Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 28 : Ratu dan Suaminya


__ADS_3

"Itu. Elo, Mar. Bukan gue," ujar Lutfan dengan mengambil pispot di tangan kanan Mardiyah. "Masuk kamar mandi, jangan keluar sebelum gue panggil."


"Iya," jawab Mardiyah dan memasuki kamar mandi. Setidaknya Lutfan mau memakai pispot itu, walau pun tanpa bantuan darinya juga.


Netra Lutfan benar-benar menangkap pintu kamar mandi tertutup rapat. Setelahnya cepat-cepat ia membuka celana, dan menuntaskan semuanya. Selesai. Namun lagi-lagi rasa malu melingkupi diri. Apa benar ia harus memanggil Mardiyah? Apa perempuan itu tidak merasa jijik?


"Lutfan sudah?"


Terdengar teriakan dari dalam kamar mandi.


"Iya. Udah! Lo boleh keluar!"


Mardiyah keluar menghampirinya, langsung mengambil pispot tadi yang sudah terisi urine Lutfan. Lantas tanpa jijik, Mardiyah membuang pada closet, dan setelah cuci tangan ia kembali pada Lutfan untuk membantu sang suami itu merebahkan diri.


"Mar, gue mau ngomong."


Mardiyah mengangguk dan mengambil duduk, dengan menatap lurus pada netra Lutfan.


"Gue lumpuh, Mar. Umma bilang, bisa sembuh. Tapi kalau sampai satu tahun berlalu kaki gue nggak sembuh, gue bakal cerai-in lo," ujar Lutfan.


Jantung Mardiyah terasa tertusuk sesuatu. Ucapan Lutfan terlalu tiba-tiba, dan juga mengapa sudah membahas tentang perceraian? Padahal pernikahannya baru saja terjadi.


"Kenapa?"


Lutfan menatap lurus dengan sayu pada atap rumah sakit. "Punya pasangan cacat itu nyusain, Mar. Pengabdian lo sebagai istri bakalan sia-sia, karena suami lo nggak bisa bener-bener cari nafkah buat keluarga kecil yang lo harapin nanti."


"Bisanya cuma ngerepotin, minta di layani terus-terusan" Sedetik kemudian ia tersenyum getir. "Sedangkan sebagai istri. Biasanya cewek bener-bener mau di ratu kan, bukan jadi pembantu atau perawat yang masak sama ngurus orang sakit aja."


Mardiyah tahu, alasan Lutfan tidak mau menatap matanya. Tentu karena semua ucapan ini.


"Lutfan ... mau saya dongengkan seperti kecil dulu?"


Lutfan diam. Sedang Mardiyah berujar, "Judulnya, Ratu dan suaminya."


"Judulnya aneh. Kenapa bukan Ratu dan Rajanya?" tanya Lutfan yang mulai tertarik.


Mardiyah maju, merebahkan kepalanya pada ranjang yang Lutfan tiduri, tangannya menyentuh selimut yang Lutfan gunakan.


"Rakyat hanya mengakui bahwa istana megah itu pantas untuk di pimpin oleh sang Ratu saja. Raja yang lemah, tidak berdaya tidak pantas bersanding dengan sang Ratu."


Lutfan menyahut, "Awalnya gimana? Mereka menikah? Jangan setengah-setengah dong kalau ngedongeng!"

__ADS_1


Mardiyah mulai bercerita, "Negeri bunga adalah tempat indah yang memiliki ras manusia dengan berparas layaknya bidadari dan pangeran. Suatu hari ada sayembara untuk Tuan Putri Vashti yang akan menjadi penerus tahta dari Kerajaan Krisan."


"Sayembaranya apa?"


Mardiyah tersenyum tipis. "Untuk mengambil bunga krisan putih yang berada di dataran tinggi, tanpa membuatnya mati atau layu dalam perjalanan menuju Kerajaan Krisan. Dan sebagai hadiahnya, sang Raja terdahulu akan menikahkan Putri tunggalnya kepada pria yang berhasil."


"Terus-terus?"


"Tidak ada yang berhasil. Ada pun yang hendak berhasil, Pangeran dari Kerajaan Melati gagal karena lupa menutupi krisan putih itu dari paparan sinar matahari."


Kening Lutfan mengerut. "Lah terus siapa yang jadi suaminya Tuan Putri Vashti?"


"Tiga hari berlalu. Datang lah seorang pria dari Negeri Daun, tempat yang di huni oleh ras manusia terendah karena lemah dan tidak berdaya, tidak menarik. Bahkan kehidupan manusia di Negeri Daun hanya untuk mengabdi pada ras Negeri Ranting, anggap saja di perbudak."


Netra Lutfan melebar. Bahkan ia mencoba tertidur memiring, supaya telinganya lebih tajam mendengar cerita Mardiyah. "Wahh! Terus-terus gimana bisa akhirnya ras dari Negeri Daun itu bawa bunga krisan ke Tuan Putri?


"Kamu tahu 'kan, Lutfan? Bahwa bunga dan daun itu tumbuh berdampingan, yang mengerti keadaan bunga pun hanya daun. Jikalau layu dan mati pun kadang-kadang merasa jatuh bersama," jelas Mardiyah


Lutfan mengangguk-angguk.


"Pria itu adalah Tuan Muda Lind dari kediaman Adiantum, bukan Pangeran. Dia berhasil mendapatkan bunga krisan putih serta memiliki Tuan Putri Vashti. Karena keteguhan hatinya."


Lutfan mengerutkan kening. "Keteguhan hati?"


"Iya."


"Tuan Putri Vashti bersedia menikah dengan Tuan Muda Lind, ia memenuhi janjinya tanpa mendengarkan ucapan rakyat Negeri Bunga. Hingga sampai pada waktu, sang Raja terdahulu wafat. Di angkatnya Tuan Putri Vashti menjadi Ratu, otomatis Tuan Muda Lind harus menjadi Raja."


Mardiyah mengangkat kepalanya, tepat saat itu ia bertatapan langsung dengan Lutfan. "Seperti sedia kala ... rakyat menolak mentah-mentah hingga pengadilan alam Negeri Bunga menetapkan bahwa Kerajaan Krisan tidak membutuhkan Raja. Sang Ratu pun cukup untuk memimpin kerajaan."


Lutfan terlihat menampilkan wajah kesal. "Pengadilan alam yang nggak ada adil-adilnya. Sejenak kapan Ratu nggak butuh Raja? Sedangkan Raja bisa semena-mena milih Ratu bahkan selir-selir sekaligus!"


"Mau saya lanjut?"


Lutfan mengangguk.


Mardiyah menopang dagunya dengan menatap netra Lutfan. "Malam pun tiba, keduanya sedang berada di kediaman istana. Tuan Muda Lind tiba-tiba saja berujar, Yang Mulia Ratu Vashti saya akan meminta kepada pengadilan alam Negeri Bunga untuk memutuskan benang merah pernikahan ini."


"Apa? Kok tiba-tiba?"


Mardiyah menyahut, "Yang Mulia Ratu Vashti menangis. Walau seluruh alam tamanam tidak bisa menerima Tuan Muda Lind sebagai suaminya, Yang Mulia Ratu Vashti tidak peduli. Pengorbanan yang telah Tuan Muda Lind lakukan untuk mendapatkan bunga krisan putih bukan lah sesuatu yang mudah. Bahkan rasa cinta Yang Mulia Ratu Vashti telah menjalar pada benang merah yang menyatukan keduanya."

__ADS_1


Lutfan menatapnya dengan serius. "Terus?"


"Tamat."


Netra Lutfan melebar. "Lho? Kok tamat? Apaan belum juga hidup bahagia. Udah tamat aja! Dongeng lo kali ini bener-bener nggak asik. Nggak ada bahagia-bahagianya buat kehidupan Tuan Muda Lind. Atau lo sengaja buat pemeran laki-lakinya menderita?"


Mardiyah menggeleng. "Jadi Lutfan ... amanat apa yang kamu ambil dari dongeng ini?"


"Eghmm ..." Semenjak ia kelas tiga SD Mardiyah memang selalu seperti ini. Setelah bercerita meminta kesimpulan atau kalau tidak pelajaran apa yang dapat di ambilnya dari setiap dongeng. "Banyak kayaknya."


"Sebut satu-satu," ujar Mardiyah.


Lutfan menatap Mardiyah yang merubah posisinya dengan duduk bersandar pada kursi. "Pertama, sebagai manusia kita harus memiliki keteguhan hati kayak Tuan Muda Lind yang bisa bahwa bunga krisan putih ke Kerajaan Krisan tanpa layu."


"Kedua?"


"Terus, kita harus tepati janji selayaknya Tuan Putri Vashti yang tetap menikah dengan Tuan Muda Lind tanpa peduli kasta yang di miliki Tuan Muda Lind adalah kasta terendah."


Mardiyah mengangguk-angguk. "Benar."


"Ada lagi kurang satu. Tapi gue agak gimana, ya? Gue nggak ngerti ini termasuk amanat atau bukan."


"Apa?"


"Jangan pernah ngambil keputusan sendiri tanpa peduli sama orang lain, kayak Tuan Muda Lind. Terlebih orang lain itu istrinya."


Netra Mardiyah menyipit. "Keputusan apa yang Tuan Muda Lin ambil memang?"


"Mengenai perce ..." Lutfan tersadar. " ... raian."


Lutfan spontan merubah posisi tidurnya dengan telentang. "Lo sengaja, ya?"


"Iya."


Keduanya sama-sama membisu. Jam menunjukkan pukul 02:01 dini hari. Mardiyah masih tetap duduk di kursi tidak berpindah.


"Kamu sadar, Lutfan? Kalau kamu ingin mengambil keputusan ... tolong pedulikan orang lain juga," ujar Mardiyah yang lalu bangkit dari kursi, dan merebahkan dirinya pada sofa panjang di sana.


^^^


Note:

__ADS_1


• Sifat manja (kayak anak kecil) Lutfan keluar, dulunya sewaktu kecil Mardiyah memang sering berdongeng.


• Saya jadi kepikiran buat cerita Fantasi Kerajaan-Romence kayak yang di atas wkwk (dongengnya itu saya ngarang sendiri lho) Tapi kira-kira apa iya ada yang berminat? Kapan-kapan aja tapi.


__ADS_2