
"Lutfan ... Putra Umma sendiri."
Lut-fan? batin Mardiyah seolah tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Umma Sarah. Lelaki yang di sebut oleh beliau ... apa ia tidak salah dengar? Adiknya dulu---adik angkatnya yang beliau pilihkan?
"Iya ... Lutfan, Nak."
Ucapan itu terulang lagi. Sungguh ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa? Tubuhnya tiba-tiba saja kaku, mulutnya tidak sanggup berkata.
"Kamu diam, Nak?" Umma Sarah menyentuh tangan kanannya. "Kamu nggak suka ... sama laki-laki yang Umma pilihkan?"
"Su-ka," ujar Mardiyah lirih.
Saat ia mendongak, menatap lurus pada Umma Sarah, beliau nampak tersenyum tipis. "Sebenarnya Mardiyah ..."
"Apa, Umma?"
Dibalik senyum tipis itu terselip kesedihan mendalam yang dapat Mardiyah baca dari sorot mata beliau. "Pernikahan kalian, sudah Abi tetap kan sebelum beliau meninggal. Kamu tahu, Nak? Semenjak hari di mana Umma menemukanmu."
Mardiyah terdiam.
"Saat itu ... Umma belum miliki Lutfan." Umma Sarah menunduk memandang pada kedua tangan yang saling menggenggam. "Mungkin memang belum rezeki. Tetapi kehadiran kamu saat itu ... berikan kebahagiaan dalam hidup Umma dan Abimu, Nak."
"Ibumu juga ... mungkin dia mengira bahwa Umma sudah memiliki anak. Padahal belum sama sekali ..." Usapan di tangan beliau kian lembut. "Dua tahun berlalu, dan di pertengahan bulan Umma hamil ... Ya, Umma hamil Lutfan, setelah penantian selama lima tahun lamanya."
__ADS_1
"Umma bahagia Mardiyah ..." Senyuman tipis terukir pada bibir Umma Sarah. "Tepat saat itu usia kandungan Umma telah memasuki bulan ketujuh, entah pikiran dari mana Abimu tiba-tiba saja bilang, jika Lutfan lahir nanti, jangan pernah memberi Mardiyah ASImu."
A-apa maksud beliau? batin Mardiyah dengan menatapi Umma Sarah yang sekarang telah mengeluarkan air mata.
"Umma kira, Abi nggak sayang kamu lho. Ternyata ... Abi sayang kamu, Nak." Umma Sarah menjeda. "Di usiamu yang menginjak tujuh belas tahun ... Abi dan Umma berbincang. Beliau bilang, jadikanlah Mardiyah sebagai istri Lutfan kelak."
Umma Sarah menggeleng pelan dengan air mata yang terus mengalir. "Umma nggak tahu jalan pikiran beliau apa, Nak. Tapi saat mendengar itu ... Umma jadi tahu. Alasan di mana Abimu melarang Umma memberikan ASI adalah ini ... supaya kamu dan Lutfan bisa menikah."
Supaya ... aku dan Lutfan menikah? Tidak menjadi saudara sepersusuan? batin Mardiyah dengan menatapi manik mata Umma Sarah.
"Ke-napa, kamu diam Mardiyah?"
Mardiyah menggeleng.
"A-abi ..." ucapnya terbata saat mengingat Abi Aziz yang ternyata beliau sangat menyayanginya. "A-apa Abi benar-benar bilang seperti itu, Umma?"
Umma Sarah mengangguk.
"Lutfan tahu?"
Umma Sarah mengangguk sekali lagi. "Sebelum Umma memberitahu kamu ... Lutfan bilang, Umma nggak boleh paksa kamu, Nak."
"Maksudnya, Umma?"
__ADS_1
Jeda tiga detik Umma Sarah berujar, "Kamu ... kamu boleh menolak Nak, jika pernikahan ini memang sangat memaksamu."
Aku ... boleh menolak? Mardiyah menggeleng-gelengkan kepala pelan, tangannya beralih menggenggam tangan Umma Sarah. "U-umma ... Mardiyah mau. Mardiyah nggak pernah merasa bahwa ini terpaksa. Bukankah Mardiyah sendiri yang minta Umma carikan suami? Jadi ... jika pilihan Umma adalah Lutfan. Mardiyah akan menikah dengan Lutfan."
"Kamu beneran nggak merasa terpaksa Nak?"
Mardiyah menggeleng.
Walaupun hubungan yang ia jalani dengan Lutfan saat ini tidak benar-benar terlihat baik. Mardiyah tetap tidak akan pernah mengingkari keinginan Abi Aziz dan Umma Sarah. Orang tua sambung yang menghidupinya selama ini. Mardiyah pun tidak pernah merasa berada di atas Lutfan, walau sebenarnya ia bisa saja memarah-marahi Lutfan seperti semasa kecil dulu. Namun Lutfan tetap lah anak kandung orang tua sambungnya.
Anggap saja ini balas budinya untuk mengabdikan hidup dengan menjadi pendamping Lutfan.
Ya, laki-laki itu Lutfan.
Tidak apa-apa.
"Mar ..."
Mardiyah mengangguk. "Iya, Umma. Mardiyah mau."
Jeda tiga detik Mardiyah berujar, "Jadi ... pernikahan Mardiyah dan Lutfan akan berlangsung beberapa bulan lagi, Umma?"
Umma Sarah mengangguk.
__ADS_1
"Umma akan secepatnya bilang ke Lutfan. Dia pasti seneng Nak. Bisa dekat lagi, sama Kakaknya," ujar beliau.
Kakak? Kakak yang akan segera menjadi istrinya, Umma ...