
"Infus gue udah di ganti," ujar Lutfan tiba-tiba.
Mardiyah sedang sibuk dengan laptop, ia membantu Lutfan mengecek pemasukan tiga hari kemarin di Kedai Amanah, karena ternyata Aldo juga libur. Tetapi selalu di usahakan oleh Aldo untuk berkeliling setiap hari dari outlet ke outlet. Sedangkan masalah keuangan yang menangani Lutfan sendiri, dan niatnya di bantu oleh Mas Jafar. Namun lagi-lagi Lutfan tidak ingin merepotkan orang lain, Mas Jafar pun punya tanggung jawabnya sendiri.
"Iya. Saya tahu," jawab Mardiyah yang hanya melihat Lutfan sekilas saja.
Lutfan berdecak kesal. Padahal ia sudah memberi kode. Kenapa perempuan ini tidak paham apa maksudnya? Ia ingin di peluk lagi.
"Lutfan."
"Apa?"
Mardiyah menunjukkan gawainya. "Alma kirim pesan. Katanya, dia adain walimatul'ursy di Lazuardi hotel."
"Terus?"
"Umma ... juga bilang, satu hari setelah walimatul'ursy Alma dan Jafar kita juga---"
Lutfan menyanggah, "Gue nggak mau walimatul'ursy. Lagian pernikahan kita udah sah secara hukum dan agama, Mar. Pesta megah kayak gitu cuma buang-buang duit."
"Kakek sama Umma yang minta, Lutfan." Mardiyah menggeleng dengan menutup laptop. "Bukan saya."
"Nanti gue bakal bilang ke Kakek sama Umma." Netra Lutfan menyipit memandangi Mardiyah. "Lo nggak keberatan kalau nggak ada walimatul'ursy? Temen-temen lo kan banyak."
"Saya ikut kamu saja," jawab Mardiyah pelan dan meletakkan laptop pada laci pertama. "Laporan hasil penjualannya sudah selesai. Nanti tinggal kamu cek lagi."
"Gue tanya, lo keberatan atau enggak?"
Mardiyah menjawab, "Kalau pun saya bilang, keberatan. Kamu tetap akan menolak, Lutfan."
"Kalau ... gue mau? Lo nggak malu di pelaminan nanti gue pakai kursi roda?"
Mardiyah telah sampai di samping brankar perlahan ia duduk menatap Lutfan yang juga menatapinya. "Enggak. Justru yang saya cemaskan itu kamu."
"Maksudnya?"
"Apa kamu nggak malu? Kalau nanti ada walimatul'ursy, keluarga dari pihak saya nggak datang. Bukan nggak ada yang datang, saya memang nggak punya keluarga. Lebih-lebih saya takut berita tentang pernikahan kamu yang selaku cucu dari Kiai Bashir, menikahi perempuan yang asal usul keluarganya nggak jelas sama sekali." Mardiyah mengalihkan pandangan pada jendela rumah sakit, sudah hampir memasuki waktu ashar.
"Saya juga takut, kalau orang luar tahu bahwa cucu kedua Kiai Bashir menikah dengan anak haram seperti---"
Lutfan menyanggah dengan berteriak, "Mardiyah!"
__ADS_1
"Lo ... berhenti ngomong. Gue nggak suka dengernya. Apa sih lo! Nyebut-nyebut diri sendiri kayak gitu?" Urat leher Lutfan terlihat, sepertinya Mardiyah benar-benar membuat sang suami marah. "Mikir nggak sih lo, Mar? Allah udah ngasih lo kehidupan, kalau pun lo harus lahir ke dunia ini dengan cara nggak baik. Ya nggak pa-pa. Nggak ada yang perlu di sesali! Setiap anak yang lahir ke dunia ini bersih, Mar. Bersih. Mereka nggak nanggung dosa orang tuanya!"
Mardiyah menatap Lutfan dengan sendu.
"Ya, saya tahu."
"Jadi lo nggak perlu malu. Gue bakal marahi siapapun yang berani ghibah-in lo. Mereka aman selama telinga gue nggak denger apa-apa," ujar Lutfan dengan emosi.
Mardiyah menjawab, "Berhenti marah, Lutfan. Napasmu nggak beraturan itu, nanti sesak."
Lutfan tersadar. Kemudian mengambil dan membuang napas perlahan-lahan. "To-tolong ambilin gue minum."
"Ini." Mardiyah menyerahkan segelas air mineral pada Lutfan. "Bisa?"
Lutfan menenguk perlahan-lahan. "Udah. Makasih."
"Habis ini ashar."
"Iya. Kenapa? Lo ngantuk? Mau tidur dulu?"
Mardiyah menggeleng dengan pandangan yang saling beradu. "Enggak."
"Terus?"
Lutfan mengangguk-angguk. "Ooh. Yaudah nggak pa-pa, santai aja. Lo bisa ke Mas---"
"Bukan di Masjid. Saya mau sholat sama kamu. Berjamaah berdua sama kamu," sanggah Mardiyah.
Spontan Lutfan terbatuk-batuk. Mardiyah benar-benar tidak bisa di tebak, setiap kata yang di ucap sering sekali membuatnya tersedak, berdebar-debar, dan sangat tak karuan.
"Kamu nggak pa-pa?"
Lutfan menggeleng. "Enggak-enggak gue nggak pa-pa. A-apa lo bilang tadi? Lo mau apa? Sholat bareng gue?"
"Nggak boleh?"
Lutfan meneguk saliva beberapa kali dan dengan terbata-bata ia berujar, "Bo-boleh lah!"
"Saya kira kamu keberatan."
Lutfan menatap ke arah lain. "Ngapain juga keberatan? Sholat berjamaah itu pahalanya banyak, apalagi makmumnya istri sendiri. Siapa yang nggak mau pahala sebanyak itu?"
__ADS_1
"Hm. Kamu benar. Saya juga mau."
Ya Allah, jantung gue! Deg-degan mulu akhh nggak bisa santai apa, hah?! batin Lutfan serasa ingin berteriak saja. Bahkan ia yakini telinganya sudah memerah, Mardiyah suka sekali membuatnya merona. Ucapan itu benar-benar sepele. Namun mengapa efeknya sehebat ini?
"Mumpung belum azan. Mau saya bantu bersihin badan dulu nggak?"
Netra Lutfan melebar, kedua tangannya mengibas ke kiri kanan. "Enggak-enggak nggak usah. Kan ada perawat, lo nggak perlu repot-repot. Gue di rumah sakit ini bayar, sayang duitnya kalau perawatnya nggak ngapa-ngapain."
"Ooh. Jadi kamu suka rela ..." Pandangan Mardiyah berubah datar. "Kalau badan kamu di sentuh sama di lihat orang lain?"
"A-anu ... nggak masalah buat gue. Selama perawatnya cowok."
Mardiyah mengangguk-angguk. "Hm. Saya lihat tadi, nggak ada perawat laki-laki. Jadi, mau sama perempuan?"
"Ya-ya kalau ... kalau nggak ada ya udah gue bisa bersihin sendiri lah! Ngapain repot?"
Mardiyah bangkit, mendekat, dan tangannya menyusup pada pinggang kiri serta kanan Lutfan. "Maka dari itu, Lutfan. Saya bantu."
"Iya-iya." Lutfan mendorong Mardiyah pelan. Supaya sedikit menjauh darinya. "Oke. Oke, Mar. Lo mau bantuin gue 'kan? Siapin airnya, gue aja yang buka baju gue sendiri."
Mardiyah mengangguk. Secepatnya memasuki kamar mandi menghidupkan kran dan mengucurkan air pada baskom kecil yang disediakan oleh rumah sakit. Setelahnya ia kembali pada Lutfan yang telah telanjang dada menampilkan perut sixpack. Yang sejenak membuatnya melongo, dan langsung tersadar, kedua pipinya memerah padam.
"I-ini ..." Mardiyah yang tersadar ada luka di bagian tulang rusuk kiri Lutfan spontan menyentuh luka itu. Hingga Lutfan tidak sengaja mendesah.
"Astaghfirullah, Mar!" ujar Lutfan langsung menahan tangan Mardiyah. "Jangan pegang-pegang sembarangan dong!"
Mardiyah mengerjap berkali-kali. "Sembarangan apanya? Saya cuma sentuh luka kamu. Maaf kalau kamunya kesakitan."
Bukan masalah sakitnya juga. Masalahnya kulit gue ini jadi sensitif semenjak lo cium gue nggak bilang-bilang. Ngerti nggak sih lo? Akhhh ... baru satu hari jadi istri gue, lo bener-bener udah buat gue hampir nggak bisa berkutik, Mar! batin Lutfan meronta-ronta dengan pipi yang merah lagi, ia melepas tangan Mardiyah dan beralih mengambil kain kecil yang terletak di baskom.
"Biar saya---"
"Enggak-enggak gue aja. Lo duduk, Mar. Lihatin gue aja. Kalau misal gue butuh bantuan, gue bakal minta ke lo. Tolong, ya? Kali ini aja lo nurut sama gue," ujar Lutfan.
Mardiyah mengangguk. "Hm. Okay. Kalau gitu saya siapin baju kamu bentar, ya?"
^^^
Note:
Mardiyah mode lembut kalau sama Lutfan doang. Ya gimana? Lutfan kan suaminya! Haish, pasangan satu ini benar-benar menggemaskan 😍
__ADS_1
Saya buat mereka bahagia dulu, deritanya nyusul. Asal kalian sanggup, aslinya deritanya ini ada cuma ketutup sama kedok Lutfan yang apa-apa selalu gengsi kalau ada Mardiyah.