
"Karena masih ada laki-laki yang menikahi saya."
Mardiyah menatap lurus pada Lutfan yang masih belum berucap apa-apa. Sehingga ia kembali berujar, "Orang-orang bilang saya cantik. Saya bakal semudah itu untuk memiliki pasangan."
"Hm. Harusnya lo sadar. Yang di bilang mereka bener," ujar Lutfan.
Mardiyah mengangguk. "Saya setuju. Tapi kalau hanya mengandalkan paras saja, sudah sendari awal saya menikah. Bahkan saya enggak akan jadi istri kamu sekarang, Lutfan."
"Terus jadi istri siapa?"
Mardiyah tertawa ringan. "Orang lain? Mungkin."
Lutfan terdiam.
"Lutfan ..."
"Hm."
"Mari kita jalani kehidupan pernikahan ini dengan sebenar-benarnya," lanjut Mardiyah.
Lutfan melihat ke arah lain, tangannya masih di sentuh oleh Mardiyah. "Dari awal kan kita emang nikah beneran. Lo pikir bohongan?"
"Tapi kamu kayak nggak serius." Mardiyah menyentuh pipi kiri Lutfan meminta sang suami menatapnya lagi. "Buktinya sekarang kamu nggak mau lihat saya."
"Nih. Gue lihat kan?" Lutfan memandang Mardiyah. "Udah kelihatan serius."
Mardiyah mengangguk dan membisu sejenak.
"Saya mau hamil."
__ADS_1
Deg.
Astaghfirullah. Jantung gue. Bentar-bentar telinga gue nggak salah dengerkan?! Nggak salah 'kan?! batin Lutfan dengan mematung menatapi bibir Mardiyah, kalimat yang di ucap oleh sang istri masih terngiang. "A-apa? Lo tadi bilang apa?"
"Semua orang yang menikah, pasti mau punya anak 'kan?" Mardiyah menjeda. "Saya nggak keberatan untuk hamil secepatnya."
"Mar ... lo apaan sih. Kenapa lo jadi kayak gini?"
"Gini gimana? Pembicara tentang keturunan nggak asing di antara suami dan istri." Lutfan terlihat membuang muka, enggan menatapnya lagi. "Kecuali kalau kamu merasa saya ini nggak menarik, dan nggak bisa buat kamu merasa ingin melakukan itu."
Lutfan terdiam, tangannya spontan melepas genggaman Mardiyah. "Mar ... lo nggak bisa kita nggak bicarain ini?"
Mardiyah menggeleng. "Nggak bisa. Saya harus bicarain ini sekarang."
"Kenapa harus sekarang sih?"
Netra Mardiyah berkaca-kaca lagi. "Seenggaknya kalau saya hamil, mereka semakin nggak berhak atas diri saya Lutfan."
"Saya tahu, Lutfan. Tapi apa kamu nggak lihat? Pak Manggala nggak peduli tentang hak nasab saya. Beliau bahkan mau bawa saya." Mardiyah menatap ke arah lain, tangannya mengusap-usap air mata di pipi yang menetes lagi. "Kamu pikir mereka bohong? Kamu lupa mereka siapa? Sekalipun Pak Manggala dan Kiai Bashir teman karib, tetap aja Lutfan. Karena masalah ini pun Pak Manggala berani menentang Kiai Bashir."
Lutfan terdiam.
"Maaf." Mardiyah menunduk, menghela napas pelan. "Harusnya Ibu saya nggak nggak ninggalin saya di tempat Umma. Jadi sampai kapan pun hubungan Kiai dan Pak Manggala akan tetap baik. Nggak akan kejadian kayak gini. Kamu juga nggak akan merasa kasih sayang Umma terbagi untuk saya."
Lutfan berujar, "Diem, Mar. Gue nggak suka lo minta maaf."
"Bashir."
__ADS_1
Bashir memandang lurus pada Manggala.
"Saya akan menunggu satu sampai dua minggu. Atau jika mungkin, satu bulan sekali pun. Saya hanya perlu memastikan bahwa cucu saya itu tidak hamil," ujar Manggala.
Sarah yang berada di balik dinding hanya sanggup terdiam dan mematung. Orang-orang benar, berurusan dengan keluarga Adiwangsa bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan hukum agama pun tidak akan di pedulikan, di anggap angin lalu saja.
"Jangan menjelaskan lagi tentang nasab cucu saya." Manggala menatap tajam Bashir. "Karena saya sudah tahu. Dan saya tetap ingin membawa cucu saya pergi dari tempat ini."
Bashir berujar, "Saya tidak berhak atas cucumu, Manggala. Minta izin lah membawa cucumu pada orang yang berhak."
"Hm. Cucumu yang lumpuh itu 'kan?" Manggala menatap anak-anaknya. "Gumira, kamu pernah menangani Lutfan-lutfan itu 'kan?"
"Iya, Pa."
Manggala mengangguk. "Secepatnya Papa ingin menemui dia. Anggaplah Papa berbaik hati meminta izin terlebih dahulu."
"Pa." Manggala melihat pada Gautama. "Tolong, jangan membawa paksa Mardiyah."
"Membawa paksa bagaimana sih, Tama? Papa berniat izin ini pada cucu Kiai Bashir," jawab Manggala.
Gautama menelan ludahnya, memberani diri untuk menatap tegap pada sang Ayah. "Biarkan dia hidup di sini, Pa. Dia memiliki keluarga di sini. Dia sudah menikah. Bagaimana bisa Papa tega memisahkan dia dengan suaminya?"
Manggala tiba-tiba tertawa, bergantian menatap Gautama dan Bashir. "Enggak-enggak. Papa nggak berniat memisahkan istri dari suaminya, Tama. Papa hanya berniat menyelamatkan cucu Papa dari pernikahan yang merugikan ini."
"Pa, cukup. Bukannya Papa nggak terima kalau Mardiyah adalah anak di luar pernikahan? Jadi, buang dia saja. Jangan pernah anggap dia ada," ujar Gautama.
Manggala berdecak dengan menggeleng. "Buang katamu? Kalau kamu berniat membuang dia untuk apa melakukan test DNA, Tama? Kamu berniat mengakuinya untuk diri sendiri? Dan menyembunyikannya dari Cecilia?"
Gautama diam.
__ADS_1
"Bashir." Tatapan Manggala beralih menatap Kiai Bashir. "Minta lah pada Sarah anakmu itu. Untuk merinci semua biaya kehidupan cucu saya selama di panti asuhan ini. Karena saya sama sekali tidak mau berhutang sepeserpun padamu."