Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
99 :


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Mama Cecilia mengabarkan bahwa Nenek Aisha telah dipindahkan ke Adiwangsa hospital. Begitu pula dengan Lutfan yang tiba-tiba memberi kabar bahwa gaun pernikahannya telah siap untuk dicoba. Jujur saja Mardiyah hampir sangat lupa bahwa ia sudah berjanji akan mengadakan walimatul'ursy.


Lutfan bilang semua sudah siap. Sedangkan ia masih belum memesan undangan, gedung dan makanan untuk acara. Dirinya benar-benar akan membuat Lutfan merasa sedih, karena melupakan ini.


"Mar?"


"Hm? Iya i-tu aku rencana nungguin kamu selesai semua dulu. Sambil lihat-lihat gedung mana yang pas buat acara walimatul'ursy kita," jawab Mardiyah.


"Jyotika Ira, gimana?" usul Lutfan. "Penginapan itu kan ada gedungnya. Terus di tengah-tengah juga. Aku tahu mungkin bakal mahal karena Jyotika Ira termasuk penginapan mewah. Tapi aku bisa bantuin kamu soal uang."


"Boleh." Mardiyah mengeluarkan gawainya dari dalam saku. "Aku searching dulu kira-kira berapa biayanya, ya?"


"Ngapain pakai cari di google? Aku tanyai ke Abhimata," sahut Lutfan yang langsung mengirim pesan singkat pada adik iparnya.


Kling!


Abhimata


6-10 jt. Kenapa?


Lutfan mengalihkan pandangannya. "Kata Abhimata sekitar enam sampai sepuluh juta. Gimana? Mau, kan?"


"Yang empat jutaan aja ada kemaha---"


"Ini kan walimatul'ursy yang sekali seumur hidup. Aku juga mau nanti acaranya bagus dan megah. Terutama juga nyaman buat keluarga kita," sanggah Lutfan.

__ADS_1


Mardiyah menghela napas. "Ya sudah. Besok kita mampir ke Jyotika Ira buat lihat gedungnya langsung."


"Siap."


"Tapi, Lutfan. Jangan bilang buat walimatul'ursy pasti Mama Cecilia atau Abhimata bakalan nggak mau nerima uang aku," jelas Mardiyah.


"Iya. Aku nggak bakal bilang." Lutfan mengambil laptop yang berada di samping meja ranjang. Lalu mengutak-atiknya sejenak. "Kamu deketan sini, Mar. Aku mau nunjukin baju pertama yang kamu pakai nanti."


Mardiyah mendekat. Netranya membinar saat melihat gaun pengantin yang dipilihkan oleh Lutfan. Indah, simpel dan tertutup. "Bagus, Lutfan. Ini kerudungnya panjang kan?"


"Nggak panjang-panjang banget. Cuma aku udah mastiin menutupi dada, belakangnya juga nggak pendek," jelas Lutfan.


Mardiyah mengangguk-angguk.


"Kamu suka, kan?"



Naif.


Orang-orang akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang seperti itu. Bukankah telah menjadi haknya untuk memaafkan Gautama ataupun tidak? Bahkan di hari ia meninggalkan Gumira ia telah memastikan hati untuk mencintai Gautama sepenuhnya. Kehadiran Rajendra, Abhimata dan Abhimana lah buktinya, bahwa ia telah ikhlas menerima takdir yang telah digariskan.


Bahkan ia masih ingat. Cara Gautama memandang sekertarisnya itu, penuh cinta dan kelembutan. Begitupula cara Gumira memandang Gistara, tatapan menerima yang sekilas tersirat cinta. Entah mengapa sakit rasanya, mengetahui fakta bahwa Gumira telah melupakannya, dan Gautama tetap mencintai wanita itu.


Wajar jika ia mencemburi Zanitha. Walaupun wanita itu telah pergi, tetapi ada seorang anak perempuan yang telah di tinggalkan dia untuk Gautama. Mardiyah, namanya. Anak itu cantik, seperti cerminan dari Zanitha. Mungkin yang berbeda hanya lah cara Mardiyah menatap.

__ADS_1


Jujur saja, ia tidak bisa membenci Mardiyah. Karena memiliki anak perempuan adalah impiannya. Ia mengesampingkan rasa sakit hatinya, karena penderitaan Mardiyah tercipta mungkin juga karena pernikahan dirinya dengan Gautama. Ia telah menjadi jahat, membiarkan seorang anak harus terlahir tanpa adanya pernikahan. Bahkan telah membuat Mardiyah tidak bisa menemui Ibunya sendiri.


"Mama ... Mama Cecilia!"


Cecilia tersadar saat merasakan sentuhan tangan Mardiyah di lengannya. "I-ya ada apa, Nak?"


"Mama, nggak enak badan?"


Cecilia menggeleng. "Mama baik-baik aja. Kenapa?"


"Dokter bilang, Nenek saya bisa dirawat jalan. Jadi saya mau bawa Nenek pulang ke rumah Umma Sarah," jelas Mardiyah.


Cecilia menggeleng cepat. "Enggak-enggak. Kenapa, Nak? Dirawat di Adiwangsa hospital aja. Mama yang bayar---"


"Enggak, Ma. Semua bukan masalah pembayarannya," sanggah Mardiyah.


"Terus apa?"


Mardiyah menjawab lirih, "Saya nggak mau merepotkan Mama lagi."


"Mama nggak merasa kerepotan, Nak."


Mardiyah menyentuh tangan Cecilia. "Saya benar-benar berterima kasih atas bantuan Mama. Saya merasa bahwa ini sudah lebih dari cukup merepotkan Mama. Saya tahu Mama pasti bakal jawab seperti itu. Tapi demi Allah, Ma. Saya bener-bener nggak mau ... orang-orang mem-bicara tentang masalah ini di belakang Mama."


"Terus kamu mau jauhi Mama?"

__ADS_1


"Astaghfirullah. Enggak, Ma. Saya nggak bermaksud seperti itu."


"Mardiyah, Mama sudah terbiasa di bicarakan oleh orang-orang. Kamu tahu Rajendra? Adikmu itu suka sekali membuat ulah. Bahkan ada orang yang terang-terangan menghina Mama tentang cara mendidik seorang anak." Cecilia menghela napas pelan. "Bagi Mama menerima kamu. Lalu di bicarakan lagi oleh orang-orang enggak akan berpengaruh ke Mama, Nak. Mama nggak akan sedih. Mama lebih ke bahagia, karena bisa merawat kamu." Anak yang lahir untuk menjadi lentera kehidupan Tama. Yang bisa membuat Tama lebih bahagia, tanpa memikirkan Zanitha lagi. Karena sungguh sakit Nak, saat Ayahmu lebih memikirkan Ibumu. Padahal di sini Mama adalah istri sah yang berhak mendapatkan cinta Ayahmu lebih dari siapapun, lanjut Cecilia.


__ADS_2