Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 9


__ADS_3

"Kamu mau sholat dulu sebelum make up, Mar?" tanya Kak Devina.


"Lagi nggak sholat, Kak."


Kak Devina mengangguk-angguk. "Datang bulan, ya? Ya udah kamu cuci muka dulu, habis ini giliran kamu di make up, sama jangan lupa ganti baju. Kerudungmu nggak ketinggalan di toko 'kan?"


"Iya, Kak. Kerudungnya ada. Nggak ketinggalan."


Azan magrib. Walaupun sebenarnya acara sesudah isya, Nyonya Harsa menyuruhnya, Kak Devina dan Regita datang sekitar pukul tujuh. Supaya nanti saat acara ingin di mulai, tidak menunggu-nunggu lagi.


"Devina."


Suara itu berasal dari Jessica Jayantaka pemilik NC beuty sekaligus adik dari Nyonya Harsa.


"Nyonya Jessica," ujar Kak Devina hendak berdiri.


"Nggak-nggak. Ngapain kamu? Duduk." Telunjuk Nyonya Jessica mengarah pada kursi---meminta Devina duduk kembali. "Di salon saya harus tertib lho, ya? Mau saya usir?"


Kak Devina tertawa ringan menangapi ucapan Nyonya Jessica.


"Ya udah. Saya berangkat dulu. Awas aja kalau datang-datang nanti kalian nggak cantik. Jangan malu-maluin saya sama Kakak saya lho, ya?"


Kak Devina mengangguk. "Siap, Nyonya Jessica. Saya yakin tangan staf NC beauty dapat mempercantik wajah saya dan lainnya."


Sesaat Nyonya Jessica pergi. Kak Devina berkata, "Mar, nanti kamu pakai heels, ya?"


"Saya nggak punya, Kak Dev."


"Saya pinjami."


Kak Devina menunjukkan heels navy transparan.


"Navy juga, Kak?"


"Iya. Cocok 'kan?"


Cantik.


Dirinya, Regita dan Kak Devina telah siap. Semacam bridesmaids saja, padahal hanya sebatas kenal dari Nyonya Harsa. Selebihnya Maheer Jayantaka yang ia tahu adalah saudara tiri Nyonya Harsa, dan Jessica saja. Ditatapnya diri pada pantulan cermin, jarang-jarang ia berpenampilan secantik ini. Bahkan jika di lihat-lihat ia nampak menyetarai orang-orang elit. Selain karena pakaian yang mendukung, juga karena wajah serta kulitnya yang putih sangat kontras dengan pakaiannya sekarang.


"Kamu cantik, Mar," ujar Regita.


"Terima kasih."


Kak Devina tiba-tiba saja menyahut, "Saya bener-bener penasaran Ibu Ayahmu itu secantik dan setampan apa, sih? Sampai anaknya jadi seperti ini."


Saya pun juga ingin tahu paras Ibu dan Ayah saya, Kak, batin Mardiyah.


"Coba pakai heels nya, Mar." Kak Devina berdiri memandanginya. "Bisa 'kan kamu?"


"Bisa, Kak."


"Coba jalan. Saya nggak mau kamu kelihatan kaku," ujar Kak Devina.


Mardiyah berjalan, berbalik, sesuai keinginan Kak Devina. "Udah, Kak," ujarnya.

__ADS_1


"Lumayan." Kak Devina berbalik melihat Regita. Selanjutnya berjalan ke arah sofa panjang dan mengambil tas. "Ayo berangkat. Dan ... Mardiyah!"


"Apa, Kak?"


"Inget. Jangan jauh-jauh dari saya. Dan jauhi si kembar yang kamu temuin tadi. Ngerti?"


"Iya, Kak."


...🌺...


Kakinya melangkah di aula pernikahan yang indah dan mewah. Bagi sebagian wanita mungkin pernikahan ini adalah impian, namun bagi Mardiyah ini bukan lah impiannya. Cukup menikah dengan kehadiran keluarga, di salah satu Masjid atau pun di rumah itu adalah inginnya.


Tentu. Bagian terpentingnya adalah kehadiran keluarga. Namun sayang, ia tak punya keluarga.


Tempat duduk dengan undangan khusus Nyonya Harsa berikan. Di mana ia, Regita dan Kak Devina berada dalam satu meja dengan anak Nyonya Jessica. Yaitu, Natasha Jayantaka.


"Kak Git," ujar Natasha.


"Ya, Nona?"


Netra Natasha melebar. "Sha, Kak. Natasha. Jangan panggil aku pakai Nona-nona nggak suka."


Regita mengangguk paham.


"Ini ... baju bajunya yang milihin Tante Harsa?"


Regita mengangguk. "Iya, Sha. Bagus 'kan?"


"Bagus. Aku suka lihatnya. Cocok juga buat Kak Gita, Kak Mar sama Bu Dev." Netra Natasha beralih pada Mardiyah dilihatnya dengan seksama. "Kak Mar!"


Netra Natasha memandangi tangan serta jari jemari Mardiyah yang cerah putih, kulit idaman semua wanita Asia. "Nggak pernah kelihatan. Makin cantik aja, Kak Mar! Belum lagi kulit Kakak ... wah, Kakak ini perawatan apa, sih? Skin care sama body lotion Kakak merk apa? Berapa tahapan juga? Setiap hari pakaiannya? Luluran juga nggak, Kak?"


"Pertanyaanmu terlalu banyak, Sha. Mau di jawab ya mana?" ujar Mardiyah.


"Semua."


"Kebetulan skin care dan body care saya semua dari NC beauty. Saya pakai setiap hari. Kecuali lulur seminggu sekali," jawab Mardiyah.


"Padahal sama lho. Bahkan seminggu sekali aku rajin luluran juga. Tapi perasaan kok kulitnya bagusan Kakak, ya?"


Mardiyah menggeleng pelan. "Saya nggak tahu, Sha."


Kak Devina menyahut, "Kamu sendiri ini udah cantik lho, Sha. Tapi kalau kamu bicara tentang Mardiyah, saya curiga gen kedua orang tuanya bagus-bagus. Makanya kombinasinya jadi Mardiyah gini."


Natasha mengangguk-angguk. "Mungkin ya ... gen emang berpengaruh."


Pukul delapan acara di mulai. Natasha berpindah duduk dengan keluarga besarnya. Dari kursi depan lelaki paruh baya yang masih gagah dan tampan, dengan rambut sedikit memutih, mengambil duduk di sana. Mungkin, dengan keluarga besarnya. Namun netra Mardiyah menangkap sosok si kembar Abhimata dan Abhimana. Ada juga seorang laki-laki yang mungkin seusia dengannya.


"Di kursi depan itu ... bagian kiri." Kak Devina menunjuk. "Keluarga besar Adiwangsa dari pihak anak pertama. Gautama Adiwangsa dan istri beliau Cecilia Maharani Adiwangsa, Rajendra anak pertama, dan anak kedua si kembar Abhimata dan Abhimana."


"Tapi kabarnya. Bapak Gautama ada simpanan. Kabarnya sih. Saya denger dulu sekertaris beliau," imbuh Kak Devina.


Simpanan? Apa kira-kira mereka punya anak? Jika iya. Bagaimana kiranya nasib anak itu? batin Mardiyah yang terus menerus bertanya.


"Terus-terus yang kanan, Kak Dev?" tanya Regita.

__ADS_1


"Itu keluarga Adiwangsa dari pihak anak pertama juga. Gumira Adiwangsa. Beliau saudara kembar sama Bapak Gautama. Itu istri beliau Gistara Adiwangsa, anaknya tiga juga. Yang cewek, Faleesha yang laki kembar dua, Linggar sama Lingga."


Regita nampak senang. Mungkin ini pertama kalinya ia mendengar nama keluarga besar yang sangat berpengaruh di pusat kota ini.


"Kalian mau tahu nggak bisnis keluarga mereka?"


Regita mengangguk. Sedangkan Mardiyah hanya mendengar saja.


"Lazuardi hotel ini diwariskan langsung dari Bapak Manggala untuk anak beliau Gautama. Sedangkan Adiwangsa hospital diwariskan langsung dari Ibu Asmita untuk Gumira. Sebenarnya masih banyak tapi itu yang saya tahu. Sedangkan Geeta Adiwangsa di coret dari daftar keturunan karena menikahi orang biasa," jelas Kak Devina.


Hanya karena menikahi orang biasa? Keluarga macam apa itu? batin Mardiyah.


Regita menggeleng-geleng tak percaya. Sebanyak apa kiranya harta itu? "Terus-terus Kak Dev dari yang saya dengar nih, Bapak Manggala punya istri kedua 'kan?"


"Iya. Yasmina Adyuta. Beliau nggak mau pakai marga Adiwangsa. Total anaknya dua, yang sekarang menikah ini Callista anak pertama dan Irsyad anak kedua," jelas Kak Devina.


Kehidupan yang rumit, batin Mardiyah.


"Kamu kok diam aja, Mar?" tanya Kak Devina.


Mardiyah menatap lurus Kak Devina. "Saya harus komentar apa, Kak? Saya nggak kenal sama keluarga Adiwangsa."


Kak Devina mengangguk-angguk. "Bener juga. Tapi itu sekedar informasi buat kamu."


"Kak Dev, saya mau ke toilet."


Kak Devina mengangguk. Mardiyah berdiri secepatnya berlalu ke toilet, entahlah tiba-tiba saja ingin membuang air kecil, dengan gaun yang serumit ini? Semoga saja tidak akan basah.


Setelah selesai. Mardiyah keluar, bercermin melihat penampilan diri, dan tiba-tiba saja gawainya berdering.


Lutfan? batin Mardiyah.


Mardiyah menekan tombol hijau dan meletakkan gawainya di telinga kiri.


"Halo."


Mardiyah menjawab, "Ya?"


"Lo di mana sih, Mar?"


Mardiyah menghela napas bersandar pada wastafel. "Lazuardi hotel."


"Umma kirim pesan kenapa nggak lo jawab, sih? Mau bikin Umma gue khawatir lo, hah?"


Mardiyah menjauhkan gawainya, melihat pesan singkat. Ternyata benar. Umma Sarah mengirim pesan. "Maaf. Saya baru tahu."


"Lo buka pesan Umma gue. Baca dan lo bales secepatnya."


"Iya." Mardiyah menunggu panggilan ini terputus.


"Gue tutup."


^^^


Note:

__ADS_1


Yang udah baca Almahyra pasti tahu alasan saya menceritakan detail keluarga Adiwangsa.


__ADS_2