
...stay halal, brother and sister. baca sesudah berbuka puasa....
"Nggak makan?"
Mardiyah tersadar. "Hm?"
"Kamu nggak makan?" Ulang Lutfan yang spontan memajukan wajahnya, dan melihat netra Mardiyah lebih dekat, ternyata memerah. "Kamu nangis?"
"E-enggak." Mardiyah mendorong dada Lutfan menjauh. "Jangan dekat-dekat gini, Lutfan."
"Kamu nggak suka aku dekat-dekat?"
"Bu-bukan gitu---" Mardiyah menunduk. Sepulang dari outlet, ia memang masih belum melahap makanan sama sekali. Jika Lutfan memintanya untuk tidak memikirkan, mana mungkin ia bisa? Entahlah, dirinya merasa aneh, Lutfan terlihat tidak keberatan. Namun ia terus menerus memikirkan. "Aku cuma lagi nggak mau."
"Emang aku mau ngapain?"
Mardiyah terdiam.
Lutfan memaksa untuk melihat wajah Mardiyah dengan menyentuh kuat kedua tangan sang istri. "Iya. Kamu nangis. Matamu merah itu."
"Lutfan, lepas." Mardiyah menatap Lutfan dengan sendu. Menyebalkan. Kenapa dirinya harus menangis? Pekara seperti itu ... harusnya tidak usah di bawa terlalu serius. Tetapi ia merasa semua hal yang berhubungan dengan dirinya pasti akan menyusahkan Lutfan. "Jangan bilang gitu. Nanti aku makin nangis."
"Ya Allah ... kamu kenapa? Aku salah? Aku nggak sengaja nyakitin kamu? Atau apa, Mar?"
Lutfan menyusupkan tangannya pada pinggang Mardiyah. Istrinya itu menunduk, enggan menatap. Lalu ditariknya pelan sang istri pada pelukan. "Hushhh udah-udah, Mar."
"Aku nggak tahu kenapa ... Lutfan. A-aku tiba-tiba nangis. Ka-kayak semua tentang a-aku itu selalu ngerepotin kamu. A-aku kan udah bilang ka-kalau aku bakal susah hamil, terus tiba-tiba Dokter bilang gitu, pa-pasti bikin kamu nggak nyaman." Mardiyah meremas kuat baju yang gunakan Lutfan. "Pa-padahal kita baru aja bisa ngelakuin itu satu kali. Kenapa sekarang banyak banget pantangannya ya-yang nggak boleh ini nggak boleh itu. Semua nyusahin kamu. A-aku jadi ngerasa nggak becus ja-jadi istri."
Lutfan memejamkan mata sejenak. Jadi ucapan Dokter masih memenuhi segala pikiran istrinya. Ia kira di outlet tadi Mardiyah menuruti ucapannya untuk tidak terlalu dipikirkan. Nyatanya apa? Tetap saja Mardiyah memikirkan itu. Bahkan parahnya sampai meneteskan air mata. Tangannya yang berada di pinggang mengusap-usap pelan, untuk menenangkan sang istri.
"Sekarang coba kamu jelasin. Kenapa kamu bisa nyimpulin kalau semua yang di ucap Dokter tentang keadaan kamu itu nyusahin aku?" tanya Lutfan.
Mardiyah menggeleng.
"Aku sama sekali nggak merasa keberatan."
"Bohong." Mardiyah mengusap pucuk hidungnya. "Aku kalau jadi kamu ... ngerasa keberatan, Lutfan. Apa kamu ini benar-benar nggak mikir? Kalau aku ini nyusahin---"
"Udah-udah. Kalau aku mikir kamu nyusahin, ngapain aku pertahanin kamu? Ngapain juga aku susah-susah jemput kamu ke sana ke mari?" Lutfan mengusap surai panjang Mardiyah. "Jadi, please berhenti Mar, jangan mikir yang enggak-enggak tentang aku. Aku sama sekali nggak merasa kesusahan."
Mardiyah melepas pelukan perlahan, dan menatap Lutfan. Apa benar suaminya itu tidak merasa kesusahan? Sekali pun Lutfan telah menyatakan cinta, tidak memungkiri begitu banyak hal yang akan bisa memudarkan perasaan mendalam itu.
"Mau buktinya, nggak?"
Mardiyah bingung. "Buk-ti apa?"
Lutfan mendekat wajah keduanya. "Buka mulut, Mar."
"Ngapain?"
Lutfan langsung menempelkan bibirnya. Kedua benda kenyal itu saling menyatu, mulut Mardiyah yang terbuka memudahkan dirinya untuk menjelajah lebih dalam. Tangannya pun tidak hanya diam, ranjang yang luas ini membuatnya dapat bergerak bebas. Dengan perlahan-lahan menarik resleting belakang dress tidur Mardiyah, hingga menampakkan kulit putih mulus dari bahu sang istri yang beberapa bagian tertutupi oleh rambut.
"Hahhh."
Mardiyah mengambil dan membuang napas beberapa kali saat Lutfan melepas ciumannya. Netra sayu itu menatap. "Kamu ... mau sekarang?"
__ADS_1
"Boleh, kan?"
Tangan Mardiyah langsung menyilang di tengkuk Lutfan. "Tapi ... kan belum beli---"
"Aku punya, nggak perlu beli."
"Di mana?"
"Di laci."
Mardiyah menengok, melihat laci. "Ke berapa?"
"Laci nomor dua."
Mardiyah melepas tangannya dari tengkuk Lutfan. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju laci, lantas membukanya, untuk mengambil sesuatu yang Lutfan maksud. Setelah netranya menangkap benda itu Mardiyah kembali ke atas ranjang.
"Ini?" ujar Mardiyah dengan menunjukkan benda itu di hadapan Lutfan. "Cara makainya?"
Spontan Lutfan tertawa ringan melihat cara Mardiyah yang begitu serius bertanya. Tangannya mengambil alih benda itu, dan ia menatap Mardiyah lagi. "Nanti. Kalau sudah siap baru di pakai."
"O-oh gitu."
Lutfan mengangguk.
"Ma-u lanjut?"
Lutfan langsung mengecup leher kiri Mardiyah perlahan-lahan turun ke bahu, salah satu tangannya mulai menggeliat menyentuh pada titik-titik tertentu.
"Lutfan ..."
"Hm?"
"Nggak pa-pa. Lagian masih sore, Umma masih di pesantren," jelas Lutfan yang mulai menyentuh salah satu gundukan kembar itu. "Mar ... pasang sekarang juga nggak pa-pa." soalnya gue udah tegang, lanjut Lutfan dalam hati.
Mardiyah baru saja selesai mandi. Ia berniat ke dapur langsung tanpa mengeringkan rambutnya, ia lapar karena tidak menuruti Lutfan untuk makan. Saat selesai mengambil nasi dan lauk, ia ingin langsung kembali. Namun sayangnya tiba-tiba saja berpapasan dengan Umma Sarah yang ingin memasuki dapur.
"Eh? Menantu Umma ... bener gini, harusnya habis mandi emang langsung makan, Nak."
Mardiyah menunduk, dengan tersenyum canggung. "Iya, Umma. Sekalian sama Lutfan. Permisi, ya Umma."
"Iya-iya nggak pa-pa. Makan yang banyak biar sehat, biar nggak capek-capek kamu sama Lutfan," ujar Umma Sarah.
"Iya, Umma."
Mardiyah pamit. Dan berjalan cepat memasuki kamar, setelah sampai ia langsung meletakkan piring makanan di meja. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Akhh, malu. Kenapa harus ketemu Umma sih? batinnya menjerit.
"Kamu kenapa?"
Lutfan baru saja keluar dari kamar mandi. Mardiyah langsung membuka kedua tangannya. "Lutfan ..."
Suaranya manja banget. Dia kenapa? batinnya yang bingung. "Kenapa, hah? Lihat di kaca wajah kamu merah."
"Aku ketemu Umma waktu ambil makan. Terus ya gitu ... aku malu."
"Emang Umma tahu kita habis ngapain?" Lutfan mendekatkan kursi rodanya pada Mardiyah. "Beliau nggak mungkin tahu, Mar."
__ADS_1
"Kata siapa? Umma lihat rambut aku basah beliau pasti tahu, Lutfan," ujar Mardiyah dengan memegangi kedua pipinya yang memerah.
Lutfan spontan saja terkekeh. "Itu mah salah kamu. Kenapa keluar kamar nggak di keringin rambut dulu?"
"Kok kamu malah nyalahin aku sih!" Mardiyah memukul paha Lutfan pelan. "Ngeselin!"
"Bercanda." Lutfan menyentuh pergelangan tangan Mardiyah. "Udah nggak pa-pa. Ngapain malu? Orang sama Umma aja. Beliau juga tahu hal-hal ini wajar buat suami istri muda. Ayo makan, aku laper."
"Um, tapi ..."
"Nggak pa-pa, Mar. Udah. Ayo, makan."
Abhimata
Kak, minggu depan Mama mau mampir ke panti asuhan nggak pa-pa kan? Kakak nggak ada acara, kan?
Sejenak Mardiyah terdiam membaca pesan singkat dari Abhimata. Minggu depan jika tepat hari minggu mungkin hanya akan ada acara minggu bersama di bulan terakhir, akan sedikit sibuk tapi ia usahakan untuk menyambut.
^^^Hari apa?^^^
^^^Kalau minggu ada acara di panti, kalau beliau mau sekalian datang nggak pa-pa.^^^
Abhimata
Minggu, Kak.
Kata Mama sekalian aja ikut acara.
Mardiyah mematikan gawainya. Dan meletakkan kembali pada saku gamis depannya, lalu membantu Salsa menyiapkan piring-piring serta kelas untuk makanan nanti.
"Mbak Mar."
"Ya?"
"Sampean kok repot-repot seh? Ndek sini kan ada aku sama yang lainnya."
Mardiyah tersenyum tipis. "Nggak repot kok. Kebetulan aku sama Lutfan udah makan. Sekalian bantu-bantu aja di sini."
"Mbak Mar, sampean nggak capek ta? Katanya tadi habis ke rumah sakit. Aku takutnya sampean kecapekan," ujar Salsa.
"Enggak, Sal."
Dari arah luar dapur masuk Kirana dan Inayah yang masuk bersama dengan bergandengan tangan, sambil tertawa.
"Kak Mar, tadi ada orang datang ngirim sesuatu, terus aku di suruh sama Pak Budi buat manggil Kak Mar buat ke tempat pos," jelas Kirana.
Mardiyah langsung pamit. Sesegera mungkin menuju tempat pos pengamanan untuk melihat kirimin apa yang dimaksud Kirana.
"Mbak Mar, ini ... tadi ada orang datang katanya buat Mbak Mar," ujar Pak Budi dengan menyerahkan tas belanjaan yang terbuat dari kertas. "Kata beliau, tolong di terima. Gitu, Mbak."
"Oh iya, makasih Pak."
"Nggih sami-sami."
Dalam perjalanan menuju rumah untuk meletakkan kiriman ini, Mardiyah sedikit mengintip melihat apa yang berada di dalam tas itu. Ada surat? batinnya yang langsung mengambil surat di dalam tas, dan tanpa pikir panjang ia mencari-cari siapa nama pengirimnya.
__ADS_1
"Manggala Adiwangsa?" lirih Mardiyah.