
Bulan demi bulan berlalu. Terdengar kabar bahwa ada seorang perempuan yang mungkin seusianya, berpindah ke panti asuhan Al-Hikmah. Mardiyah belum bertemu dengan perempuan itu, hanya terdengar saja dari Salsa yang berbicara.
Tetapi orang-orang bilang, namanya adalah Alma. Dan Alma terlihat dekat dengan Umma Sarah. Bahkan yang membawa perempuan itu berpindah ke panti asuhan adalah beliau.
"Mbak Mar!"
Terdengar suara yang cukup nyaring diiringi oleh ketukan pintu. Kening Mardiyah mengerut, sepertinya itu adalah suara Salsa.
"Ya?" Pintu terbuka. "Ada apa?"
"Mbak, sampean di panggil sama Umma Sarah ndek kantor," ujar Salsa.
Mardiyah mengangguk dan cepat-cepat berlalu pergi ke kantor Umma Sarah. Tidak biasanya sepagi ini Umma mencari. Bahkan tugasnya mengantar makanan untuk Ummi Salamah saja belum ia lakukan. Setelah sampai di depan kantor, Mardiyah masuk dengan mengucap salam.
"Umma ada perlu sama Mardiyah?"
Umma Sarah mengangguk. "Mulai hari ini biar Alma saja yang mengantar makanan untuk Ummi Salamah, ya Nak? Umma yang minta. Nggak pa-pa 'kan?"
Mardiyah terdiam. Sedetik kemudian mengangguk. "Iya, Umma nggak pa-pa."
"Oh iya. Kamu udah ketemu sama Alma, Nak?"
Mardiyah menggeleng. "Belum, Umma."
"Nanti kenalan, ya Nak? Asramanya deket sama Inayah Kirana, nanti kamu coba ke sana, ya?"
Mardiyah mengangguk. "Iya, Umma."
Mardiyah keluar dari kantor. Sesaat ia terdiam di depan kantor panti asuhan, pikirnya untuk apa ia berkenalan dengan si Alma-Alma itu? Mardiyah tidak mau, lagi pula perempuan itu tiba-tiba saja mengambil tugasnya. Yang menurut ia sendiri, adalah tugas pribadi yang hanya boleh di kerja oleh orang yang sudah di kenal lama. Dan Alma, bukan lah orang lama, dia orang baru.
Lebih baik aku ke asrama saja, batin Mardiyah.
__ADS_1
Terurung sudah saat gawainya tiba-tiba saja berbunyi. Terterah nama Kak Devina.
"Selamat pagi!"
"Pagi, Kak Dev." Mardiyah menjeda. "Ada perlu apa telepon, Kak?"
"Eh? Nggak boleh? Saya nggak boleh telepon kamu, Mar?"
Mardiyah tersenyum tipis. "Boleh, Kak. Kan saya cuma tanya."
"Saya mau ke sana sama anak-anak. Boleh nggak?"
Senyuman Mardiyah terukir. Ia langsung mengambil duduk di kursi taman. "Boleh, Kak. Saya tunggu. Sekitar jam berapa ke sininya?"
"Habis ini sampai! Tunggu di depan gerbang, ya?"
Mardiyah spontan mengangguk. "Iya, Kak."
Panggilan berakhir. Secepatnya Mardiyah berjalan menuju gerbang depan, menunggu ke datang Kak Devina dan lainnya. Sebenarnya ia berpikir, anak-anak yang di maksud ini siapa saja? Berarti tidak hanya Kak Devina dan Regita.
"Halo, Mardiyah! Selamat pagi!"
Mardiyah tersenyum tipis. "Pagi, Kak."
Terlihat Regita keluar dari mobil bersama Regan. Lantas perempuan mungil itu berlari ke arahnya, dengan langsung memeluk erat.
"Mardiyah! Kangen banget lho saya," ujar Regita.
Mardiyah mengangguk-angguk dan tersenyum tipis dengan mengusap surai pendek sebahu milik Regita. Dan sesaat ia mendongak menatap mobil Toyota putih, dari sana keluar lah Aryandra Adyuta. Mardiyah sekejap saja, menyimpan senyumnya, berubah datar menatap lelaki itu.
"Oh iya. Maaf, ya Mar. Saya ajak Regan sama Aryandra. Nggak pa-pa 'kan?" Kak Devina menjeda. "Terus juga ... rencananya saya mau ajak kamu ke pantai. Boleh kan, Mar sama Ibu pantimu?"
__ADS_1
Mardiyah terdiam.
"Mar?"
Mardiyah seketika tersadar. "Ke pantai, Kak?"
"Iya. Nggak boleh, ya? Kamu ... sibuk?"
Saya mau, Kak Dev. Tapi kenapa ada laki-laki itu? batin Mardiyah dengan menuntun Kak Devina dan yang lainnya masuk. "Nanti ... coba saya tanya ke Umma dulu, Kak. Mari masuk dulu. Tolong parkir mobilnya di dalam juga, Kak."
Kak Devina berbalik. "Regan, Aryandra. Tolong parkir mobilnya, ya?"
...🌺...
Umma Sarah menyetujui permintaan Kak Devina. Setelah berganti pakaian menggunakan gamis putih dengan kain yang ringan. Mardiyah telah siap untuk pergi ke pantai. Setidaknya ia bersyukur, tidak satu mobil dengan Aryandra, ia meminta semobil saja bertiga dengan Kak Devina dan Regita.
"Mar, Mar! Saya punya cerita nih!"
Mardiyah menengok pada Kak Devina. "Apa, Kak?"
"Regita bilang, pernikahannya di Lazuardi hotel. Di booking-in tempat di sana sama Pak Gumira Regannya. Jadi Regita ini nih dari kemarin seneng banget, katanya mimpi dia tercapai gitu," jelas Kak Devina.
Regita menyahut, "Gosipin orang di depannya. Ya, Kak Devina ini!"
"Saya cuma cerita, Git." Kak Devina menggeleng dengan tertawa ringan. "Nggak ada niat gosipin kamu."
Kak Devina tiba-tiba saja mendekat gawainya. "Kita nginep di sini, ya?"
"Lho, Kak? Menginap?" tanya Mardiyah.
Kak Devina mengangguk-angguk. "Saya lupa belum bilang, ya Mar? Tiga hari dua malam aja nggak pa-pa 'kan? Jarang-jarang kita liburan, Mar. Jarang-jarang ngumpul bareng. Saya sama Regita juga udah izin ke Nyonya Harsa. Mau, ya? Mau?"
__ADS_1
"Iya, Kak."
Andai nggak ada Aryandra, saya benar-benar bahagia bisa berlibur bersama Kak Devina dan Regita, batin Mardiyah dengan memandang ke arah jalan.