Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
85 : Keluarga.


__ADS_3

Lutfan menghela napas dan membuang muka.


"Lutfan ..."


Tangan Lutfan terangkat menyikap surai ke belakang. "Udah aku coba, Mar. Aku udah coba buat nggak benci sama ... Pak Gautama. Tapi kamu harusnya kamu sadar. Aku ini juga manusia. Aku nggak bisa semudah itu maafin orang. Aku nggak senaif itu, yang bentar-bentar maafin orang---"


"Terus aku ini naif?"


"Aku nggak bilang gitu, Mar." Lutfan langsung menatap sang istri. "Pilihan kamu buat maafin Pak Gautama itu nggak salah. Karena setiap anak harus menghormati orang tuanya. Belum lagi bertahun-tahun kamu nggak ketemu sama beliau. Nggak pa-pa, aku anggap itu nggak pa-pa. Karena semua itu pilihan kamu."


Mardiyah terdiam.


"Dan pilihan aku ... belum. Aku masih belum bisa---"


Mardiyah menyanggah, "Kenapa belum bisa?"


"Kamu udah tahu alasannya."


Sejenak Mardiyah menunduk, jari jemarinya saling bertaut. "Yang menderita, yang di sakiti itu aku, bukan kamu. Kenapa bisa kamu benci sama beliau tanpa dasar yang jelas, Lutfan?"


"Tanpa dasar yang jelas, kamu bilang?" Lutfan menggeleng dengan memijat keningnya. "Mar, kamu sadar nggak? Kalau kamu itu berharga buat Umma? Selama dua puluh tiga tahun Umma besarin kamu, Umma kasih semua kasih sayang buat kamu. Terus besar-besar kamu di bawa paksa. Aku nggak tahu kamu di apain aja di vila itu. Waktu aku tanya pun jawabanmu cuma ... aku baik-baik aja. Harus gitu aku langsung percaya?"


Aku memang nggak bisa bohongi kamu, batin Mardiyah.


"Kalau Abhimata sama Abhimana ... mungkin aku masih bisa percaya kalau mereka nggak ngapa-ngapain kamu. Kalau Pak Manggala, Pak Gautama apalagi ... Rajendra? Aku nggak bisa berpikir baik tentang orang-orang itu, Mar." Lutfan mencengkeram kuat kursi rodanya. "Kamu memang keluarga mereka. Tapi menyakiti kamu itu bisa di anggap hal biasa oleh ketiga orang itu."


Mardiyah setuju. Tapi hati kecilnya selalu rindu akan kehangatan keluarga yang utuh. Umma, dan Lutfan adalah hidupnya. Namun seluruh Adiwangsa adalah keluarganya.


"Maaf."


Lutfan langsung tersadar. "Ngapain minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf. Karena jelek-jelekin keluarga kamu."


Netra Mardiyah melihat tangan Lutfan yang mulai melongar dari pengangan kursi roda. Lantas dengan spontan kedua tangannya menarik tangan kanan Lutfan dan meletakkan di pangkuannya. "Lutfan, jangan marah. Maaf."


"A-apasih. Aku nggak marah." Pipinya memanas. Genggaman Mardiyah yang hangat dan lembut membuat hatinya berdesir, jantungnya pun terasa tidak aman. "E-emang aku kelihatan marah? Enggak, kan?"


Mardiyah menggeleng. Maaf. Aku udah bohong. Karena nggak semua hal harus aku ceritain, Lutfan. Kalau kamu tahu Pak Manggala yang menyebabkan keguguranku, kamu pasti akan melarang ku bertemu dengan seluruh keluarga Adiwangsa. Dan kalau kamu tahu Rajendra menyakiti aku juga, kamu pasti ... akan semakin membenci keluargaku, batinnya yang terus memandangi netra Lutfan seolah-olah mengatakan semuanya. Waktu aku bilang kalau aku baik-baik aja. Aku nggak bohong, Lutfan. Aku merasa lebih baik saat melihat kamu. Jadi kesimpulan kata baik-baik aja itu kebenaran, lanjutnya.


"Kenapa lihatin?"


"Nggak boleh?"


Lutfan langsung tertawa ringan. "Boleh. Mau lebih dari lihatin juga boleh."


"Oh, ya?"


"Iya. Aku izinin."


Berganti, kali ini Mardiyah yang spontan tertawa kecil dengan menutup mulutnya saat mendengar ucapan suaminya. "Sekarang ... kamu nggak kelihatan malu-malu, ya?"


"Kenapa? Kamu suka aku pasif?"


"Hah?" Mardiyah langsung melirik ke arah lain, dengan pipi yang memerah. "Nggak juga."


"Jadi ... nanti kalau kita itu yang---"


Mardiyah langsung menyanggah, "Lutfan, kan aku masih berdarah. Jangan bahas itu dulu."

__ADS_1


"Iya-iya, maaf."


Akhirnya gue bisa lebih dominan. Ya kali gue malu-malu! Udah satu bulan. Seenggaknya kalau pekara ginian gue kudu aktif. Tapi kalau di lihat-lihat sekarang ... kok Mardiyah jadi malu-malu, ya? batin Lutfan.



Siang ini. Mardiyah berniat untuk mengunjungi Inayah. Sudah lama. Lama sekali, rasanya. Tidak melihat gadis kecil itu. Saat melewati kantor panti asuhan, sekilas ia bertemu tatapan dengan orang lama ya ... entah apa yang dilakukan oleh Aryandra Adyuta di sana. Lelaki itu nampak memandanginya dari kejauhan. Jika saja bukan karena mertuanya adalah pemilik panti asuhan tempat di mana lelaki itu menyumbang, mungkin pertemuan kali ini tidak akan pernah terjadi.


Dengan spontan ia mempercepat langkah. Hingga sampai di depan pintu asrama Inayah dan Kirana, ia mengetuk pelan.


Clek.


"Ka-kak Mar!"


Seulas senyum Mardiyah tampakan. "Hai. Gimana kabarnya?"


"Ba-baik. Kak Mar mau masuk?"


"Boleh?"


"Boleh, Kak."


Saat memasuki kamar Inayah, ia di persilakan duduk di ranjang. Kata Inayah, biar Kakak Mar bisa duduk nyaman. Sepertinya gadis kecil ini tahu bahwa ia baru saja pulang dari rumah sakit.


"Kakak sendiri ... kabarnya gimana?"


"Baik."


"Oh." Inayah menunduk, dan menggaruk kepala bingung. "Kakak ngapain ke sini?"


"Nggak boleh?"


Mendengar jawab Inayah tanpa sadar Mardiyah tertawa ringan. Bukan di sebut kekurangan Inayah, ini justru cara mengenal dia yang sebenarnya. Gadis itu cenderung gugup dan bicara terbatah-batah dengan siapa pun.


"Kak Mar udah sembuh? Nggak sa-sakit lagi, ya?"


"Alhamdulillah. Kakak baik-baik aja."


Inayah menunduk memainkan jari-jarinya. "Alhamdulillah. Kalau Kak Mar udah sembuh ... berarti ... Bang Lutfan sama Umma nggak bakal sedih-sedih lagi. Aku kasihan. Waktu Ka-kak di rumah sakit lama-lama aku ja-jarang lihat Bang Lutfan sama Umma."


"Kakak udah baik-baik aja, kok. Umma sama Bang Lutfan juga," jelas Mardiyah yang mengedarkan pandangannya menetap sekeliling kamar yang di bagi dua ini. "Kirana ke mana?"


"E-hm i-itu nggak tahu."


Kening Mardiyah mengerut. "Kok nggak tahu? Pulang bareng kan tadi sekolahnya?"


"I-ya."


"Terus?"


"I-itu. Aku ... sama Kirana ber-tengkar. Te-terus kayaknya gara-gara aku di kamar di-a nggak mau masuk kamar."


Mardiyah menghela napas. "Bertengkar karena apa?"


"I-itu. A-aku sama Abian nolongin Kirana yang la-lagi di ganggu sama anak-anak. Ta-tapi Kirananya marah. Ka-katanya, aku sama A-abian sama aja kayak mereka. Katanya juga a-aku sama Abian cuma kasihan sama Kirana," jelas Inayah.


Mendengar penjelasan Inayah. Mardiyah terdiam. Semua hal yang di ucapan oleh Alma dulu adalah benar. Setiap anak yang berakhir di panti asuhan ini tidak benar-benar baik-baik saja. Status mereka berbeda-beda. Namun dalam penderitaan jelas perpatok pada orang tua. Jika Kirana harus yatim piatu karena meninggalnya kedua orang tua dia dalam kecelakaan, yang di balut oleh isu-isu keluarga besarnya yang mengorupsi uang milik orang lain. Maka Inayah ... mungkin akan berakhir sama dengannya ... atau mungkin berbeda?

__ADS_1


Ia ingat betul cerita pertama kali Inayah ditemukan. Bukan di depan panti asuhan, melainkan di buang di tengah jalan. Entah kesalahan apa yang dilakukan oleh seorang anak. Hingga harus berakhir menyedihkan seperti ini. Jika sekiranya anak-anak panti asuhan ini harus ditinggalkan atas ketetapan sang pencipta pada orang tua mereka. Mungkin ... sedikit saja penderitaan mereka terselesaikan.


"A-anak-anak itu jelek-jelekin orang tua Kirana. Pa-padahal aku sama Abian cuma bantu. Ki-kirananya malah marah-marah, Kak," lanjut Inayah.


Mardiyah menjawab, "Paling Kirana sekarang lagi di pesantren. Di tempatnya Kak Alma. Nanti, kalau dia dateng minta maaf, terus jelasin alasannya. Kalau kamu nggak bermaksud kasihan. Kamu kayak gitu karena kita ini keluarga. Umma pernah bilang kan? Kalau kita harus saling melindungi. Inayah, Kirana, Kakak, Abian, semua ... yang ada di panti asuhan ini keluarga. Jangan pernah lupain itu."



Inayah berniat mengantarnya. Namun ia tolak. Sebab ia ingin berkunjung ke dapur, ia ingin melihat apakah Salsa dan yang lain sedang memasak? Atau memang sudah selesai? Ia bosan. Jika belum selesai mungkin ia bisa membantu. Jika sudah pun, ia tetap bisa membantu mencuci piring atau apalah, seadanya.


Srekk


Gesekan antara sepatu dan tanah berkerikil. Saat Mardiyah menengok ke belakang, orang ini sudah berada di belakang. Ternyata pikirnya salah, Aryandra belum juga pamit dari panti asuhan, berniat menginapkah orang ini? Padahal seingatnya ia cukup lama di asrama Inayah. Tapi Aryandra tidak kunjung pergi, membuatnya muak saja.


"Assalamualaikum."


Mardiyah terus melangkah.


"Tidak menjawab salam? Padahal salam itu adalah sesuatu yang wa---"


Mardiyah langsung menyanggah, "Waalaikumussalam." Ia hendak melangkah pergi. Namun tertahan saat Aryandra tiba-tiba di depannya.


"Saya ingin berbicara sebentar," ujar Aryandra.


Mardiyah menatap datar.


"Hanya sebentar." Aryandra mengedarkan pandangannya. "Tempat ini terbuka dan banyak anak-anak panti. Jangan berpikir negatif tentang saya. Karena saya benar-benar ingin berbicara sesuatu yang penting. Saya tidak berniat melakukan hal-hal yang lain."


Jangan berpikir negatif? Justru berada di sekitar jangkauanmu saya harus berhati-hati, batin Mardiyah yang masih tidak ingin berbicara, dan hendak melangkah lagi. Namun ucapan Aryandra membuatnya bergeming.


"Kamu anak Om Tama, kan?"


Mardiyah terdiam.


"Seluruh keluarga besar kami sudah mengetahui itu." Terdengar langkah Aryandra yang mendekat. "Sekali pun Om Tama dan Tante Cecil tidak melakukan klarifikasi. Fakta tentang kamu adalah anak Om Tama dengan sekertarisnya itu bukan kebohongan."


Mardiyah menatap datar, saat Aryandra sudah berada di depannya lagi.


"Saya benar-benar tidak peduli tentang statusmu sebagai anak. Namun perlahan-lahan hidupmu semakin terlihat jelas. Bahkan kamu memiliki keturunan yang tidak saya sangka-sangka." Tatapan Aryandra berubah. "Tapi sayang ... kamu menyia-nyiakan nama yang berdiri di belakangmu. Adiwangsa. Kenapa ... kamu harus memilih tinggal di panti asuhan ini? Dan menikahi bocah tidak berguna itu, Mardiyah?"


Mendengar hinaan yang terlontar untuk Lutfan. Netra Mardiyah seketika menajam. "Menyia-nyiakan nama belakang saya, anda bilang? Saya menikahi cucu dari pemuka agama, Ibunya pemilik panti asuhan, dan Bibinya adalah pemilik pesantren. Dia mempekerjakan orang. Dia memiliki usaha di berbagai kota. Orang-orang memang tidak mengenalnya karena dia cenderung tidak suka tersorot. Tapi jika anda melakukan pencarian di internet akan terterah nama dia dengan jelas, bahwa dia adalah laki-laki baik dan berguna."


Aryandra sejenak terdiam. "Apa bersama bocah itu kamu akan mendapatkan keluarga yang kamu harapankan selama ini?"


"Tentu saja."


"Mardiyah ..." Keduanya berdiri di pertengahan jalan di belakang asrama yang sedikit dekat dengan dapur. Aryandra terlihat merubah tatapannya. "Jika bocah itu lumpuh seumur hidupnya. Keluarga yang kamu harapkan selama ini akan gagal terwujud."


Mardiyah terdiam.


"Kamu hanya akan melayani bocah tidak berguna itu seumur hidupmu. Dan kamu tidak akan pernah di akui secara umum oleh kelurga Adiwangsa," lanjut Aryandra.


"Sudah selesai anda berbicara? Saya pergi." Mardiyah melangkah pergi melewati Aryandra. Lelaki itu tidak berniat menghentikan lagi, hingga Mardiyah memilih untuk mengurungkan niat ke dapur, lebih baik kembali ke rumah saja.


Sampai detik ini, ia tidak pernah mengharapkan pengakuan publik bahwa dirinya adalah anak Gautama. Cukup, beliau tahu, cukup Cecilia dan Abhimata serta Abhimana mengetahui keberadaannya sebagai keluarga saja, itu sudah lebih dari sekadar membahagiakan dirinya.


Lantas mengenai Lutfan ... Aryandra salah. Tidak ada yang memalukan tentang suaminya. Dan tiada perbandingan yang sepadan antara suaminya dan Aryandra. Karena di pandanganya Lutfan lebih segalanya. Jika seumur hidup Lutfan harus lumpuh pun ia tidak masalah, melayani yang Aryandra maksud itu adalah kewajibannya. Ia tidak pernah merasa rendah, ia semakin merasa terhormat. Karena sedikit pun Lutfan tidak pernah memperlakukannya dengan hina.

__ADS_1


"Keluarga yang aku harapkan ... akan segera terwujud. Karena laki-laki yang aku nikahi adalah Lutfan," gumam Mardiyah.


__ADS_2