
Mardiyah menolak.
"Nona Muda, kenapa?"
Mardiyah menggeleng, lagi. "Saya tidak mau melakukannya. Lagi pula sepertinya maag saya kambuh, bukan karena hal-hal lainnya."
"Nona Muda, saya hanya ingin memastikan saja," ujar Dokter perempuan itu.
Mardiyah menggeleng. "Keluar. Saya akan segera makan. Saya tidak ingin di periksa."
Dokter perempuan itu tidak bisa memaksa. Karena atas perintah dari Gautama ia tidak boleh memaksakan hal-hal yang tidak ingin di kehendaki oleh sang Nona Muda. Lantas dengan menunduk sejenak, ia keluar dari kamar.
Setelah melihat pintu benar-benar tertutup tangan Mardiyah meraba perut ratanya. Apa ... mungkin? batinnya yang tak percaya. Manik indah itu tiba-tiba saja berkaca-kaca, ingatan tentang Lutfan memenuhi pikirannya. Jika benar, bukankah berarti ... Lutfan, akan menjadi Ayah?
Ya, dan ia akan menjadi seorang Ibu.
Tetapi semua ini belum lah pasti, dan mungkin saja yang di perkirakan oleh Dokter itu adalah salah. Ia tidak ingin berharap lebih, sebaiknya cepat-cepat makan, minum obat dan kembali tidur. Supaya perutnya kembali membaik, hingga ia tidak dicurangi tentang keadaan dirinya. Lagi pula tidak mungkin secepat itu dirinya hamil, ia dan Lutfan baru melakukannya satu kali keberhasilan saat itu.
"Kak ..."
Mardiyah langsung tersadar mendengar suara Abhimata yang entah sejak kapan berdiri tepat di samping ranjang. "Ya?"
"Yakin nggak pa-pa?"
"Ya. Yakin saya nggak pa-pa."
Abhimata mengangguk, kemudian ia berdeham danĀ mengambil duduk di tepi ranjang yang bersebelahan langsung dengan sang Kakak. "Aku ... mau bicara, Kak. Boleh?"
"Hm. Boleh."
"Aku ... berencana membawa Mama secepatnya ke sini---"
Mardiyah menyanggah, "Enggak, Abhi. Saya sama sekali nggak bisa berhadapan dengan Nyonya Cecilia."
"Nyonya Cecilia?" Kening Abhimata mengerut, kemudian ia menggeleng pelan. "Mama, Kak. Jangan memanggil keluarga sendiri dengan sebutan Nyonya."
Mardiyah terdiam sejenak dan menatap ke arah lain. "Beliau Ibumu. Saya ingin bertanya, apa kiranya kamu bisa membayangkan bagaimana kecewanya Ibumu saat tahu bahwa suaminya memiliki anak dari wanita lain?"
"Kecewa itu wajar, Kak. Tapi Mama nggak akan ... sejahat ini. Bahkan Mama pasti sukarela menyambut Kakak." Abhimata menjeda. "Mama pun juga nggak akan meminta Kakak bercerai dari Lutfan. Mama itu perempuan dan Kakak juga perempuan, beliau pasti kecewa mengetahui fakta bahwa Kakak adalah anak Papa dan sekertarisnya. Tapi ada hal yang lebih mengecewakan dari ini, Kak. Yaitu kesalahan Papa dan Kakek yang mengurung Kakak di sini dan bahkan berniat memisahkan Kakak dari suami Kakak sendiri."
Mardiyah menggeleng.
"Abhimata ... Nyonya Cecilia adalah orang yang baik. Saya percaya beliau enggak akan sampai hati menyakiti saya. Tetapi justru saya ... saya yang takut menyakiti beliau, dengan hadir di tengah-tengah keluarga kalian," jelas Mardiyah.
"Kak ..."
Mardiyah menggeleng "Jangan ajak Ibumu ke sini, Abhimata."
"Aku ..." Abhimata berdiri. "Pamit, Kak."
Mardiyah terdiam menatapi kepergian Abhimata, mungkin saja kah ia membuat Abhimata kecewa? Atau marah? Entah lah. Semoga saja tidak. Setelah pintu benar-benar tertutup ia memilih menyantap makanannya.
Jyotika Ira.
Cecilia menanti kedatangan anak kembarnya yaitu Abhimata dan Abhimana. Keduanya bilang akan datang sekitar pukul sepuluh, tetapi sudah hampir satu jam menunggu Cecilia tidak kunjung melihat batang hidung anak-anaknya. Hingga ia merasa lelah ingin menyadarkan kepalanya pada sofa, tetapi tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu tergeser.
"Pagi, Mama!" seru Abhimana yang langsung mendekat pada Ibunya dengan duduk tepat di samping Cecilia. "Cium dulu. Muach!"
Abhimata hanya menggeleng-geleng, dan mengambil duduk berseberangan. "Maaf telat, Ma."
"Ini hampir siang. Nggak usah kalian bilang pagi-pagi segala." Cecilia menampilkan wajah merajuknya. "Mama kesel deh. Kalau janjian kalian nggak pernah datang tepat waktu. Nggak on-time banget, gini gimana bisa kalian jadi pimpinan? Contoh Linggar itu, dia bisa jadi General Manager di hotel Papa kalian. Lah kalian? Baru ngurusin Jyotika Ira aja masih suka libur-libur."
Netra Abhimana mendelik. "Wah. Mama kok jadi kayak orang-orang sih? Muji-muji anaknya Om Gumira mulu."
"Mama ini berbicara fakta lho, Bhimana."
__ADS_1
Abhimata hanya diam dengan tersenyum memandangi Ibu dan saudara kembarnya.
"Terus kamu Bhimata! Jangan senyum-senyum Mama ini lagi serius," imbuh Cecilia.
Abhimata mengangguk. "Aku juga serius, Ma. Makanya aku lihatin dan dengerin Mama bicara."
Cecilia mengambil dan membuang napas berkali-kali, seolah mencoba menertalkan diri. Kemudian ia memilih menyandarkan punggungnya pada sofa dan netranya menatap pada Abhimata.
"Katanya kamu mau bicara sama Mama, Nak," ujar Cecilia.
Abhimata mengangguk.
"Soal apa? Cassia lagi?"
Abhimata menggeleng. "Bukan, Ma. Kalau soal Cassia aku udah tahu jawaban Mama pun pasti sama."
"Terus, soal apa?"
Abhimana menatap saudara kembarnya dengan serius, menanti-nanti ucapan apa yang akan dikeluarkan oleh Abhimata.
"Soal ..." Abhimata menghela napas. "A-anak Papa."
Kening Cecilla mengerut, detik kemudian kembali semula. "Oh, Rajendra. Buat masalah apa lagi Kakakmu itu?"
"Bukan Kak Rajendra, Ma."
"Terus ... siapa lagi anak Papa selain kamu, Abhimana, sama Rajendra, Nak?"
Abhimana hendak menyela sang saudara kembar. Namun lebih dahulu Abhimata berujar, "Ma, Papa punya anak dari perempuan lain."
Deg.
Cecilia terdiam sejenak. Ia berpikir ini lelucon dan tidak benar sama sekali, ini tak mungkin. Bagaimana bisa suaminya mempunyai anak dari perempuan lain? Tak mungkin.
"Jangan bercanda, Abhimata."
"Stop. Nggak usah lo terusin, Bhimata. Biar Kakek sama Pa---"
"Sekalian aja gue kasih tahu Mama. Gue nggak mau dia terus-terusan menderita. Tega Kakek sama Papa nyuruh dia cerai sama Lutfan."
Cecilia terdiam melihat anak-anaknya saling mendebat. Hingga saat ia mendengar kata cerai membuatnya langsung berujar, "Apa? Papa sama Kakek kalian nyuruh cerai siapa?"
"Itu Mama ... anak perempuan Papa."
Cecilia benar-benar berpikir bahwa yang di ucap Abhimata adalah candaan. Namun sepertinya bukan. "Foto. Ada foto dia anak Papamu?"
Abhimata menggeleng.
"Kalau nggak ada, kalau ucapan-ucapan kamu tanpa bukti yang jelas. Mama nggak mau percaya." Cecilia mengibas tangannya. "Pergi. Mama nggak suka cara bercanda kalian yang keterlaluan."
Lutfan telah berniat untuk pergi ke Penginapan Jyotika Ira. Karena Aldo bilang, Abhimata mengurusi penginap mewah itu, dan ia percaya Abhimata mungkin akan memberitahukannya tentang di mana kah Mardiyah. Ia tak lagi peduli dengan perasaan orang lain, jika di sana ia bertemu dengan Ibu Cecilia Maharani Adiwangsa, sekalian saja ia memberitahu semuanya.
Sebab percuma ia bersikap baik pada orang yang sama sekali tidak bisa menerima kebaikannya. Ia sudah cukup bersabar, ia juga sudah cukup baik. Maka sekarang cara terbaik mengambil Mardiyah bukanlah dengan meminta belas kasih atau memohon, ia harus bisa tegas untuk meminta kembali sang istri.
"Mas sampean bener ndak pa-pa masuk sendiri?"
"Nggak pa-pa, Cak. Yang penting saya bawa uang," jawab Lutfan.
Kling!
Aldo
Lo beneran mau ke Jyotika Ira sendirian?
Jangan ngada-ngada deh lo, Lut
__ADS_1
Di Lazuardi Hotel aja lo ketemu Rajendra,
lagian juga, Abhimata kayaknya belum balik
Lutfan tidak berniat membalas pesan dari Aldo. Jika sekiranya di Jyotika Ira ia bertemu dengan Rajendra lagi pun tak masalah. Niatnya adalah menginap juga di sana, bagian terpentingnya ia milikilah uang untuk menginap di penginapan mewah itu. Niat selanjutnya, adalah bertemu dengan Abhimata.
Aldo is calling ...
Apaan sih?! batin Lutfan yang langsung mematikan panggilan dari Aldo lantas mulai mengetik pesan.
^^^Iya gue ke sana sendiri,^^^
^^^dan lo, please jangan telpon-telpon gue.^^^
Aldo
Anjir, Lut. Gue khawatir.
Otw gue ke Jyotika Ira
^^^Nggak usah^^^
^^^Sana lo ke outlet.^^^
Aldo
Males
Otw gue ke sana
Lutfan mematikan gawai. Mobil yang ditungganginya berhenti tepat di parkiran penginapan. Cak Sur membantunya mengeluarkan kursi roda dan mengangkatnya untuk berpindah duduk.
"Mas yakin ndak pa-pa sampean sendirian?"
Lutfan mengangguk. "Iya, Cak nggak pa-pa. Njenengan tunggu di outlet aja Cak. Atau kalau nggak Cacak boleh pulang."
Cak Sur tak punya pilihan selain setuju.
Gue bisa sendiri. Lagian cuma butuh nemuin Abhimata aja, batin Lutfan yang langsung memutar roda hingga berjalan memasuki Jyotika Ira, di sambut oleh penjaga keamanan.
"Selamat siang, Tuan. Bisa saya bantu?"
"Resepsionis di mana, ya Pak?"
Penjaga keamanan menunjukkan arah jalan dengan berniat mendorong kursi roda Lutfan. Namun langsung ia tolak, ia hanya meminta di antar untuk tahu tujuan jalannya, bukan di bantu ke sana dengan di dorong kursi rodanya.
"Terima kasih, Pak."
Lutfan memesan satu kamar, dan saat sedang melakukan transaksi pembayaran seseorang tiba-tiba datang dari arah kanan dengan napas tersengal-sengal, memegangi meja resepsionis.
"Tuan Muda Janardana?"
Aldo menggeleng, menatap perempuan muda di depannya "Ssttt. Aldo. Susah banget orang-orang panggil gue Aldo."
"Ngapain lo ke sini?" tanya Lutfan ketus.
Pandangan Aldo langsung beralih menatap Lutfan. "Nyusulin lo lah. Kuncinya mana? Kita satu kamar."
"Pulang lo! Siapa yang nyuruh lo ke sini?"
"Males. Gue emang mau ke sini kok."
Saat itu, Aldo berganti menatap perempuan muda itu yang menjaga resepsionis. "Kuncinya mana?"
"I-ini, Tuan."
Aldo menatap heran, kemudian spontan ia melotot saat melihat tatapan-tatapan para resepsionis itu aneh. "Wah gila. Kalian jangan mikir yang enggak-enggak ya! Dia ini udah nikah! Gue ... ya gue jomblo, tapi bukan karena nggak laku. Intinya, kalian jangan mikir yang macem-macem!"
__ADS_1