
Esok hari, telah Mardiyah putuskan untuk menjalani kehidupan di panti asuhan saja. Tidak akan pernah ia kembali ke kota, tidak akan bertemu lagi dengan lelaki kurang ajar itu. Semua hal tentang kota dan pertemuannya dengan Aryandra adalah hal yang salah. Tidak akan pernah diingatnya lagi.
Hanya Nyonya Harsa, Kak Devina dan Regita saja. Hal lainnya akan ia lupakan.
"Mbak Mar!"
Mardiyah tersadar saat mendengar suara Salsa. "Ya, Sal? Kenapa?"
"Ini." Salsa menyerahkan dua rantang padanya. "Udah selesai. Tinggal sampean kirim ke Ummi Salamah."
Mulai hari ini, tugas tetapnya adalah mengantar makanan untuk Ummi Salamah. Entah lah, ia terus merasa bahwa Jafar telah kembali pulang. Walau faktanya belum. Sungguh ia merindukan lelaki itu, teman semasa kecilnya yang begitu tenang dalam menghadapi segala hal.
Jalan aja deh. Mumpung masih pagi, batin Mardiyah yang mulai keluar dari pelataran panti asuhan menuju pesantren.
Udara pagi ini benar-benar menyegarkan. Setapak demi setapak ia berjalan melewati persawahan dan rumah warga. Hingga sampailah pada pesantren, yang mana ia langsung mendekati kediaman Ummi Salamah.
"Assalamualaikum, Ummi!" Tidak ada seseorang yang keluar. Mardiyah kembali berujar, "Assalamualaikum."
Dari arah dalam Ummi Salamah keluar. "Waalaikumussalam. Mardiyah, ya? Nganter makanan, Nak?"
"Iya, Ummi." Mardiyah menyerahkan rantang makanan dengan tersenyum tipis.
"Terima kasih ya, Nak. Ayo mampir dulu," ujar Ummi Salamah.
Mardiyah menggeleng. "Maaf, Ummi. Mardiyah masih ada tugas di panti asuhan. Mardiyah langsung pamit saja."
Sampai di panti asuhan lagi. Sebenarnya Mardiyah ingin menyusul anak-anak panti asuhan untuk makan bersama. Namun ingatannya kembali pada kejadian malam itu. Bagaimana jikalau Pak Budi melihat dari cctv? Bagaimana pula jika Umma Sarah melihat? Mardiyah tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Umma Sarah.
Mardiyah terdiam dengan mengambil posisi terduduk di kursi batu taman. Pikirannya sama sekali tidak tenang.
"Mardiyah ..."
Mardiyah tersadar dan sedikit mendongak. "Ya? Lut ... fan?"
"Gue mau bicara."
"Hm?" Mardiyah bingung. "Bicara? Apa?"
Lutfan terdiam sejenak. "Lo baik-baik aja?"
"Saya ... baik." Mardiyah mengerjap sejenak. "Memang saya kelihatan nggak baik?"
Lutfan menggeleng dan mengambil duduk berseberangan. Sedangkan, Mardiyah kembali menunduk. Entah lah ia tidak ingin menatap netra Lutfan lagi.
"Gue ..."
Mardiyah menunggu ucapan Lutfan.
" ... lihat cctv."
Jantung Mardiyah berdegup kencang. Apa yang Lutfan maksud? Melihat cctv? Apakah lelaki itu juga melihat apa yang Aryandra lakukan?
"Kasar ..."
Netra Mardiyah melebar.
"Cowok itu kasar, Mar!"
Mardiyah benar-benar mematung. Lutfan tahu, Lutfan melihat semuanya.
"Lo bisa ... berhubung sama cowok yang pengecut kayak gitu, Mar?"
Mardiyah menghela napas berat.
__ADS_1
"Apa urusanmu, Lutfan?" ujar Mardiyah datar.
Lutfan melambungkan tawanya. Seperti bukan tawa biasa yang di dengar oleh Mardiyah, lelaki tengil itu seperti sedang mengejek.
"Nggak ada." Lutfan menjeda. "Lo suka di gituin?"
Mardiyah mendongak---menatap lurus kepada Lutfan. "Suka?"
Lutfan mengangguk.
"Pergi kamu dari sini, Lutfan."
Mardiyah muak. Mengapa Lutfan menjadi seperti ini? Sudut cctv mana yang dilihat oleh laki-laki itu? Sampai hati menyimpulkan bahwa ia suka diperlakukan tidak baik.
"Ngusir?" Jeda tiga detik Lutfan berujar, "Lo belum jawab pertanyaan gue, Mar."
Mardiyah menatap Lutfan dengan tajam. "Itu urusan saya dengan dia. Kamu nggak usah ikut campur."
Lutfan terdiam sejenak. Ucapan Mardiyah hampir sama dengan Aryandra bajingan itu. Lutfan mengangguk-angguk. "Alasannya?"
"Karena ... gue bocah ingusan?" Lutfan melambungkan tawanya. "Lo nggak jauh beda sama dia, Mar."
Mardiyah tidak memahami maksud Lutfan. Ia memilih bangkit, hendak meninggalkan taman. Namun detik di mana ia berdiri, Lutfan justru berkata lirih, "Nggak boleh gue khawatir, Mar?"
Khawatir? Bukankah tadi kamu menghina saya, Lutfan? batin Mardiyah dengan tetap berdiri di tempat.
"Di narik lo masuk ke mobil." Lutfan merubah tatapannya menjadi sendu. "Gue nggak tahu selanjutnya apa yang terjadi, Mar."
Mardiyah terdiam
"Kalau ..." Lutfan menelan ludahnya. Sulit sekali rasanya untuk berujar lagi. "Dia ngelakuin ... hal-hal yang---"
Mardiyah menyanggah, "Cukup, Lutfan!"
Lutfan menggeleng. "Enggak, Mar!"
"Apa ... perlu gue ingetin lagi?" Lutfan menatap tepat pada netra Mardiyah dengan sendu. "Betapa irinya gue dulu sama lo? Karena Umma bener-bener sayang sama lo dibandingkan gue, Mar."
Mardiyah menunduk menghindari tatapan Lutfan. Sebab netranya telah berkaca-kaca, hatinya melemah bila semua tentang Umma Sarah.
"Umma bahkan bilang, gue harus kuat, Mar." Lutfan menjeda. "Gue harus kuat buat ngelindungin lo aja."
"Kamu keberatan, Lutfan?" ujar Mardiyah lirih tanpa menatap Lutfan, ia melangkah perlahan-lahan. "Jika keberatan. Jangan lindungi saya lagi. Toh, kita bukan siapa-siapa. Kamu bukan Adik sedarah saya, yang harus melindungi saya sampai mati."
Mardiyah pergi. Lutfan mematung memandangi perempuan itu dari kejauhan.
Lo bener, Mar. Lagi pula kita bukan kakak beradik yang sedarah. Harusnya gue nggak perlu sekhawatir ini sama lo 'kan? batin Lutfan dengan berjalan meninggalkan tanam ini---menuju tempat makan laki-laki. Ah, tidak. Langkahnya berubah, ia memilih untuk berada di sudut panti asuhan yang sepi.
Yaitu, taman belakang.
Sesaat ia duduk di sana, menikmati pemandangan. Gawai yang berada di saku kanan Lutfan bergetar-getar, dan telah ditebaknya bahwa itu adalah Aldo---sang teman yang diangkatnya menjadi sekertaris.
"Ya?"
"Lut, ada info yang ketinggalan."
Kening Lutfan mengerut. "Info apa?"
"Keturunan Adyuta biasanya bakal tunangan sama keluarga Adiwangsa, Lut. Dan gue denger-denger yang berani nolak baru-baru ini cuma Aryandra aja. Katanya, dia pu---"
Lutfan tiba-tiba menyanggah, "Gue nggak butuh info dia lagi, Do."
"Eh? Lo ... beneran? Padahal masih banyak banget ten---"
__ADS_1
"Ya, gue nggak peduli. Thanks," akhir Lutfan dengan mematikan gawainya.
Lutfan meletakkan gawainya di samping. Ia menengadah, sudah semakin pagi, matahari mulai menyilaukan mata. Pikirannya terbagi-bagi. Namun tetap saja pada satu tujuan.
Bukan Adik sedarah? Lo bener, Mar. Gue bukan Adik lo. Tapi gue ... batin Lutfan tertahan dengan memejamkan matanya. Seketika itu juga, ingatannya menelisik pada masa kecil.
Di panti asuhan ini hanya ada satu anak saja yang menjadi anak asuhan Umma Sarah. Berjenis kelamin perempuan, di berilah nama Lunara Mardiyah. Lutfan kecil tidak tahu asal usul Mardiyah. Umma Sarah hanya bilang, bahwa Mardiyah adalah Kakak angkatnya. Ia harus kuat untuk melindungi Kakaknya di mana pun dan kapan pun.
Seperti saat ini. Sepulang sekolah, Mardiyah menangis karena di ejek habis-habisan oleh teman-temannya. Kata mereka, Mardiyah anak haram, tidak punya Ayah dan Ibu.
Padahal menurut Lutfan, Mardiyah adalah Kakaknya.
"Kakak nggak pa-pa?" tanya Lutfan kecil.
Mardiyah mengusap-usap matanya untuk menghilangkan air mata yang tidak kunjung mereda. "Kamu juga nggak pa-pa?" tanyanya balik.
"Kok Kakak malah tanya balik. Aku nggak kenapa-napa lho," jawab Lutfan.
Mardiyah menggeleng. "Tadi kamu dipukul."
"Aku kan laki-laki. Kuat. Tadi juga udah aku pukul balik dia, Kak," ujar Lutfan dengan tangan yang di sanggah pada pinggang.
Mardiyah mengangguk-angguk. "Makasih."
"Coba, Kakak dekatan sini sama aku," ujar Lutfan dengan merentangkan tangannya.
"Kamu mau apa?"
Lutfan terdiam sejenak. "Peluk. Soalnya ... kalau aku nangis. Umma biasanya peluk aku. Terus akunya diem lho, Kak."
Mardiyah mengangguk, dan berjalan mendekati Lutfan. Lantas memeluk Adik angkatnya itu dengan erat. "Makasih, Lutfan."
"Kakak nggak capek? Makasih-makasih terus?"
Mardiyah menggeleng.
"Aku janji bakal jadi kuat. Buat jagain Kakak. Jadi kalau tiba-tiba ada yang jahat sama Kakak. Pasti nanti langsung aku pukul!"
Mardiyah mengangguk pelan.
"Mas! Mas Lutfan!"
Semuanya hilang. Ingatannya terpecah-pecah sudah, karena suara teriakan yang tiba-tiba mengembalikannya lagi pada dunia nyata.
"Mas, tidur? Apa gimana, sih?"
Lutfan membenarkan posisi duduknya. "Apa sih, Abian? Nggak sopan banget kamu teriak-teriak di depan Mas, hah?"
"Nggak sopan?" ujar Abian dengan netra yang melebar. "Mas aja yang di bangunin pelan-pelan masih nggak bangun. Ya udah aku teriak sekalian aja!"
"Terserah-terserah." Lutfan mengibaskan tangannya. "Kamu ngapain ganggu?"
"Makan, Mas! Di panggil itu sampean sama Mas Banyu."
Salah satu alis Lutfan terangkat. Kemudian ia bergumam, "Banyu lagi? Ngapain dia sering-sering ke panti. Siapa sih yang mau di temuin?"
"Dengar nggak, Mas?" tanya Abian.
Lutfan bangkit, mendorong Abian lebih dulu. "Denger, Bian. Mas denger. Ya Allah! Heran ... tiba-tiba jadi kamu jadi berani ya sama Mas? Hm? Udah berani bentak-bentak juga!"
"A-anu ... kalau itu ... aku nggak sengaja, Mas," ujar Abian lirih.
Note:
__ADS_1
Flashback itu usia Lutfan 8 tahun. Mardiyah usia 11 tahun.