Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
69 : Kacau


__ADS_3

"Jangan berbicara seperti itu." Cecilia menghela napas, ia berjalan mendekat tepi ranjang dan duduk menyampingi Mardiyah. "Karena Gautama akan semakin gila. Jika satu raga lagi yang dicintainya, juga pergi meninggalkan dia."


"Maafkan, Rajendra," imbuh Cecilia.


Mardiyah hanya diam tidak menjawab apa-apa.


Cecilia mengedarkan pandangan, melihat sekeliling vila ini. Tempat yang dulu menjadi saksi bisu kebahagiaannya dengan Gautama masih berdiri tegak. Pernikahan yang berdasarkan bisnis, hingga timbul cinta sepihak, sangatlah membuat Cecilia tersiksa. Namun sudah bertahun-tahun ia jalani, ia merasa bahwa tidak apa-apa, karena sandaran hidup Gautama dulu adalah dirinya.


Tetapi sekarang, sepertinya berubah. Sebab ada seorang perempuan jelita yang menempati vila ini, seorang anak perempuan yang merupakan turunan langsung dari wanita yang Gautama cintai.


"Saya ... saya akan segera pergi," lirih Mardiyah.


Cecilia menengok. "Ke mana?"


Mardiyah membisu.


"Kamu pikir, akan semudah itu bersembunyi dari Manggala Adiwangsa?" Cecilia menggeleng. "Kamu tidak akan bisa pergi. Kecuali, beliau mengizinkan kamu pergi."


Ditatapnya Mardiyah yang masih menunduk. Kemudian Cecilia lanjut berucap, "Terima saja apa yang mertua saya minta."


Spontan Mardiyah mendongak. "Tidak bisa, Nyonya."


"Kenapa?"


"Karena permintaan Pak Manggala terlalu buruk."


Kening Cecilia mengerut. "Buruk? ... Memangnya apa yang mertua saya minta padamu?"


"Saya harus meninggalkan suami dan nama saya. Lalu hidup sebagai Mahika Adiwangsa, putri dari Cecilia Maharani dan Gautama Adiwangsa." Mardiyah menjeda dengan netra yang saling menatap. "Nyonya ... saya sudah menikah. Dan laki-laki yang saya nikahi ini lumpuh. Sekali pun suami saya cucu dari pemuka agama, dan termasuk orang berada. Pak Manggala tidak bisa menerima."


Cecilia memperhatikan netra indah dengan bulu mata lentik itu berkaca-kaca menatapnya.


"Bahkan surat gugatan ... sudah suami saya tanda tangani atas tekanan dari Pak Manggala." Air mata Mardiyah menetes detik itu juga. Ia benar-benar tidak bisa menahan lagi. "Nyonya ... jelaskan pada saya. Apa suami dan mertua anda berhak atas diri saya? Selama dua puluhan tiga tahun ... saya hidup di panti asuhan, di asuh oleh Ibu dari suami saya sendiri. Lalu sekarang tiba-tiba suami dan mertua anda datang, mengklaim saya sebagai bagian dari keluarga Adiwangsa."

__ADS_1


Mardiyah menggeleng. "Saya tidak bisa, Nyonya. Saya tidak bisa menerima permintaan mertua anda."


"Saya tidak bisa meninggalkan orang-orang yang memberi saya kehidupan." Mardiyah menunduk dengan terisak-isak. Tangannya mencengkram kuat baju tidur yang digunakan. "Uang pun tidak bisa mengganti kenangan yang diberikan orang-orang panti asuhan pada saya."


"Dari kecil yang melindungi saya adalah mereka." Mardiyah terbatuk-batuk, dengan menyentuh dadanya yang sedikit sesak. "Jika saya bisa minta ... akan lebih baik saya terlahir seperti Rajendra, Abhimata dan Abhimana. Sekali pun karena tuntutan, sekali pun tanpa cinta dari sang Ayah. Saya tidak masalah, Nyonya. Karena saya ... masih bisa melihat wajah seorang wanita yang memberi saya kehidupan di dunia ini."


Cecilia spontan menghadap lurus saat mendengar ucapan terakhir dari Mardiyah.


"Betapa beruntungnya anak-anak anda," lirih Mardiyah.


Cecilia terdiam sejenak, dan tiba-tiba saja bangkit. "Saya akan membantu, mencari tahu kehidupan masa lalu Ibumu." Setelah mengucap itu Cecilia berjalan mendekati pintu, dan berlalu pergi meninggalkan kamar.



Cecilia meminta Abhimata menetap untuk menjaga Mardiyah. Ia memilih pulang bersama sopir sendiri, tetapi saat menunggu sopir mengeluarkan mobil dari bagasi. Terlihat dari kejauhan mobil Gautama memasuki pelataran vila, yang mana sang pemilik langsung tergesa-gesa keluar mendekatinya.


"Cecilia?"


Cecilia diam hanya memandangi Gautama.


"Kenapa?" Cecilia berdiri di tempat, Gautama tiba-tiba saja memegang pinggangnya. "Kamu melarangku mengunjungi vila ini, Tama?"


Gautama menggeleng.


"Aku sudah bertemu dengan anakmu itu."


Gautama merasa pasukan udara di paru-paru hilang. "Cecilia, aku ingin menjelaskan---"


"Aku tahu, Tama. Kamu tidak perlu menjelaskan lagi." Cecilia menggeser tubuhnya, menolak pelukan Gautama. "Dia cantik. Mirip sekali dengan sekertarismu, kan?"


Gautama tertunduk, ia menyerah. Memilih menatapi rerumputan hijau di taman itu.


"Kenapa kamu menyembunyikannya di sini? Kamu pikir, aku akan mencelakai dia saat tahu bahwa dia adalah anakmu dengan wanita lain?" Cecilia menatapi suaminya yang menunduk. "Kamu tahu aku tidak akan sejahat itu, Tama ... justru sepertinya, yang menjadi jahat di sini adalah kamu dan Papa."

__ADS_1


Spontan Gautama mendongak, menatap istrinya.


"Kenapa kamu tega ... memisahkan dia dari suaminya, Tama? Aku merasa bahwa yang aku lihat sekarang bukan lah Tama ... yang aku kenal." Cecilia memutuskan kontak matanya dengan Gautama. "Karena yang aku tahu. Kamu tidak akan setega itu. Apalagi, pada seorang anak dari wanita yang kamu cintai."



Gautama tidak perlu menjelaskan apa-apa. Seperti yang Cecilia minta. Hingga pilihan sang istri adalah meninggalkan vila ini tanpa mengizinkan dirinya untuk mengantar.


"Abhimata, kenapa kamu membawa Mamamu ke mari?" ujar Gautama saat melihat anaknya duduk di sofa sedang bermain gawai sendirian. "Tega kamu menyakiti Mamamu."


"Apa, Pa? Menyakiti Mama?" Abhimata menjeda, netranya menatap tajam sang Ayah. "Justru yang menyakiti Mama itu Papa. Bukan aku. Aku memberitahu fakta ini secepatnya, supaya Mama nggak semakin tersakiti, Pa."


Abhimata bangkit meng-sejajari Ayahnya. "Mama itu baik. Kurang apa Mama, Pa? Kalau Papa memang cinta dan mau hidup sama sekertaris Papa, harusnya Papa nggak usah nikahi Mama. Aku nggak benci sama Kak Mardiyah. Aku ngerasa ... jadi benci sama Papa."


Gautama terdiam menatapi sang anak.


"Keluarga kita ini ... aneh, Pa. Kak Rajendra jadi nggak bisa ngontrol diri, Abhimana dan aku jadi di nilai buruk juga karena kelakuan Kak Rajendra." Abhimata menggeleng. "Enggak. Aku nggak nyalahin Kak Rajendra. Dia Kakak aku, Pa. Aku sayang sama Kak Rajendra. Tapi ... apa yang udah Papa sama Kakek lakuin ke Kakak sampai dia jadi kayak gitu? Jelasin ke aku, Pa!"


Gautama terdiam sejenak. "Pulang kamu, Abhimata."


Dari arah dapur terlihat Abhimana berjalan mendekati sang kembaran dengan Ayahnya.


"Oh, Papa? Udah ketemu Mama tadi?"


Gautama beralih menatap putra kembarnya yang lain. "Kamu juga di sini?"


"Iya. Nggak boleh?"


"Hari ini ... hari terakhir kalian berkunjung di vila ini. Mulai besok keamanan vila ini akan Papa minta untuk melarang kalian berdua masuk." Gautama bergantian menatap kedua putranya. "Kalian ini sudah besar. Apa tidak bisa berguna sedikit? Kalian di amanahkan menjaga Jyotika Ira oleh Mama kalian. Tapi bisa-bisanya kalian lalai, tidak bisa menetap di sana saja!"


Abhimata berlalu pergi terlebih dahulu. Sedangkan Abhimana menatap sang Ayah dengan berujar, "Pa ... coba Papa kayak Om Gumira, yang nggak beda-bedain anaknya, yang nggak segala masalah bisa diselesai pakai uang, yang apa-apa nggak melibatkan Kakek. Mungkin ... keluarga kita ini nggak bakalan secanggung ini."


"Terus tentang dia. Anak perempuan Papa itu, aku nggak masalah, Pa. Itu masa lalu Papa, anak itu ada pun juga mungkin ... takdir, kan?" Abhimana menatap lurus, enggan menatap Ayahnya. "Abhimata nggak salah kasih tahu Mama. Karena dari dulu Mama pengen punya anak perempuan. Dia ... mungkin bisa jadi anak Mama, dan mungkin Mama bisa nerima dia kalau Papa jelasin semuanya dari awal."

__ADS_1


Gautama terdiam.


"Nggak kayak gini, Pa. Semua jadi kacau. Semua jadi tersakiti, Pa. Nggak cuma dia, nggak cuma Mama tapi juga anak-anak Papa. Aku, Pa. Aku juga ngerasa sakit," akhir Abhimana.


__ADS_2