Dan sebelum itu, salah satu Bidan yang menangani Mardiyah di minta ikut oleh Gautama untuk menjelaskan penenangan awal apa saja yang telah diberikan.


"Saya sudah memasang infus," ujar perawat yang ikut di dalam ambulance. Setelah itu, Mardiyah perlahan, hilang kesadaran, yang di dengarnya terakhirnya hanyalah itu.



Aldo memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang vila milik keluarga Adiwangsa. Mereka baru sampai sekitar pukul sembilan malam lebih, karena vila ini benar-benar jauh dari panti asuhan.


"Lo tunggu sini," ujar Aldo.


Saat Aldo keluar mendekati penjaga keamanan. Tidak lama keluar seorang pelayan, entah apa mereka bicarakan, tiba-tiba saja Aldo bergegas masuk mobil dengan cepat.


"Ada apa, Do?"


"Istri lo bener-bener ada di sini. Tapi sekarang dia ada di RS." Aldo menyalakan mesin mobilnya. "Kita otw ke sana. Gue juga nggak tahu istri lo kenapa."


"RS mana?"


Aldo perpikir. "Gue nggak tahu. Tapi coba kita datengin klinik-klinik terdekat yang dinaungi sama keluarga Adiwangsa."


Semua klinik benar-benar Aldo jadikan tempat perhentian untuk bertanya-tanya apakah ada keluarga Adiwangsa yang berkunjung ke mari. Lutfan benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan seorang sahabat yang begitu tidak bisa ia jelaskan baiknya lagi. Klinik pertama, sampai ke lima tidak ada. Hingga Aldo entah terpikirkan apa, juga mengunjungi klinik persalinan yang berada di pertengahan vila dan Adiwangsa hospital.


"Do, lo yakin?"


"Udah lo diam di sini. Ini klinik terakhir. Menurut gue kalau di bawa di Adiwangsa hospital langsung nggak mungkin."


Sekitar lima belas menit Aldo terlihat keluar dari klinik dengan berlari.


"Bener. Om Tama tadi ke sini." Aldo menyala kan mesin mobilnya. "Tapi ternyata istri lo di rujuk ke Adiwangsa hospital. Kata Bidan, dia pendarahan."


Deg.


Lutfan menghela napas pelan, pikirannya kalut. Kembali mengingat tentang dongeng terakhir Mardiyah, dan juga, klinik yang di kunjungi Aldo ini ... klinik persalinan. Jadi ... Mardiyah bener-bener hamil? Terus sekarang? Dia ... enggak mungkin. Dia pasti baik-baik aja, batinnya dengan menggeleng. Tangannya terangkat mencengkram erat rambutnya dengan menatap ke arah jalan.


"Gue bakal ngebut. Moga-moga nggak banyak lampu merah." Aldo menjeda dengan mengusap pucuk hidungnya. "Lo tenang. Insya Allah kita bakal cepet sampai sana."



Sekitar pukul sebelas malam. Dokter baru saja selesai menangani Mardiyah, dan telah di pindahkan ke ruang rawat VVIP atas permintaan Gautama. Tetapi Dokter masih belum menjelaskan keadaan Mardiyah secara detail.

__ADS_1


Hujan pun tiba-tiba saja turun. Langit entah mengapa mengundang tangis, padahal tadi bintang-bintang masih terlihat jelas di sekitar vila. Namun saat sampai ke kota besar awan-awan berkumpul dan langit pun tak lagi cerah.


Dari arah pintu masuk, terlihat Gumira yang baru saja datang dengan jas dokternya ia menghampiri Gautama dan Dokter yang menangani keponakannya.


"Dokter Gumira, dan Tuan Gautama. Saya ... turut berdukacita atas kehilangan yang telah di alami oleh Nona Muda Mahika." Dokter perempuan itu menjeda. "Beliau mengalami keguguran, akibat benturan yang cukup keras. Karena sebenarnya, kehamilan Nona Muda ini cukup rawan. Beliau sepertinya ..."


Gautama menyahut, "Sepertinya apa?"


"Kekurang nutrisi, dan stress berlebihan. Lalu benturan itu ... memicu gugurnya kandungan Nona Muda, Tuan."


Deg.


"Berapa usai kandungannya?"


"Lima minggu menuju enam minggu, Tuan."


Dokter perempuan itu telah pamit. Gumira langsung menatap sang Kakak yang tertunduk memegangi kepala.


"Benturan yang cukup keras." Gumira menatap datar Kakaknya. "Kak, Kakak dorong dia?"


Gautama terdiam.


"Dia nggak mungkin jatuh. Dan juga, kenapa Kakak nggak bilang kalau dia hamil?" Gumira merasa geram. "Atau jangan-jangan Kakak sengaja biar di kegugur---"


"Aku pun tidak tahu jika dia hamil!" Gautama berteriak, dengan napas yang tersengal-sengal ia menatap brankas Mardiyah. "Mana mungkin ... aku menyakiti anakku sendiri, Gumira?"


Gumira terdiam.


"Sekalipun aku menyetujui perceraian dia dengan cucu Kiai Bashir. Aku tetap tidak akan sejahat itu mengugur seorang anak yang sedang dia kandung, Gumira." Gautama menjeda. "Dia kesakitan. Kamu pikir ... aku tega melakukan risiko sebesar itu? Bahkan sebagai orang awam pun, aku tahu ... memaksa mengugurkan janin itu bisa berisiko membunuh Ibunya juga."


"Lalu ... benturan keras? Dia ..." Gumira tersadar. "Papa? Papa mendorongnya, Kak?"


"Astaga."


"Eghm."


Pandangan Gumira dan Gautama langsung beralih pada Mardiyah saat mendengar suara itu. Cepat-cepat Gautama bangkit dan berdiri tempat di samping sang anak.


"Ssshhh." Mardiyah menyentuh perutnya yang terasa begitu sakit. "Ah."


"Kamu mau minum?"


Pandangan Mardiyah beralih pada suara itu. Kemudian ia menggeleng pelan, netranya tiba-tiba saja berkaca-kaca, bibirnya pucat, kering terasa dahaga. Namun ia tidak ingin meneguk air.


"Di ... mana Meera?" lirih Mardiyah


Gautama mengusap dahi sang anak. "Meera siapa, Nak? Papa di sini."


"Pelayan."


Gautama menjawab, "Dia hanya pelayan. Tidak mungkin dia ikut bersama Papa."


Air matanya menetes. Orang yang tahu tentang kehamilannya hanya Meera dan gadis itu selalu membantunya menyembunyikan perut yang memulai membesar dengan memberi pakaian yang begitu longgar. Namun jika sudah seperti ini ... Mardiyah yakin, bahwa Gautama, Gumira dan Manggala tahu tentang kehamilannya.


Perutku sakit. A-apa dia baik-baik aja? ... Tapi kenapa, rasanya ... aku seperti menggunakan p*embalut? Apa darahnya nggak berhenti? batin Mardiyah dengan tangan yang mulai terangkat, meraba pelan perutnya.


"Nak ... kamu mau apa? Makan? Atau apa?"

__ADS_1


Mardiyah menggeleng pelan. "Apa ... di-a baik-baik saja?"


Gautama menatap Gumira. Tidak sanggup rasanya memberitahu fakta tentang semua yang tengah terjadi pada putrinya.


"Mardiyah." Gumira berhasil mengalihkan pandangan keponakannya dengan memanggil nama yang diberikan oleh Ibu panti asuhan. "Om bantu duduk dulu, ya? Biar kamu bisa sambil makan sama minum, Nak. Biar cepat pulih."


"Saya bertanya ..." Mardiyah memandang sayu Gumira. "Tapi kalian berusaha mengalihkan pertanyaan saya."


"Om sama sekali enggak---"


Mardiyah menyanggah, "Saya keguguran?"


"Nak, apa yang---"


Mardiyah menatap ke arah lain. "Anda sekalian terlalu berbelit. Apa susahnya menjawab iya?"


Tangisan Mardiyah tidak bisa terbendung lagi. Tangan kanannya perlahan-lahan terangkat menutupi sebagai wajahnya dari mata hingga hidung. "Hiks ... tolong ... ti-tinggalkan saya."


"Papa ... akan di si---"


Mardiyah menggeleng dengan terisak-isak. "Saya mohon ... tinggalkan saya ... sendiri hiks ... tolong."


Gumira menarik perlahan sang Kakak untuk keluar dari ruang rawat inap Mardiyah.


"Gumira tapi---"


"Kak, kakak mau ngapain?" tanya Gumira dengan memandang Gautama dengan sendu. "Kakak nggak akan bisa hibur dia. Ucapan Kakak nggak ada ada artinya. Karena yang merasa sakit dan menderita itu dia, Kak. Dia kehilangan ... anaknya. Kakak atau pun aku ... nggak akan pernah tahu, karena sampai detik ini, kita belum pernah kehilangan orang yang berarti dalam hidup kita."


Gautama terdiam sejenak. "Lalu kamu menyuruhku diam saja, Gumira? Dia sedang sendiri, dia butuh seseorang yang bisa menemani dia."


"Kak." Gumira mengambil duduk di kursi putih yang telah di sediakan. Malam ini benar-benar sepi, yang hanya ditemani derasnya hujan, hawa dingin merasuk masuk melalui tangannya. "Harusnya, kita nggak memaksa dia melakukan test DNA itu. Supaya Papa nggak tahu kalau Mardiyah adalah anak Kakak dengan Zanitha. Lalu di vila itu ... apa aja yang udah Papa lakuin, Kak?"


Gautama menggeleng.


"Kak ... pulangkan dia ke panti asuhan."


Gautama menggeleng, dan menatap lurus pada adiknya. "Tidak bisa, Gumira. Dia anakku."


"Lalu apa Kakak pikir, dia akan menganggap Kakak sebagai orang tua? Setelah melihat segala perlakuan Kakak ke dia?"


"Gumira jaga---"


Gumira menyanggah, "Untuk pertama kalinya. Setelah melihat keadaan Mardiyah. Aku jadi ingin tahu. Gimana cara Kakak memperlakukan Cecilia selama ini?"


"Kenapa kamu jadi membawa-bawa Cecilia?"


Gumira semakin memperdalam tatapannya. "Aku hanya ingin memastikan bahwa melepaskan Cecilia untuk Kakak, itu bukanlah sesuatu yang salah. Siapa tahu Kakak---"


"Gumira!"


Gumira dan Gautama saling tersulut emosi. Hingga akhirnya Gumira memilih bangkit, hendak meninggalkan pelataran rawat inap. Tetapi sebelum pergi Gumira berujar, "Kembalikan dia ke panti asuhan. Sebelum dia semakin membenci kehidupan yang sudah Kakak berikan untuk dia."


•••


Note:


• Usia kehamilan Mardiyah benar. Karena saat Lutfan dan Mardiyah pertama kali melakukan walau gagal keduanya sudah saling bertemu. Karena menurut Dokter sekalipun tidak sampai masuk jika sudah bertemu dan mengeluarkan itu bisa menyebabkan kehamilan. Dan gejala kehamilan seperti mual baru Mardiyah sadari saat hendak kabur dari vila.

__ADS_1


• Mohon maaf, berhari-hari jarang update because saiya puasa wkwkw. Seperti yang sudah saya bilang, saya akan fokus pada Beda Tiga Tahun. Lainnnya Insya Allah segera update.


Sekian. Semoga makin suka dengan Beda Tiga Tahun!


__ADS_2