Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 15


__ADS_3

Sesuai janjinya pada Regita, bahwa ia akan mencoba menu ayam suir dan nasi kuning untuk makan siang. Memulai makan pun seperti biasa, dirinya, Regita dan Kak Devina satu meja. Entah mengapa hatinya begitu tenang dan bahagia setelah berbaikkan dengan Kak Devina.


Satu tahun adalah waktu yang cukup untuk melukis kenangan baru bersama orang-orang di toko bunga ini. Mardiyah berjanji tidak akan pernah melupakan Nyonya Harsa, Kak Devina dan Regita.


"Makan! Ngelamun mulu, ih!" ujar Kak Devina.


Mardiyah tersenyum tipis. "Ini makan, Kak."


Dipertengahan suapannya. Gawai Mardiyah yang berada di atas meja bergetar, lock-sreen menunjukkan notifikasi dari Umma Sarah.


Umma Sarah


Gimana, Nak?


Nanti pulang jam berapa?


^^^Seperti biasa, Umma^^^


^^^Nyonya Harsa meminta waktu satu tahun,^^^


^^^untuk mencari pengganti^^^


Umma Sarah


Ya sudah


Kalau gitu Umma nggak khawatir


Nanti kalau pulang mampir ke kantor Umma, ya?


^^^Iya, Umma^^^


Mardiyah meletakkan kembali gawai di meja. Tangan kanannya mulai menyuap makan pada mulut hingga habis. Sesi cuci piring hari ini adalah Kak Devina, di bantu oleh Regita yang bermain-main air bersama.


"Mar, Mar!"


"Ya, Kak Dev?"


Kak Devina melirik Regita sejenak. "Dia lagi deket lho. Sama ... sekertarisnya Pak Gumira. Ceritanya nanti dia mau ke---"


"Kak Dev ..." Regita merengek dengan bergelantungan pada lengan kiri Kak Devina. "Jangan keras-keras suaranya, Kak. Kan saya udah bilang, rahasia bertiga Kak Dev."


Kak Devina mengangguk-angguk dengan senyum jahil. Setelah meletakkan piring dan gelas bersih, ia mendekati Mardiyah dengan duduk bertiga lagi di meja.


"Saya bisikin, Mar." Kak Devina menariknya kian dekat. "Jadi, nanti Regita mau kencan. Tapi ke salon dulu, katanya dia mau tampil cantik. Soalnya jarang-jarang dia keluar sama orang kayak Regan."


"Sukses ya nanti, Git! Kalau cocok langsung menikah saja," ujar Mardiyah, menatap Regita.


Regita memerah padam. "Do'ain aja pokoknya. Terus kamu ... sama Kak Devina cepet-cepet nyusul."


Gawai Kak Devina tiba-tiba saja berbunyi, beliau berpamitan untuk menerima telepon. Sedang dari arah ambang pintu terdengar lonceng pertanda ada pelanggan masuk.


"Saya mencari Mardiyah."


Suara itu terdengar pelan karena jarak meja yang tidak jauh dari kasir. Regita terlihat mengerutkan kening, sedang Mardiyah tahu suara siapa itu.


"Staf utama sedang istirahat, Tuan."

__ADS_1


Terdengar laki-laki itu kembali menyahut,"Tolong katakan bahwa Aryandra Adyuta sedang menunggu. Saya ada janji dengan Mardiyah."


Regita menatap Mardiyah. "Kamu ... ada janji, Mar?"


Mardiyah menggeleng. "Nggak ada."


"Aryandra datang ke sini i ... tu."


Mardiyah bangkit, dan menuju arah depan, di tempat menunggu untuk bertanya, ada urusan apa keturunan Adyuta itu ke mari? Dengan tatapan datar, ia menyambut Aryandra.


"Ada urusan dengan saya?"


Aryandra mendongak, dengan senyum simpul ia menyambut Mardiyah. "Iya. Boleh bicara sebentar?"


"Bukankah sekarang kamu sedang berbicara dengan saya?"


Aryandra mengangguk-angguk. "Baiklah. Jika tidak keberatan silakan duduk Mardiyah. Saya tidak suka berbicara dengan posisi berdiri."


Mardiyah duduk---menunggu lelaki di sampingnya ini berbicara.


"Panti asuhan yang kamu tinggali satu yayasan dengan pesantren juga 'kan?" tanya Aryandra.


"Iya."


Aryandra mengetuk meja pelan. "Ibu saya sering berkunjung ke sana. Keluarga saya juga penyumbang tetap di panti asuhan itu."


"Lalu apa maksudmu?"


Aryandra menggeleng pelan. "Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin bertemu kamu di panti asuhan jika sewaktu-waktu saya berkunjung. Dan saya dengar juga, setiap satu bulan sekali ada acara besar di sana, ya?"


"Tidak terlalu besar," jawab Mardiyah singkat.


Mardiyah menengok, netranya tepat bertatapan dengan Aryandra. "Jika kamu ingin berkunjung, silakan, Aryandra. Bukankah kamu sendiri yang berbicara bahwa keluargamu adalah penyumbang tetap di panti asuhan yang saya tinggali?"


"Jadi tidak ada hak saya sedikit pun untuk menolak kehadiran kamu di sana. Lagi pula juga, setiap penyumbang akan diberikan undangan khusus di hari itu. Untuk datang tidaknya, itu terserah pada si penyumbang," lanjut Mardiyah.


Aryandra mengangguk pelan. "Baiklah. Terima kasih, Mardiyah. Saya akan segera berkunjung, untuk mengenalmu lebih dekat semampu saya."


Mardiyah terdiam.


"Jangan menolak, sebelum saya berusaha Mardiyah. Setidaknya hargailah seseorang yang ingin mendekatimu," lanjut Aryandra.


Mardiyah tetap diam. Namun tangannya seperti menahan sesuatu dengan meremas gamis yang digunakannya.


"Saya akan pergi. Tetapi sebelum itu, bisa tolong berikan satu buket bunga mawar putih ukuran sedang?" ucap Aryandra.


Mardiyah bangkit.


"Tolong tunggu sebentar."


...🌺...


Sekolah memberikan pengumuman bahwa wisuda akan dilaksanakan satu minggu dari sekarang. Jika Lutfan pikir-pikir lagi, mungkin Ummanya tidak akan bisa hadir, karena Umma jelas sibuk mengurus panti asuhan. Lagi-lagi tebakannya, pasti Bibi Sulis yang akan menggantikan.


Tidak apa-apa. Lutfan tidak mengeluh, hanya saja, ia tidak mau bertemu dengan Salwa---saudara perempuannya yang nakal itu.


"Assalamualaikum, Lutfan!"

__ADS_1


Tersambungnya cepat sekali.


"Waalaikumussalam, Bibi."


"Ada apa, Le? Kok telepon Bibi? Jarang-jarang kamu telepon lho," ujar Bibi Sulis dengan tawa ringan.


"Eghmm a-anu, Bi. Lutfan mau minta tolong."


"Minta tolong apa, Le?"


"Satu Minggu lagi Lutfan mau wisuda, Bi. Tapi pasti Umma kerepotan, jadi boleh ... Lutfan ... berangkatnya sama Bibi?"


Terdengar suara gaduh di seberang pasti Salwa sedang ribut. "Walah Ya Allah! Boleh, Le. Pokoknya nanti berangkat sama Bibi, bajumu juga kasih tahu pakai warna apa biar samaan kita. Tapi ... Bibi ngajak Salwa ndak pa-pa ta?"


Lutfan sudah menebak. "Nggak pa-pa. Jarang-jarang juga Lutfan ketemu Salwa."


"Yaudah. Nanti kabari Bibi lagi lho, Le."


"Nggih, Bi. Makasih. Nanti Lutfan kabari lagi."


Sedetik panggilan terputus, terdengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring di iringi oleh suara lesuh dari luar.


"Assalamualaikum. Assalamualaikum, Lutfan. Assalamualaikum."


Lutfan bangkit dari ranjang, membuka pintu kost dan melihat manusia seperti Aldo sedang berdiri tegak di hadapannya.


"Waalaikumussalam. Ngapain lo ke sini?"


Aldo mendorong dada Lutfan. "Nggak sopan lo! Tanya ke tamu gitu, tanpa di suruh masuk dulu lagi!"


"Yang ada elo yang nggak sopan, Do! Bisa-bisanya langsung masuk tanpa gue persilakan," ujar Lutfan dengan kembali menutup pintu, lantas menyusul Aldo duduk di ranjang.


"Lut, stress gue!"


Kening Lutfan mengerut heran. "Harusnya lo ke RS aja, Do. Gue nggak bisa menangani masalah mental kalau udah menjorok ke depresi."


"Astaghfirullah, Lutfan! Gue masih waras kok. Gue cuma ... agak stress aja. Paham nggak sih lo?"


Lutfan menggeleng. "Enggak. Makanya, gue nyarain lo ke RS, Do. Lo pikir gue becanda, hah?"


"Kelihatannya gitu."


Lutfan bertanya, "Lo kenapa lagi?"


"Capek gue lama-lama di rumah itu, Lut. Gimana kalau gue kerja ikut lo aja, hah? Tinggal sama lo juga. Gimana?"


Tangan Lutfan terangkat dengan mengipas ke kanan dan kiri. "Enggak-enggak. Gue nggak mau berusaha sama keluarga lo, Do! Gue nggak mau Umma sama Kakek gue ngomelin gue, Do. Please dong Do kalau lo mau cari solusi jangan bawa-bawa nama sama alamat gue."


"Anjir, lo! Keluarga gue nggak bakalan ngapain-ngapain lo gila! Paling lo cuma di interogasi, di tanya-tanyai sama nyokap gue gitu," ujar Aldo.


"Lo ... beneran?"


"Iya, Lut! Bokap gue itu ngantur-ngantur banget. Capek gue rasanya, makanya gue nggak peduli, mau mobil dan semuanya di ambil ya udah! Gue bisa kerja kok!" Aldo menengadah dengan menyugar suarainya. "Ikut lo, contohnya?"


Lutfan tertawa ringan. "Okay-okay. Ini baru temen gue! Mulai hari ini lo gue angkat sebagai ... apa ya? Bentar ... gue mi---"


"Sekertaris?"

__ADS_1


Lutfan mengangguk-angguk. "Boleh-boleh. Lo bantuin gue pokoknya. Nanti masalah bayaran, gue hitung sesuai kinerja lo. Kalau bagus dan penjualan meningkat biasanya ada bonus."


"Siap, Bos! Gue mau banget."


__ADS_2