
"Jawab, Mar," ulang Lutfan.
Mardiyah menyandarkan punggungnya, menghela napas dan menatap ke arah lain. "Saya ... tadi bicara sama Abhimana."
"Bicara apa?" sahut Lutfan.
Mardiyah menjawab, "Banyak."
Lutfan memperhatikan bibir sang istri menunggu-nunggu ucapan selanjutnya.
"Dan seperti biasa juga, Lutfan. Saya nggak bisa menahan air mata." Mardiyah menggeleng. Aku bisa. Bahkan bicara dengan Rajendra pun aku bisa, tapi kalau berbicara dengan Abhimana. Aku ngerasa nggak bisa buat nggak nangis, Lutfan. Tangannya meremas gamis yang digunakan. "Abhimana tahu. Dia membahas tentang keadaan keluarganya."
Lutfan mengerutkan kening. Abhimana ... yang ... banyak bacot itu 'kan? Gila! Tujuan dia ke sini buat marah-marahin istri gue?! batin Lutfan geram, rasanya ingin sekali memangsa Abhimana. "Dia bicara kasar ke elo?"
"Enggak," lirih Mardiyah.
Lutfan berdecak. "Bohong."
"Saya nggak bohong."
"Terus kenapa lo nangis, hah?"
Mardiyah terdiam sejenak. "Dia bilang saya nggak boleh menganggu keluarganya. Padahal saya sama sekali nggak mengganggu ... udah cuma itu aja, tapi kenapa saya nangis?"
"Padahal itu wajar-wajar saja kan, Lutfan? Kalau pun saya jadi Abhimana. Saya juga akan bicara seperti itu," imbuh Mardiyah.
Jika dikatakan wajar. Lutfan setuju. Tetapi pasti cara Abhimana berucap sangat melukai hati istrinya. Atau memang ... Mardiyah selemah ini?
"Apa pun yang di ucapin Abhimana. Lupain, Mar."
Mardiyah menggeleng. "Nggak bisa. Tapi kalau kamu minta saya nggak inget beberapa saat, mungkin bisa."
"Assalamualaikum."
Mardiyah dan Lutfan menengok ke samping. Kedatangan Alma dan Jafar yang sepertinya baru saja pulang dari outlet. Padahal ini masih pukul satu siang. Alma duduk di kursi bersebelahan dengan Mardiyah sedangkan Jafar duduk berseberangan.
"Waalaikumussalam."
Alma menatapi Lutfan. "Kamu gimana kabarnya, Lutfan?"
"Baik, Ukhti. Lo gimana sama Mas Jafar?"
"Baik, kok." Alma beralih menatap Mardiyah. "Mar, gimana kabarmu? Udah ada rencana honeymoon nggak?"
Mardiyah menggeleng. "Belum ada."
Lutfan menatap Mardiyah dan Alma secara bergantian. "Kalian ngobrol aja dulu. Gue juga mau ngobrol sama Mas Jafar."
"Iya."
__ADS_1
Lutfan dan Jafar sekarang tengah berada di ruang kerja. Sebenarnya Lutfan berniat mengadakan resepsi seminggu setelah resepsi Jafar dan Alma. Namun ia batalkan, entahlah. Ia tak ingin ada resepsi bilamana itu dilakukan di Lazuardi hotel.
Jafar membalik buku catatannya. "Bagaimana masalahmu dengan Mardiyah?"
"Sejak kapan aku punya masalah sama Mardiyah seh, Mas? Orang aku baik-baik aja kok sama dia," jawab Lutfan.
Jafar mengangguk dan mengambil buku catatan lagi, lantas menulis di sana. "Saya dengar Pak Manggala berniat membawa Mardiyah."
"Iya, Mas."
"Lalu bagaimana caramu mengatasinya?" tulis Jafar.
Lutfan menghela napas menatap lurus, tangannya tidak lagi berada di roda. Melainkan di kedua pahanya. "Ada saran dari Umma, Mas."
Jafar menanti ucapan Lutfan selanjutnya.
"Mardiyah harus hamil," lanjut Lutfan.
Jafar menyentuh lengan kanan Lutfan. Hingga sang empunya menunduk membaca apa yang tertulis di buku catatan. "Kamu memaksanya melakukan itu?"
"Enggak lah!" Lutfan menjeda. "Tapi, dia sendiri mau Mas. Dia bilang, dia mau hamil."
"Jika begitu penuhi keinginannya, Lutfan," tulis Jafar.
Pipi Lutfan memerah semu. "Iya. Lagi usaha, Mas."
Terdapat jeda di sana. "Jadi jangan pernah melepaskan sesuatu yang telah di amanahkan padamu. Jika itu bersangkut paut dengan hakmu. Mardiyah adalah istrimu, hukum pun tahu yang berhak atas Mardiyah hanya lah kamu. Bukan Ayahnya, bukan keluarganya atau bahkan Ibunya."
"Iya, Mas." Lutfan tersenyum getir. Semua hal yang diucapkan oleh Jafar adalah benar. Tetapi apakah ia sanggup untuk menahan Mardiyah yang telah menjadi haknya? "Sampean do'ain ya, Mas."
Jafar mengangguk.
"Tapi ... kalau akhirnya Mardiyah di bawa sama Pak Manggala gimana, Mas? ... Kakek pun kayaknya nggak bisa bantu aku lagi."
Jafar meletakkan buku catatannya. "Ada hukum, Lutfan."
"Sampean nggak lupa 'kan? Latar belakang keluarga Adiwangsa itu bener-bener nggak bisa ditembus atau sekedar di saingi Mas. Mereka bakal ngelakuin segala cara untuk dapati apa yang mereka mau," jelas Lutfan.
Jafar mengangguk. Tangannya mengambil buku catatan lagi dan menulis di sana. "Mereka manusia, Lutfan. Mereka nggak bisa mengalahkan ketetapan Allah pada setiap hamba-hamba-Nya. Mereka akan berdosa bilamana tega memisahkan seorang suami terhadap istrinya. Dan jika mereka berani membawa Mardiyah. Maka kita akan mengambil jalur hukum."
"Makasih, Mas. Atas sarannya. Insya Allah aku bisa nahan Mardiyah."
"Mar."
"Apa?"
__ADS_1
Alma menatapi Mardiyah yang baru saja meletakkan gawainya. "Lutfan gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya itu. Dia baik sama kamu?"
Mardiyah mengangguk. "Baik."
"Aku boleh tanya lagi nggak?"
Mardiyah menatap lurus pada Alma. "Hm. Boleh."
"Kamu ... cinta sama Lutfan?"
Kening Mardiyah mengerut. "Kenapa aku harus jawab kamu?"
"Ya-ya aku kan tanya. Tadi katanya boleh."
"Boleh memang. Tapi kalau bersifat pribadi nggak boleh," ujar Mardiyah.
Alma menampilkan wajah kesalnya. Kemudian ia terdiam sejenak, mengingat-ingat fakta bahwa perempuan di depannya adalah sang Tuan Putri dari istana Adiwangsa. "Mar ..."
"Hm."
"Kamu nggak bakal ninggalin, Lutfan sama Umma 'kan?"
Mardiyah terdiam sejenak, dan menatap ke arah lain. "Insya Allah enggak."
"Kamu ragu."
Mardiyah menatap Alma lagi dengan datar. "Ragu gimana?"
"Kelihatan. Kamu kelihatan ragu."
Gimana bisa aku nggak ragu, Alma? Kalau sampai Pak Manggala bertindak, jalur hukum pun nggak akan bisa mempertahankan aku, batin Mardiyah dengan menunduk menatapi jari-jemarinya. "Alma ... aku boleh minta sesuatu?"
"Apa?"
"Dulu Lutfan membantumu atas masalah Jafar dan Azizah. Sekarang ..." Mardiyah mendongak menatap Alma. "Apa kamu bisa bantu aku dan Lutfan?"
Netra Alma melebar, ia tak tahu harus apa, jika sekiranya permintaan Mardiyah melebihi batas kemampuannya. "Insya Allah, Mar."
"Kamu nggak perlu ikut untuk berurusan dengan keluarga Adiwangsa. Kamu cukup ... do'akan aku dan Lutfan, Alma. Do'akan atas keutuhan rumah tangga ku dan Lutfan." Mardiyah menunduk lagi, ia menggigit bibir bawahnya pelan. "Dan kalau ... akhirnya Pak Manggala membawa saya pergi. Tolong do'akan Umma dan Lutfan. Do'akan segala kebahagiaan melingkupi kehidupan mereka."
"Mar ... kenapa kamu bicara kayak gini? Aku yakin Mas Jafar, Lutfan, Kakek pasti bantu kamu. Pak Manggala nggak akan bisa bawa kamu pergi," ujar Alma.
Mardiyah mengangguk. "Aku tahu, Alma. Lutfan, Jafar, Kiai Bashir dan semuanya bakal berusaha semampu mereka. Tapi kalau akhirnya sia-sia. Aku cuma minta itu dari kamu. Jangan pernah memutuskan do'a untuk kebahagiaan Umma dan Lutfan saat aku pergi---"
"Enggak Mar ... kamu harus percaya sama Lutfan. Kamu harus percaya sama suamimu. Gimana bisa Lutfan berjuang? Kalau kamu pun ragu sama dia."
__ADS_1
Mardiyah menggeleng. "Aku nggak ragu. Aku percaya sama dia, Alma."