
Netra Lutfan langsung benar-benar fokus pada perban yang menutupi siku Mardiyah. Perban itu cukup panjang, luka bagaimana yang di miliki oleh istrinya? Tangan Lutfan terangkat, menyentuh bagian luka Mardiyah yang tertutup.
"Sakit?"
"Iya. Tapi sudah membaik, kok."
Lutfan menarik gamis Mardiyah ke atas, supaya kembali semula. "Kancing gamis lo. Besok-besok minta bawain Umma gamis yang kainnya halus, biar luka lo nggak ke geser-geser."
"Iya," ujar Mardiyah dengan mengancing gamisnya satu-persatu. Setelah selesai ia menatap Lutfan lagi, ingin bertanya seperti apa yang dipikirkan tentang Gumira Adiwangsa yang mengatakan dirinya mirip seseorang. "Lutfan, saya boleh tanya?"
"Tanya apa?"
"Menurut kamu saya mirip siapa?"
Kening Lutfan mengerut melihat Mardiyah yang sekarang duduk menyandarkan punggung. "Maksud lo? Emang lo merasa mirip siapa? Atau ada orang yang bilang kalau lo mirip artis gitu?"
Mardiyah menggeleng.
"Terus?"
"Saya nggak sengaja dengar ada orang yang bilang kalau saya mirip orang yang mereka kenal," jelas Mardiyah.
Netra Lutfan menyipit. "Siapa?"
"Orang."
"Jenis kelamin?"
"Laki-laki."
Lutfan mengangguk-angguk dengan menatap ke arah lain langsung. "Temen lo itu, ya? Penyumbang di panti asuhan. Si Adyuta itu 'kan?"
"Bukan. Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau itu Aryandra?"
"Ya gue nebak aja."
Mardiyah mendekatkan duduknya, tangan kirinya berada di pangkuan Lutfan. "Kamu nggak tanya nama atau usia. Langsung menyimpulkan dia saja. Kamu terlalu banyak berprasangka buruk, Lutfan."
"Yaudah, siapa namanya? Berapa umurnya?"
"Lihat saya coba. Biar kamu dengarnya jelas." Lutfan terlihat menengok, menatap Mardiyah dengan pipi yang memerah. "Mereka keluarga Adiwangsa. Bapak Gautama dan Dokter Gumira."
"A-apa? Ma-maksud lo? Pemilik rumah sakit ini?"
Mardiyah mengangguk. "Orang yang nggak sengaja saya tabrakan tadi itu Bapak Gautama. Saya benar-benar ceroboh, Lutfan."
__ADS_1
"Terus yang lo maksud ini mereka?
Mardiyah mengangguk, lagi. "Iya. Saya nggak sengaja dengar mereka membicarakan saya waktu saya baru keluar dari ruangan Dokter Gumira."
Bener-bener aneh keluarga semacam Adiwangsa ngomongin Mardiyah? Emang Mardiyah mirip siapa? Sampai sebegitunya, batin Lutfan yang masih dengan menatapi paras cantik Mardiyah.
"Mereka bilang gimana?" tanya Lutfan.
"Dokter Gumira bilang gini, dia benar-benar seperti perempuan itu, Kak. Terus juga waktu saya bilang kalau saya bakal jelasin luka ini ke suami saya sendiri, tiba-tiba Pak Gautama kelihatan aneh. Beliau kayak kaget? Bahkan sebelum saya pergi beliau sempat bilang ke Dokter Gumira kalau saya sudah menikah," jelas Mardiyah.
Lutfan mengangguk-angguk, pipinya semakin memerah saat dengan gamblang Mardiyah mengakui dirinya di depan orang lain. Apalagi mendengar kata suami saya.
"Jadi, Lutfan menurut kamu saya mirip siapa? Apa wajah saya ini banyak memiliki kembaran, ya? Atau mungkin ... Bapak Gautama sama Dokter Gumira mengenal ... Ibu saya?"
Lutfan menggeleng. "Udah-udah. Jangan lo pikirin, mungkin mereka iseng ngomongin lo."
...🌺...
Menurut Mardiyah seorang keturunan Adiwangsa atau lebih-lebih mereka sudah termasuk paruh baya sangat tidak mungkin asal bicara saja. Karena buktinya, pagi ini tepat pukul delapan Dokter Gumira pimpinan sekaligus pemilik Adiwangsa hospital dengan tiba-tiba mendatangi kamar rawat inap Lutfan.
Bahkan beliau tidak datang sendirian, bersama dengan Bapak Gautama, membawa beberapa buah-buahan. Saat ini hanya ada dirinya dan Lutfan, Umma Sarah dan lainnya belum tiba.
"Bapak Gautama dan Dokter Gumira tidak perlu repot-repot," ujar Mardiyah senyum tipis.
Sedangkan Lutfan terlihat sungkan, suaminya itu cuma bisa tersenyum menyambut kedua orang Adiwangsa ini.
"Iya, Dokter. Istri saya sudah menjelaskan kronologinya, jadi sekali lagi sebagai suami juga saya meminta maaf atas nama istri saya," ujar Lutfan.
Ternyata, dia ... bisa seserius ini, batin Mardiyah yang baru pertama kali mendengar Lutfan berbicara seformal ini. Tangan Lutfan terlihat mengayun memintanya mendekat.
"Saya Gautama yang tidak sengaja menabrak istrimu, Nak. Tolong maafkan saya," ujar Bapak Gautama.
Lutfan menggeleng, seperti panik, seakan-akan meminta Mardiyah berbicara. "Bapak Gautama sudah beberapa kali meminta maaf. Jadi saya mohon dengan segenap hati untuk berhenti, Pak. Terima kasih atas segala tanggung jawab, Bapak," ujar Lutfan.
"Seperti yang di ucapkan oleh suami saya, Pak. Terima kasih."
Bapak Gautama terlihat mengangguk. "Kalau begitu, saya dan Adik saya permisi. Maaf menganggu waktu bersama kalian."
Bapak Gautama dan Dokter Gumira telah pergi. Sedangkan Lutfan menatapi Mardiyah berkali-kali lipat lebih seksama. Untuk memastikan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa kamu lihatin saya?"
Lutfan menggeleng, masih menatap.
Spontan Mardiyah mendekatkan diri, berserta wajah.
__ADS_1
"Nga-ngapain lo deket-deket sih, Mar?" ujar Lutfan dengan mendorong kedua bahu Mardiyah untuk menjauh.
Mardiyah masih tidak merubah posisi. Kemudian ia berkata, "Kamu sendiri yang menatapi saya. Maka dari itu, biar kamu terpuaskan saya mendekat saja."
Terpu-puaskan?! Apaan sih! Istri siapa, sih ini? Ya Allah ... batin Lutfan yang ingin berteriak sekencang-kencangnya, entah merasa beruntung atau merasa sial memiliki istri yang tingkat kepekaannya tiada tanding. "Ya-ya tapi tolong dong! Jangan deket-deket, Ya Allah astaghfirullah. Agresif banget sih lo!"
"A ... gresif?" Mardiyah memundurkan diri dan menunjuk dirinya sendiri. "Saya agresif?"
"Iya. Lo ngerasa nggak lo itu suka nyerang-nyerang dulu, deket-deket gini tiba-tiba. Sadar nggak sih lo?"
Mardiyah mengangguk. "Hm. Jadi, kamu nggak suka saya dekat-dekat, gitu?"
Netra Lutfan melebar. Salah-salah maksudnya bukan seperti itu. "Ya boleh, Mar. Maksud ... maksud gue itu, lo ... lo bisa biasa aja nggak sih? Kalau mau deketin gue kalau mau apa yang berhubungan sama gue lo itu bilang. Biar guenya nggak kaget."
"Ooh. Okay. Mulai saat ini, kalau mau apa-apa sama kamu, saya bakal bilang," ujar Mardiyah yang langsung menurut.
Kalau gue lihat-lihat garis mata Mardiyah sama kayak punyanya Pak Gautama. Tapi ini, nggak mungkin ... batin Lutfan yang melihat Mardiyah menggunakan jaket. "Mau ke mana? Kenapa pakai jaket?"
Mardiyah mendekat kembali dan duduk di kursi samping Lutfan. "Pagi ini agak dingin. Kamu nggak ngerasain?"
"Enggak, biasa aja. Apa lo ... nggak enak badan?"
"Mungkin."
Lutfan tiba-tiba saja berdecak kesal. "Tolong ambilin hp gue."
"Mau apa?"
"Nelpon Umma. Beliau nggak dateng-dateng, kelamaan." Tangan Mardiyah sudah mengambil gawai tapi belum memberikan pada Lutfan. "Nanti Umma dateng, lo pulang aja. Istirahat."
"Enggak," ujar Mardiyah langsung terurung memberikan gawai Lutfan.
"Lo kenapa tiba-tiba nggak nurut gini, sih?"
Kening Mardiyah mengerut. "Saya nggak mau menuruti sesuatu yang menjauhkan saya dari jangkauan kamu."
"Maksud lo apa sih, Mar? Kalau lo sakit nanti yang repot lo juga, terus Umma juga kasihan." Lutfan menampakkan wajah kesalnya. "Lo tahu kan? Dosa nggak nurut sama suami itu apa?"
"Lutfan ...."
Merengek? Gila-gila ... baru pertama kali gue lihat dia kayak gini selama bertahun-tahun, batin Lutfan yang menahan senyumnya, merasa bahagia entah bagaimana pun caranya ia harus memasang wajah datar.
"Kenapa kamu segala mengingatkan dosa, sih? Saya tahu, saya paham. Tapi kalau kamu meminta saya menuruti ini ... saya bener-bener nggak bisa, Luftan ... Kenapa kamu jadi menyebalkan seperti ini, sih?" imbuh Mardiyah.
"Terus lo mau gimana?"
__ADS_1
Mardiyah menunduk, menghindari tatapan Lutfan. "Saya mau di sini. Jaga kamu. Kalau sakit ya tinggal minum obat 'kan? Lagian juga ini di rumah sakit."