Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
106


__ADS_3

Dua hari berlalu. Mardiyah dan Lutfan berencana untuk pulang dari Jyotika Ira. Namun sebelumnya Mardiyah ingin mencari adiknya, Abhimata. Ia belum sempat membicarakan tentang liburan ke Jepang yang harus terpaksa ia batalkan.


Lutfan masih makan. Jadi ia bisa meninggalkan sejenak, dengan berkata, ingin membeli minuman penambah ion tubuh. Tetapi sebelum itu ia telah mengirim pesan pada Abhimata, dan sang adik bilang bahwa dia berada di kantor.


"Assalamualaikum, Abhimata?"


Dua orang laki-laki terlihat berdiri. Rajendra? batinnya yang merasa terkejut. Bahkan jantungnya berdetak kencang, sungguh jujur ia masih takut berhadapan dengan lelaki kasar ini.


"Waalaikumussalam, Kak. Masuk," ujar Abhimata. Sedangkan Rajendra hanya menatapi Mardiyah datar.


"Kakak pergi," ujar Rajendra, yang berlalu pergi.


"Iya, Kak."


Mardiyah benar-benar bisa bernapas lega. Langkah kecilnya memasuki kantor Abhimata dengan menatap sekeliling ruangan, barangkali masih ada seseorang. Ia tidak ingin pembicaraannya ini di dengar.


"Duduk, Kak."


"Ah, iya." Mardiyah duduk di kursi kayu yang memiliki tempat duduk empuk berwarna gold. "Saya mau bicara mengenai tiket yang kamu berikan itu."


"Oh yang ke Jepang itu, kan?"


"Iya."


"Jadinya tanggal berapa, Kak? Biar aku pesanin."


Mardiyah menatap mata sang adik. "Saya minta kamu batalin. Saya dan Lutfan nggak mau liburan jauh-jauh. Insya Allah, mungkin kita akan liburan ke tempat terdekat sini."


"Tapi Kak---"


"Tolong kamu mengerti, Abhimata."


Abhimata menghela napas. "Okay. Kalau gitu ke Bali mau, Kak?"


"Enggak usah, Abhimata. Hadiah barang-barang couple dari kamu itu lebih dari cukup kok." Mardiyah tersenyum tipis. "Jadi, saya mohon nggak usah. Saya nggak mau ngerepotin kamu."



Di dalam mobil. Perjalanan pulang menuju panti asuhan Al-Hikmah. Mardiyah yang menyetir, karena ia tiba-tiba ingin saja dan Cak Sur di minta Lutfan untuk membawa mobil lain berserta barang-barangnya.


Suasana di dalam mobil sama-sama terdiam. Hanya terdengar lagu yang volumenya mungkin hanya lima dari sepuluh hitungan. Lutfan sibuk dengan gawainya, yang mungkin sedang menghubungi Aldo atau Banyu.


Mardiyah menghentikan mobil saat ada lampu merah. Ia menengok, menopang dagu menatapi suaminya dari samping.


"Ngapain lihatin aku?"


"Lho? Kamu tahu?" Mardiyah tersenyum simpul. "Aku pikir kamu serius sama hpmu."

__ADS_1


"Ngapain serius-serius sama hp?" Lutfan menengok. Matanya langsung bertemu tatap dengan sang istri. "Mending sama kamu aja."


"Dasar ..."


"Oh iya, Mar. Kamu udah bilang ke Abhimata soal kita yang nggak jadi ke Jepang?" tanya Lutfan.


"Udah."


Lutfan mengangguk-angguk. Tatapannya beralih ke arah jalan, menatap lampu merah yang hitungannya tinggal tujuh detik. "Kamu beneran nggak pa-pa kalau liburannya nggak jadi ke Jepang?"


"Nggak pa-pa itu kan cuma liburan hadiah." Lampu kuning telah berganti hijau, secepatnya Mardiyah melajukan mobil. "Lagian kamu udah janjiin aku bulan madu, kan?"


"Iya."


"Kamu udah pilih tempat?"


Lutfan menggeleng. "Kamu aja yang pilih. Aku takut kamu nggak suka kalau aku yang pilih."


"Berdua aja pilihnya. Gimana?"


"Ya udah. Nanti malam kalau kamu nggak capek, kita pilih-pilih tempat honeymoon," putus Lutfan.



Setelah lebih dari satu jam perjalanan. Akhirnya, mobil sampai di pelataran panti asuhan Al-Hikmah. Mardiyah telah memarkir mobil, saat turun ternyata sudah ada Umma Sarah yang hendak membantunya mengambil kursi roda Lutfan.


Umma Sarah mendorong kursi roda mendekati mobil. "Umma pikir kalian pulang besok, lho."


"Dua hari aja cukup, Umma. Lutfan nggak suka lama-lama di penginapan." Mardiyah membuka pintu mobil, dan menuntun Lutfan turun. "Pelan-pelan."


"Lho?" Lutfan memandang Umma Sarah. "Umma kok di rumah?"


"Kenapa? Nggak boleh? Rumah-rumah Umma juga." Umma Sarah menyentuh lengan anaknya. "Lagian kamu aneh, Nak. Setiap hari kan Umma juga di rumah."


"Maksud aku Umma kok di sini. Kenapa nggak di kantor? Gitu lho Umma!"


Mardiyah melerai dengan berbisik, "Udah, Lutfan. Duduk."


Saat memasuki rumah. Kursi roda Lutfan di dorong oleh Umma Sarah. Sedangkan Mardiyah yang baru saja terlihat langsung di minta duduk oleh Nenek Aisha. Beliau rindu, ingin berbincang banyak. Mardiyah menurut, dengan duduk dan tersenyum tipis menatap beliau.


"Nitha, gimana liburan dua harimu di penginapan, Nak?" tanya Nenek Aisha, yang lagi-lagi harus memanggilnya 'Nitha'.


"Nyaman, Bu. Kayak biasanya," jawab Mardiyah.


Kening Nenek Aisha tiba-tiba mengerut. Beliau seperti mengingat sesuatu. "Oh iya. Ibu baru ingat. Masa waktu Ibu lihat buku tamu pernikahan kamu, ada orang yang nama belakangnya sama kayak bos kamu."


"Siapa, Bu?"

__ADS_1


Nenek Aisha menggeleng. "Ibu nggak tahu. Pokoknya sama nama belakangnya Adiwangsa. Banyak banget malahan, ada enam orang mungkin."


Ah, iya. Aku lupa. Kalau nama Ayah, dan semua keluarga Adiwangsa punya marga yang sama, batin Mardiyah mencoba biasa saja. "Aku undang mereka buat ... menghargai aja, Bu."


"Oala gitu. Ya udah Ibu malahan seneng, Nak. Biar bosmu itu nggak ngebetin kamu aja, biar bosmu tahu kalau suamimu mampu," ujar Nenek Aisha.


"Iya, Bu." Mardiyah sejenak terdiam, menatapi Neneknya. Bagaimana cara supaya beliau tahu dan mengingat bahwa anak beliau yang bernama 'Zanitha' telah meninggal? Jika beliau terus menganggap diri ini adalah 'Nitha'. Maka harapan Mardiyah untuk bertemu dengan nisan sang Ibu tidak lah kunjung tercapai. "Bu, mau nggak kita pulang ke ... rumah lama? Maksud aku ... aku mau pulang ke sana. Soalnya aku ... rindu kenangan di sana Bapak, Bu."


"Lho bukannya kita udah jual, toh?"


Jual? Gimana bisa? batin Mardiyah.


"Bapakmu setuju, Nit. Seingat Ibu, itu ... terus kita pindah. Terus ..." Mata Nenek Aisha menatap ke kiri kanan. "Ibu lupa."


Ya Allah, batin Mardiyah yang menutup matanya dengan satu tangan. Kemudian, ia menatap sang Nenek lagi. "Alamat rumah kita Ibu masih inget?"


"Lho, kamu lupa?"


Mata Mardiyah melebar. "Bu-kan lupa. Maksudnya i-itu, Bu. Aku ---"


"Mardiyah, Bu Aisha. Ayo makan, saya udah siapin makanan," ujar Umma Sarah tiba-tiba yang memotong pembicaraannya dengan Nenek Aisha. "Kamu juga, Nak. Perjalanan jauh habis nyetir, apa nggak laper?"


"Iya, Umma." Mardiyah menyentuh tangan sang Nenek. "Bu, aku ganti baju dulu, ya? Ibu ke meja makan dulu sama Umma."



"Lutfan, aku bingung." Mardiyah duduk di tepi ranjang dengan melepas kerudung ia menatapi diri di depan cermin. "Aku nggak bisa terus pura-pura jadi Ibu."


Lutfan mendekat. "Terus kamu mau gimana?"


"Aku nggak tahu. Nenek sama sekali nggak inget Ibu." Mardiyah menunduk mencengkram rambut depannya dengan kedua tangan. "Aku capek pura-pura terus. Aku mau Nenek anggap aku ini cucu beliau. Bukan Ibu."


"Mar ..."


Mardiyah mendongak lagi, menurunkan tangannya dari rambut. "Apa aku langsung bilang aja?"


"Bilang gimana, Mar? Nanti kalau Nenek kenapa-napa gimana? Beliau bukan cuma pikun, beliau juga ada riwayat amnesia," ujar Lutfan.


Mata Mardiyah berkaca-kaca. "Terus aku harus gimana? Aku ... mau ketemu Ibu. Aku mau lihat makam Ibu, Lutfan."


"Kita ingetin beliau pelan-pelan, Mar. Kamu jangan langsung bilang. Aku bakal bantuin kamu ngomong ke Nenek." Tangan Lutfan mengusap-usap bahu sang istri. "Terus juga. Aku bakal suruh orang buat cari tahu makam---"


"Enggak. Enggak usah. Kita cari tahu semua dari Nenek aja." Karena cari tahu riwayat hidup orang nggak akan semudah itu. Bahkan kamu harus bayar semahal-mahalnya. Aku nggak mau kamu buang-buang uang cuma karena masalah hidup aku, lanjutnya dalam hati.


.


Note:

__ADS_1


Beda Tiga Tahun akan saya tamatkan di 110. Selanjutnya saya akan fokus ke Harshada karena cerita ini saya ikutin lomba kategori pria. Almahyra akan update. Panggilan Mama untuk Nenek Aisha saya ganti Ibu.


__ADS_2