Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
86 :


__ADS_3

"Tadi aku mampir ke tempat cctv." Lutfan melepas kaos hitam yang dipakainya hingga ia telanjang dada. Lalu meletakkan tepat di keranjang cucian kotor. "Nggak sengaja lihat, tadi siang ada Aryandra ternyata ... kamu ketemu dia?"


"Nggak sengaja."


"Oh." Lutfan beralih menuju meja abu-abu, tempat di mana kaos baru yang selalu Mardiyah siapkan di sana sebagai baju gantinya. "Ngomongin apa aja?"


"Nggak bicara apa-apa."


Lutfan telah selesai berpakaian. Ia menatap lurus sang istri, dengan mengangguk pelan. "Jadi diem-dieman sambil tatapan gitu?"


"Nggak juga. Dia ke sini mau ketemu Umma, bukan ketemu aku, ngapain juga aku tatapan sama dia?" jelas Mardiyah.


"Oh. Jadi yang aku lihat di cctv itu cuma saling tatap aja karena nggak sengaja ketemu gitu?"


Mardiyah bangkit dari duduknya. Ia kesal. Kenapa pertanyaan Lutfan cenderung singkat dan menyudutkan seperti ini? "Iya. Kan aku sudah bilang nggak sengaja ketemu, Lutfan. Aku habis dari asrama Inayah. Terus niat ke dapur umum, ternyata ada dia. Ya udah cuma ketemu aja. Siapa juga yang saling tatap? Kamu mah ngeselin nuduh-nuduh aku!"


"Astaghfirullah." Lutfan seketika merubah ekspresinya dengan tertawa ringan. "Aku cuma tanya, Mar. Siapa yang nuduh?"


"Habisnya pertanyaan kamu ngeselin. Mukamu juga waktu tanya datar gitu, mata kamu juga natapnya tajam banget. Aku kan jadinya takut," jelas Mardiyah.


Lutfan menggeleng pelan. "Takut apa, hah? Emang pernah aku marah?"


"Itu tadi sebagai contohnya." Mardiyah berjalan ke arah belakang Lutfan lalu mendorong kursi roda ke depan cermin. "Kalau bisa coba kamu ulangi lagi. Sambil lihat wajah kamu di kaca. Serem tahu. Kamu kelihatan antagonis banget, kayak laki-laki di series-series yang suka nyiksa istri---"


"Astaghfirullah, Mar! Kok kamu sama-samain aku sama mereka Ya Allah nauzubillah, jangan sampai!" Lutfan mendongak menatap Mardiyah. "Kamu mah, istighfar cepat!"


"Iya-iya maaf. Astaghfirullah al azim."


Tangan Lutfan reflek terangkat mencubit gemas pipi kanan Mardiyah. "Dasar kamu ..."


"Jangan tanya gitu lagi. Aku nggak suka di tuduh-tuduh."


Netra Lutfan melebar, tangan berhenti mencubit pipi sang istri saat melihat raut wajah sedih itu. "Ya Allah ... aku nggak nuduh, aku cuma tanya, Mar. Supaya semuanya jelas. Kalau aku tahu terus aku milih nggak tanya, berarti ke simpulannya aku nuduh kamu. Tapi kalau aku tahu, terus aku milih tanya supaya dapat kejelasan, berarti aku nggak nuduh kamu. Aku cuma minta penjelasan singkat dari kamu, selebihnya aku percaya, kamu nggak mungkin macam-macam." Yang ada cowok songomg itu yang macam-macam. Untung aja nggak sampai pegang-pegang. Kalau sampai berani-berani pegang-pegang Mardiyah lagi, nggak segan gue laporan dia ke polisi. Kurang ajar banget, lanjut Lutfan dalam hati.


"O-oh gitu."


Lutfan mengangguk. "Iya, gitu." Mardiyah terdiam dengan berdiri tegak. Sedangkan Lutfan membalik kursi rodanya menghadap pada sang istri. "Mar, coba duduk di kasur bentar."


"Ngapain?"


"Udah duduk aja."


Mardiyah duduk, ia menatap Lutfan bingung. "Sudah. Kamu suruh aku ngapain?"


"Coba lihat aku."


Kening Mardiyah mengerut. "Dari tadi aku lihatin kamu, Lutfan."


"Nggak berasa, natapnya kurang serius." Lutfan menarik salah satu tangan Mardiyah dan membenarkan dagu istrinya untuk menatap lebih tegak. "Lah gini. Kerasa."


"Kamu aneh."


"Bukan aneh." Lutfan fokus mengabsen dari mata, hidung hingga berakhir di bibir Mardiyah. "Aku ini radak ... kesel, mata kamu harus tatapan sama orang itu. Ngeselin banget lah, ngerasa nggak rela banget aku."


Spontan senyum manis Mardiyah tunjukkan. "Kamu cemburu?"


"Emang gitu bisa di bilang cemburu?"


"Bisa."


Lutfan mengangguk. "Kalau gitu ya benar. Aku cemburu. Kamunya keberatan?"


"Nggak juga." Mardiyah menarik tangannya dari pangkuan Lutfan. Ia pergi untuk menyikap surai suaminya. Namun ia urungkan memilih untuk menyusup pada pinggang Lutfan. "Mau peluk, nggak?"

__ADS_1


"Mau banget."



Dua Minggu lebih lima hari berlalu. Mardiyah dan Lutfan baru saja pulang dari Adiwangsa hospital. Pendarahannya sudah berhenti. Dokter mengatakan, semua keadaan tubuhnya membaik. Tetapi untuk menjalankan hubungan intim disarankan dua hingga tiga bulan ke depan harus menggunakan pelindung, untuk mencegah kehamilan berikutnya.


Lagi-lagi Lutfan harus merasa tidak nyaman atas keadaannya. Ia sedih. Lutfan jika di tanya semakin mengajukan pertanyaan juga. Bukan apa-apa, tetapi sebagai seorang wanita ia tahu bahwa semua itu adalah kebutuhan laki-laki.


"Hei, kenapa diem aja?"


Mardiyah tersadar dengan senyum tipis. "Nggak pa-pa. Lagi lihatin jalan."


"Kamu mau ikut mampir ke outlet?"


"Boleh?"


"Kan aku nawarin, berarti boleh, Mar."


Mardiyah mengangguk. "Ya udah, ikut."


Jalan kota ini tetap sama. Semenjak pertama kali ia menginjaknya di umur delapan belas tahun, mungkin bedanya sekarang ia tidak lagi sendiri. Ia tidak lagi bekerja sebagai staf Nyonya Harsa, dan ia bukan pergi ke luar kota sebagai anak angkat Umma Sarah lagi. Melainkan sebagai menantu serta istri. Jujur ia tidak ingin banyak berbicara, karena masih ada Cak Sur di sini.


Kepulangan dari Adiwangsa hospital, benar-benar membuat segala pertanyaan menumpuk dipikiran, untuk ia ajukan pada Lutfan. Ia takut. Entahlah, ketakutan yang ... wajar atau akan terkesan tidak wajar. Ia tidak tahu. Bagaimana terpentingnya seluruh pertanyaan ini harus ia keluarkan terlebih dahulu.


"Ayo, turun. Udah sampai."


Mardiyah turun, menatap Cak Sur yang dengan sigap membantu Lutfan turun. Lantas setelahnya, ia mendorong kursi roda masuk ke tempat kerja Lutfan.


"Udah, berhenti di sini aja," ujar Lutfan.


Mardiyah duduk di sofa. Sedangkan Lutfan masih berada di kursi roda. Ia bingung ingin memulai dari mana, memilih membisu saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa adalah kesalahan. Namun jika ia bertanya akankah Lutfan menjawab jujur?


"Kenapa diem aja, Mar? Perutmu sakit?"


"Terus, kenapa? Jangan diem terus."


Sejenak Mardiyah terdiam dan menatap. "Lutfan kamu nggak keberatan?"


"Soal?"


"Y-ya itu. Soal yang tadi di bilang sama Dokter."


"Ooh itu." Lutfan membalas tatapan Mardiyah. "Enggak. Kenapa aku harus keberatan?"


"Y-ya menurutku i-itu, sedikit ... menyusahkan kamu," cicit Mardiyah.


Lutfan tersenyum tipis, sejenak ia menunduk dan menggeleng. "Nyusahin apa sih, Mar? Enggak, kok." Laptop yang baru saja ia ambil tadi ia letakkan kembali. Setelahnya, ia berpegang pada sofa untuk mengambil duduk tepat di samping Mardiyah. "Jadi, dari tadi kamu diem kepikiran soal itu?"


"Iya."


"Kalau Dokter nyuruh aku puasa buat nggak nyentuh kamu tiga bulan lebih pun nggak pa-pa." Lutfan menjeda. "Selagi demi kebaikan kamu kenapa enggak? Aku ini emang kelihatan nggak menyakinkan apa? Sampai kamu ragu-ragu gitu, sama aku?"


"Bu-bukan gitu---"


"Terus apa, Mar?"


Mardiyah terdiam.


Hingga terdengar ketukan pintu, jeda sebentar, dan terdengar lagi di susul oleh suara dari luar. Entah suara siapa yang ia pastikan, mungkin itu adalah staf Lutfan.


"Mas Lutfan, ada Mas Aldo di depan," ujar seorang staf dengan name tag Uwais.


"Iya, suruh masuk aja." Setelah mengucapkan itu Lutfan beralih menatap Mardiyah yang masih diam. Dan perlahan-lahan tangannya terangkat, mengusap lembut pucuk kepala sang istri. "Nanti kita bahas lagi. Kalau perlu kamu nggak usah kepikiran lagi. Aku bener-bener nggak permasalahan apapun tentang kamu, Mar."

__ADS_1


Mardiyah mengangguk pelan.


"Sekarang kamu masuk sana." Lutfan menunjuk tembok putih yang ternyata memiliki celah, dan tidak pernah Mardiyah duga-duga bahwa itu adalah kamar. "Istirahat sebentar di kamar. Aku mau bahas kerjaan sama Aldo."



"Gimana pernikahan lo, Lut?"


"Aman. Alhamdulillah."


Aldo mengangguk-angguk. "Gue ... rencana mau nikah."


Lutfan membeliak. Telinganya tidak salah mendengar bukan? "Lo beneran mau nikah? Sama siapa?"


"Cewek yang gue temuin di ... outlet Mojokerto," jelas Aldo. "Tapi Lut ..."


"Tapi apa?"


Aldo menyadarkan diri pada sofa, ia menyikap surainya kebelakang beberapa kali. "Gue nggak mau kayak di sinetron-sinetron waktu gue kenalin calon gue ke Nyokap Bokap gue, dia malah minder, lebih-lebih di usir."


"Bentar." Lutfan menyipitkan matanya. "Cewek itu ... kerja di Kedai Amanah? Staf lo gitu?"


Aldo mengangguk.


"Gimana bisa lo jatuh hati, hah? Mojokerto itu emang nggak termasuk desa, tapi juga nggak kota kota banget. Gue yakin cewek-cewek di sana juga sederhana-sederhana aja. Lo bisa punya rasa sama staf itu gimana ceritanya?"


"Ya mana gue tahu! Hati yang ngendaliin juga bukan gue. Ini juga kehendak Allah. Lo jangan seakan-akan nyalahin gue dong, Lut!" sewot Aldo.


Lutfan terkejut. "Astaghfirullah! Nyalah-nyalahin apa? Gue ini cuma tanya. Anjir, Do."


"Gue ke sini itu minta solusi. Kali-kali lo bisa kasih solusi, eh lo cuma bacotin gue doang, Lut!"


Lutfan menghela napas. "Kalau lo percaya dia bakal jadi istri sama Ibu yang baik buat anak-anak lo ya udah kenalin ke Nyokap Bokap lo. Sebelum itu solat istikharah dulu. Terus sebelum ngenalin, coba lo bujuk-bujuk Nyokap lo. Lo kan belum pernah ngenalin cewek. Langsung bilang aja kalau lo mau nikah, lo udah ada calon dan yang pasti lo harus yakin kalau calon yang lo pilih ini bener baiknya. Gitu doang sih, solusi dari gue."


"Oke. Gue coba nanti. Do'ain gue, ya?"


"Pasti, Do. Pasti."


Sejenak terjadi kebisuan. Aldo mengirim data penjualan di beberapa kota yang ia pegang ke alamat email Lutfan setelahnya ia kembali menatap Lutfan. "Ngomong-ngomong sampai sekarang ... gue masih nggak nyangka kalau cewek yang gue temuin di dapur pertama kali itu anaknya Om Tama. Istri lo, Lut."


Lo pikir, gue nyangka sampai sana? batin Lutfan yang membalas tatapan Aldo. "Takdir, Do."


"Ya, juga, sih." Aldo menengadah, netranya mengabsen setiap atap. "Lo waktu tahu dia anaknya Om Tama gimana, Lut? Kaget, nggak? Lo kan dulu pernah bilang kalau nggak mau nikah sama anak orang yang berpengaruh alias kaya tujuh turunan."


"Biasa aja sih gue. Nggak kaget-kaget amat." Gue cenderung nggak terima. Marah aja gitu, jadi orang brengsek yang bikin Mardiyah menderita selama ini Pak Gautama, lanjutnya dalam hati.


"Masa?"


Lutfan mengangguk. "Lagian Pak Gautama itu cuma Ayah biologis istri gue. Selebihnya segala hak milik Mardiyah itu punya gue."


"Anjir panggil mertua pakai nama. Mana posesif banget nyebut istri pakai kata hak milik, inget istri lo itu juga anaknya Om Tama," goda Aldo.


Lutfan menggeleng-geleng. "Duh, aduh. Lo itu udah berapa kali ke pesantren, Do? Lo itu juga udah berapa lama ikut kajian-kajian gitu dan kita ini temenan udah lama, kan? Lo masih nggak paham-paham, ya? Gue ini bukan posesif. Kata hak milik itu berdasarkan diri gue yang udah jadi suami dia. Lo kalau udah nikah, bakti istri lo itu ke elo semua. Lo itu yang utama. Segala diri dia yang berhak itu cuma lo, karena Bokapnya udah nggak berhak lagi. Ngerti nggak sih sampai sini?"


"Iya, Do. Iya, ngerti. Lo mah ceramahin gue mulu!"


Lutfan mengibas tangannya. "Udah-udah sana lo pergi. Lo ganggu banget gue lagi berduaan!"


"Astaghfirullah. Istighfar, Lut! Yang ketiga setan!"


Netra Lutfan melebar. "Setan apa-apaan, hah? Gue lagi berdua sama istri gue. Halal! Bukan yang haram-haram. Sana lo pergi!"


Note:

__ADS_1


Pendarahan keguguran dan sesudah kehamilan beda.


__ADS_2