Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
101 :


__ADS_3

📍Jyotika Ira.


Tempat ini adalah penginapan mewah yang dimiliki oleh Cecilia Maharani Adiwangsa. Namun dikelola oleh kedua anak kembarnya, Abhimata dan Abhimana. Mardiyah menghentikan mobil tepat di parkiran depan. Setelah mematikan mesin, ia tergesa-gesa keluar membuka bagasi untuk menurunkan kursi roda Lutfan dan selanjutnya, ia membantu Lutfan untuk perlahan-lahan turun dari mobil.


Sejauh mata memandang di parkiran ini begitu banyak pepohonan dan tanaman-tanaman kecil yang indah bahkan berbunga. Sial. Ingatannya tentang pertemuan dengan Rajendra sangat melekat di Jyotika Ira. Sungguh ia berharap lelaki kasar itu tidak sempat menghampiri penginapan ini.


"Ke resepsionis aja dulu. Sekalian tanya siapa tahu di arahin sama Mbak-mbaknya," ucap Lutfan.


Mardiyah menurut dengan mendorong kursi roda suaminya. "Ketemu Abhimata apa gimana?"


"Sekalian aja ketemu Abhimata sama Abhimana. Kamu kangen, kan?"


Pipi Mardiyah tiba-tiba merona. "A-apa? Kapan aku bilang kangen mereka?"


"Kamu udah lama nggak ketemu mereka. Lebih tepatnya jarang ngobrol lama. Ketemu di pernikahan temenmu aja cuma bentar." Gara-gara pertengkaran aku sama Aryandra. Kamu jadi nggak bisa ngumpul sama keluargamu, lanjut Lutfan dalam hati.


"Ya sudah."


Lutfan mendongak menatapi Mardiyah. "Ya sudah apa? Kamu nggak mau ketemu adik kembarmu itu?"


"Ya sudah mau, Lutfan."


Lutfan terkekeh kecil tanpa sadar telah sampai di depan resepsionis. Yang jaga cewek ini. Barangkali dia inget gue pernah ke sini sama Aldo, batin Lutfan. "Ekhm ... permisi."


"Tuan Lutfan, ya? Temannya Tuan Muda Janardana?"


Gue udah tebak cewek ini bakalan hafal, batin Lutfan yang mengangguk senyum simpul. "Bisa minta tolong. Saya mau bertemu dengan Abhimata atau Abhimana. Saya tidak membuat janji tapi tolong bilang saja bahwa yang datang adalah Lutfan dan Mardiyah."


"Baik, Tuan." Satpam yang berjaga di depan resepsionis menuntun duduk di kursi tunggu. "Silakan, Tuan dan Nyonya bisa menunggu di sini."


Mardiyah telah mengambil duduk. Bibirnya yang sedari tadi tertahan untuk tidak bertanya. Akhirnya berucap, "Dia kenal kamu?"


"Kelihatan kenal, emang?"


Kening Mardiyah mengerut. "Aku tanya."


"Bisa dibilang."


"Teman?"


Lutfan menggeleng.


"Terus siapanya kamu?"


"Resepsionis gitu lho, Mar. Name tagnya Dita. Ya berarti itu namanya, kan?" jawab Lutfan dengan menggulum senyuman. Tidak biasanya Mardiyah bertanya-tanya. Apa perempuan di sampingnya ini merasa terancam? Padahal dari segala sisi lebih unggul istrinya. Namun mengapa Mardiyah harus merasa ... cemburu?


"Cantik, ya Lutfan?"


Lutfan mengangguk sejenak. Tetapi sekejap saja ia menggeleng. "Nggak juga. Biasa aja. Cantik kan juga kamu, Mar."

__ADS_1


"Kamu berlebihan dan kelihatan bohong. Jelas-jelas kelihatan cantikan dia," ujar Mardiyah dengan memperhatikan seragam yang digunakan oleh orang-orang yang bekerja di Jyotika Ira. "Apalagi seragamnya mendukung."


Mendukung apaan? Biasa aja. Nggak seksi-seksi banget, batin Lutfan yang mengode istrinya untuk lebih dekat. "Lebih mendukung kamu di mana-mana," bisiknya.


Mardiyah spontan menjauh dan menyentuh pipinya yang memanas. "Lutfan, kamu! Dasar! Jangan godaain aku."


Dari arah kiri datang lah Abhimana yang berjalan beriringan dengan resepsionis bername tag Dita itu. Seperti biasa Abhimana akan memasang wajah datar, seolah-olah tidak ingin bertemu dengannya.


"Abhimata lagi nge-date. Sama gue aja nggak keberatan kan?" tanya Abhimana saat telah sampai di hadapannya.


Lutfan menyahut, "Nggak keberatan sih. Selama wajah lo sedikit berekspresi. Sambutan lo pahit banget."


"Lutfan," tegur Mardiyah dengan menyentuh bahu suaminya. Setelah itu tatapannya beralih pada Abhimana. "Saya mau bicara ... sesuatu yang sedikit penting. Apa kamu sibuk?"


"Nggak. Ayo ke kantor gue," ucap Abhimana.



"Hah? Acara pernikahan? Kalian mau nikah lagi?"


Lutfan menyahut, "Lo nggak paham-paham, Bhimana. Acara. Bukan pernikahannya lagi. Acaranya doang. Resepsi resepsi."


"Lutfan Ya Allah ... Kalian ini kalau ketemu sama-sama sewot, mending kamu diem aja," tegur Mardiyah dengan salah satu tangannya menahan pergelangan tangan Lutfan. Setelahnya pandangan Mardiyah beralih pada Abhimana lagi. "Acara pernikahan, Abhimana. Jadi saya dan Lutfan berniat melaksanakannya di gedung Jyotika Ira. Apa di tanggal 29 bulan ini gedungnya kosong? Atau sudah ada yang booking?"


"Dadakan banget." Abhimata terlihat bangkit lalu mengangkat telepon kantor dan sebelum itu ia menekan beberapa nomor. "Delima, tolong cek seluruh tamu dan gedung-gedung Jyotika Ira di tanggal 29. Lalu secepatnya kiri ke email saya."


Sebelum Lutfan berbicara. Mardiyah langsung berujar, "Enggak juga. Karena sebenarnya kita cuma akad saja waktu menikah itu. Jadi sekarang kalau ada acara pernikahan nggak pa-pa, kan?"


"Ya nggak pa-pa sih," ujar Abhimana.


Lutfan menyahut, "Abhimata bilang sewa gedung sekitar enam sampai sepuluh jutaan. Kira-kira itu berapa jam?"


"Tergantung harga, jangka waktu sama kapasitas orang yang lo minta sih." Abhimata menyerahkan iPad. "Coba lo baca sendiri."


Mardiyah berujar, "Jadi enam sampai sepuluh juta itu masih perkiraan aja, ya?"


"Iya. Itu perkiraan aja. Ada yang paling mahal sampai tiga ratu jutaan juga, tapi semuanya udah di persiapan sama pihak Jyotika Ira," jelas Abhimana.


Mardiyah mengangguk-angguk.


Lutfan menunjuk salah satu gambar dan menatap istrinya. "Ini menurut kamu gimana?"


Netra Mardiyah melebar. Dua puluh juta? batinnya ingin protes pada Lutfan tetapi ada Abhimana di depannya. "Ya ... terserah sih."


"Terserah? Nggak biasanya kamu gini? Komentar kamu apa? Jangan terserah-terserah aja, aku nggak suka kamu gitu," omel Lutfan.


Mardiyah menatap Abhimana. "Ini dua puluh juta? Nggak tertulis kapasitas orangnya."


"Kayaknya sekertaris gue lupa nulis. Dua ratus lima puluh orang lah sekitaran," ujar Abhimana.

__ADS_1


"Ya sudah. Kita mau yang dua puluh juta," putus Mardiyah. Dan tiba-tiba Lutfan menyahut, "Dekornya samain kayak di gambar nggak pa-pa. Tapi kombinasi warnanya hitam putih aja. Bisa?"


"Bisa." Abhimana mengambil alih iPad dan mengirim segala desain ke pihak Jyotika Ira yang terbiasa menangani pernikahan. "Btw, lo udah bilang Mama kalau mau adain resepsi di Jyotika Ira?"


"Belum sempat."


Netra Abhimana melebar. Ini gila. "Kalau Mama sampai tahu gue bakal di omelin. Mending sekarang lo telepon atau apalah. Terus juga ... gedungnya gratis deh!"


"Enggak-enggak. Sesuai harga! Lo pikir gue nggak mampu hah? Udah deh lo tinggal bilang ke Nyokap lo kalau lo ngasih diskon gede-gedean khusus buat Kakak lo ini, biar nggak rumit," sahut Lutfan.


Abhimana berdecak. "Gila lo? Nyokap gue nggak segampang itu di bohongi njir."


"Nanti saya bantu bilang ke Mama, Abhimana," sahut Mardiyah pelan.



"Alhamdulillah walau tambah sepuluh juta lagi, seenggaknya makanan semua udah di tanggung sama pihak Jyotika Ira," ujar Mardiyah yang fokus menatap jalan.


"He'em." Luttan mengangguk-angguk. "Lumayanlah seharga gitu nggak bakal mengecewakan, sekelas Jyotika Ira soalnya."


"Jadi gedung sama makanan tiga puluh juta. Udah clear." Tepat lampu merah Mardiyah menengok pada Lutfan. "Terus sovenir? Walimatul'ursy kita pakai sovenir?"


"Pakai. Seminggu lalu aku udah pesan. Perkiraan datang besok," ujar Lutfan.


Mardiyah tanpa sadar mencondongkan diri. "Oh ya? Sovenirnya apa? Aku penasaran."


"Eh? Mar ... jangan dekat-dekat." Lutfan menatap kanan kiri jendela mobil. "Kaca mobil ini bukan kaca film Ya Allah ... nanti orang pada salah paham."


"A-ah. Iya." Mardiyah menjauh duduk seperti semula. Lampu merah masih menunjukkan detik ke sebelas. "Aku padahal nggak niat deket-deket kok. Cuma aku nggak terlalu dengar suara kamu, jadi mau nggak mau aku harus deketan dikit, kan?"


"Lampu hijau. Jalan, Mar."


Mardiyah menjalankan mobilnya lagi. Ia jadi berpikir sedekat apa tadi dirinya dengan Lutfan? Sampai suaminya itu berpikir bahwa orang-orang akan menyalahpahami posisi dirinya tadi. Aahh ... bisa-bisanya spontanitas tubuhku nggak terkontrol. Padahal aku ngerasa biasa aja lho, batinnya kesal tanpa sadar mencengkram setir.


"Udah nggak usah dipikiran. Kapan-kapan aku kasih kaca film, biar orang-orang nggak bisa lihat," lanjut Lutfan.


"Kok gitu?" Mardiyah masih fokus menyetir. "Secara nggak langsung kamu mendukung kita buat---"


"Buat apa, Mar? Pikiran kamu astaghfirullah." Lutfan menggulum senyuman. "Kamu mau coba---"


"Enggak! Siapa juga yang mau coba?!" Dengan wajah cemberut serta pipi yang merona Mardiyah menahan malu dengan menyetir. "Ya pikiran kamu itu ke mana-mana. Udah deh, Lutfan! Jangan godain aku. Aku lagi nyetir."


***


Note :


Beda Tiga Tahun mendekati tamat. Saya sudah rilis cerita terusan dari WIYATI dengan judul Harshada. Kisahnya Linggar dan Shanum.


__ADS_1


__ADS_2