Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
110 (1) : Mencoba Percaya Rajendra.


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Azan subuh pada hari ini. Mardiyah mendapatkan pesan singkat dari sosial media berlogo kotak itu. Saat ia membukanya, terterah jelas nama Rajendra di sana. Mardiyah terdiam sejenak, lalu meng-klik pesan itu.


rajendraadiwangsa_


Jadi?


^^^Jadi.^^^


rajendraadiwangsa_


Membutuhkan sopir?


^^^Tidak.^^^


^^^Bertemu di mana?^^^


rajendraadiwangsa_


Jyotika Ira.


^^^[dilihat]^^^


Gawai Mardiyah di letakkan kembali di atas meja. Ia membuka lemari, memilih pakaian sejenis gamis yang sekiranya tidak terlalu mengepel lantai. Setelah menemukan, ia berjalan ke kamar mandi, dan berganti pakaian di sana.


Selang lima belas detik seseorang mengetuk pintu kamat dari luar. Ia yakin itu adalah Lutfan. Karena seperti biasa, jika memasuki kamar sekarang suaminya itu selalu mengetuk dulu.


"Mar? Kamu di kamar mandi?"


Mardiyah menjawab dengan suara sedikit keras. "Iya. Sebentar."


Mardiyah secepatnya menggunakan gamis. Setelah itu keluar dari kamar mandi dan melihat Lutfan sudah bersiap dengan menghadap cermin.


"Rajendra bilang ketemu di mana?" tanya Lutfan.


"Jyotika Ira."


"Ya udah. Kita berangkat sekarang."


Mardiyah mendekat. "Nenek sudah siap?"


"Beliau nggak ikut. Kita video aja, atau kalau nggak nanti kita video call."


Jawaban Lutfan benar-benar membuat Mardiyah sedih. Jadi keputusan Nenek Aisha adalah tidak ikut? Mengapa beliau masih marah? Padahal semua telah Mardiyah jelaskan.


"Mar, ayo," sambung Lutfan.



📍 Jyotika Ira.


Mardiyah seketika hafal dengan mobil Rajendra yang terparkir rapi di tempat biasanya. Mobil BMW hitam yang dikendarainya bersama Lutfan, ia hentikan tepat di samping mobil Rajendra. Niat hati ia ingin ke makaman bersama Abhimata juga, tetapi karena meeting mendadak Abhimata gagal untuk ikut.

__ADS_1


Lutfan menatap ke kiri. "Ini mobil dia, kan?"


"Iya."


"Ayo kita keluar."


Mardiyah menggeleng. "Aku aja yang jemput dia. Kamu tunggu di sini---"


"Nggak usah jemput dia. Itu, batang hidungnya udah kelihatan." Mata Lutfan menatap Rajendra yang berjalan ke mari dengan setelan jas hitam dan celana senada. Dia kalau gini kayak orang waras. Semoga aja kejiwaannya kali ini beneran lagi waras, lanjutnya dalam hati.


Dug. Dug.


Rajendra mengetuk kaca mobil beberapa kali, sampai Mardiyah membukanya.


"Oh? Sama cucu Kiai Bashir ternyata," ujar Rajendra, yang matanya langsung beralih menatap Mardiyah. "Masuk mobilku."


"Ngapain? Mobil sendiri-sendiri nggak bisa, hah?" sahut Lutfan.


Rajendra menatap datar sejenak. "Banyak bicara."


"Lagi pula jika aku berniat membu*nuh kalian berdua, akan ku lakukan di malam hari. Dan tanpa meminta bertemu di Jyotika Ira, yang jelas adalah sarang pelindung bagi istrimu itu," sambung Rajendra yang menyebut penginapan Mama Cecilia adalah sarang pelindung.


Tangan Mardiyah terangkat menyentuh tangan Lutfan. "Kita naik ke mobil dia, ya? Aku mohon, kali ini aja, Lutfan."


"Mar, kalau dia macem-macem---"


"Lutfan, Ya Allah ... aku mohon, kali ini aja jangan berpikir yang bukan-bukan." Mardiyah menarik tangan Lutfan di pangkuannya. "Kalau sampai dia macam-macam kan ada kamu. Ada cctv di Jyotika Ira juga. Ayah dan Mama Cecilia pasti bakal kasih pelajaran ke Rajendra. Jadi, aku mohon ... kali ini aja temani aku."


"Makasih, Lutfan."



📍 Pemakaman.


Rajendra berjalan mendahuluinya. Sedangkan Mardiyah di belakang dengan mendorong Lutfan di kursi roda. Ketiganya, tidak ada yang saling berbicara. Suasana pemakaman pun sepi, hanya ada hembusan angin yang menyapu kerudung instan yang di gunakan Mardiyah.


Jalan ini masih aman. Karena ini adalah aspal, belum memasuki tanah kuburan. Hingga beberapa menit berlalu Rajendra berhenti di dekat pepohonan, ia berbalik menatap Mardiyah.


"Kita masuk ke sana." Mata Rajendra menatap kursi roda. "Tapi tanpa kursi roda."


Mardiyah terdiam. Sedangkan Lutfan langsung menyahut, "Jauh?"


"Lima belas langkah, mungkin," jawab Rajendra yang langsung melangkah tanpa memedulikan pasutri itu.


"Nggak pa-pa. Aku tunggu di sini. Aku lihat dari sini," ujar Lutfan yang menatap wajah khawatir Mardiyah.


"Kamu benaran nggak pa-pa aku tinggal?"


"Iya, Mar. Nggak pa-pa. Aku bisa lihat kamu dari sini."


Mardiyah terdiam sejenak. "Ya udah. Aku ke sana dulu."


Dari kejauhan Mardiyah dapat melihat dengan jelas bahwa Rajendra berhenti di depan pemakaman. Tetapi selang beberapa detik seorang lelaki paruh baya menghampiri Rajendra, lalu memberi plastik hitam pada adiknya itu.

__ADS_1


Apa itu bunga? batin Mardiyah.


"Lihat," ujar Rajendra saat menyadari langkah kaki Mardiyah berhenti di sampingnya. "Makam wanita yang menyakiti Mamaku."


Deg.


Mardiyah tahu melupakan kesalahan seseorang tidaklah mudah. Tetapi mengapa kebencian Rajendra mendarah daging? Mama Cecilia saja mampu memberikan maaf pada Pak Gautama, dan mungkin ... juga pada Ibunya. Karena Mama Cecilia telah menerima dirinya sebagai anak. Sedangkan Rajendra, cara bicara dia memang sedikit berubah. Maksud Mardiyah, Rajendra sedikit bersahabat. Tidak kasar dan menghina-hina seperti pertemuan awal di Jyotika Ira. Walaupun tetap saja, mulut lelaki di depannya ini tidak sopan.


"Zanitha, kan, namanya?" ujar Rajendra, lagi.


Mardiyah terdiam menatapi nisan sang Ibu. Dalam hati ia berkata-kata bahwa ini adalah mustahil. Apa ini benar-benar makam Ibu? I ... buku? batinnya dengan duduk bersimpuh. Gamis hitamnya menyentuh tanah, di susul dengan tangan mungil yang memegangi nisan.


"Ibu ..."


Rajendra mengepalkan kuat tangan kanannya saat mendengar suara lemah dari Mardiyah.


"Jika bukan karena permintaan Mama. Aku tidak akan sudi menemanimu," ujar Rajendra pelan. "Jadi,  berbaikan hati pada Mamaku."


Mardiyah mengangguk pelan.


"Rajendra ... bisa tolong tinggalkan saya sendiri?"


Rajendra sedikit menunduk, meletakkan plastik hitam yang berisi bunga di samping Mardiyah. Ia menuruti permintaan saudarinya, untuk di tinggalkan sendiri.



Dari kejauhan Lutfan melihat Rajendra berjalan ke mari dan meninggalkan Mardiyah sendiri yang tengah duduk bersimpuh. Ia paham istrinya pasti menangis, tetapi bagaimana bisa Mardiyah langsung percaya tanpa bertanya benar tidaknya makam itu adalah peristirahatan terakhir mertuanya?


Informasi yang di berikan Rajendra bisa saja salah. Atau lelaki ini bisa saja berpura-pura mengganti nama nisan dan lain-lainnya.


"Aku akan pulang," ujar Rajendra yang hendak meninggalkan pemakaman.


"Tunggu."


Rajendra berhenti. Ia berbalik menatap Lutfan, seolah-olah bertanya, ada apa?


"Apa benar makam itu adalah makam Ibu Mardiyah? Informasi dari mana yang anda dapat? Saya tidak seperti Mardiyah yang bisa secepat itu percaya," jelas Lutfan.


Rajendra menatap datar Lutfan. "Siapa juga yang memintamu percaya?"


Sialan. Dia nggak bisa di ajak ngomong, batin Lutfan yang kesal. Ia menghela napas dan menatap balik Rajendra. "Saya bertanya sebagai suami Mardiyah."


"Peduli apa aku?" Rajendra berbalik lagi, hendak pergi. Namun sebelum itu ia berujar, "Lima belas menit lagi, mobil jemputan kalian akan datang."


"Rajendra!" Lutfan kesal.


"Jangan banyak bicara, Bocah." Rajendra sedikit menengok. "Lebih baik berdo'alah untuk ketenangan mertuamu."


[.]



Note: part 110 mungkin akan saya buat (1) (2) (3)

__ADS_1


__ADS_2