
Pagi harinya tidak jauh berbeda dari sebelum menikah. Saat Lutfan izin berangkat salat bersama Abian, Mardiyah pun berlalu ke dapur umum, untuk membantu Salsa dan lainnya memasak di sana.
"Mbak Mar ..."
"Ya, Sal?"
Salsa berdeham. "Sampean beneran ... nikah sama Mas Lutfan?"
"Iya."
"O-oh." Salsa sedikit takut. Sebab jawaban Mardiyah hanya mengiyakan itu pun datar sekali. "Se-selamat atas pernikahan sampean, Mbak."
"Iya. Makasih." Mardiyah kembali sibuk mengaduk-aduk teh yang berada di baskom. Setelahnya ia meminta pada Inayah untuk mencicipi juga. Ternyata pas, tidak terlalu manis. Detik berikutnya, Mardiyah mengambil duduk, sejenak istirahat di kursi kayu.
"Kak Mar ..."
Mardiyah menengok menatap Inayah. "Apa?"
"Bang Lutfan ... kenapa? Sa-sakit apa? Kok enggak bisa jalan?"
"Kecelakaan, Nay. Insya Allah nanti sembuh kok. Do'ain, ya?" Mardiyah tersenyum tipis dan kembali menyandarkan punggung pada kursi. "Biar bisa ajak kamu, Kirana, Abian sama yang lainnya buat jalan-jalan lagi."
"Aamiin, Kak."
Salsa mendekat. "Mbak Mar, kertas minyaknya habis. Aku lupa beli. Aku---"
"Aku ada. Di asrama. Tunggu sini," ujar Mardiyah yang langsung berdiri, menuju asramanya. Namun dalam perjalanan ia melewati parkiran wanita, ia melihat ada mobil masuk. Mungkin, penyumbang?
Mardiyah meneruskan jalannya sampai pada asrama, ia membuka pintu kamarnya. Cepat-cepat mengambil kertas minyak di sana, dan sejenak ia tidak keluar. Di pandanginya seluruh ruangan ini, mengingatkan pada masa remajanya, di mana asrama ini baru terbangun dan di mana untuk pertama kalinya ia tidur sendiri tanpa Umma Sarah.
Dan sekarang, kamar ini bukan menjadi miliknya. Mungkin akan di tempati oleh Inayah atau Kirana atau yang lainnya. Sebab ia telah menikah, tidurnya pun tidak lagi di asrama, melainkan di kamar suaminya, Lutfan.
Bu, aku sudah menikah, batin Mardiyah yang langsung bangkit, berlalu meninggalkan asrama dan menuju ke dapur lagi.
"Wes aku aja yang bungkus Mbak. Sampean di panggil tadi sama Umma Sarah," ucap Salsa.
"Di panggil?"
Salsa mengangguk. "Iya. Sampean di suruh ke kantor."
Subuh pun telah usai. Saat Mardiyah perjalanan ke kantor panti asuhan, di lihatnya sekeliling masih gelap, mentari pun belum terbit dan hawa dingin menyapu kulit wajah dan punggung tangannya.
Dingin, batin Mardiyah yang mulai melangkahkan kaki di pelataran kantor. "Assalamualaikum, Umma."
"Waalaikumussalam."
__ADS_1
Bukan penyumbang. Bapak Gautama dan Dokter Gumira datang lagi, Mardiyah sejenak mematung, sebelum tangan kirinya di tarik oleh Umma Sarah hingga ia tersadar, berakhir memasuki kantor.
"Nak," ucap Bapak Gautama.
Mardiyah diam, menunduk.
"Mari melakukan test DNA," lanjut beliau.
Mardiyah mengambil dan membuang napas sejenak, lantas berujar, "Jika akhirnya, saya terbukti adalah darah daging anda. Apa yang akan anda lakukan, Pak?"
"Tinggal lah bersama saya," jawab Bapak Gautama.
Mardiyah mendongak---berani menatap lurus pada Bapak Gautama. "Anda tidak lupa 'kan? Bahwa saya sudah menikah."
"Saya tidak lupa, Nak. Kamu bisa membawa suamimu juga jika kamu mau." Bapak Gautama menjeda, sejenak melirik Dokter Gumira. "Tapi jika boleh saya berkata jujur, saya tidak ingin kehidupan anak saya berakhir seperti ini."
"Seperti ini apa maksud Pak Gautama?" sahut Umma Sarah.
Bapak Gautama menjawab, "Harus menikahi orang cacat yang---"
"Berhenti!" Mardiyah spontan berteriak. Ia tidak menyukai kata-kata hinaan yang keluar untuk Lutfan, apalagi jika itu akan menyakiti Umma Sarah. "Tolong. Apa anda tidak sadar? Tempat yang anda kunjungi sekarang adalah panti asuhan, kawasan ini milik mertua saya bukan kawasan anda atau kawasan milik keluarga Adiwangsa. Dan jika Bapak bisa bersopan santun, saya meminta jangan mengeluarkan kata hinaan untuk suami saya."
Dokter Gumira terlihat mengusap punggung sang Kakak. "Nak, maksud Kakak saya bukanlah menghina suamimu."
"Lalu?" Pandangan Mardiyah berubah menatap Dokter Gumira. "Saya tidak tuli Dokter. Saya mendengar sendiri Pak Gautama menyebut suami saya cacat."
Dari arah pintu masuk terdengar suara roda yang bergesekan dengan tanah. Lima detik kemudian terlihat Lutfan yang datang sendirian, tanpa Abian, tanpa siapa-siapa. Sehingga spontan Mardiyah menghampiri suaminya.
"Lutfan, kamu ngapain ke sini?"
Lutfan menatap lurus tidak pada Mardiyah melainkan pada dua orang yang duduk di sofa. "Gue mau masuk. Barangkali lo bolehin juga menyambut ... tamu?"
"Tapi---"
"Nggak boleh?" sanggah Lutfan.
Mardiyah mendorong kursi roda Lutfan untuk masuk. "Boleh."
Kantor Umma Sarah semakin canggung dan sedikit memanas. Kursi roda Lutfan tepat berada di sebelah Mardiyah, sedang Bapak Gautama dan Dokter Gumira terdiam memandangi Lutfan.
"Silakan lanjut bicara, Pak, Dok," ujar Lutfan.
Bapak Gautam membuka pembicaraan. "Saya meminta pada Nak Mardiyah untuk menjalani test DNA. Apa Nak Lutfan mengizinkan?"
"Silakan. Jika istri saya tidak keberatan Pak," jawab Lutfan dengan berganti menatap Mardiyah. "Kamu ... mau?"
Kamu? batin Mardiyah yang tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir suaminya. Apa ia tidak salah dengar? Lutfan menggunakan kata kamu dengan dirinya? Ah, mungkin hanya formalitas di hadapan orang-orang.
__ADS_1
"Mau. Kalau kamu mengizinkan."
Lutfan kembali menatap Bapak Gautama. "Pagi ini testnya?
"Iya."
"Di Adiwangsa hospital?"
"Iya. Tidak apa-apa 'kan, Nak Lutfan?"
Lutfan mengangguk. "Asal Bapak menjamin keselamatan istri saya. Karena saya merasa khawatir tentang tingkah anak Bapak yang bernama Rajendra dan Abhimana, saya dengar-dengar mereka berdua tidak stabil dalam emosi, saya hanya takut kedua anak Bapak itu menyakiti istri saya. Dengan alasan marah karena Mardiyah adalah anak dari simpanan Bapak."
"Padahal sebenarnya tidak 'kan, Pak? Jelas anda lebih dulu mengenal mertua saya di banding Ibu Cecilia istri anda sekarang," lanjut Lutfan.
Dokter Gumira menyahut, "Nak Lutfan, saya tahu mungkin kamu mendengar ucapan Kakak saya. Tapi apa kamu sadar? Bahwa kamu sedang berlaku tidak sopan pada mertuamu sekarang?"
"Test DNA belum dilakukan, Dokter. Kenapa anda seakan-akan menganggap bahwa istri saya adalah keponakan anda?" Tangan Lutfan di sentuh oleh Mardiyah ucapannya tidak berlanjut lagi, ia mengalihkan pandangannya pada Umma Sarah.
Mardiyah berujar, "Setelah sarapan bersama anak panti asuhan. Saya akan berangkat bersama Bapak dan Dokter. Namun jika tidak keberatan, boleh saya mengajak suami saya?"
Dia ... mau ngajak gue? batin Lutfan yang memandangi Mardiyah heran. Mengapa harus mengajaknya? Jelas ini akan merepotkan.
"Boleh, Nak," sahut Bapak Gautama.
Mardiyah bangkit. "Kalau begitu. Bapak dan Dokter boleh menunggu di tempat makan bersama laki-laki. Jika tidak keberatan." Setelah mengucap itu Mardiyah pamit dengan mendorong kursi roda Lutfan keluar dari kantor panti asuhan.
"Lo ngapain ngajak gue?"
Kembali lagi seperti semula, batin Mardiyah dengan tersenyum tipis. "Bukannya kamu mau memastikan kalau Rajendra dan Abhimana tidak akan menyakiti saya? Maka lebih mudahnya kamu ikut saja."
"Ngerepotin lo nanti."
"Kata siapa?"
"Gue gini lho."
Beberapa anak-anak menyapa Lutfan saat melewati tempat makan bersama laki-laki. Sedang Mardiyah hanya tersenyum menanggapi dan berucap, "Lutfan ... saya nggak mau berangkat sendiri. Apa kamu tega ninggalin saya sendiri?"
"A-apa sih! Bukan masalah teganya, Mar. Gue ini cuma takut ngerepotin lo aja."
Mardiyah tanpa sadar menggeleng. "Saya nggak merasa kerepotan sama sekali."
"Yakin lo?"
"Iya. Kalau nggak yakin saya nggak mungkin ajak kamu." Saat telah sampai di depan rumah Umma Sarah. Mardiyah sengaja menunduk, mendekat wajahnya pada Lutfan. "Mau, ya?"
"I-iya." Lutfan membuang muka, menghindari kedekatannya dengan Mardiyah. "Demi Umma. Gue mau ikut, buat jagain lo."
__ADS_1