Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
65 (1) : Kehamilan?


__ADS_3

Tepat pukul tiga pagi Mardiyah merasa bahwa tangannya longgar dan bisa di gerakan. Saat itu, ia membuka mata perlahan-lahan, langsung di sambut oleh Bi Amah yang menatapnya sendu.


"Non, ayo Bibi bantu mandi," ujar Bi Amah.


Mardiyah pasrah di tuntun.


"Bibi basuh aja ya Non, sama sikat gigian, ya? Soalnya kaki Non masih sakit," lanjut beliau.


Mardiyah berujar lirih, "Terserah."


Setelah memasuki kamar mandi, Bi Amah di bantu oleh salah satu pelayan muda---Meera perlahan-lahan membuka baju tidur Mardiyah, sebelum itu di bukanya perban luka di kaki sang Nona Muda. Selanjutnya baju tidur di buka oleh Meera, Bi Amah siap untuk membasuh wajah Mardiyah dulu dan berganti seluruh tubuh.


"Nona Muda pagi ini ingin makan apa?"


Mardiyah tidak merespon.


"Nona---"


"Tolong, jangan mengajak saya berbicara," sanggah Mardiyah dengan menatap datar Meera.


Spontan Meera menunduk. "Ma-maaf, Nona."


"Meera, baju Nona Muda sudah di siapkan?" tanya Bi Amah.


"Sudah, Bi. Di depan."


Bi Amah mengangguk-angguk. "Ya sudah ke depan. Sekalian suruh yang lainnya menyiapkan sarapan untuk Nona Muda Mahika."



"Nona Muda tidak lapar?"

__ADS_1


Mardiyah tidak menanggapi apa-apa. Netranya menatapi lagi pada salah satu tangannya yang kembali di kaitkan satu sama lain pada laci. Ia tahu bahwa ini adalah perintah dari Gautama yang menyuruh pelayan-pelayan ini mengawasinya terus menerus. Memuakkan. Ingin ia maki saja.


"Nona, saya benar-benar takut Tuan Gautama marah---"


"Perlu saya ulangi?" Mardiyah menatap tajam pelayan muda itu. "Jangan mengajak saya berbicara! Kamu ini mendengar saya atau tidak?"


"Ma-maaf, Nona."


Clek.


Pintu kamar terbuka, yang masuk adalah Abhimata dengan setelan jas hitam, celana senada dan baju dalam putih. Tangannya mengibas meminta para pelayan untuk pergi dari kamar sang Kakak.


"Kak ..."


Jangan panggil saya dengan sebutan itu, Abhimata, batin Mardiyah yang masih menatap tangannya.


"Biasanya, habis sholat subuh gini bawaannya itu pasti laper. Kenapa Kakak nggak makan?"


"Papa ..." Abhimata menjeda, bibirnya terasa sulit untuk berujar. "Papa ... kasar ke Kakak?"


Pandangan Abhimata melihat pada borgol di tangan Mardiyah. "Soal ini ... aku bakal bicarain ke Papa. Supaya Kakak bisa tidur bebas."


Aku? Dia berucap aku? batin Mardiyah saat mendengar sang Adik tiri tidak menyebut dirinya sendiri dengan kata saya melainkan aku. Hingga pandangan Mardiyah beralih langsung menatap sang Adik. "Abhimata ..."


"Ya, Kak?"


"Kamu ... mempunyai kekasih?"


Abhimata berdeham, ia sedikit malu. "He'em. Aku ... punya."


"Perempuan itu beruntung ..." Netra Mardiyah dan Abhimata saling terpaut. "Bisa dicintai oleh laki-laki sepertimu."

__ADS_1


Abhimata terdiam sejenak. "Lutfan juga beruntung bisa dicintai dan menikahi dengan perempuan seperti Kakak."


"Memangnya ..." Mardiyah terdiam sejenak. Bukankah tadi ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun? Lantas mengapa saat bertemu dengan Abhimata ia begitu banyak bicara?


"Memangnya apa, Kak?"


Mardiyah menghela napas, memutuskan kontak mata dengan menatap ke arah atap. "Memangnya apa kelebihan yang saya punyai? Hingga Lutfan merasa beruntung? Padahal dalam pandangan saya, saya ini sangat merepotkan, bahkan telah tega mengambil sebagian kasih sayang Umma Sarah."


Abhimata menggeleng. "Harusnya Lutfan bersyukur, karena Ibunya mengangkat seorang anak perempuan seperti Kakak. Selain cantik jelita, Kakak ini juga cerdas, dan baik hati. Laki-laki mana yang nggak bersyukur memiliki perempuan seperti Kakak dalam hidupnya?"


"Aku ..." Abhimata terlihat menatap ke arah lain. "Aku saja bersyukur, memiliki ... Kakak."


Mardiyah menggeleng pelan. "Berhenti mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti pujian, Abhimata."


"Aku nggak ber---"


"Huek." Mardiyah spontan membungkam mulutnya. Ya Allah perutku ... kenapa tiba-tiba mual gini sih? Apa maag ku kambuh? batinnya yang merasa ingin mual kembali. "Abhi ... kayaknya saya ... huek---"


"Tunggu, Kak." Abhimata berlari keluar dan kembali secepat mungkin dengan tas kresek hitam untuk menadahi muntah sang Kakak. "Di sini di sini nggak pa-pa Kak."


"Enggak, Abhi. Ini bau---huek." Semua Mardiyah muntahkan, hanya cairan saja sebab ia belum mengisi perutnya. "Ma ... af."


Tiba-tiba saja Dokter perempuan yang biasa memeriksanya masuk dan meminta pada Abhimata untuk keluar. Supaya ia bisa memeriksa Mardiyah.


"Nona Muda Mahika ... kapan terakhir kali anda menstruasi?"


Mardiyah diam.


"Dan juga, kapan terakhir kali anda melakukan hubungan intim dengan suami anda?"


Enggak. Ini nggak mungkin ... apa maksud pertanyaan dari Dokter ini mengarah pada ... kehamilan? batin Mardiyah yang menggeleng tak percaya. "Enggak ..."

__ADS_1


"Nona Muda, jika anda bersedia. Saya ingin anda mencoba alat test kehamilan," ujar Dokter itu, lagi.


__ADS_2