
Tiga hari kemudian. Undangan pernikahan Regita dan Regan telah mendarat di panti asuhan, tepatnya siang ini dengan di antar oleh Pak Budi tadi. Saat memandang keluar jendela matahari benar-benar sedang terik, terasa menyengat dan di sekitar panti pun terlihat sepi, sebagian anak-anak yang sekolah belum pulang. Lutfan juga baru saja berangkat ke outlet, dan Mardiyah memilih menyibukkan diri di dapur umum.
Karena seperti biasanya, akan ada makan siang bersama setelah salat zuhur. Sebenarnya tadi ia tidak sendiri, namun tiba-tiba Salsa ada perlu dengan ustazah Aini. Maka sekarang, ia sendirian. Kirana dan Inayah belum pulang, kedua gadis itu biasanya paling suka ke dapur untuk membantu.
Krek.
Mardiyah menatap ke arah belakang, di mana suara itu berasal. Ternyata, Jafar. Siang-siang begini ingin apa dia? batinnya dengan menatap Jafar yang masih tidak sadar bahwa ada dirinya di sini.
"Gus, butuh sesuatu?"
Jafar nampaknya terkejut, langsung menatap lurus dengan mata melebar.
"Minum?"
Jafar mengangguk.
Mardiyah berjalan ke arah rak untuk mengambil gelas plastik, selanjutnya menuju dispenser. Dan saat gelas telah terisi penuh ia langsung meletakkan di meja, yang mana jaraknya cukup jauh dengan Jafar yang berdiri di depan pintu.
"Silakan, Gus." Mardiyah tidak mendengar ada pergerakan. Bahkan minuman pun masih tidak tersentuh. "Oh. Gus nggak nyaman, ya? Kalau begitu saya keluar---"
Jafar mengangkat tangannya. Mardiyah memperhatikan yang sedetik kemudian terlihat suami Alma itu menulis di catatan. Dan setelah itu mendekat pada meja, mengambil minuman dan meletakkan secarik kertas di sana.
Dia pergi? batin Mardiyah saat melihat Jafar meninggalkan dapur umum. Lalu ia yang tadinya berdiri di depan kompor mendekati meja, dan melihat apa yang di tulis kan oleh cucu pertama Kiai Bashir ini.
"Terima kasih, Mardiyah. Maaf menganggumu," tulis Jafar.
Sejak kapan membantumu itu terasa seperti gangguan, Jafar? batin Mardiyah yang tersenyum tipis membaca secarik kertas yang berisi tulisan tangan Jafar. Netranya menatap pada pintu yang terbuka, dan pikirannya mengelana pada saat masa kecil.
"Mar, nanti kalau udah besar kamu pasti bakal ninggalin panti asuhan sama pesantren, ya?" Jafar kecil yang berusia sebelas tahun menatapi Mardiyah yang duduk di ayunan. "Terus kamu bakal lupain aku sama Lutfan juga?"
"Kata siapa? Aku bakal tetep di sini kok."
Netra bulat Jafar memandang Mardiyah heran. Kemudian ia menggeleng. "Enggak mungkin, Mar. Kata Ummi semua perempuan bakal menikah, terus ninggalin orang tuanya. Berarti itu tandanya kamu bakal ninggalin aku, Lutfan, Ummi, Abi, Paman sama Bibi Sarah. Semua bakal kamu tinggalin."
Mardiyah menggeleng.
"Kok geleng? Kamu enggak mau menikah?"
"Mau." Mardiyah menunduk menatap pasir-pasir berkerikil di bawahnya. "Tapi aku tetep mau tinggal di sini. Aku enggak mau ninggalin semuanya. Aku sayang semuanya."
Jafar menengadah menatap awan. "Sama. Aku juga sayang semuanya. Aku kalau menikah juga nggak mau ninggalin semua yang ada di sini."
Mardiyah terdiam.
"Aku jadi punya ide. Gimana kalau nanti udah besar aku cari istri yang tinggal di sini juga?" Pandangan Jafar beralih menatap Mardiyah. "Kamu juga harus cari suami yang tinggal di sini juga. Biar kamu nggak ninggalin kita semua."
"Iya. Aku bakal cari," jawab Mardiyah yakin.
Seulas senyum tipis kembali nampak di bibir Mardiyah. "Akhirnya, saya menepati janji kan, Jafar? Suami saya tinggal di sini. Bahkan dia adalah anak Umma Sarah. Dan kamu juga menepati janji dengan memiliki istri yang tinggal di sini," gumamnya.
Mengenai masa kecilnya dulu. Ia dan Jafar tidak pernah terpikirkan untuk menikah supaya bisa bersama, ia hanya berjanji untuk memiliki pasangan yang menetap di panti asuhan atau pesantren. Hingga akhirnya takdir menggariskan setiap hal-hal yang tidak pernah ia duga. Jafar di jodohkan dengan Alma dan ia dengan Lutfan.
Dan untuk perasaan sekejap yang ia miliki untuk Jafar, hanya sebatas kekaguman saja. Tidak lebih. Jika lebih pun, Jafar sudah seperti saudaranya.
"Undangan itu hari apa?"
Mardiyah menjawab, "Sabtu. Kamu bisa?"
"Bisa." Lutfan sedikit menunduk, menatapi Mardiyah yang membantunya membuka kancing kemeja. "Kamu nggak malu datang sama aku?"
"Kamu ganteng. Kenapa aku harus malu?" jawab Mardiyah sekenanya. Fakta yang dikatakan oleh dirinya benar. Lutfan tampan, memiliki hidung mancung, bulu mata panjang dan alis yang tebal, bibirnya pun terlihat pink karena sering dirinya ajak untuk melakukan perawatan. Lalu yang terakhir kulit suaminya berwarna kuning langsat, dan tambahannya Lutfan selalu terlihat seperti remaja. Maksudnya Lutfan lebih terlihat muda, dan terkesan memiliki wajah lajang. Orang-orang tidak akan pernah percaya bahwa lelaki di depannya ini telah menikah.
__ADS_1
"Mujinya nggak ikhlas, wajahnya datar gitu."
Mardiyah telah melepas kancing terakhir. Netranya langsung beralih pada Lutfan. "Siapa yang niat muji kamu? Aku cuma nggak sengaja bilang kamu ganteng."
"Hilih. Dasar!" Lutfan menjeda. "Tapi aku serius, Mar. Di Lazuardi Hotel nanti pasti bakal banyak orang, banyak temen-temen kerja kamu juga. Kamu beneran nggak malu dateng sama aku?"
"Aku udah bilang enggak, kan? Kenapa kamu nggak percaya?" Mardiyah menarik kursi roda Lutfan mendekat, hingga ia bisa terduduk di ranjang dengan kaki yang saling bersentuhan. "Regita itu teman kerjaku. Aku harus datang. Dia pasti bakal ngomel-ngomel kalau aku nggak datang. Tapi ..."
"Kalau kamu nggak mau ikut, lebih baik aku nggak datang aja," lanjut Mardiyah.
"Nggak boleh gitu!" Lutfan menatap Mardiyah yang menunduk memainkan kancing bajunya. "Undangan orang itu harus dipenuhi, Mar. Kamu ini di undang, harusnya kamu ngehargai dong."
Mardiyah menatap suaminya lagi. "Habisnya kamu nggak mau. Aku harus datang sama siapa? Aku jujur nggak suka acara besar-besaran kayak gitu. Dulu waktu kerja sama Nyonya Harsa aku sering lama-lama ke kamar mandi, atau kalau nggak aku milih nunggu di lobi hotel."
"Kenapa?"
"Ya karena aku nggak suka. Terlalu banyak orang."
Lutfan menghela napas. "Ya udah."
"Ya udah apa?"
"Ya udah, ayo dateng. Dua hari lagi, kan?"
Mardiyah mengangguk pelan.
"Eh tapi, Mar. Malamnya kan persiapan Minggu bersama. Kamu---"
"Aku nggak bakalan capek. Orang cuma datang kondangan bentar, aku nggak pa-pa malamnya bantuin anak-anak," sanggah Mardiyah.
Lutfan menyentuh pucuk kepala Mardiyah yang tidak tertutupi hijab. "Pinter. Istri siapa sih ini?"
"Istri kamu, kan?" Seulas senyuman Mardiyah tunjukan. Netranya memandang fokus pada dagu Lutfan, dan perlahan tangan menyentuh di sana, lalu mengusap-usap sebentar. "Lutfan ..."
"Tumbuhin janggut kamu."
Kening Lutfan mengerut. "Kamu suka kalau aku banyak rambut-rambut gitu?"
Mardiyah hanya mengangguk.
"Nanti pas aku cium-cium kamunya nggak nyaman."
Netra Mardiyah menatap Lutfan. "Yang ngerasain kan aku. Gimana bisa kamu nyimpulin aku nggak nyaman?"
"Iya-iya haduh. Tatapan kamu nyeremin banget lho, Mar."
Padahal Mardiyah telah mencoba biasa saja. Tapi memang tatapannya seperti ini, lagi pula apa-apaan Lutfan menyimpulkan bahwa dirinya akan tak nyaman? "Kamu nggak suka kalau janggutan gitu? Berasa tua?"
"Aku nggak bilang, aku nggak suka, Mar. Kalau kamu mau aku tumbuhin ya aku tumbuhin."
"Kamu tahu nggak aku kesel? Habisnya ..." Tangan Mardiyah terangkat menyusuri wajah Lutfan dari alis mata, turun ke hidung berjalan ke samping pipi perlahan-lahan berlanjut pada dagu. "Wajahmu kelihatan muda banget. Kamu kayak masih belum nikah. Kamu kayak---"
"Aku kan masih dua puluh tahun ya berarti aku emang masih muda," sanggah Lutfan.
Mardiyah memasang wajah kesalnya. "Terus aku tua gitu?"
"Aku nggak bilang gitu. Ya Allah ..." Lutfan mencubit gemas pipi kiri Mardiyah, yang membuat tangannya terangkat, hingga kemejanya tersikap lebih lebar. "Mana ada kamu kelihatan tua? Kamu masih cantik banget-banget."
Mardiyah menepis pelan tangan Lutfan. "Nggak usah muji-muji. Muka kamu ngeselin." Ia mengambil baju yang terlipat rapi di meja samping ranjang. Lalu menyerahkannya pada Lutfan. "Ganti bajumu cepat. Dingin. Nanti masuk angin."
Abhimata
__ADS_1
Kakak Sabtu datang ke nikahan Om Regan sama Kak Gita?
^^^Insya Allah datang^^^
Abhimata
Aku jemput mau, Kak?
Mardiyah terdiam sejenak. Lutfan masih sibuk duduk dengan laptopnya. Haruskah ia bertanya? Tapi ... untuk apa? Lebih baik berangkat bersama Lutfan saja. Lagi pula kasihan Abhimata jauh-jauh menjemputnya.
^^^Saya berangkat sama Lutfan^^^
^^^Kamu nggak usah repot-repot^^^
Abhimata
Kalau gitu sampai ketemu di Hotel, ya Kak.
^^^Iya.^^^
Mardiyah meletakkan gawainya, dan merebahkan diri menatap langit-langit kamar. Ia cukup lelah hari ini, dan Lutfan sepertinya tiada hari untuk tidak berkerja. Suaminya itu sangat pekerja keras. Wajar juga karena outlet semakin lama semakin bertambah, pasti kesibukan pun menjadi makanan.
"Mar."
"Ya?"
"Coba sini bentar."
Mardiyah langsung turun mendekati Lutfan. "Apa?"
"Bagus yang mana?" Terpampang jelas baju kembar untuk pasangan. Ada warna hitam, maroon dan navy. Lalu untuk bagian baju wanitanya seperti kebaya. "Buat kondangan sabtu besok. Mau yang mana?"
"Lutfan kita kan mau walimatul'ursy. Beli baju ginian nggak usah. Mana harganya di atas empat ratus ribu lagi, satu baju," tolak Mardiyah.
Terdengar Lutfan menghela napas. "Mahal pun sesuai sama kualitas kainnya, Mar. Nggak pa-pa, kita kan belum punya baju kembar. Masalah harga Insya Allah enggak bakal ngurangin budget aku."
"Ya udah. Hitam aja bagus," jawab Mardiyah pasrah sebelum ia akan diceramahi lagi.
"Okay. Aku pesan, ya! Ukuran bajunya M, L?"
"M aja."
Lutfan mengangguk-angguk, tangannya terlihat sibuk mengutak-atik laptop untuk memesan sesuatu yang ia tunjukkan tadi. Selama beberapa menit berlalu Mardiyah menatapi, spontan saja ia menarik tangan Lutfan.
"Kamu ngagetin, Mar. Ada apa?"
Pipi Mardiyah memanas saat Lutfan menatapnya. "Udah, kan?"
"Iya udah. Aku udah pesan. Tapi bentar aku mau ngirim email penting ke Banyu sama---"
"Nggak bisa besok?" sanggah Mardiyah.
Lutfan menatapi pergelangan tangannya yang di genggaman erat oleh sang istri. "Bentar aja, Mar. Bentar banget."
"Lihat jam coba. Udah malam ini. Memang kamu nggak ngantuk?"
Senyuman penuh dengan tatapan jahil Lutfan tunjukkan pada Mardiyah. Dia pasti nggak bisa tidur tanpa gue. Duh, kebiasaan gue pelukin sih, gemes banget lho, batinnya yang bergejolak ingin menggoda Mardiyah saja. "Mau aku temenin, ya? Nggak bisa tidur sendiri? Cie. Sejak kapan kamu jadi nggak bisa jauh-jauh dari aku, hah?"
"Nggak usah godain aku."
"Aku nggak godain. Aku tanya. Tinggal jawab apa susahnya?"
"Kamu yang janji. Selama kamu di rumah, aku boleh ganggu kamu kapan aja." Mardiyah memasang wajah cemburunya dengan mengerucutkan bibir. "Terus buktinya sekarang ini apa? Kamu nggak mau lepas dari laptopmu."
__ADS_1
"Ya Allah ... iya-iya, Mar." Lutfan langsung menutup laptop, dan beralih menatap Mardiyah. "Ayo tidur. Ayo tidur."