
Satu minggu berlalu.
Semenjak kegagalan itu Mardiyah dan Lutfan terus mencoba. Akhirnya dini hari ini berhasil. Bahkan dalam seminggu ini belum ada kabar apa-apa tentang Manggala Adiwangsa. Lutfan tidak pernah lengah, ia sudah mempersiapkan segalanya, untuk menyambut kedatangan keluarga Adiwangsa.
Saran dari Mas Jafar dan Umma Sarah telah ia lakukan. Semua tinggal menunggu hasil, ia tak akan semudah itu menyerah. Seperti yang Mas Jafar bilang, hukum pun tahu bahwa yang berhak atas Mardiyah adalah dirinya. Jarum jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. Mardiyah masih belum juga keluar dari kamar mandi.
Dia nggak kenapa-napa 'kan? batin Lutfan.
Tidak lama setelahnya pintu kamar mandi terbuka. Mardiyah terlihat jalan perlahan mendekati dirinya. Dari arah kejauhan seperti ini Lutfan tidak pernah memungkiri pesona Mardiyah benar-benar menarik hati dan mata dengan lingerie hitam yang di gunakan itu.
"Lo ... lama banget sih." Pipi Lutfan memerah menatapi Mardiyah yang mengambil duduk tepat di sampingnya. "Lo nggak pa-pa 'kan?"
"Saya nggak pa-pa." Mardiyah menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga. "Lagian kan saya masih mandi. Kamu khawatir banget."
Lutfan membuang muka. "Apaan sih. Ya namanya kita kan habis a-anu ... ya intinya gue takut lo kenapa-napa."
"Saya nggak pa-pa," jawab Mardiyah.
Mardiyah menunduk menatapi kakinya yang entah mengapa terasa sakit. Mungkin lelah. Karena aktivitas itu di pimpin oleh dirinya, jadi wajar saja juga suaminya khawatir. Tadi saat mandi pun tidak terasa. Tetapi mengapa baru terasa sesudahnya.
"Kenapa lo?"
Mardiyah mendongak. "Itu ... kaki saya kayaknya sakit."
"Sakit?" Lutfan menatapi kaki sang istri. "Sakit gimana? Pegel, ya? Coba sini."
Mardiyah memundurkan diri, mendekatkan kakinya pada Lutfan, lalu menunjuk dari paha ke ke bawah. "Agak sakit, di sini."
"So-sorry." Lutfan menyentuh kaki Mardiyah perlahan. "Kalau sakit bilang."
Mardiyah menahan tangan Lutfan. "Enggak usah, Lutfan. Sekarang udah malam. Kita tidur aja. Saya tahu kamu juga capek."
Lutfan terdiam, saat Mardiyah mulai mendekatkan diri, menyandarkan kepalanya pada bahu kiri. "Lo juga capek 'kan? Tidur sana."
"Ini. Saya lagi mau tidur." Mardiyah mengambil tangan Lutfan lalu saling menautkan tangan. "Gimana menurut kamu, Lutfan?"
"Apanya yang gimana?"
Mardiyah tersenyum tipis. "Tadi."
Tadi? batin Lutfan yang masih berpikir apa yang di maksud Mardiyah. Setelah diam beberapa detik, pikirannya tersambung di sana. "Ya gitu."
"Gitu gimana? Puas nggak?"
__ADS_1
Astaghfirullah. Mulut istri gue gini banget. Frontal banget lho kalau tanya Ya Allah ... batin Lutfan yang merasa pipinya memerah kembali. Sedikit menyebalkan mengapa harus dirinya yang menahan malu. Sedangkan Mardiyah nampak biasa-biasa aja.
"Ya ... puas," cicit Lutfan.
Mardiyah mengangguk dan tiba-tiba tangannya meraba ke belakang dan perut, mulai melingkarkan tangannya di pinggang Lutfan.
"Do'ain, ya? Semoga saya cepat-cepat hamil."
Pagi ini. Tepat seminggu Aldo, Linggar, Lingga, Abhimana dan Abhimata menginap di pesantren. Hari ini mereka berniat pulang, namun sesuatu yang telah lama tak ada kabar, akhirnya datang tiba-tiba tanpa di minta.
Manggala, Gautama dan Gumira datang. Lalu tak lama Linggar, Lingga, Abhimana dan Abhimata menyusul, untung saja tiada Rajendra. Sebab Mardiyah masih tidak bisa bertemu dengan orang itu lagi.
"Ada anakmu di depan, Tama."
Gautama terdiam.
"Nggak pa-pa. Sekalian saja, Abhimana dan Abhimata berkenalan dengan Kakaknya, kan?" lanjut Manggala sembari menatapi Mardiyah yang berada di depan tengah duduk dengan Umma Sarah dan Lutfan. "Adik-adikmu di depan, Nak."
Mardiyah terdiam.
"Sarah." Manggala menatap Umma Sarah. "Sudah kamu tulis rincian biaya cucu saya semasa hidup di panti asuhanmu?"
Seulas senyum tipis Manggala tampilkan. "Tetapi Mardiyah adalah cucu saya. Dia bukan anak kandungmu, pasti sangat merepotkan dan menguras uangmu semasa menghidupinya, selama ... dua puluh tiga tahun ini 'kan?"
"Sama sekali tidak, Pak," jawab Umma Sarah.
Pandangan Manggala beralih pada Mardiyah. "Nak ... kamu bilang ingin melihat Ibumu 'kan? Foto, atau yang lain-lainnya. Kakek punya. Di Lazuardi hotel banyak hal tentang dia dan Ayahmu yang tersimpan di sana."
"Maka dari itu. Ayo ikut dengan Kakek mengunjungi Lazuardi hotel," lanjut Manggala.
Mardiyah menggeleng.
"Kamu menolak?" Manggala berganti menatap Gautama. "Tama, jelaskan pada anakmu, bahwa ada satu surat yang di tinggalkan Zanitha padamu."
Gautama yang semula menunduk kini mendongak menatap anaknya. "Benar, Nak. Ada di Lazuardi hotel. Tolong ikut sebentar saja."
"Saya mau, jika ke sana bersama suami saya," jawab Mardiyah.
Manggala menggeleng. "Jangan. Apa sebentar saja, kamu nggak bisa berpisah dengan suami, Nak? Mari habiskan waktu bersama dengan keluargamu ... jangan takut. Kakek nggak akan sejahat itu sampai ingin menyakitimu."
Mar ... tolong jangan Mar ... batin Lutfan yang menanti-nanti ucapan apa yang akan keluar dari bibir Mardiyah.
__ADS_1
"Lutfan." Mardiyah menatap Lutfan dengan dalam. "Kamu mengizinkan kalau saya pergi sebentar?"
Gue mau larang lo. Tapi kayaknya itu cuma bakal nyakitin lo aja Mar, batin Lutfan yang langsung mengangguk. "Ya. Kalau kamu mau. Kamu bisa ikut."
"Tapi kamu---"
Manggala menyahut, "Suamimu sudah mengizinkan. Mari kita berangkat, Nak."
Abhimana, Abhimata, Linggar dan Lingga berbeda mobil dengan Mardiyah, Ayah berserta kakeknya. Perjalanan menuju Lazuardi hotel telah di mulai semenjak meninggalkan kediaman Umma Sarah.
"Jadi, cewek itu ... saudara tiri lo?" tanya Linggar.
Abhimata mengangguk. Sedangkan Abhimana menyahut, "Bukan. Gue nggak pernah nganggep anak dari orang selain Nyokap gue itu saudara."
Lingga berdecak. "Tapi faktanya dia saudara lo, Bhimana. Kakek aja ngakuin dia masa lo, nggak? Belum lagi, kalau gue lihat-lihat dia mirip sama Om Gautama, di bagian matanya."
"Mirip bukan berarti anak!" tegas Abhimana.
Linggar terdiam. Matanya beralih menuju kaca spion melihat Abhimata yang terdiam, melihat ke arah jalan tanpa berniat menimbrung. "Bhimata, gimana tanggapan lo tentang cewek itu?"
"Cantik."
Linggar tersenyum tipis. Sedangkan netra Abhimana melebar. "Anjir! Lo ... apaan Bhimata muji-muji cewek itu?"
"Dia emang cantik. Dia pantes jadi Kakak kita." Abhimata menengok menatap sang saudara kembar. "Lo nggak inget kita pernah ketemu dia di Lazuardi hotel sekitar satu tahun yang lalu? Lo nggak sengaja nabrak dia. Lo marah-marahin dia, Bhimana."
Abhimana, Linggar, dan Lingga terdiam mendengar ucapan Abhimata.
"Sekalipun cara pakaian dia gitu, dan dia tinggal di desa. Nggak bisa memungkiri fakta kalau dia emang berdarah Adiwangsa." Abhimata menjeda. "Lo nggak lihat cara dia ngomong? Lo nggak lihat cara dia membawa diri? Dan lo nggak lihat cara dia ngehadapi Kak Rajendra?"
Gue lihat. Dia emang kelihatan kayak Adiwangsa. Dia bisa ngehadapin Kak Rajendra yang sekasar itu. Tapi waktu di taman sama gue. Bisa-bisanya dia nangis. Padahal gue nggak ngapa-ngapain, batin Abhimana yang masih terdiam.
"Gue denger. Dia anak Papa sama sekretarisnya." Abhimata menyandarkan punggungnya, senyaman mungkin untuk duduk. "Bhimana, asal lo tahu. Ibu dari cewek itu bukan pel*acur, atau sejenisnya. Lo bakal jadi bego kalau nyalahin semuanya ke dia. Karena faktanya dia lahir sebelum kita ada. Dia ada pun juga bukan atas keinginan Ibunya. Coba lo mikir dong."
"Lo juga bakal jadi gila kalau sampai mikir dia bakal masuk keluarga kita dengan suka rela." Abhimana menjeda. "Karena yang gue perhatiin selama seminggu ini. Dia nggak akan setega itu nyakitin Mama, dengan masuk ke keluarga kita."
Abhimana menyahut, "Terus sekarang. Dia ngapain ikut, Bhimata?"
"Lo sadar nggak sih? Apa yang di iming-iming Kakek ke dia?" Abhimata menatap sang saudara kembarnya yang terdiam. "Kenangan, Bhimana. Kenangan Ibunya ... lo coba mikir, selama dua puluh tiga tahun hidup, dia nggak tahu wajah orang tuanya sendiri. Lo coba jadi dia apa nggak stress? Apa lo nggak gila, hah?"
Lingga tiba-tiba menengah. "Udah-udah, Bhimata. Gue paham. Sekarang lo diem. Kita nunggu sampai di Lazuardi hotel. Kita nunggu keputusan Kakek gimananya nanti."
__ADS_1