Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
95 :


__ADS_3

"Cepet banget selesainya, Lut."


Lutfan yang sedari tadi pandangannya tidak lepas dari tempat duduk Aryandra. Akhirnya menjawab, "Lo yang telat."


"Perasaan enggak, deh." Aldo melihat anak-anak kecil yang baru saja menampilkan sholawat itu menuruni panggung. "Cuma telat dikit, Lut."


Lutfan mendongak menatap kesal pada Aldo. "Udah lo nggak usah bacot. Ayo bantuin gue beres-beres nanti."


"Ah elah, belum juga puas gue ikut acara. Udah selesai aja nih acara," keluh Aldo.


Lutfan sibuk menarik-narik kabel yang menyambung pada pengeras suara. Tetapi matanya tidak pernah lepas dari tempat penyambutan tamu, di mana Aryandra dan Mardiyah berpapasan lagi.


Senyum-senyum segala lagi. Heran gue, nggak tahu malu. Udah tahu Mardiyah istri orang masih aja nggak mau jaga jarak, batin Lutfan kesal.


"Heh mata lo lihat mana?! Fokus, Lut. Fokus! Yang lo cabut itu kabel-kabel," ujar Aldo.


Lutfan langsung menyahut, "Iya-iya. Gue juga ngerti. Ini gue juga fokus!"



"Mardiyah, boleh saya berbicara sebentar?"


Mardiyah yang tadinya berniat ramah dengan menampilkan senyum simpul untuk Aryandra. Terurung sudah, karena lelaki di depannya ini telah kurang ajar menyebut namanya lagi.


"Itu lho Mbak, di ajak bicara sampean," bisik Salsa.


Spontan Mardiyah menjawab, "Jika saya ada waktu. Silakan bergerak, banyak tamu-tamu lainnya."


Aryandra mengangguk dan pergi.


Sungguh Mardiyah tidak pernah ingin menyulut api amarah Lutfan lagi. Tetapi Aryandra adalah tamu penting yang di undang oleh mertuanya, Umma Sarah. Jikalau ia tidak menyambung dengan baik, justru akan membuat kesan tidak berkenan pada panti asuhan Al-Hikmah.


Setelah memberi bingkisan terakhir pada salah satu keluarga Citaprasada. Mardiyah langsung mengedarkan pandangan, mencari-cari di mana kah keberada suaminya. Saat ia menengok ke kiri, ternyata Lutfan tengah berdiri di dekat pengeras suara sembari mencabut kabel-kabel, mungkin.


"Sal, aku ke Lutfan dulu."


"Nggih, Mbak."


Mardiyah berniat menemui Lutfan terlebih dahulu, untuk meminta izin berbicara dengan Aryandra.


"Lutfan."


Suaminya itu langsung menoleh. "Ngapain ke sini? Bagi-bagi bingkisannya emang udah selesai?"


"Sudah. Aku ke sini mau izin. Kalau kamu ngelarang juga aku nggak pa-pa."


Kening Lutfan mengerut. "Izin apa?"


"Dia ... mau bicara katanya."


"Di ... a? Dia sia---" Lutfan langsung mengerti dia yang di maksud oleh istrinya. "Kalau aku larang?"


"Aku kan udah bilang, nggak pa-pa." Malahan lebih bagus. Aku juga nggak mau nemuin orang itu, lanjut Mardiyah dalam hati.

__ADS_1


Lutfan memutuskan kontak mata dengan Mardiyah. Lalu kembali fokus pada kabel-kabel. "Aku nggak mau larang-larang kamu, nanti kamu pikir akunya posesif."


Kalau pekara seperti ini. Lebih baik kamu posesif saja. Daripada kamu mengizinkan dan berakhir pada pertengkaran kita lagi itu percuma, Lutfan, batin Mardiyah seolah menjelaskan pada suaminya. "Aku nggak pernah berpikir seperti itu tentang kamu."


"Y-ya udah." Pipi Lutfan tiba-tiba saja memerah. Entahlah, mendengar Mardiyah meminta izin seperti ini membuatnya merasa sangat di hargai. "Aku nggak mau kamu temuin dia."


Refleks Mardiyah menunduk, menyentuh tangan Lutfan. Bahkan tanpa sadar Mardiyah mengecup singkat pucuk kepala suaminya. Yang langsung membuat sang empu semakin merah merona.


"Eh? A-anu. Ma-af. Ya udah aku ke sana dulu!" Mardiyah langsung berbalik. Bahkan tergesa-gesa menjauhi kerumunan. Gimana bisa aku cium dia?! Astaghfirullah, mana di depan banyak orang, batin Mardiyah yang memegangi kedua pipi. Kesenangan diri atas larangan Lutfan, untuk menemui Aryandra benar-benar membuatnya tidak sadar bahwa sedang berada di luar kamar.


Salwa yang entah muncul dari mana tiba-tiba saja menyenggol lengannya. "Cie, Mbak Mar. Mesra-mesraan di depan umum, mentang-mentang udah nikah."


"Mesra-mesraan apa?"


"Cium-ciuman di depan para jomblo gitu masa sopan, Mbak?"


"Astaghfirullah." Ternyata Salwa juga lihat? Mardiyah semakin memerah tetapi ia mencoba mengontrol diri. "Itu bukan mesra-mesraan namanya. Orang Mbak cuma kecup singkat, nggak ada cium-ciuaman yang menjorok ke pamer. Lagian, itu Mbak spontanitas."


"Spontanitas macam apa toh? Sampai-sampai kayak gitu? Bilang aja emang mau pamer, pakai alasan-alasan ih," goda Salwa.


Mardiyah menjawab, "Spontanitas suami istri namanya. Nanti kalau sudah menikah, pasti kamu bakal tahu apa yang Mbak maksud."


"Ck. Lama. Kenapa harus nunggu nikah dulu?"


Aldo yang entah muncul juga dari mana tiba-tiba saja menyahut, "Stay halal, Salwa! Kalau kata Kiai Bashir, nikah dulu, biar apa-apa yang dilakukan jadi pahala. Udah sana kamu nikah, Sal!"


"Apaan sih! Kak Aldo ini ikut-ikutan nyambung aja pembicaraan perempuan!" protes.


Ternyata, Salwa memang banyak bicara dengan siapa pun. Bahkan dengan Aldo pun seperti ini. Bagaimana kiranya kalau ... mereka berjodoh? batin Mardiyah yang menggeleng tidak mungkin, karena terpaut usia yang sangat jauh antara keduanya. "Salwa, ayo bantu Mbak cuci piring."


"Siap!"



Satu hari berselang. Tepatnya pagi ini ada kurir yang mengantar sesuatu untuk Mardiyah, kurir mengatakan bahwa yang mengirim adalah Cecilia Maharani, atau Mama Cecilia. Abhimata tidak memberikan kabar apa-apa, jadi sejujurnya ia masih bingung, apa isi dibalik kiriman yang datar seperti hanya berisi kertas saja.


"Dari siapa, Nak?"


"I-itu Umma, dari Mama Cecilia."


Umma Sarah tersenyum tipis. "Ya sudah di buka. Itu kan orang tua kamu. Umma ke dapur dulu, ya?"


"Iya, Umma."


Mardiyah mengambil duduk di sofa ruang tamu. Netranya menatap amplop cokelat panjang yang berada di tangannya, perlahan-lahan pula ia menyobek pucuk amplop itu dan mengeluarkan isinya.


Foto? Kertas-kertas ... apa ini? batin Mardiyah.


Foto ini tidak terlalu jelas, memang cetakannya terlihat baru tapi background dan lain-lainnya sangat menjelaskan bahwa itu adalah foto lama. Dan juga orang-orang di dalam foto itu seperti keluarga, ada seorang pria, wanita dan bayi sekitar 1 tahun yang di gendong.


Mardiyah benar-benar tidak tahu apa maksud foto ini. Bingung. Jadi ia lebih memilih melihat kertas-kertas yang mungkin tertulis sesuatu.


"Da-ta ... Zanitha?" Netra Mardiyah melebar saat membaca tulisan halaman pertama. "Ibu? ... Ibuku?"

__ADS_1


Nama : Zanitha.


Kelahiran : Surabaya, 18 Oktober 1979.


Wafat :  Surabaya, 5 Februari 1999.


Tempat tinggal : Jalan Raya Mawar No. 8, Surabaya.


Anak : Tunggal.


Orang tua: Ali Khasan dan Aisha.


Itu adalah riwayat hidup singkat. Saat netra Mardiyah melihat ke bawah ada halaman ada cetakan seperti koran usang yang telah bertahun-tahun terbit.


Pada tahun 1999 terdengar kabar seorang wanita mengakhiri hidupnya dengan cara meneguk racun. Diketahui perempuan itu adalah Zanitha. Seorang wanita yang baru saja melahirkan sekitar 5 hari lamanya. Tetapi pihak kepolisian tidak menemukan bayinya. Bahkan menyatakan mungkin saja bayi itu mati atau di buang entah ke mana.


Jadi benar-benar nggak ada satu pun yang tahu aku ada di mana? batin Mardiyah yang berkaca-kaca saat melihat semua yang diceritakan oleh Gautama adalah nyata. Bahkan kematian sang Ibu yang meneguk racun pun itu bukan cerita belaka.


Ia mencoba tegar dengan mengusap pucuk hidungnya. Ia melihat ke bawah ada ketikan tangan.


Selang satu tahun. Tepatnya tahun 2000. Kedua orang tua Zanitha mendengar kabar kematian anaknya. Karena di hari Zanitha mengatakan bahwa dia hamil, kedua orang tuanya langsung mengusir. Hingga pada tahun yang sama, Ali Khasan dan Aisha hidup hanya untuk mencari-cari cucu satu-satunya, sampai menginjak pada dua tahun kemudian Ali Khasan meninggal dunia. Sedangkan Aisha masih hidup sampai saat ini. Tetangga terdekat mengatakan bahwa Aisha tinggal di panti jompo.


"Nenek? A-apa aku bisa ketemu Nenek?" Sesuatu yang tajam terasa berkali-kali lipat menusuk dadanya. Sakit sekali. Tangannya kembali menyentuh foto itu. "Foto ini ... keluarga Ibu? Dan ... bayi ini I-bu?"


"Mardiyah."


"Umma ..." Tanpa aba-aba Mardiyah langsung berdiri memeluk Umma Sarah. "Mama Cecilia bener-bener baik, beliau ... bantu Mardiyah cari tahu tentang Ibu. Umma ... Mardiyah bakal ketemu Ibu kan?" Meskipun cuma nisan nya aja, Mardiyah nggak pa-pa. Itu udah lebih dari cukup, lanjutnya.


"Bu Cecilia yang ngasih tahu semuanya, Nak?"


Mardiyah mengangguk. "Iya. Yang dikirim kurir itu foto sama data-data hidup Ibu, Umma."



"Kami mau temui Bu Cecilia? Buat bicarain tentang Ibu kamu?"


Mardiyah terdiam sejenak mendengar pertanyaan Lutfan. Apakah suaminya ini benar-benar akan mengizinkan? "A-aku ..."


"Aku izini," sahut Lutfan.


"Tapi aku mau temui beliau sama kamu." Sebab sejujurnya Mardiyah masih takut akan terjadi hal-hal yang sama seperti saat itu. Ia tidak ingin berpisah lagi dengan Lutfan. "Kamu mau temenin aku, kan?"


"Iya. Aku temenin."


Mardiyah ingat belum memberitahu tentang permintaan Mama Cecilia untuk membuat dirinya menyandang nama belakang Adiwangsa. "Lutfan, waktu Minggu bersama Abhimata bilang kalau lebih baik aku pakai ... nama belakang Adiwangsa di belakang nama aku. Terus juga, Mama Cecilia mau ambil hak asuh aku sebagai anak."


Lutfan terdiam.


"Menurut kamu gimana?"


Lutfan menatapnya. "Kamu mau?"


[.]

__ADS_1


__ADS_2