Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 32 : Terjatuh


__ADS_3

Sesuai yang di minta oleh Mardiyah tadi, saat asar sampai magrib ia salat berdua bersama Lutfan. Sebenarnya akhir-akhir ini ia heran, mengapa Lutfan selalu terbata-bata jika berbicara dengannya? Bahkan terkesan canggung. Padahal Mardiyah sudah melakukan beberapa kontak fisik, seperti ... ciuman.


Ia lakukan itu, supaya Lutfan merasa rileks, tidak canggung dan nyaman kembali bersamanya. Namun semua terbalik, Lutfan semakin tidak mau berdekatan dengannya. Bahkan tidak sengaja menyentuh luka pun Lutfan memintanya menjauh.


Bakda magrib Umma Sarah dan Ummi Salamah datang. Mardiyah meminta izin keluar, untuk sekadar mencari udara segera di sekitar taman-taman rumah sakit. Lalu-lalang masih terlihat beberapa dokter dan perawat, niat hati ingin turun dari lantai ruangan Lutfan, mengunakan tangga yang tersedia.


Namun cerobohnya, ia tidak mendengar langkah kaki sama sekali dan na'asnya ia menabrak orang yang baru saja menaiki tangga. Hingga ia tidak seimbang, dan terjatuh terduduk, sikunya terbentuk tembok dengan cukup keras. Bahkan ia merasa ini memar atau mungkin berdarah.


"Astaga ... maafkan saya." Suara seorang pria yang pernah ia dengar. Tetapi ia lupa di mana, ia tidak berniat mendongak merasakan sikunya yang benar-benar sakit. "Gumira, tolong bawa di ke ruanganmu."


"Ayo, Nak. Hati-hati, saya bantu," ujar salah satu pria lagi, yang bernama Gumira. Mardiyah baru sadar, ternyata ada dua orang.


Saat Mardiyah sudah benar-benar berdiri dan menatap lurus, netranya langsung tepat melihat seseorang yang di kenalinya. Pria paruh baya itu berambut hitam legam, bola mata cokelat, bulu mata panjang serta alis yang tebal, bibir tipis dengan tubuh yang masih terlihat gagah, menatapinya dengan khawatir.


Keluarga Adiwangsa? Bapak Gautama dan Dokter Gumira? batin Mardiyah.


Gautama terlihat aneh. Bahkan tiba-tiba saja beliau hendak menyentuh bahu kirinya berniat membantu.


"Tidak usah, Pak. Saya bisa berjalan sendiri," tolak Mardiyah.


Gautama melihat pakaian Mardiyah. Yaitu, outer putih yang merembes cairan merah. "Sikunya berdarah, Gumira. Cepat obati dia."


Mardiyah memasuki ruangan yang sama sekali tidak di kenalinya. Jelas ini adalah tempat di mana pemilik Adiwangsa hospital untuk bertugas, sangat mewah. Walau dominan putih, tetapi barang-barang di dalamnya cenderung emas mengkilap.


"Bisa tolong buka pakaian luarmu ini, Nak?"


Mardiyah terdiam sejenak. "Maaf. Apa tidak ada perawat atau dokter perempuan? Saya ... merasa tidak nyaman, Pak. Jika tidak ada, saya bisa mengobati luka saya sendiri."


Gautama tiba-tiba saja bangkit, entah beliau ke mana. Namun selang lima detik, beliau masuk membawa seseorang. Mungkinkah perawat?


"Nona, bisa saya melihat lukanya?"


Mardiyah masih tidak bergerak, ia menatapi Gautama dan Gumira. Keduanya tersadar, dan menjauh dari jangkauan. Beberapa menit berlalu, luka Mardiyah telah tertutup sempurna. Ia pun sudah merasa sedikit membaik.


"Terima kasih, Pak. Maaf atas kecerobohan saya tadi."


Gautama tiba-tiba saja bangkit. "Tidak perlu meminta maaf. Saya yang ceroboh. Dan sepertinya ... saya pernah bertemu denganmu."


"Saya dulu adalah staf Nyonya Harsa."


"Ah, iya." Gautama menatap sejenak pada Gumira. "Dia datang membantu di pernikahan Callista dan Maheer."


"Saya permisi, Pak."

__ADS_1


Saat Mardiyah ingin keluar, Gautama menahannya dengan berujar, "Sebentar. Kamu tinggal di mana?"


"Untuk apa Bapak ingin mengetahui tempat tinggal saya?"


Guatama terdiam sejenak. "Sebagai tanda permintaan maaf saya akan mengantarmu pulang, Nak."


"Tidak usah, Pak. Saya benar-benar sudah membaik." Mardiyah menangkup tangan dan kembali berujar, "Saya permisi."


Gautama hendak berucap lagi. Namun di dahulu oleh sang Adik, Gumira Adiwangsa berujar, "Nak, apa ada seseorang yang sakit? Mengapa malam-malam begini berada di lantai 3 VIP?"


Mardiyah sedikit menunduk. "Iya."


"Kalau begitu kami akan mengantarmu, sebagai tanda permintaan pada keluargamu. Karena noda darah di siku bajumu tidak bisa di tutupi oleh apa pun," jelas Gumira.


Mardiyah menggeleng. "Saya bisa menjelaskan sendiri, pada suami saya nanti."


Gautama Adiwangsa menampilkan mimik wajah terkejutnya saat mendengar kata suami. Mardiyah benar-benar tidak memahami tatapan itu. Dan dengan senyum tipis Mardiyah kembali berujar, "Bapak Gautama dan Dokter Gumira, anda sekalian tidak perlu repot-repot. Saya juga yang ceroboh jalan tanpa melihat. Sekali lagi, terima kasih. Saya permisi."


Mardiyah keluar. Saat menutup pintu ia sedikit merintih kesakitan, sikunya terkena ganggang pintu. Samar-samar juga telinganya mendengar.


"Gumira, dia sudah menikah."


Pembicaraan macam apa itu? Seorang Adiwangsa membicarakan tentang dirinya? Sangat-sangat tidak masuk akal. Apa tidak ada perbincangan penting lainnya?


Langkah kaki Mardiyah terhenti. Sebentar. Apa Gumira Adiwangsa membicarakan tentang dirinya? Perempuan itu? Siapa? Beliau menyamakan dirinya dengan siapa? Tidak mungkin ... tidak mungkin 'kan? Terlalu jauh jikalau pikirannya merogoh pada keluarga terhormat itu.


"Ada apa, Mbak? Kenapa berdiri di depan ruangan ini?"


Mardiyah tersadar. "Ah, tidak ada apa-apa, Suster."


...🌺...


"Dari mana aja lo? Lama banget. Nggak inget jam, hah? Mana nggak bawa hp lagi! Mau bikin Umma gue khawatir?"


Lutfan mengomelinya. Karena ternyata Umma Sarah dan Ummi Salamah sudah pulang beberapa menit yang lalu. Sejujurnya ia lupa membawa gawai, bukan sengaja meninggalkan.


"Maaf, Lutfan. Saya lupa bawa ponsel," ujar Mardiyah langsung mengambil duduk di sofa.


"Hp aja lupa. Mikirin apa sih lo?"


Mardiyah masih memikirkan tentang pembicaraan kedua Adiwangsa itu. "Maaf, Lutfan," ujarnya.


"Maaf-maaf mulu!"

__ADS_1


Mardiyah bangkit saat merasa ingin membuang air kecil, dan sesaat ia berbalik. Lutfan tiba-tiba saja berujar, "Mar! Itu ... baju lo? Darah? Siku lo berdarah?!"


"Ah, ini ... tadi. Iya." Mardiyah mengangguk-angguk. "Tapi, saya baik-baik aja kok."


"Baik-baik aja apanya? Sini lo!" Mardiyah menggeleng. "Mar, Ya Allah ... sini. Lo mau gue turun? Gue bisa ke san---"


"Lutfan, saya mau ke kamar mandi sebentar saja. Tolong jangan marah-marah, saya akan memberitahu kronologinya nanti," ujar Mardiyah dan memasuki kamar mandi.


Lutfan berdecak kesal. Bagaimana bisa siku itu berdarah? Bahkan sebagian outer-nya kotor. Apa dia jatuh? Apa dia di lukai seseorang? Di dorong atau apa? Lutfan benar-benar hampir gila, menunggui Mardiyah yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Mar! Masih lama?" teriaknya.


Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Mardiyah melangkah pelan dan mengambil duduk tempat di samping Lutfan. "Saya tadi jatuh," jelasnya.


"Cara lo jatuh gimana? Terus lo jatuh di mana? Sampai berdarah gitu lho! Terus juga lo jalan itu yang bener dong! Lihat-lihat kanan kiri! Masa gitu doang lo bisa jatuh, sih!"


Mardiyah menatap datar. "Kamu cerewet, Lutfan."


"Ya-ya namanya gue khawatir!" Lutfan menggeleng-geleng. "Ma-maksud gue ... gue khawatir Umma gue sedih. Kalau beliau lihat lo luka gini beliau bisa nangis. Ngerti nggak sih lo?"


"Iya. Maaf." Mardiyah bangkit, menarik tirai hingga tertutup sempurna hanya dirinya dan Lutfan yang berada di dalam. Kemudian ia membuka outer putih yang digunakannya, berlanjut membuka kancing gamisnya dengan sesekali merintih kesakitan. "Ah, masih sakit."


"Eh tunggu-tunggu. E-lo mau ngapain?"


Mardiyah kembali duduk dan menatap Lutfan. "Kamu tadi bilang khawatir. Saya mau nunjukin lukanya."


"Ya-ya tapi ... lo serius? Pakai buka ... buka i-itu gamis lo segala?"


Mardiyah mengangguk. "Kalau saya lipat nanti malah sakit. Tadi di obati juga saya lepas separuh gamis."


Obati? Di obati? batin Lutfan dengan otak yang mulai berpikir yang tidak-tidak. "Siapa yang ngobati?"


"Perawat." Mardiyah telah membuka satu kancing, dua kancing, hingga empat kancing terbuka terlihat sisi kulit putih mulus lengannya yang tersembunyi. Benar-benar indah tanpa celah, sayangnya bagian atas masih tertutupi oleh kerudung.


Masya Allah, kayaknya ... dia beneran bidadari deh, batin Lutfan lagi.


"Kamu nggak mau tahu perawatnya laki-laki atau perempuan?"


Lutfan langsung tersadar, menatap Mardiyah tepat di netra. "Gue udah tebak cewek pastinya."


"Enggak."


"Apa?!" Lutfan langsung berteriak. "Gue tahu, Mar. Kalau masalah kesehatan dan gini-gini boleh bersentuhan cowok-cewek. Tapi kalau lukanya nggak separah itu lo ... lo kan bisa ngobati sendiri 'kan? Atau minimal lo usah cari perawat cewek kek. Kalau misal nggak nemu lo bisa balik ke sini, biar gue yang obati. Astaghfirullah, Mar!"

__ADS_1


"Kamu semakin cerewet, Lutfan." Mardiyah tersenyum tipis dengan menyikap lebih lebar gamisnya di bagian siku. "Saya becanda. Jelas perempuan yang mengobati."


__ADS_2