Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
100 (2) :


__ADS_3

"Batalin? Bukannya kemarin kamu setuju-setuju aja?" Mardiyah menarik kursi roda Lutfan untuk menghadapnya. "Kenapa kamu tiba-tiba gini? Kita mau liburan ke Jepang lho. Nanti di sana bakalan---"


"Tolong, Mar. Batalin aja," sanggah Lutfan. "Jangan tanya, kenapa lagi. Aku udah bilang terlalu jauh, kan?"


Mardiyah mengangguk. "Yasudah. Aku bakal bilang ke Abhimata kalau nggak usah pesanin tiket."


Lutfan membalikan kursi rodanya. Dirinya benar-benar tidak mau Mardiyah berpikir yang bukan-bukan karena penolakannya. Jepang memang terlalu jauh, tetapi jika bulan madu di tempat-tempat terdekat ia akan berusaha untuk setuju. "Nanti kita cari tempat honeymoon terdekat aja. Jogja atau Malang. Jangan jauh-jauh pokoknya," ujarnya.


Senyum Mardiyah yang memudar tadi. Kini kembali mengembang. "Iya, Lutfan. Dekat-dekat sini nggak pa-pa, yang penting kita keluar kota."


Syukur deh seenggaknya dia nggak jadi sedih karena gue batalin honeymoon-nya tiba-tiba, batin Lutfan yang melihat pantulan wajah Mardiyah yang tersenyum manis dari cermin. "Aku mau mantau outlet bentar. Kamu boleh tidur atau ngapain aja. Terus nanti agak sorean kita mampir butik sambil ke percetakan undangan."


"Iya." Saat Lutfan hendak mendorong kursi rodanya, Mardiyah teringat akan sesuatu. "Lutfan, bentar!"


"Apa?"


"Tanggalnya ... kapan? Kita udah pernah diskusi tanggalnya belum? Aku tiba-tiba lupa."


Lutfan berpikir sejenak. "Kayaknya belum. Nanti habis mantau outlet kita diskusiin tanggal sama Umma. Gimana?"


"Ya udah, nanti. Sekarang kamu cepat ke ruang kerja, takut di tungguin Aldo sama Banyu," ujar Mardiyah.



Bakda asar. Kebetulan Nenek Aisha terbangun. Beliau langsung mencari-cari Mardiyah dengan menyebut nama 'Nitha' tanpa ragu. Bahkan beliau telah percaya bahwa 'Nitha' anaknya telah menikah.


Sedangkan Mardiyah selalu berusaha untuk menyesuaikan diri. Untungnya sang Ibu juga menggunakan kerudung, jadi tidak membuat Nenek Aisha merasa curiga. Jika kepinukan beliau telah sembuh mungkin beliau akan meraung-raung mengingat kematian anak beliau. Dan mungkin beliau akan menangisi dirinya, menangisi seorang cucu yang enggan beliau terima dulu.


"Nitha."

__ADS_1


"Ya, Ma?"


Tangan Nenek Aisha tiba-tiba meraba di perut Mardiyah. "Kamu belum isi?"


"Be-lum, Ma."


Kening Nenek Aisha mengerut. "Mama agak inget dikit-dikit. Kamu pernah bilang kalau kamu hamil. Tapi ... kapan, ya? Kamu kan ... barusan nikah, ya?"


Jujur Mardiyah bingung ingin menjawab apa? Mungkin ingatan beliau dengan Ibunya, Zanitha telah sedikit terlintas. Atau mungkin ... ingatan samar-samar itu sebenarnya ada, tetapi beliau mencoba lupa?


"Nitha?"


"Ekhm ..." Mardiyah mengusap pucuk hidung. "Enggak barusan banget sih, Ma. Ada mungkin dua bulanan aku menikah."


"Ooh." Nenek Aisha mengedarkan pandangan. Matanya merasa asing dengan sekeliling ruangan, bukan seperti rumah beliau, dan juga bukan seperti panti jompo. "Ini ... rumah suamimu?"


"Lebih tepatnya rumah mertua, Ma," jawab Mardiyah.


"Alhamdulillah beliau tercukupi, Ma."


Nenek Aisha terlihat mengangguk-angguk. "Enggak kalah kaya kayak bos kamu. Mending ini sih, murah senyum, dari pada bos kamu yang tiba-tiba maksa-maksa ajak kamu nikah. Mama nggak suka, mana sombong banget Bapaknya. Padahal kan anaknya yang ngebet sama kamu."


Ayah pernah ajak Ibu menikah? batin Mardiyah.


"Sekarang kamu kan udah nikah. Mama minta kamu jauh-jauh dari bosmu itu. Kalau bisa kamu resign aja, suamimu masih bisa cari uang, kan?" Nenek Aisha menggaruk-garuk lengannya. "Terus juga Nitha ... Mama punya firasat yang nggak enak sama bosmu itu. Dia kayak bener-bener ngebet sama kamu. Pokoknya kamu harus cepet-cepet resign."


"Iya, Ma," jawab Mardiyah singkat.


Dari arah pintu kamar. Mardiyah melihat Lutfan keluar dengan kursi roda sendiri. Suaminya itu menatap dari kejauhan dengan senyum simpul.

__ADS_1


"Jadi?" Kode Lutfan dari bibirnya.


Mardiyah mengangguk.


"Ma." Lutfan sudah berasa di depan Nenek Aisha. "Aku mau ajak Mar--maksudku Nitha. Aku mau ajak Nitha keluar. Mama mau ikut?"


"Enggak, ah. Mama enggak mau ganggu."


Lutfan mendongak menatap Mardiyah saat mendengar penolakan Nenek Aisha. "Kalau Mama sama Salsa, sama anak-anak panti lain nggak pa-pa?"


"Tapi Lutfan---"


Nenek Aisha mengibas-ibas tangannya. "Udah Mama di rumah aja sendiri gapapa. Mama bukan anak kecil yang harus di tunggu-tunggu, Nitha."


Mardiyah menghela napas. "Ya sudah. Mama di rumah. Aku panggilin orang buat jaga Mama, biar kalau butuh apa-apa Mama gampang mintanya."



Perjalanan menuju butik dan percetakan undangan Mardiyah yang menyetir. Karena atas permintaannya juga untuk berangkat tanpa Cak Sur. Dan tadi ia meminta bantuan Salsa untuk menjaga Neneknya sejenak. Lutfan setuju. Suaminya bahkan ingin mempekerjakan perawat, tetapi ia larang.


"Sekarang kan tanggal 8 walimatul'ursy kita di laksanain akhir bulan aja gimana? Kata Umma sih baiknya akhir bulan aja," jelas Lutfan.


"Nggak terlalu mepet?"


Lutfan menggeleng. "Enggak juga, sih. Tinggal undangan, gedung sama makanan aja kan?"


"Iya. Tapi percetakan undangannya apa bisa langsung jadi dalam seminggu?"


Lutfan menatap jalanan. Jika dipikir-pikir yang dibilang Mardiyah benar. "Nanti aku bilang orangnya. Kalau bisa percepat hari cetaknya, Mar."

__ADS_1


"Ya sudah." Mardiyah menatap spion kiri sesaat. "Kita ke Jyotika Ira dulu gimana? Sekalian tanya harga gedung sama lihat-lihat."


"Boleh. Satu jalur juga sama percetakan," jawab Lutfan.


__ADS_2