Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
46 (1) : Sayang?


__ADS_3


Lutfan menepati janjinya.


Untuk selalu ada di saat Mardiyah merasakan lara akan takdir kehidupan ini. Bahkan tangannya tiada henti mengusap-usap lembut kepala sang istri yang terbaring di pangkuannya. Tidak perlu ia berucap dan bertanya, sebab air mata dari Mardiyah sudah menjelaskan semuanya.


"Lutfan ..."


"Hm."


Mardiyah bergerak, kepalanya mendongak menatap Lutfan. "Kamu sudah minum obat?"


Cewek ini ... Ya Allah. Bisa-bisanya Mar lo ... masih tanya gini? Lo masih peduli-in orang lain saat keadaan lo sendiri lagi nggak baik-baik aja kayak gini? batin Lutfan yang sebenarnya merasa tersentuh atas hal sepele yang ditanyakan oleh Mardiyah. "Nanti. Gue bisa minum sendiri."


"Maaf."


Mardiyah kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Lutfan.


"Maaf apa lagi sih?"


Tangan Mardiyah terangkat mengusap pucuk hidungnya. "Gara-gara masalah ini kamu sampai telat minum obatnya."


"Enggak. Apaan sih, Mar. Orang itu cuma obat pereda rasa sakit, nggak perlu di minum rutin juga."


Mardiyah mengangguk-angguk.


"Lutfan."


"Apa?"

__ADS_1


Jeda tiga detik Mardiyah berujar, "Saya boleh tanya?"


"Hm. Tanya sepuas lo."


Mardiyah mengigit bibir bawahnya, seakan tidak yakin bahwa pertanyaannya akan di jawab oleh Lutfan. "Gimana ..."


"Gimana apa?"


"Gimana perasaan yang kamu punya ..." Mardiyah menjeda dan berujar lirih, "Buat saya?"


Perasaan? Maksud dia? Perasaan a-apa? Perasaan gue ke dia? batin Lutfan yang tiba-tiba saja merasa jantungnya berdebar-debar. Tangannya pun terhenti mengusap-usap pucuk kepala istrinya.


"Kamu anggap saya istri 'kan?"


Lutfan masih membisu.


Lutfan menelan salivanya, menatap lurus pada rak buku yang masih tersusun buku-buku di sana. "Lo ... emang istri gue 'kan? Jadi, nggak salah kalau gue anggap lo istri 'kan?"


"Nggak salah." Mardiyah masih bersimpuh, tangannya menyentuh lantai dan ia mendongak lagi. "Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi."


"Perasaan yang lo tanya ini yang mana?" ujar Lutfan dengan memberanikan diri menatap sang istri. "Soalnya ... perasaan yang gue punya buat lo itu banyak."


"Banyak? ... Kalau gitu, semuanya. Semuanya kamu kasih tahu ke saya," pinta Mardiyah.


Belas kasih, sayang dan ... cinta. Haruskah semua ini ia tuturkan untuk Mardiyah? Lutfan rasa ini terlalu cepat. Sebab ia sendiri tak yakin, mengenai balasan apa yang akan ia terima dari Mardiyah. Entah penolakan, entah suka rela menerima yang berdasar atas kasih sayang Mardiyah pada Ummanya.


"Sa ... yang," jawab Lutfan yang melihat Mardiyah terdiam memandanginya. "Gue sayang sama lo."


"Sayang?"

__ADS_1


Lutfan mengangguk.


"Itu aja?"


Lutfan mengangguk dan melihat ke arah lain. "Iya. Nggak banyak ternyata. Cuma itu aja perasaan gue buat lo."


"Makasih ..." Mardiyah berdiri, mengambil duduk di atas ranjang. Lantas menarik kursi roda Lutfan untuk lebih mendekat padanya. "Kamu tahu nggak, Lutfan?"


"Apa?"


Lutfan memandangnya.


"Saya juga sayang sama kamu."


Pipi Lutfan memerah semu. Ucapan spontanitas Mardiyah benar-benar membuatnya terkejut dan malu. Bagaimana bisa perempuan di depannya ini berucap lantang tanpa pipi merah?


"Sebagai?"


"Hm?" Mardiyah tersenyum tipis, matanya terlihat bengkak, mukanya pun masih memerah. Namun dengan berani tangannya terangkat menyentuh rahang Lutfan. "Kamu maunya sebagai apa memang?"


"A-apaan sih!" Lutfan menatap ke arah lain dengan tangan Mardiyah yang masih menyentuh kedua rahangnya. "Ya terserah lo lah!"


"Suami," jawab Mardiyah.


Mardiyah mendekatkan dirinya pada pipi kiri Lutfan, lantas menempelkan bibirnya di sana. Satu detik, dua detik, hingga tiga detik dan terlepas, ia menatapi Lutfan dari jarak dekat.


"Sebenarnya ... yang harus merasa beruntung itu saya, Lutfan." Mardiyah tersenyum tipis, memundurkan dirinya. Lalu perlahan melepas tangannya dari rahang beralih menyentuh tangan kanan Lutfan. "Karena masih ada laki-laki yang menikahi saya."


Maksud lo apa, Mar? Lo nggak sadar diri apa? Kalau lo itu cantik? Bahkan Aryandra sama Aldo aja juga mau nikahi lo tanpa peduli sama nasab lo Mar, batin Lutfan yang geram saat mendengar ucapan Mardiyah yang seolah menyatakan bahwa tak satupun orang bersedia menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2