
Jam sebelas. Dia bilang sebentar, tapi sampai sekarang belum juga pulang, batin Lutfan yang terus menatapi jam yang berada tepat di meja sebelah ranjang. Tangannya dari tadi pun tidak bisa diam, saat mencoba menelpon Mardiyah. Ternyata istrinya itu meninggalkan ponsel.
Lutfan sudah benar-benar khawatir. Mulut sialannya ini. Bagaimana bisa sampai membentak Mardiyah? Kalau Ummanya sampai tahu, ia akan diceramahi bahkan tidak segan di pukul langsung. Jujur saja ia memang cemburu, jujur saja sampai sekarang ia tidak terima atas segala perlakuan Aryandra pada istrinya. Tetapi harusnya ia sadar, bahwa semua yang dikatakan Mardiyah benar. Semua sudah berlalu. Dan mengapa ia harus mengingat-ingat? Lalu mencemburui hal yang menjadi masa lalu istrinya?
Lagi-lagi ia menatap jam. Jika dalam kurung waktu lima belas menit Mardiyah tidak pulang. Lutfan akan keluar, untuk mencari istrinya. Tidak peduli apapun, selama tangannya masih berguna, ia pasti bisa menaiki lift sendiri tanpa bantuan siapapun.
Dia masih belum balik? Ya Allah, batin Lutfan yang mulai berjalan mendekati pintu. Ia keluar. Secepatnya harus mencari Mardiyah, belum lagi pakaian yang digunakan istrinya tadi masih basah. Bagaimana jika tiba-tiba masuk angin? Ah, bisa gila ia. Mengapa juga lift ini lama sekali terbukanya? Memakan durasi saja!
Ting!
Lift terbuka. Saat Lutfan ingin mendorong roda. Netranya terperangkap pada tatapan sendu itu. Seseorang yang hendak ia cari berada di depannya, berdiri tegak dengan memandang lurus padanya.
"Mau ke mana?"
Lutfan menggeleng.
"Lutfan?"
Lutfan menjawab lirih, "Cari kamu."
Mardiyah mendekat. Hingga pintu lift kembali tertutup, perlahan sang istri berjalan ke belakang dan mendorong kursi rodanya untuk masuk kembali pada kamar hotel.
"Kamu dari mana?"
"Toko baju."
Lutfan merasa lega saat mendengar jawaban Mardiyah. Setelah sampai di dekat ranjang, dorong pada kursi roda berhenti. Mardiyah langsung meletakkan tasnya, dan meminta izin ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar menggunakan dress tidur selutut dengan tali tipis di kedua bahunya.
"Baju basahnya udah aku cuci. Besok ingetin aku buat bawa pulang," ujar Mardiyah.
"Iya."
Lutfan menatap Mardiyah dari atas hingga bawah. "Dalaman kamu udah ganti?"
"Udah."
Lutfan menghela napas. Lega. Setidaknya sang istri akan baik-baik saja, karena semua pakaian yang basah telah di ganti. Suhu kamar pun ia turun sedikit, supaya tidak terlalu dingin. Karena jujur guyuran shower tadi benar-benar membuatnya merasa tidak enak badan.
"Lutfan."
"Apa?"
Tangan Mardiyah terangkat menyentuh dahi hingga leher Lutfan beberapa kali. "Kamu baik-baik aja?"
"Aku nggak pa-pa." Lutfan mengambil tangan sang istri yang berada di lehernya. Di tariknya tangan itu untuk mendekat pada bibir. "Maafin aku, Mar."
Mardiyah hanya menatap.
"Aku kalau marah bentak kamu. Padahal aku nggak berniat gitu. Aku udah istighfar beberapa kali. Tapi masih aja kepikiran sama ucapan dia." Lutfan menatap ke bawah. Salah satu tangannya meraba pada pinggang Mardiyah, lantas menarik pelan dan menyadarkan kepalanya pada dada sang istri. "Kamu boleh pukul aku. Biar aku sadar. Tapi jangan pergi lama-lama kayak tadi. Aku ... bener-bener khawatir."
"Aku cuma pergi ke toko," jawab Mardiyah.
Lutfan kian memperat pelukan. "Tapi, lama. Aku tetep khawatir. Kamu perginya nangis gara-gara aku bentak, belum lagi juga baju dalam yang kamu pakai basah. Pasti dingin. Kalau tiba-tiba kamu kenapa-napa gimana? Aku pasti nggak bisa tolongin kamu."
"Aku baik-baik aja."
Lutfan melepas pelukan. Lalu mendongak menatap mata Mardiyah yang sedikit membengkak. "Kamu nangisnya berapa lama?"
Mardiyah membuang muka. "Aku mau ambil---"
Tangannya di tahan oleh Lutfan. Hingga Mardiyah gagal untuk berbalik dan menghindar. "Pasti lama. Kalau gitu, kamu yang kasih perkiraan waktu. Pukul aku di mana aja nggak pa-pa," ujar Lutfan.
"Aku nggak mau."
"Kenapa?"
Mardiyah menggeleng. "Ayo tidur, Lutfan."
"Pukul aku dulu biar aku---"
"Buat apa? Aku nggak mau." Mardiyah menunduk menyusupkan kedua tangannya pada pinggang Lutfan dan membantu suaminya itu berdiri. "Ayo, aku bantu ke ranjang."
Paginya. Sekitar jam delapan Lutfan dan Mardiyah meninggalkan Lazuardi Hotel. Niat hati Mardiyah ingin ikut ke outlet, namun mengingat nanti malam adalah acara Minggu bersama. Ia memilih untuk pulang terlebih dahulu dengan di antar oleh Cak Sur.
__ADS_1
"Mbak Mar, ndak mampir ke mana dulu?"
"Enggak, Cak. Langsung ke panti aja."
Cak Sur melajukan mobil. Hingga hampir satu jam berlalu, mobil memasuki pelataran panti asuhan. Mardiyah memandang ke luar jendela anak-anak panti terlihat sibuk menyusun-nyusun kursi. Bahkan beberapa terlihat mengangkat kardus minuman dan ada yang membawa gelas serta piring.
"Cak, berhenti di sini aja."
Cak Sur mematikan mesin mobilnya. "Saya bantu bawa barangnya, Mbak."
"Mboten usah, Cak. Saya bisa sendiri. Makasih, ya Cak."
"Nggih sami-sami, Mbak."
Mardiyah keluar dan buru-buru memasuki rumah. Saat telah berada di dalam, ia secepatnya ke taman belakang untuk menjemur pakaian miliknya dan Lutfan yang basah kemarin malam.
"Mardiyah!"
Suara Umma, batin Mardiyah yang langsung berbalik setelah menjemur kaos terakhir. "Iya, Umma. Mardiyah di taman belakang!"
"Ya Allah menantu Umma. Kamu dateng-dateng langsung cuci baju?" tanya Umma Sarah.
Mardiyah menggeleng. "Enggak, Umma."
"Terus kenapa basah semua? Tadi malam kan nggak hujan. Nggak mungkin kamu sama Lutfan--ah, iya. Umma paham, Nak."
"Mardiyah sama Lutfan nggak ngapa-ngapain Umma," sahut Mardiyah cepat yang tidak mau di salah pahami.
Umma Sarah tertawa ringan. "Kalau ngapa-ngapain pun juga nggak pa-pa, Nak. Orang udah nikah. Nggak ada yang larang kok."
Mardiyah menggigit bibir bawahnya pelan. Ia malu, pasti Umma Sarah memikirkan yang tidak-tidak. Padahal tadi malam ia dan Lutfan hanya terkena guyuran air shower saja, itu pun ia dan Lutfan tidak melakukan apa-apa.
"Udah nggak usah malu. Sama Umma aja." Umma Sarah mengambil tangan Mardiyah, dan menarik pelan untuk berjalan bersama. "Undangan buat acara nanti malam udah di kirim semua. Kayak biasanya Umma minta kamu bantu-bantu, ya Nak? Yang bawa acara nanti Banyu. Kamu kayak biasa bantu Umma nyambut tamu-tamu. Mau, kan?"
"Iya, Umma. Sekarang Mardiyah mau ganti baju dulu, terus ke dapur umum buat bantu yang lain," ucap Mardiyah.
Umma Sarah mengusap punggung menantunya. "Iya sana ganti dulu, Nak."
Surai cokelat gelapnya yang basah tergerai sampai punggung bawahnya. Saat keluar ia mengedarkan pandangan, ternyata aman. Lutfan masih belum datang. Langkah kecilnya mendekati lemari, di pandang satu persatu susunan baju. Dia mana tank top ku? Habis kah? Aku belum cuci--akh, itu! Di atas? Sejak kapan aku taruh situ? Mardiyah menjijitkan kaki sebari memegangi handuk. Sialnya belum sampai ia mengambil tank top suara pintu terbuka spontan membuatnya terkejut dan langsung terjatuh dengan kakinya yang terbentur keras pada lemari.
"Mar! Kamu nggak pa-pa?" Pintu di tutup Lutfan dengan keras saat menyadari penampilan istrinya. "Kamu bisa berdiri?"
Mardiyah mengangguk pelan.
"Kamu ngapain jinjit gitu? Mau ambil apa?"
Mardiyah berdiri perlahan, dengan memegangi kedua tangan Lutfan. "Mau ambil itu di atas."
"Ambil apa?"
"Tank top." Mardiyah menatap Lutfan. "Kamu sih ngagetin aku. Aku kira siapa tadi."
Mardiyah di tuntun Lutfan untuk melangkah perlahan-lahan duduk di tepi ranjang. "Kamu pikir siapa lagi yang masuk kamar ini selain aku, Mar? Lihat itu ... Ya Allah, paha kamu jadi berdarah itu luka."
Spontan Mardiyah menunduk. Keningnya langsung mengerut saat melihat bahwa paha dalam kirinya yang terluka. Ia jadi berpikir bagaimana kiranya tadi ia terjatuh? Sampai bisa luka di bagian ini?
"Buka pahanya, Mar." Lutfan menahan kaki Mardiyah yang hendak saling menutup. "Kok kamu malah gitu."
"E-enggak usah. Aku bisa sendiri!" Mardiyah menepis tangan Lutfan dengan pipi yang memerah. Ini terlalu memalukan. Ia tidak bisa sejelas itu di depan Lutfan. Belum lagi bahkan ia tidak berpakaian sama sekali. "Lutfan, lepasin. Aku nggak mau."
"Aku obatin, Mar."
Lagi-lagi Mardiyah menggeleng dan menepis tangan Lutfan. "Aku bisa sendiri."
"Bisa sendiri gimana?" Lutfan menunjuk tangan Mardiyah. "Tangan kirimu pegang handuk bagian atas. Tangan kananmu juga pegang handuk bagian bawah. Terus gimana caranya kamu bisa obatin sendiri, hah?"
"Di kamar mandi," jawab Mardiyah pelan.
"Kenapa harus di kamar mandi kalau di sini bisa? Lagian ada aku juga, kenapa sih kamu nggak mau aku bantu?" Lutfan menatapnya. "Kamu masih marah sama aku?"
Mardiyah menggeleng.
"Terus kenapa?"
__ADS_1
"Aku malu, Lutfan," lirih Mardiyah dengan menutup rapat kedua pahanya.
Lutfan tersenyum tipis. Masya Allah. Istri siapa sih sini? Manis banget, batinnya dengan menatapi setiap tubuh Mardiyah yang tidak tertutupi handuk. Aroma sabun dan shampoo masih tercium jelas, bercampur aduk yang menjadi ciri khas dari aroma tubuh Mardiyah. "Kenapa malu? Aku kan suami kamu, Mar."
"Ya aku tahu. Tapi kan ... kita lagi nggak mau ngelakuin itu--maksudku ja-di aneh kayak apa kalau aku gitu di depan kamu," jelas Mardiyah terbata-bata.
Salah satu alis Lutfan terangkat. "Oh. Jadi kita harus berniat ngelakuin itu dulu baru kamu mau buka pa---"
"Lutfan! Kok kamu godain aku sih!"
Lutfan tertawa ringan dan menarik kursi rodanya mendekati lemari, lalu mengambil handuk lagi. Dan kembali pada Mardiyah. "Pakai dulu. Aku tutup mata. Janji nggak bakal lihat."
Mardiyah cepat-cepat membenarkan posisi duduknya. Perlahan-lahan membuka paha dan menutupi bagian-bagian yang ia tidak ingin tunjukan pada Lutfan. "Udah."
"Boleh aku obatin?"
Mardiyah mengangguk. Tangan Lutfan mulai bergerak mengobati luka kecil di paha dalam istrinya. Syukurlah hanya goresan kecil, tidak terlalu dalam juga. Jadi bisa di tutupi dengan handsaplast.
"Selesai. Maaf, ya? Lain kali kalau aku mau masuk, aku bakal ketuk pintu dulu," ucap Lutfan.
"Iya, nggak pa-pa." Mardiyah bangkit dan hendak mendorong kursi roda Lutfan menjauh. Namun ditahan kuat oleh lelaki itu. "Minggir, Lutfan. Aku mau pakai baju."
"Pakai baju?"
Mardiyah menunduk menatap Lutfan yang memandangnya dengan sayu. "Iya. Aku mau pakai baju. Tolong lepasin tangan kamu."
"Mar ..."
"Apa?"
"Kamu capek, nggak?"
Kening Mardiyah mengerut. Pertanyaan yang seharusnya Lutfan sudah tahu jawabannya. Karena sedari datang, Mardiyah telah sibuk membantu memasak ini, membungkus ini dan lain-lainnya. Jika dikatakan lelah tentu saja ia lelah.
"Kamu mau suruh aku apa?"
Lutfan membasahi bibirnya. "Nggak aku suruh apa-apa. Cuma ..."
"Cuma apa?"
Lutfan menelan ludahnya. "Aku ... ma-u itu bentar sama kamu."
"Itu ap---" Mardiyah tersadar saat melirik ke arah bawah. Jadi, dia ... mau itu sore-sore gini? batinnya yang langsung menghela napas.
"Kamu capek, ya? Kalau capek nggak us---"
Mardiyah langsung menyahut, "Bentar aja nggak pa-pa, kan?" Soalnya aku ada tugas lain yang belum selesai, lanjutnya dalam hati.
"Nggak pa-pa. Aku janji nggak lama-lama."
Mardiyah kembali duduk. Namun belum membuka handuk. Ia menunggu Lutfan yang memulai lebih dulu dengan tatapan fokus pada wajah suaminya.
"Kenapa diam?"
Lutfan membalas tatapannya. "Mar ..."
"Hm?"
"Sambil duduk nggak pa-pa?"
"Hah?" Mardiyah melongo mendengar permintaan Lutfan. Ini sedikit mengangetkan. Karena baru dua kali ia melakukan hubungan intim yang benar-benar berhasil dengan Lutfan. Namun tiba-tiba saja lelaki di depannya ini meminta hal seperti itu? "Y-ya nggak pa-pa."
"Kamu mau, kan?"
Pipi Mardiyah memerah, menatap ke arah lain. "Aku udah bilang, iya, kan?"
"Kalau gitu kamu duduk sini," titah Lutfan.
Netra Mardiyah melebar. "Di ... kur-si roda?"
"Iya. Kan sambil duduk."
Come on, Mardiyah. Kenapa harus malu begini? Toh hal-hal seperti ini wajar, kan? Permintaan Lutfan juga masih dalam batas normal. Kenapa harus kaget bahkan berniat menolak? batin Mardiyah yang menyakinkan dirinya sendiri. "Pengamannya?"
Lutfan mengangkat tangannya. "Ini."
__ADS_1