Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 30 : Kenangan Kecil


__ADS_3

"Semua ini salah lo. Ke-kenapa pakai cium gue segala sih?"


Mardiyah terdiam. Tangannya terangkat lagi untuk menyuapi Lutfan. "Buka mulut," ujarnya.


"Lo denger nggak sih gue ngomong?"


Mardiyah menghela napas pelan, dan meletakkan kembali sendok di piring. "Denger, Lutfan."


"Terus kenapa lo nggak jawab, hah?"


"Maaf." Mardiyah memaksa Lutfan untuk membuka mulut dengan menyuapi lagi. "Buka mulut, Lutfan."


Lutfan menyambut suapan Mardiyah dengan membuka mulut. Permintaan maaf, katanya? Apa maksud Mardiyah? Lagi-lagi sebenarnya, ia tahu bahwa Mardiyah terpaksa untuk menjalani pernikahan ini. Bahkan sentuhan yang di awali oleh Mardiyah sendiri berujung pada kata maaf yang tidak ingin dirinya dengar.


Mungkinkah ... penenang saja? Supaya ia percaya bahwa Mardiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai suami? Padahal Lutfan tidak pernah meminta penerimaan semacam itu, sentuhan bibir yang harusnya wajar bagi sepasang suami istri. Menurutnya menjadi tak wajar, karena pernikahan yang diawali dengan perjodohan.


Siapa sangka? Jika ternyata Mardiyah memiliki perasaan lebih terhadap laki-laki yang pernah ia lihat bersama Mardiyah di cctv. Bahkan di mobil. Ya, sampai sekarang ia masih bertanya-tanya, sejauh apa laki-laki itu berbuat?


"Mau minum?" tanya Mardiyah.


Lutfan menggeleng.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" ujar Mardiyah, lagi. Saat melihat mimik wajah Lutfan yang berubah tidak seperti beberapa menit tadi.


Lutfan menggeleng. "Udah. Gue nggak selera makan, Mar."


Mardiyah meletakkan piring yang masih terdapat bubur di meja yang tersedia. Kemudian ia bangkit, menyentuh bagian pipi Lutfan yang terkena goresan yang cukup parah. "Ini sakit? Mau saya minta ke perawat buat ganti perbannya?"


"Gue mau tidur. Jangan ganggu gue."


"Tapi buburnya---"


Lutfan menyanggah, "Tolong, Mar. Gue mau tidur."


"Hm. Iya."


Mardiyah menyerah. Sepertinya Lutfan benar-benar tidak ingin di ganggu saat ini. Setelah meletakkan piring bekas bubur di luar ruangan rawat inap Mardiyah merebahkan diri di sofa. Netranya menatapi atap rumah sakit megah ini.


Satu hari ini menginap di sini. Kira-kira menghabiskan berapa rupiah? batin Mardiyah yang langsung gawainya berbunyi, terterah nomor kontak dari Kak Devina.


"Halo, Mardiyah!"


"Iya, Kak Dev?"


"Kamu nikah? Kapan? Kok nggak ada kabar tiba-tiba kemarin malam kamu kirim pesan kayak gitu, hah? Kamu bikin saya jantungan lho!"


Mardiyah tersenyum tipis. "Kak Devina sendiri yang bilang, kalau saya menikah Kakak sama Regita harus tahu 'kan?"

__ADS_1


"Ya nggak gitu juga dong! Undangannya mana? Kamu nggak ngadain pesta apa?"


Mardiyah terdiam sejenak. Semoga saja Lutfan benar-benar sudah tidur. "Dalam waktu dekat ini kayaknya nggak ada pesta. Tapi kalau Kakak mau berkunjung ke panti asuhan, saya sambut kok."


"Sekalian sama suamimu?"


"Iya, Kak."


Dari arah seberang terdengar tawa ringan dari Kak Devina. "Ngomong-ngomong kamu dapat suami orang mana?"


"Dekat, Kak."


"Ya jelasin orang mana, Mardiyah!"


Mardiyah berdeham. "Anak Ibu panti asuhan saya."


"A-apa? Beneran, Mar? Bukannya dia ... lebih muda dari kamu, ya?"


Mardiyah menjawab, "Saya tutup, ya Kak."


Jika sudah mengarah pada hal-hal lain yang enggan untuk dijawabnya. Mardiyah memilih mengakhiri panggilan saja, tidak ingin terlalu panjang. Saat ia menengok ke brankar Lutfan terlihat suaminya itu bergerak tak nyaman.


Dia kenapa? batin Mardiyah yang mulai berdiri, berjalan perlahan mendekati Lutfan yang merintih tiada henti, di sentuhnya bahu kiri itu.


"Abi ... Abi ..."


"Lutfan ..." Mardiyah menggoyangkan tubuh Lutfan pelan-pelan. "Bangun Lutfan ... bangun."


"Kamu kenapa?"


Sial.


Air mata ini tidak kunjung berhenti, ia menepis tangan Mardiyah yang berada di tengkuknya. Supaya perempuan di sampingnya, tidak melihat tangisan yang selama ini di sembunyikan. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat akan sosok Abi. Beliau datang, dan memeluknya erat-erat.


"Lutfan, ada apa?"


Sekali lagi di tepisnya tangan Mardiyah. "Lepas, Mar. Gue ... gue nggak pa-pa. Jauh jauh lo dari gue."


Tangan Mardiyah meraih dagu Lutfan dan meminta lelaki itu untuk menatapnya. "Kamu ke inget Abi?"


"Mar, lo ..." Netra Lutfan berkaca-kaca lagi, hendak mengucap kalimat selanjutnya terasa sangat sulit.


"Kenapa?"


"Lo sama sekali ... nggak terpaksa 'kan?" Air mata Lutfan terjauh di ekor matanya. "Menikah sama gue? Bu-bukan karena Umma ... juga bukan karena Abi 'kan?"


Mardiyah tidak menjawab, ia menarik Lutfan dalam dekapannya di usap-usap surai hitam Adik angkatnya, yang sekarang telah menjadi suaminya.

__ADS_1


"Lo nggak jawab, Mar. Lo buat gue nyumpulin kalau ternyata lo bener-bener nerima pernikahan ini secara terpaksa, Mar," ujar Lutfan lirih.


Mardiyah tetap mengusap-usap lembut surai Lutfan. "Saya memang menerima pernikahan ini karena Umma dan Abi. Tapi saya sama sekali nggak merasa terpaksa, Lutfan."


"Bohong," lirih Lutfan dengan memaksa lepas dekapan Mardiyah.


"Hm? Bohong?" Mardiyah mempererat dekapan dengan mengubah posisi wajah Lutfan pada leher kirinya. "Saya nggak bohong. Apa waktu kecil, saya pernah bohongin kamu?"


"Enggak. Tapi sekarang lo sering bohong. Gue nggak percaya sama lo."


"Bohong gimana, Lutfan?" Jeda tiga detik Mardiyah kembali berujar, "Saya peluk kamu sekarang. Apa saya ingkar sama janji yang pernah kita buat ini?"


"Waktu ... Abi meninggal. Lo ingkar. Lo nggak datengin gue."


Mardiyah menghela napas pelan. Ya, untuk itu ia mengakui dirinya ingkar, tetapi tidak mungkin ia datang untuk menghampiri Lutfan.


"Kamu adik angkat saya, Lutfan. Status kita bukan saudara kandung atau pun persusuan. Akan sangat percuma kalau saya datangi kamu cuma dengan ucapan belasungkawa saja. Saya ... saya nggak bisa peluk kamu, tapi saya peluk Umma, untuk kamu juga. Apa kamu nggak ngerasain itu?" jelas Mardiyah.


Tangan Lutfan terangkat menyentuh punggung Mardiyah memeluk sang istri erat-erat. "Gue kangen Abi, Mar ... Umma ... setiap hari Umma nangis ke inget Abi. Gue nggak bisa tidur sendiri, gue takut, gue mimpi buruk terus. Gue ... gue ... Mar, janji. Lo harus janji jangan pernah ninggalin gue lagi. Gue juga bakalan janji, nggak ninggalin lo. Jadi tolong Mar ... peluk gue, dongengin gue, lakuin semua hal yang sering lo lakuin waktu kecil ke gue lagi."


"Hussstttt ..." Mardiyah mengusap-usap surai Lutfan. Bahkan air mata suaminya terasa sampai pada kulit lehernya, Mardiyah paham betul. Kehilangan seseorang yang menjadi sandaran hidup selama ini adalah sesuatu yang sangat berat. "Saya janji, Lutfan. Insya Allah. Saya janji."


Mardiyah kecil terbahak-bahak saat melihat sang Adik, Lutfan di cubit telinganya oleh Umma Sarah. Penyebabnya karena Lutfan terus menerus meminta Mardiyah untuk mendongeng setiap kali ingin tidur malam.


"Kenapa sih, Umma? Padahal aku mau tidur sama Kak Mar juga nggak boleh," ujar Lutfan.


Sedang Mardiyah menatap polos pada Umma Sarah, ia juga ingin tahu penyebabnya ia dan Lutfan tidak boleh tidur bersama.


"Sudah besar. Jadi nggak boleh tidur satu kamar. Lagian Lutfan kan laki-laki masa tidur sendiri enggak berani, Nak?" jawab Umma Sarah.


Lutfan terlihat tak terima. "Aku berani tidur sendiri! Cuma ... aku suka aja sama dongeng-dongengnya Kak Mar. Bagus-bagus, jadi nanti tidurku nyenyak."


Mardiyah tersenyum simpul saat Lutfan memuji dongeng-dongeng yang di karangnya sendiri.


"Terus juga ... Kak Mar sendiri yang janji Umma kalau bakalan terus jagain aku. Katanya, kalau aku takut, terus mimpi buruk Kak Mar bakalan bacain dongeng banyak-banyak. Iya kan Kak?"


Umma Sarah tersenyum tipis dan mengusap-usap rambut panjang Mardiyah yang berwarna cokelat gelap. "Bener gitu, Kakak?"


"Iya. Kasihan Umma Lutfannya. Itu janjinya Mardiyah. Kalau besok-besok Kakak lupa kamu boleh marah, tapi jangan lupa ingetin Kakak, ya?"


Mardiyah tersadar saat Lutfan bergerak, menarik pinggangnya supaya lebih dekat dan memeluk dengan erat-erat. "Gue udah nggak betah di rumah sakit, Mar. Gue ... gue tahu gue belum sembuh. Tapi apa nggak bisa rawat jalan?"


"Nanti saya tanyai Dokternya dulu, ya."


Lutfan mengangguk-angguk.


"Lutfan ... bisa lepas dulu?"

__ADS_1


Lutfan spontan mendongak, menatap Mardiyah dengan polosnya dan berujar, "Nggak suka gue peluk?"


"Bukan nggak suka. Habis ini perawat masuk, lihat infus kamu tinggal dikit. Saya nggak enak, kalau di lihat orang," jawab Mardiyah.


__ADS_2