Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
78 : Sudut Pandang Laki-laki


__ADS_3


"Lo juga tidur."


Mardiyah merebahkan diri lagi.


"Mau saya dongengin?"


Lutfan menggeleng, dan merebahkan kepalanya pada ranjang Mardiyah, tidak lupa tangannya saling menggenggam. "Gantian. Sekali-kali gue yang dongengin lo. Mau denger nggak?"


"Mau."


"Gue udah nyimpen cerita ini di otak gue, selama satu bulan lebih. Rencananya, gue emang mau dongengin ke elo." Lutfan menjeda, tangannya melepas sejenak genggaman untuk mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Kemudian kembali menggenggam dan berucap, "Gue kasih judul ... Hati Sang Pendekar."


"Jadi sudut pandang laki-laki, ya?"


"Iya lah. Sekali-kali lo denger cerita yang sudut pandangnya cowok. Jangan cewek terus," ujar Lutfan.


"Kalau begitu coba mulai. Saya mau dengar."


Lutfan mulai bercerita. "Perpisahan dari kecil bersama kedua orang tuanya membuat Pendekar Moshe merasa bahwa kehidupan ini sangatlah tidak adil. Jika dipikir-pikir lagi olehnya, keadilan hidup telah ditetapkan sebelum manusia sendiri itu lahir. Dari segala mata dan pikiran manusia, suatu keadilan tidak bisa di nilai sama."


Mardiyah masih tidak mengerti jalan cerita apa yang akan Lutfan suguhkan. Namun ia masih tetap mendengar.


"Seperti halnya dalam pandangan Pendekar Moshe. Perpisahan itu terasa tidak adil. Setelah bertahun-tahun berpisah, ia kembali ketempat yang di nama kan dengan rumah. Saat kembali bukan bahagia juga bukan kesenangan yang menyambut. Melainkan duka nestapa yang mengerogati kehidupan atas fakta meninggalnya sang Ayahanda."


Aku suka caranya bercerita, batin Mardiyah.


Lutfan memainkan jari-jemari Mardiyah dan kembali melanjutkan ucapan. "Namun sebagai laki-laki dan juga sebagai pendekar. Tangis adalah sesuatu yang akan terlihat aneh. Jadi dia memilih untuk terlihat baik-baik saja. Mengebumikan sang Ayahanda pun dia tidak menetes air mata. Wajahnya datar, tetapi hatinya tercabik-cabik."


"Dia percaya kehilangan itu pasti. Namun keadilan tidak pernah seimbang baginya."


Kening Mardiyah mengerut. "Jadi, Pendekar Moshe berpikir bahwa hal-hal di dunia ini sama sekali nggak adil untuk hidupnya?"

__ADS_1


Lutfan mengangguk. "Gue lanjutin."


"Silakan."


"Kehidupannya terus berlalu. Hingga sampai pada titik, dia merasakan suatu getaran hebat di hati, yang diperuntukkan untuk seorang gadis."


Jatuh cinta? batin Mardiyah.


"Dia jatuh cinta. Desiran aneh yang dia rasakan untuk seorang gadis ini nyata. Gadis itu pernah dia temui, semasa kecilnya." Lutfan menjeda. "Perasaan mendalam ini membuatnya dapat menikahi gadis itu. Gadis yang tidak pernah dia ketahui latar belakang kehidupannya. Namun dalam pikirnya, dia perpikir gadis yang sekarang menjadi istrinya adalah yatim piatu dan gadis desa biasa."


Mardiyah masih diam, dengan jari-jarinya yang di usap-usap oleh Lutfan.


"Sejenak, dia berpikir, bahwa hidup ini adil. Karena akhirnya, dia mendapatkan pelipur lara di setiap luka. Tetapi, istrinya tak pernah tahu, seluas apa hati sang pendekar dalam mencintai." Lutfan menarik tangan Mardiyah dan mengecup beberapakali. "Cinta yang dia miliki terlalu tersembunyi. Dia sulit untuk mengatakan, sebab sepertinya sang istri tidak merasa demikian. Tidak ada perasaan timbal balik, yang ada mungkin ... hanya rasa kasihan."


Kasihan? batin Mardiyah yang masih merasakan tangannya berada pada bibir Lutfan. "Kenapa bisa Pendekar menyimpulkan hal seperti itu?"


Lutfan menjawab, "Pendekar Moshe cacat, salah satu tangannya lumpuh, dia nggak bisa ngayun pedang lagi, Mar. Emang gue belum cerita ya di bagian itu?"


"Belum."


"Terus lanjutannya?"


Lutfan mengangkat kepala, dan saling menatap dengan Mardiyah. "Bersambung dulu. Soalnya, gue belum ngerangkai kata yang enak buat di baca."


"Terus ... inti dari cerita ini apa?"


Lutfan menjawab, "Ya intinya ... isi hati pendekar. Isi hati cowok selama menghadapi masa-masa sulitnya. Coba lo pikir, hidup jadi cowok itu susah, Mar. Dari kecil waktu kita jatuh aja yang dibilang sama orang tua kita-kita gini, udah, jatuh gitu aja nggak pa-pa. Nggak usah nangis. Laki-laki nggak boleh nangis. Padahal cara manusia mengekspresikan perasaan sakit dan sedih itu ... cuma dengan cara nangis aja 'kan? Masa iya sebagai cowok gue jatuh yang rasanya sakit banget sampai-sampai berdarah gue kudu ketawa. Nggak mungkin, kan?"


Mardiyah mengangguk setuju.


"Belum lagi. Waktu kita ... kehilangan orang-orang yang kita cintai." Lutfan menjeda dengan masih menggenggam tangan Mardiyah. "Kita kadang harus pura-pura baik-baik aja. Padahal nyatanya yang paling hancur dan ngerasa nggak baik-baik aja itu kita. Andai kata nangis itu hal wajar bagi cowok, mungkin ... mungkin gue bakal sering-sering nangis sih. Soalnya kayak ... lega banget, habis nangis itu."


"Menangis itu hal wajar untuk manusia, Lutfan. Entah laki-laki entah juga perempuan," jelas Mardiyah.

__ADS_1


Lutfan menggeleng. "Sebenarnya gue setuju sama ini. Tapi lagi-lagi Mar, dari kecil ... kita di didik kuat nggak boleh cengeng."


"Tapi Lutfan ... nggak ada salahnya kok kalau kamu nangis. Sekali lagi, itu wajar." Mardiyah menjeda dengan melepas tangannya mengusap-usap pipi Lutfan. "Nggak perlu merasa malu atau takut di katakan, cengeng. Kalau nangisnya di depan saya, saya nggak akan maksa kamu buat ngerasa baik-baik saja. Kamu boleh kelihatan lemah di hadapannya saya."


Lutfan mengangguk. "Kalau sama lo ... gue nggak segan mau nangis. Lo kan istri gue."


Mardiyah tersenyum tipis. "Ohiya, terus mengenai tadi, Lutfan. Saya agak nggak suka sama sifatnya Pendekar Moshe."


"Sifat yang mana?"


Jeda tiga detik Mardiyah menjawab, "Dia terlalu sering berpikir buruk dan menyimpulkan sesuatu yang bukan-bukan."


"Contohnya?"


Mardiyah menaikan sebelah alisnya. "Sebagai contohnya ... tadi. Kamu bercerita bahwa Pendekar Moshe merasa bahwa tidak ada perasaan timbal balik dalam cinta dan pernikahannya. Padahal Lutfan, kalau memang ... gadis itu nggak memiliki perasaan terhadap Pendekar Moshe, pasti gadis itu menolak untuk di nikahi."


"Kesimpulan dari mana?"


Mardiyah menjawab, "Kesimpulan dari sudut pandang perempuan."


Lutfan tertawa ringan. "Kalau dalam sudut pandang cowok mau di nikahi bukan berarti cinta. Ada beberapa pekara. Contohnya, balas dendam, balas budi, ngicer harta dan lain-lain."


"Kalau begitu saya tanya."


"Apa?"


Mardiyah menghentikan usapan tangannya dengan meletakkan tangan di pangkuan. "Apa menurutmu dicintai dengan cara kasihan itu salah?"


"Salah, Mar. Sebagai cowok, gue atau pun cowok-cowok lain pun nggak bakal mau di cintai cuma sekedar kasihan doang," jelas Lutfan.


Padahal ... rasa kasihan itu perasaan paling murni. Kalau salah ... berarti perasaan saya selama ini untukmu juga salah? batin Mardiyah yang enggan mengatakan isi hatinya.


"Gue ngantuk, Mar."

__ADS_1


Mardiyah menatap Lutfan. "Kamu benar-benar mau tidur di sini?"


"Iya." Lutfan memulai merebahkan kepalanya lagi, dan mengambil tangan Mardiyah meletakkan pada kepalanya. "Usap-usap rambut gue lagi, Mar. Gue suka di gituin."


__ADS_2