
Tiga hari berlalu ...
Mardiyah di pulang kan ke panti asuhan atas izin sang Ayah, Gautama. Manggala tidak menahan-nahan lagi sebab saat mendengar kabar bahwa Rajendra juga berusaha menyakiti Mardiyah, Manggala merasa bahwa semua ini memang benar-benar salah, dan sangat keterlaluan. Sedangkan, Gautama berpikir bahwa yang di katakan Abhimana dan Abhimata adalah benar. Darah yang sama, Mardiyah adalah anaknya, dan menyakiti keluarga sendiri akan meninggal luka. Lantas hanya berujung pada penyesalan saja.
Kediaman Umma Sarah yang biasanya ramai oleh lalu lalang anak panti asuhan, kini nampak sepi. Sebab saat Mardiyah memandang keluar jendela, matahari sedang terik-teriknya, pertanda bahwa anak-anak panti belum juga sekolah. Sejujurnya Mardiyah merindukan Inayah. Bagaimana kiranya anak pemalu itu?
Tak lama, tiba-tiba kendaraan roda empat itu pun akhirnya berhenti tepat di pelataran rumah Umma Sarah. Bibir Mardiyah langsung berbentuk sabit, Umma Sarah---sang mertua menyambutnya.
"Ya Allah Mardiyah ... Menantu Umma." Umma Sarah mengecup pipi kiri, kanan dan terakhir pada kening. "Kamu baik-baik aja? Ada yang sakit? Atau ... oh iya, Umma udah masakin kamu banyak. Ada nasi tim juga, Nak."
Lutfan menatap Ummanya dengan menggeleng. "Nggak habis pikir aku sama Umma lho. Di ciumi semua muka Mardiyah. Dia ini capek lho Umma."
Umma Sarah menunduk menatap anaknya yang di bantu Cak Sur untuk masuk ke dalam rumah. "Kamu iri? Minta sendiri sana!"
"Astaghfirullah Umma mah! Apaan, sih."
Ruang makan yang langsung menjadi tempat pemberhentian langkah Umma Sarah dan Mardiyah. Ya benar. Seperti yang beliau katakan. Beliau memasak banyak, di meja makan ini benar-benar penuh.
"Cacak monggo makan juga," tawar Umma Sarah.
Cak Sur menggeleng. "Endak, Umma. Saya mau ke pesantren bantuin Gus Jafar. Sepurane, nggih Umma. Saya pamit, assalamualaikum."
"Iya nggak pa-pa, Cak. Waalaikumussalam."
Setelah Cak Sur pamit. Mardiyah sejenak menatap Lutfan dan berkata, "Kamu belum makan, Lutfan."
"Iya. Rencananya gu--a-ku mau makan. Tapi kayaknya makanan ini khusus buat kamu." Lutfan menatapi satu persatu makanan. "Umma aja nggak nawarin."
"Ya Allah kamu ini! Kebiasaan! Masa iya Umma harus nawarin terus. Itu kamu udah di tawarin sama istrimu lho, masih minta Umma tawarin juga? Lagian Umma ini masak juga buat kamu." Umma Sarah menunjuk sambal goreng kentang. "Itu. Ada makan kesukaan kamu juga, kan? Udah jangan iri-iri gini sama istri."
Lutfan menampilkan wajah cemberutnya. "Umma mah ngomel mulu."
Mardiyah hanya menggeleng dan tersenyum tipis.
"Mar."
"Ya?"
Lutfan berkata, "Suapi, ya? Aku males makan pake tanganku, pakai tanganmu aja nggak pa-pa 'kan?"
Pipi Mardiyah memanas. Permintaan ini tidak aneh, sewaktu kecil pun Lutfan juga sering begini. Namun mengapa rasanya permintaan dan cara dia berucap sekarang berbeda. Jantungnya tidak aman!
"Nggak mau, ya?"
Mardiyah tersadar. "Ma-mau. Iya aku suapi."
"Tidur sana. Istirahat."
Mardiyah menggeleng.
"Mau mandi?"
"Enggak. Nanti sore aja."
Mardiyah menatap sekeliling kamar yang nampak berubah. Sangat berbeda waktu pertama kali ia menempatinya, ranjang berubah size yang besar, beberapa poster anime hilang, dan sepertinya banyak buku-buku baru. Entah apa yang dilakukan Lutfan ini sengaja untuk menyambutnya, atau hanya ingin merombak saja.
"Kenapa lihat kamar? Nggak suka, ya?"
Mardiyah menggeleng. "Suka, kok."
"Lutfan ..."
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu coba dekatan sini. Kamu baca apa sih di sana?" Mardiyah melihat Lutfan menutup bukunya dan membalikan kursi rodanya, lantas mendekati ranjang. "Bentar aja ke sini. Aku mau bicara."
"Mau ngomong apa?"
Mardiyah menatap. "Jangan beritahu Umma tentang keguguranku, Lutfan."
"Aku nggak ngasih tahu, kok."
Syukurlah, batin Mardiyah yang melihat Lutfan berusaha menaiki ranjang. "Aku ban---"
"Nggak usah. Aku bisa. Kamu duduk," tolak Lutfan.
Netra Mardiyah fokus pada setiap gerak-gerik Lutfan. Ia sungguh takut suaminya itu terjatuh. Namun seperti yang dibilang bahwa Lutfan bisa, suaminya telah sampai pada sisi ranjang dengan berpegang kuat pada sandaran ranjang.
"See? Aku bisa kan?"
Mardiyah tersenyum tipis. "Iya. Kamu bisa."
Lutfan membenarkan posisinya dengan duduk tanpa jarak dengan Mardiyah, netranya menatap lurus pada pintu hitam yang tertutup. "Mar, aku mau ngomong serius."
"Soal apa?"
"Cecilia Adiwangsa."
"Beliau kenapa?"
Lutfan menengok. "Waktu kamu masih di sekap di vila. Beliau datang, bilang mau adopsi kamu. Beliau mau kamu jadi anak angkat yang memiliki orang tua sah. Dan juga sebenarnya, beliau berniat membantu, tapi akunya nggak percaya."
"Aku nggak mau."
"Aku tahu kamu bakal nolak," ujar Lutfan dengan tersenyum tipis. "Aku tahu kamu nggak bisa jauh-jauh lagi kan dari aku?"
Lutfan spontan terkekeh, karena terlalu percaya diri. Ia menggaruk pucuk hidungnya yang tak gatal, berdekatan dengan Mardiyah telah sekian lama membuatnya berdebar-debar, belum lagi sekarang hanya berdua saja di kamar yang sunyi.
"Lutfan, aku ..." Mardiyah tiba-tiba mengambil tangan Lutfan dan menggenggamnya di pangkuan. Pipinya memerah padam, dan jantungnya berdebar-debar. "Janji. Insya Allah aku nggak akan ninggalin kamu sama Umma lagi."
Lutfan hanya mengangguk. Di otaknya terpikir satu hal yang benar-benar membutuhkan jawaban yang benar, bukan sekadar kebohongan. "Mar, kamu pernah nyoba mikir, nggak? Kalau nggak semua kebaikan itu minta balasan?"
"Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
"Udah jawab aja."
"Enggak. Karena menurutku setiap kebaikan orang itu harus di balas," jawab Mardiyah.
Lutfan mengusap tangannya dengan tangan Mardiyah yang saling bertaut. "Tapi apa kamu mikir? Kadang-kadang ada balasan yang agak nyakitin orang yang selama ini baik ke kamu?"
"Kamu bicarain aku?"
Lutfan tersenyum. "Akhirnya sadar. Sebenarnya aku nggak niat gitu, cuma ... omongan kamu waktu di rumah sakit aku tiba-tiba kepikiran. Apa benar kamu nerima pernikahan ini cuma karena balas budi aja? Apa benar waktu ... kita ngelakuin itu semuanya cuma sekedar balas budi kamu---"
"Kamu percaya?" Mardiyah menatap Lutfan dari samping bulu mata tebal suaminya terlihat berkali-kali mengerjap menatap lurus. "Aku pikir semua itu nggak buat kamu kepikiran, Lutfan."
"Gimana bisa aku nggak kepikiran? Aku tahu aku ini nggak berguna. Kalau bukan karena aku anak Umma Sarah, kalau bukan karena aku cucu Kiai mana ada perempuan yang mau nikah sama aku, Mar? Kamu pun mau cuma karena balas budi karena Umma besarin kamu selama ini."
"Istighfar." Mardiyah menepuk pergelangan tangan pelan Lutfan pelan. "Kamu sadar sekarang kamu lagi meragukan kuasa Allah? Nggak ada yang nggak mungkin, Lutfan. Sekalipun kamu bukan kamu yang sekarang aku yakin masih ada perempuan yang mau menikah dengan kamu."
Gue maunya elo, batin Lutfan terdiam.
"Lutfan mengenai balas budi itu benar. Tapi apa kamu nggak bisa memilah segala ucapanku?" Mardiyah menjeda. "Padahal yang aku dengar waktu kamu menyanggah semua ucapanku itu. Aku pikir kamu sudah memilah."
"Memilah apa, Mar? Ucapan kamu cenderung nyakitin aku lho."
__ADS_1
Mardiyah menatap kedua tangan itu yang saling bertaut. "Kamu bilang, making love dan having s*ex itu berbeda. Kamu bilang, nggak ada perempuan yang terpelajar yang mau hamil cuma sekedar balas budi aja. Semuanya, yang kamu bilang itu benar. Kalau ... aku memang berniat balas budi aja, aku cukup bisa jadi perawat kamu tanpa menikah. Kalau aku mau balas budi aja, aku jelas akan menolak pernikahan ini. Karena jika dipikir-pikir lagi sebagai perempuan, aku nggak seharusnya semudah itu menerima. Sekali pun saat itu aku sudah siap untuk menikah. Tapi tetap, sifat, perilaku dan lain-lain pada laki-laki yang akan menjadi calon suami ku aku harus tahu terlebih dahulu, untuk menjadi patokanku atas pantas enggaknya laki-laki itu menjadi Suami dan Ayah dari anak-anakku nanti."
Lutfan benar-benar mendengarkan Mardiyah dengan menatap fokus mata sang istri dari samping.
"Karena aku nggak mau menyesal. Karena aku nggak mau merasa gagal menjadi seorang istri dan Ibu. Dan aku ..." Mardiyah mengigit bibir bawahnya sejenak. "Nggak mau anak-anakku merasa bahwa lahir dari seorang Ibu sepertiku ini adalah salah. Aku juga nggak mau mereka berpikir bahwa memiliki Ayah adalah hal buruk. Aku mau mereka memiliki orang tua yang utuh, yang saling berbagi kasih sayang, yang bisa menjadi panutan di kala mereka merasa hancur. Aku benar-benar nggak mau ... mereka merasa ... ba-bahwa lahir di dunia ini adalah kesalahan. A-aku nggak mau---"
Setetes air mata mengalir di punggung tangan Lutfan. Mardiyah menangis.
"... mereka hidup dengan di hina-hina. Aku nggak mau mereka mendapatkan label buruk yang ditinggalkan oleh Ibu ataupun Ayahnya. Aku nggak mau itu semua terjadi." Salah satu tangan Mardiyah mengusap air matanya. "Pertemuan dengan Umma, dan pernikahan dengan kamu adalah ketetapan. Bahkan bersama kamu, aku nggak butuh patokan lagi, aku percaya kamu akan menjadi suami dan Ayah yang baik."
Pengakuan ini, benar-benar membuat Lutfan yakin bahwa, semua bukan sekadar balas budi. Mardiyah jelas-jelas telah mempertimbangkan dirinya, tidak memikirkan kekurangannya, sang istri memilih untuk menyelamatkan hati manusia yang bahkan belum lahir ke dunia ini.
"Mar ..."
Mardiyah menengok, menatap Lutfan dengan wajah memerah dan air mata yang tersisa.
"A-ayo ... wujutin setiap mimpi kamu, ayo jadi suami istri yang ... sa-ling mencintai."
Bibir Mardiyah sedikit terbuka saat mendengar apa yang Lutfan katakan. Netranya bahkan berkaca-kaca lagi. Lutfan ... memiliki perasaan lebih dari ... sekadar menganggapnya keluarga?
"Lutfan kamu---"
Ucapannya belum terselesaikan. Namun benda kenyal itu sudah menempel, pertemuan rindu yang sudah lama tidak terjadi, menambah kenikmatan. Tidak hanya pada satu tempat, Lutfan tiba-tiba saja menyikap surai cokelat istrinya ke belakang. Leher jenjang serta telinga istrinya terlihat, dan perlahan-lahan kecupan itu turun di tulang pipi Mardiyah. Lantas turun lagi sampai ke leher, dan Lutfan berhenti di sana, mengisap pelan dan meninggalkan bekas.
"Lutfan ..."
Lutfan berhenti dan langsung menatap Mardiyah.
"Apa?"
"Aku masih---"
Lutfan menyanggah, "Aku nggak berniat lebih. Cuma mau cium-cium di sana nggak boleh, ya?"
Pipi Mardiyah memerah. "Boleh tapi---"
"Kamu nggak suka?"
"Su-suka." Mardiyah mengigit bibir bawahnya pelan. "Tapi takut nanti---"
"Nggak akan. Kalau kelepasan pun aku nggak mungkin ajakin kamu gituan."
Spontan Mardiyah menunduk. Entah mengapa, ia menjadi semakin pemalu. "Y-ya sudah."
Lutfan menatap saja, dengan melepas tangannya dari pipi Mardiyah "Kamu paham nggak aku bilang apa?"
"Paham."
"Bagian yang mana?"
Mardiyah masih menunduk. "Yang tadi."
"Emangnya aku bilang apa?"
Mardiyah mendongak, pandangannya saling bertemu dengan Lutfan. "Kamu bilang ... mau hidup bersama sebagai suami istri yang ... sa-ling mencintai."
"Terus kamu paham apa yang aku maksud?"
Mardiyah menggeleng.
"Astaghfirullah." Lutfan mengusap wajahnya dengan menggeleng. "Aku ini lagi nyatain cinta lho. Kamu mah nggak ada romantis-romantisnya, mana nggak paham lagi."
"A-ah maaf."
__ADS_1
Lutfan menengok dengan tersenyum tipis. "Nggak pa-pa, nggak pa-pa." Tangannya terangkat mengusap-usap surai Mardiyah, hingga turun menyentuh pinggang. "Sini peluk. Aku kangen."