Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 14


__ADS_3

Entah mengapa esok hari begitu cepat. Setelah memasak untuk sarapan anak-anak panti asuhan Mardiyah dengan tergesa menuju asrama mengambil tas dan kunci motornya.


Pukul enam lebih dua puluh menit Mardiyah berangkat sesudah berpamitan pada Umma Sarah. Seperti biasa pula, pakaian yang di gunakannya hitam, dengan outer navy. Mungkin perjalanan akan memakan waktu satu jam lebih, biasanya ia akan istirahat sejenak di Kedai Amanah yang di jaga oleh Jafar. Karena kedai itu termasuk lebih dekat dengan perjalanannya menuju toko bunga.


Satu jam berlalu. Lampu merah terakhir ia akan segera sampai pada Toko Bunga Harsa, dan telah dipastikannya pula, Nyonya Harsa Jayantaka telah datang. Untuk segera mengintrogasi, Mardiyah pun sudah menyiapkan jawaban yang pasti.


"Permisi," ujar Mardiyah pelan---memasuki pelataran toko yang mana langsung bersambut dengan Regita.


"Mardiyah, kamu ... gimana kabarmu?"


Mardiyah tersenyum sekilas. "Saya baik, Gita."


"Nyonya Harsa sudah datang?"


Regita mengangguk. "Sudah. Beliau di dalam."


Kaki Mardiyah melangkah mendekati ruangan Nyonya Harsa. Sungguh beruntung, ia belum bertemu dengan Kak Devina, karena sebenarnya ia tak sanggup saja, untuk menatap wajah Kak Devina lagi. Dan tidak terasa, langkahnya terhenti, ia mengambil duduk di kursi berhadap-hadapan dengan Nyonya Harsa.


"Jelaskan sekarang alasan kamu ingin resign, Mardiyah?"


Mardiyah menjawab, "Sudah saya jelaskan di email, Nyonya."


"Saya ingin penjelasan langsung dari kamu, Mar. Tolong jangan mengecewakan saya sebagai pemilik toko ini. Kamu sadar 'kan? Bahwa saya telah memberimu pekerjaan di toko bunga sebagai staf utama bersama Regita dan Devina. Jika ada permalasahan pribadi, tidak bisa kamu selesaikan sendiri saja?" jelas Nyonya Harsa.


Ah, iya. Ada cctv, batin Mardiyah dengan sejenak menunduk. Kemudian mendongak menatap Nyonya Harsa lagi. "Maafkan saya, Nyonya Harsa. Karena sebenarnya pun, jauh-jauh hari saya sudah berencana untuk resign dari toko bunga ini," ujarnya.


"Alasannya?"


Jeda tiga detik Mardiyah berucap, "Saya merasa sudah tidak cocok lagi, Nyonya. Dan pekerjaan saya di sini sebagai staf utama mengharuskan saya bertemu dengan orang-orang yang tidak ingin saya temui."


"Siapa?"


Siapa saja, batin Mardiyah. Jeda tiga detik ia menjawab, "Orang-orang baru, Nyonya."


"Okay. Kamu tetap bekerja di sini, sebagai staf utama. Saya tidak akan mengajak kamu bertemu dengan orang-orang baru lagi. Hari itu yang terakhir, saya janji, Mardiyah," jelas Nyonya Harsa.


Mardiyah terdiam. Sungguh ia tidak memahami maksud dari Nyonya Harsa, jelas-jelas ia ingin resign. Tetapi ditahan seperti ini.


"Saya ingin re---"


Nyonya Harsa menyanggah, "Tolong, Mardiyah. Saya kesulitan mencari pegawai baru yang bisa saya percayai melebihi kamu, Regita dan Devina."


"Baik, Nyonya. Tetapi mungkin, saya hanya akan bertahan satu tahun saja. Di waktu itu, tolong Nyonya Harsa mencari orang yang benar-benar dapat Nyonya percayai," jelas Mardiyah.


Nyonya Harsa mengangguk. "Terima kasih. Saya rasa waktu itu lebih dari cukup, Mardiyah."


Mardiyah pamit. Mungkin saat keluar, ia akan bertemu dengan Kak Devina. Sungguh menyesal rasanya telah berkata yang tidak-tidak pada Kak Devina. Sejujurnya, beliau adalah orang baik, yang sangat ia patuhi. Tetapi emosinya memang sedang tersulut, dan sulit rasanya mengendalikan.


"Mar, ayo duduk sini," ujar Regita.


Mardiyah duduk berhadapan-hadapan dengan Regita.


"Sudah sarapan?"


Mardiyah mengangguk. "Sudah."

__ADS_1


"Menunya hari ini ayam suir pedas sama nasi kuning lho," ucap Regita.


"Iya. Nanti saya coba makan siang aja, Git."


Terdengar suara lonceng menandakan ada seseorang yang masuk. Tepat saat ia memandang, ternyata benar. Itu adalah Kak Devina.


"Pagi," ujar Kak Devina dan mengambil duduk di samping Regita.


"Pagi juga, Kak."


Canggung.


Tiba-tiba saja suasana yang seperti itu terasa. Saat Regita pergi untuk menyusun bunga-bunga baru di depan toko. Mardiyah membisu, begitu pula dengan Kak Devina.


"Eghm ... a-anu, Kak Dev, Mar."


Keduanya sama-sama menengok saat dipanggil.


"Ya?"


"Hm?"


"Itu ... di kasir ada nama-nama yang butuh di kirimkan bunga. Tadi Kak Dev sama kamu Mar, di suruh Nyonya Harsa ngecek," jelas Regita.


Mardiyah bangkit. "Iya. Saya cek."


Sedangkan Kak Devina mengangguk-angguk, berjalan lawan arah dengan Mardiyah. Dan sesaat sama-sama berada di tempat kasir, Mardiyah mempersilakan Kak Devina dulu untuk melihat daftar nama pembeli.


"Cecilia Adiwangsa pesan satu buket bunga mawar putih, dua buket bunga mawar merah, dan sedap malam satu ikat. Yang ngirim nanti ... " Kak Devina terdiam sejenak.


" ... saya."


Keduanya sama-sama berujar. Hingga Kak Devina menengok, "Berdua. Mau?"


"Iya, Kak," ujar Mardiyah.


...🌺...


Kediaman Gautama Adiwangsa sangat lah mewah. Kak Devina mungkin biasa-biasa saja karena sering melihat perumahan mewah seperti ini. Sedangkan Mardiyah, ya ... biasa saja juga. Karena ini memang kenikmatan sang pencipta untuk hamba-Nya. Tetapi rumor-rumor buruk, memang lalu-lalang di telinganya, tentang catatan gelap keturunan Adiwangsa.


"Oh iya, Bu Dev. Ingin mengirim bunga untuk Nyonya Adiwangsa, ya?"


Kak Devina mengangguk. "Iya."


"Kebetulan Nyonya Adiwangsa menunggu di dalam, Bu Dev. Beliau meninggalkan pesan, meminta Bu Dev untuk masuk," ujar kepala maid di kediaman utama.


Rumit sekali, batin Mardiyah menatapi kediaman Adiwangsa yang memiliki banyak ruangan.


"Ah, Devina!" ujar Nyonya Cecilia Adiwangsa dengan mengambil duduk di sofa single abu-abu.


"Bunganya sudah saya kirim, Nyonya. Semua di ambil oleh kepala maid," jelas Kak Devina.


Nyonya Cecilia mengangguk. "Terima kasih, Devina. Dan kamu ini ... dengan siapa?"


Kak Devina melihat Mardiyah. "Dia Mardiyah, Nyonya. Staf utama juga seperti saya."

__ADS_1


Nyonya Cecilia tersenyum tipis. "Salam kenal. Sering-sering mengantar bunga untuk saya, ya? Supaya lebih dekat dengan saya."


"Iya, Nyonya," ujar Mardiyah.


Setelahnya Kak Devina dan Mardiyah pamit, dan di perjalanan keduanya sama-sama membisu. Sebab tidak di antar sopir, yang menyetir mobil adalah Kak Devina.


"Mardiyah ..."


"Ya, Kak?"


Jeda tiga detik Kak Devina berujar, "Maafin saya. Saya tahu ini kesalahan saya, Mar. Harusnya saya nggak memaksa kehendak orang lain. Apalagi itu kamu, yang jelas-jelas sudah menolak."


Mardiyah terdiam sejenak, menatap lurus pada jalanan. "Saya memahami Kak Devina sebagai teman, rekan kerja dan juga sebagai seorang Adik. Saya benar-benar berterima kasih, Kak Dev sudah mengkhawatirkan masa depan saya. Tapi Kak Dev, latar belakang keluarga saya sama sekali nggak pantas untuk orang-orang yang Kak Devina kenalkan. Bahkan ada saat-saat di mana saya merasa rendah di hadapan Kak Devina dan Regita. Itu semua karena ..."


Kak Devina menengok.


"Karena saya hanya lah orang beruntung, yang bisa mendapatkan pekerjaan ini. Apalagi memiliki owner sebaik Nyonya Harsa, dan rekan-rekan kerja yang tiada duanya seperti Kak Devina dan Regita," imbuh Mardiyah.


Mobil berhenti tepat saat lampu merah.


"Ngomong apa sih kamu, Mar? Berapa kali Nyonya Harsa bilang sama kamu? Kalau kasta nggak berpengaruh terhadap performa kerjamu. Dan lagi kamu nggak ingat? Kenapa kita manggil Nyonya Harsa dengan sebutan Nyonya?" Kak Devina menjeda. "Itu karena rasa hormat kita saja pada beliau. Selebihnya beliau nggak minta tuh kita panggil Nyonya besar yang bermarga Jayantaka."


Ya, Kak Devina benar, batin Mardiyah menatap lampu mulai kuning dan detik berikutnya menghijau.


"Dan mengenai latar belakang keluarga kamu, Mar." Kak Devina menengok sekilas dan menatap jalan lagi. "Itu hal tersendiri, yang menjadi hakmu juga berbagai kisah hidupmu dengan siapa."


"Jadi berhenti bilang, bahwa orang-orang yang saya kenalkan ke kamu itu nggak pantas untukmu dan keluargamu. Tahu apa kamu tentang ketetapan Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya? Jangan langsung berprasangka yang bukan-bukan, Mar," lanjut Kak Devina.


Lagi-lagi Kak Devina benar, batin Mardiyah dengan menatap Kak Devina dari samping. "Terima kasih atas nasihatnya, Kak Devina."


"Eh!" Kak Devina menengok dengan mata yang melebar. "Siapa bilang itu nasihat, hah? Sejak kapan saya bicara serius gitu. Haish! Kamu bilang gitu, ngingetin saya sama umur saya, Mar!"


"Kak Devina memang sudah tua. Tapi wajah Kakak masih cantik kok," ujar Mardiyah.


"Wah-wah. Kamu ini! Jujurnya kebangetan. Terus juga, niatnya muji atau apa itu, hah?"


Mardiyah tersenyum tipis. "Saya memperjelas saja, Kak."


^^^


Note:


Di part 17, 18, 19 atau 20 (saya masih mikir partnya) akan saya skip menuju 1 tahun 8 bulan di mana pertemuan Alma dan Mardiyah, juga di mana Lutfan mulai menetap di panti asuhan. Pokoknya merujuk ke cerita kejadian Almahyra dengan sudut pandang Lutfan dan Mardiyah di Beda Tiga Tahun.


Ada sedikit ralat:



Istrinya Gautama Adiwangsa adalah Cecilia. Bukan Cecelia. Saya salah nulis di silsilah keluarga kemarin.


Dan temenannya Mardiyah adalah Regita. Di part 5 saya salah nulis Regina (sudah saya edit)



Sekian.

__ADS_1


__ADS_2