Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
88 :


__ADS_3

Kertas putih bergaris terdapat tulisan tangan ini ternyata dari Manggala Adiwangsa. Ia urungkan untuk kembali ke dapur umum, lebih memilih duduk di ruang tamu membaca isi surat itu.


Mahika, buatlah pesta pernikahan bersama suamimu. Cucu Bashir itu. Dan tolong jangan pernah mengira permintaan Kakek ini sebagai permohonan maaf. Karena sampai kapan pun, sepertinya hatimu tidak akan pernah lapang untuk memberi maaf pada orang jahat seperti Kakek.


Melihat diri Gautama dari sisimu benar-benar mempesona. Tatapan matamu, serta cara berbicaramu sangat mirip dengan Tama seusia itu. Lalu seluruh tubuh dan wajahmu adalah milik Ibumu, semua sama. Jika kamu bercermin, gambaran Zanitha muda adalah kamu. Kamu ingin tahu perbedaannya? Zanitha selalu memandang semua orang dengan lembut, sedang kamu cenderung seperti Tama datar dan dingin.


Salahkan Kakek. Karena tidak merestui hubungan Ayah dan Ibumu dulu. Hingga Tama benar-benar menjadi manusia paling brengsek yang pernah Kakek temui. Bahkan Kakek juga melukai Cecilia, menantu yang Kakek sayangi.


Mahika, kamu tidak suka nama yang Kakek beri, ya? Tidak pa-pa. Tidak usah di gunakan. Tapi tolong izinkan Kakek saja yang memanggilmu seperti itu. Dan sebagai penebus atas segala kasih sayang yang tidak pernah kamu dapat, Kakek akan membantu mencari tahu segalanya tentang Ibumu. Supaya setidaknya kamu bisa mencium dan bertemu dengan nisan Ibumu.


Dari, Manggala Adiwangsa.


Mardiyah terdiam, melipat kembali surat itu lalu meletakkan pada pangkuan dan menatap lurus ke depan. Pak Manggala tahu bahwa menjadi lapang tidak lah semudah itu. Untuk kali ini, ia tidak ingin terlihat naif, memaafkan Ayahnya---Gautama masih cukup mudah untuknya. Namun untuk Pak Manggala terasa sangat sulit, goresan luka itu terlalu dalam dan membekas. Hingga meninggal lara yang tiada ujung kasihan.


Jika saja semua tidak seperti ini, menerima dirinya sebagai keluarga Adiwangsa adalah hal mudah. Mungkin juga, ia akan suka rela menyambut Pak Manggala. Hari-hari berlalu di panti asuhan adalah kebiasaan untuknya, tanah ini kelahirannya, Umma Sarah adalah Ibunya. Tiada sedikit pun ia rela meninggalkan. Dan mengenai ... pesta pernikahan, harus ia menerima?


"Hadiah lagi?"


Mardiyah menatap pada arah suara. "Iya."


"Dari siapa?"


"Itu ... Pak Manggala."


Lutfan ikut terdiam. Namun melajukan kursi rodanya mendekati Mardiyah. "Nggak di buka?"


"Nanti aja."


"Nggak boleh gitu. Nanti ajanya itu kapan?" Tangan Lutfan mengangkat tas hadiah itu lalu meletakkannya pada pangkuan Mardiyah. "Buka dulu."


Kain putih segi empat di gulung dengan lima motif berbeda-beda terdapat dalam kotak putih. Pikirnya, mungkin itu adalah contoh kain dari gaun yang akan dirinya pakai dari Pak Manggala. Semuanya indah, tetapi ia bingung, menerima atau tidak pesta pernikahan ini. Lutfan bilang tidak ingin ada walimatul'ursy dan ia memutuskan untuk setuju. Lagi pula pernikahan ini sudah lama, mungkin ... tiga bulan lebih.


"Buat apa kain-kain ini?"


Mardiyah menjawab, "Pak Manggala, mau aku sama kamu adain walimatul'ursy. Tapi aku tahu kok, kamu kan nggak mau. Jadi aku benar-benar nggak pa-pa, aku bisa nolak ini semua, aku bisa kirim lagi kain-kain ini ke---"


"Kenapa harus nolak?" Lutfan menatap. "Kamu nggak mau ada walimatul'ursy? Jadi nanti, setelah acara pernikahan, kita bisa ..." Lutfan menyentuh kerah bajunya dan menatap ke arah lain. "Honeymoon ke Jepang. Tiket yang di beri Abhimata bisa di undur 'kan?"


"Bukannya kamu nggak mau?"


Kening Lutfan mengerut. "Aku pernah bilang nggak mau?"


"Iya. Waktu pertama kali kita bahas walimatul'ursy Alma sama Gus Jafar. Katanya, kamu nggak mau," jelas Mardiyah.


Lutfan mengusap-usap surainya ke belakang. Jadi ia pernah menolak, ya? Seharusnya ia tidak pernah mengatakan seperti itu. Mardiyah kan perempuan apalagi, dia bekerja, teman-temannya pasti banyak. Bagaimana bisa pernikahan yang sekali seumur hidup sang istri jalani, harus berakhir seperti ini? Mengapa ia harus menolak pesta pernikahan hanya karena masa terpuruknya saat itu? "Kalau sekarang aku mau. Kamu mau nggak, Mar?"


"Aku ikut kamu aja."


"Kok kamu gitu? Kamu nggak mau, ya? Kamu malu nanti di pelaminan berdiri sama orang cacat---"


Mardiyah menyanggah dengan menatap Lutfan. "Kenapa kamu jadi bahas kekuranganmu lagi? Aku nggak suka. Kalau pun setiap hari harus duduk di pelaminan sama kamu, terus di lihatin sama banyak orang. Aku nggak pa-pa. Aku nggak akan malu. Memangnya aku buat salah? Toh aku berdiri di pelaminan itu buat nyambut hari bahagiaku. Kenapa aku harus pusing-pusing mikirin ucapan orang?"


Lutfan tersenyum tipis. "Kalau gitu ... mau, ya?"


Mardiyah mengangguk pelan.


"Kebetulan aku ada tabungan. Nanti sewa gedung sama lain-lainnya pakai uang aku, terus gaun keduanya pakai yang Pak Manggala pilih. Kamu harus hargai pemberian beliau. Aku nggak bakal larang kalau kamu mau pakai itu, silakan. Buat gaun pertamanya, kita fitting di butik aja. Gimana?"


Mardiyah terdiam sejenak, menatap Lutfan. "Sewa gedungnya pakai uang aku aja."


"Nggak usah. Uang aku aja."


Mardiyah terdiam, membuang muka. Tangannya memasukan kembali kain-kain yang di berikan oleh Pak Manggala. Ia memasang wajah datar, penolakan Lutfan entah mengapa membuatnya kesal. Memang apa salahnya kalau yang membayar uang gedung dirinya?


"Kamu marah?" tanya Lutfan.


Mardiyah menjawab, tanpa menatap. "Walimatul'ursy itu yang jalani kita berdua. Bukan cuma kamu aja. Aku tahu tugas suami itu menafkahi istrinya, aku tahu uang kamu juga uang aku. Tapi apa aku nggak boleh bantu?"

__ADS_1


"Boleh, Mar. Ya Allah ... tapi nggak perlu pakai uang, masih ada---"


Mardiyah akhirnya menengok. "Masih ada apa, Lutfan? Semua acara besar itu butuh uang. Lagi pula aku masih punya banyak tabungan dari terakhir aku kerja jadi staf Nyonya Harsa. Lagian aku cuma nawarin bantu bayar gedung, gitu aja kamu langsung nolak. Nggak mau mempertimbangkan dulu kalau walimatul'ursy itu butuh banyak biaya."


"Ya Allah ..." Tangan Lutfan terangkat mengusap-usap lembut kepala Mardiyah yang tertutupi oleh kerudung. "Iya. Aku ngerti biayanya banyak. Banyak banget. Okay. Kamu mau bayar gedung, kan? Ya udah kamu yang bayar. Terus yang lain-lainnya aku, ya?"


Mardiyah menggeleng pelan. "Aku gedung, undangan, sama makanan."


"Banyak, Mar. Nanti uangmu habis."


"Aku kan istri kamu. Nanti kalau habis aku tinggal minta kamu, kan? Sekarang masih ada, nanti pun juga masih ada," ujar Mardiyah.


Spontan saja Lutfan tertawa. Benar juga, Mardiyah adalah istrinya. Jika uang habis tinggal minta saja. "Okay. Deal. Yang lain-lainnya aku. Kamu nggak boleh ikut campur soal biaya lagi."


"Iya."



Setelah perdebatan kecil atas putusan walimatul'ursy, Mardiyah kembali ke dapur umum yang ternyata di sana sepi. Mungkin semua sudah bersiap di tempat makan bersama di aula makan bagian perempuan dan laki-laki. Saat sampai aula makan ia bertemu dengan Alma, istri dari Gus Jafar, laki-laki yang dulu pernah menempati sisi hatinya walau hanya sebatas rasa suka saja.


"Mardiyah, gimana kabarmu?"


"Baik."


Senyuman manis Alma tunjukan. "Lama nggak ketemu kamu makin cantik lho."


"Biasa aja. Kabarmu sendiri?" tanya Mardiyah yang nertanya melirik perut Alma. Dia hamil? lanjutnya, dalam hati.


"Baik, alhamdulillah." Alma menatap Mardiyah dengan seksama. "Mar ... kamu bahagia nikah sama Lutfan?"


Mardiyah menatap lurus. Pertanyaan Alma memasuki telinga, di bersamai angin yang menyapu wajahnya. "Yang kamu lihat bagaimana, Alma?"


"Aku lihatnya, kamu kayak bahagia banget. Kamu agak ... murah senyum."


Memangnya selama ini aku---ah, iya. Aku sadar selama ini aku memang jarang tersenyum, batin Mardiyah yang tiada jadi mengomel. "Mungkin tertular Lutfan."


Mardiyah hanya mengikuti dengan tersenyum tipis saja sembari menatapi anak-anak panti yang melahap makanan. Selang beberapa menit, gawainya bergetar, masuk notifikasi.


Regita


Mardiyah!


Gimana kabar kamu?


Saya mau tanya alamat panti asuhanmu.


^^^Buat apa?^^^


Regita


Saya mau ngirim kamu undangan pernikahan.


Ya Allah aku lupa. Regita kan mau nikah sama Regan, sekertarisnya Dokter Gumira, batin Mardiyah yang cepat-cepat mengetik.


^^^(Alamat)^^^


^^^Saya tunggu undangannya, Regita.^^^


Regita


Jangan lupa kamu harus dateng,


Acaranya di Lazuardi Hotel.


^^^Iya.^^^


Mardiyah menghela napas. Mengapa lagi-lagi harus di Lazuardi Hotel? Belum lagi yang menjadi calon suami Regita adalah Regan, jelas-jelas nanti di sana ia akan bertemu begitu banyak orang-orang elite yang tentunya akan ada Pak Manggala, Pak Gautama, dan Dokter Gumira. Ia hanya berharap selama ia datang di acara itu, ia tidak akan bertemu dengan Rajendra ataupun Aryandra. Kedua laki-laki itu benar-benar ingin ia hindari.

__ADS_1


"Mar, aku pulang dulu, ya! Udah di jemput sama Mas Jafar. Assalamualaikum."


Mardiyah tersadar. "Ya, hati-hati. Waalaikumussalam."



Sudah hampir pukul sepuluh malam tetapi Lutfan masih tidak kunjung pulang. Mungkin suaminya itu masih sibuk di aula makan bersama laki-laki. Ia hanya mengutak-atik gawai sesekali membuka m-banking, dan menatap nominal uang yang sudah ia tabung selama satu tahun saat Umma Sarah bilang bahwa akan mencarikan calon suami untuknya. Tidak banyak sebenarnya uang ini, hanya tiga puluh juta, jika sekiranya kurang ia akan mendiskusikan lagi bersama Lutfan.


Bahkan ia berencana jika nanti berbulan madu ke Jepang ia ingin membeli kostum-kostum yang seperti pajangan boneka kecil di kamar Lutfan. Entahlah itu apa. Tetapi saat ia mencari di internet tertulis bahwa ada begitu banyak kostum, harganya pun cukup mahal. Baginya tidak apa-apa, asal Lutfan senang melihatnya, ia pun suka rela. Lagi pula lingerie dan beberapa baju dinas yang di beri oleh Mama Cecilia sudah banyak. Barang kali Lutfan ingin melihatnya berpakaian yang lain.


Clek.


Pintu kamar terbuka. Spontan ia langsung turun dari ranjang saat menyadari bahwa yang datang adalah Lutfan. Dan untungnya, ia belum menggunakan baju tidur, ternyata saat ia keluar ada Banyu yang juga ikut masuk.


"Eh? Kamu belum tidur?"


Mardiyah menggeleng, bergantian menatap suaminya dan Banyu.


"Aku mau bahas kerjaan bentar sama Banyu." Lutfan tidak jadi memasuki kamar. "Kamu bisa tolong ambilin laptopku?"


"Bisa." Mardiyah berbalik mencari-cari laptop Lutfan yang ternyata berada di meja abu-abu bukan di meja kerjanya. Setelah laptop berada di tangan ia terburu-buru keluar. "Ini. Aku tunggu di dalam, ya?"


"Kalau kamu tidur dulu nggak pa-pa. Takut lama."


Mardiyah menggeleng pelan. "Enggak. Aku tunggu kamu."


Lewati tiga puluh menit Lutfan tidak kunjung selesai. Benar ternyata lama. Matanya sudah ingin merapat saja, lebih baik mengambil duduk di bawah sambil menyelonjorkan kaki, barang kali hawa lantai yang dingin menghilangkan kantuknya.


Salah. Ia telah tertidur dengan tidak sadar. Saat ia ingin mengerakan tubuh dengan membuka mata perlahan, tangan hangat menyentuh pipinya seperti bergerak di sekitar kepalanya.


"Uhm, Lutfan?"


Senyuman manis dari Lutfan menjadi sambutan saat Mardiyah membuka mata. "Udah di bilang lama. Kenapa masih pakai baju lengkap? Terus kenapa tidur di bawah gini, hah?" omel Lutfan.


"Aku kan udah bilang nungguin kamu," lirih Mardiyah yang perlahan bangkit mengambil duduk di bibir ranjang dengan menarik kerudung yang jarumnya telah terlepas. "Lama banget. Kamu bahas apa?"


"Aku udah bilang bahas kerjaan kan."


"Ya aku tahu. Tapi yang di bahas itu apa?"


Lutfan menghela napas. "Aku mau jadiin Banyu Manajer di pembukaan outlet baru."


"Oh."


Astaghfirullah istri siapa ini? Tadi nanyanya ngebet banget di jawab malah oh aja. Ya Allah ... gemes, batin Lutfan yang hanya diam memandangi Mardiyah.


"Kenapa lihatin aku?"


"Nggak pa-pa. Sana ganti baju tidur. Ayo tidur udah malam."


Mardiyah malas. Haruskah ia berjalan ke arah kamar mandi? Baju tidur saja sudah terlihat di depan mata, ia letakkan di meja yang bersebelahan dengan ranjang. "Aku ganti di sini nggak pa-pa, ya?"


Pipi Lutfan tiba-tiba memanas. "Ka-mu yakin?"


"Kalau kamu ngerasa terganggu ..." Mardiyah mendekati Lutfan, ia mengangkat kedua tangan suaminya dan meletakkan tepat di wajah. "Tutup wajahmu. Udah, kan? Kamu nggak bisa lihat."


Lutfan tertawa ringan melihat tingkah Mardiyah yang semakin hari semakin mengemaskan saja. Di mana kiranya dulu wanita yang ia lihat memiliki tatapan dingin dan ekspresi datar, ya? "Emang kalau aku lihat. Kamu nggak keberatan?"


"Sebenarnya sih enggak ..." Mardiyah mulai membuka kancing bajunya. "Cuma nanti kalau kamu lihat, kamu pasti bakal ajak aku gituan lagi."


"Kata siapa?" Lutfan masih menutup wajahnya.


"Kata aku gini, lho." Kancing terakhir. Mardiyah mulai menyikap gamis yang digunakannya hingga kulit putih mulusnya terlihat. "Kamu kan suka banget lihat aku nggak pakai---"


"Nggak pakai apa, hah? Udah jangan mancing-mancing," Lutfan menyanggah. "Kalau aku kelepasan. Kamu bakal keramas lagi. Mau?"


Mardiyah cepat-cepat menggunakan baju tidurnya. "Y-ya bukannya nggak mau. Kan tadi udah. Masa kamu mau lagi?"

__ADS_1


__ADS_2