
Dua hari berlalu ...
Tolong maafin gue, Mar. Karena yang lo lihat itu nyata. Gue emang tanda tangani surat gugatan itu. Tapi demi Allah, sama sekali gue nggak berniat ceraiin lo, sampai kapan pun lo tetep istri gue, Mar, batin Lutfan yang melipat kembali surat dari Mardiyah. Kemudian, ia menengadah menatap langit-langit kamar, sesekali menghela napas.
Sudah ke sepuluh kalinya, ia membaca surat yang dua hari lalu di tulis Mardiyah. Kerinduannya pada sang istri tidak bisa terbendung lagi. Bahkan sudah menjadi berkali-kali lipat memenuhi dadanya, surat ini sedikit membantu. Namun setelah membaca isi surat jadi membuatnya berpikir bahwa Mardiyah sepertinya tidak baik-baik saja. Istrinya itu tidak mau menceritakan segala detail apa yang terjadi. Tetapi memilih memarah-marahinya dan mendongeng.
Kling!
Gawai yang berada di saku celana samping kirinya berbunyi, masuk notifikasi dari beberapa orang.
Aldo
Lut, gue udah kirim data penjualan hari ini
Mas Jafar
Sudah makan kamu?
@abhimanaadiwangsa
(kirim gambar)
Kening Lutfan mengerut saat melihat bahwa Abhimana mengiriminya gambar di via pesan Instagram. Lantas pilihan pertamanya adalah membuka pesan dari Abhimana.
@abhimanaadiwangsa
Pelayan di vila ini pinter banget.
Dia jadi makin cantik, rasanya males balikin dia ke orang songong kayak lo.
Foto itu tidak benar-benar langsung bisa Lutfan pahami. Namun setelah membaca kalimat yang dikirim oleh Abhimana, ia langsung paham, bahwa perempuan yang di foto dari belakang itu adalah istrinya, Lunara Mardiyah.
"Rambut dia agak pendekan," gumamnya dengan terus-menerus memandangi surai Mardiyah. Anjir ... Masya Allah dia dari samping aja cantik lho. Mana pengambilan fotonya pas banget. Akh! Abhimana sialan! batinnya yang langsung mengetik balasan.
^^^Tutup mata lo!^^^
^^^Inget dia istri gue!^^^
@abhimanaadiwangsa
Dia kakak gue!
^^^Sadar diri lo, ngakuin Mardiyah Kakak.^^^
^^^Dulu ngapain lo buat dia nangis, hah?^^^
Chat Instagram terkirim, namun tak kunjung mendapatkan balasan. Saat Lutfan mengklik username Abhimana pun kosong. Gila gue di blokir? Kurang ajar banget dia! batinnya yang tiba-tiba saja uring-uringan melempar gawainya pada samping ranjang dan sesekali tangannya memukul-mukul bantal.
"Anjir! Nggak nyadar diri yang songong itu dia!"
"Abhimana ... kamu di sini?"
Abhimana memasang wajah jetuk. "Kenapa nggak boleh? Vila-vila keluarga gue!"
__ADS_1
Mardiyah terdiam, sudah beberapa kali ia mencoba berbicara lembut. Namun sepertinya Abhimana tidak pernah menyukainya. Setelah membantu Meera memasak di dapur dalam, ia secepatnya memilih keluar. Karena dapur ini mulai panas, mungkin karena aura dari Abhimana yang tidak menyukainya.
"Lo!"
Mendengar Abhimana berujar, spontan Mardiyah berhenti. "Kamu manggil saya?"
"Enggak. Gue butuh dilayani." Abhimata menunjuk Meera yang menunduk. "Tinggalin pelayan itu. Gue mau di masakin."
Mardiyah menatap Meera sejenak. Lantas berlalu pergi meninggalkan Meera di dapur dengan Abhimana. Ia berjalan sendiri menuju kabar di pertengahan jalan ia berjumpa dengan Bibi Amah, kepala pelayan, yang langsung mengantarnya ke kamar. Saat telah sampai Bi Amah tidak langsung keluar melainkan duduk memandanginya.
"Kenapa anda menatapi saya?"
Bi Amah menatap dengan tersenyum. "Nona Muda ini cantik, mirip sekali dengan Nyonya pertama."
Kening Mardiyah mengerut. "Nyonya pertama?"
Bi Amah terlihat terkejut, beliau tiba-tiba menunduk. "Maaf, Nona Muda. Saya berbicara asal. Apa Non butuh sesuatu?"
"Tidak." Mardiyah memandang ke arah jendela. "Tinggalkan saya sendiri."
Dua hari telah berlalu. Namun Abhimata tidak kunjung memberi surat balasan dari Lutfan. Apa mungkin Gautama dan Manggala mengetahuinya? Ia menggeleng, tidak mungkin. Atau bisa saja Abhimata sedang sibuk, karena akhir-akhir ini yang datang ke vila hanya Abhimana saja.
Tadi, apa maksud Bi Amah? Nyonya Pertama? Ibuku? batinnya dengan merasa tak percaya bahwa Ibunya, Zanitha bergelar Nyonya karena tiada pernikahan di antara Ibunya dan Gautama.
Clek.
Pintu kembali terbuka. Namun Mardiyah sama sekali tidak menatap, karena ia tahu, yang masuk mungkin pelayan atau jika tidak mungkin Manggala dan Gautama. Jadi untuk apa ia melihat?
"Kak ..."
Abhimata? batin Mardiyah yang spontan menengok. Namun detik itu juga netranya melebar, senyum yang ia tunjukkan pada Abhimata memudar sekejap. Seorang wanita berdiri tepat di samping Adiknya tanpa ekspresi. Bahkan terkesan menatap datar pada dirinya.
Deg.
Nyonya Cecilia? batinnya dengan jatuh yang berdetak kencang. Rasanya ia tidak percaya bahwa yang sekarang berdiri di hadapannya dan mendekat adalah Cecilia Maharani Adiwangsa.
"Kerudung. Mama minta kerudung, Abhimata," ujar Cecilia yang mana di tangannya telah diberikan kerudung oleh Abhimata. Lantas tangannya terangkat, menggunakan kerudung itu pada Mardiyah, dan saat telah terpasang rapi. Cecilia berujar, "Staf Harsa Jayantaka. Saya benar?"
Mardiyah menelan salivanya.
"Jawab. Kamu tidak bisu 'kan?"
Abhimata tiba-tiba menyahut, "Ma ... jangan kayak gi---"
"Keluar kamu, Abhimata." Pandangan Cecilia beralih menatap putranya. "Mama butuh bicara dengan anak perempuan papamu ini."
"Aku nggak ma---"
"Kamu pikir Mama akan menganiaya dia?"
Abhimata menghela napas pelan. "Nggak mungkin Mama melakukan itu. Aku keluar, tolong bicara baik-baik sama dia, Ma."
Mardiyah spontan menunduk, saat Abhimata telah keluar dan pandangan Cecilia beralih padanya lagi.
"Bahkan putra saya sudah memanggilmu dengan sebutan Kakak." Cecilia bangkit dari duduknya, berbalik melangkah mendekati jendela. "Jadi kamu adalah anak suami saya dengan sekertarisnya itu?"
Mardiyah masih bungkam.
__ADS_1
"Saya pikir itu ... hanya gosip. Namun selang bertahun-tahun pernikahan saya dengan Gautama, berita yang awalnya gosip ini menjadi nyata." Cecilia tersenyum getir. "Jika di katakan kecewa. Sebagai seorang istri, kamu pun tahu rasanya bahwa saya kecewa. Tapi ... mau di apakan lagi? Semua sudah terjadi, dan kamu hidup di dunia ini."
Tangan Mardiyah mulai basah, ia berkeringat di ruangan yang bersuhu dingin, karena sejujurnya ia tidak sanggup menyakiti seseorang lagi.
"Kamu bahagia?" Cecilia menatap Mardiyah yang menunduk. "Jawab pertanyaan saya."
"Maafkan saya, Nyonya Cecilia."
"Siapa yang menyuruhmu meminta maaf?" Cecilia berjalan mendekati ranjang lagi. "Dan apa tadi ... Nyonya? Kamu memanggil saya dengan sebutan itu? Sejak kapan keturunan Adiwangsa memanggil orang lain dengan sebutan Nyonya? Kamu ini bukan pelayan, dan berhenti menunduk."
Mardiyah mendongak, netranya tepat menatap Cecilia. "Apa salah ... saya memanggil dengan sebutan Nyonya? Panggilan itu tanda kehormatan saya pada anda."
"Siapa namamu?"
"Mardiyah."
"Sudah menikah?"
"Sudah."
Tatapan Cecilia pada Mardiyah tiba-tiba saja berubah sendu. "Jadi ... mertua dan suami saya yang membawamu ke mari?"
"Tidak perlu saya jawab pun, Nyonya sudah tahu."
Cecilia mengangguk. "Kenapa kamu menyetujui test DNA itu? Jika kamu tidak bahagia, saat tahu bahwa Gautama adalah Ayahmu."
"Saya bahagia." Mardiyah memutus kontak matanya dengan Cecilia. "Namun saya menjadi tidak bahagia, saat tahu fakta bahwa saya bukanlah anak yang terlahir dari hubungan pernikahan."
Sejenak Cecilia terdiam.
"Kamu tahu? Gumira pernah bilang, bahwa Gautama memiliki seorang perempuan yang dicintainya. Dan ternyata ... kamu anak dari perempuan itu." Cecilia menghela napas pelan, matanya menatap ada lampu tidur. "Tidak salah jika Gautama tergila-gila dengan sekertarisnya. Karena anak hasil hubungan dia dengan sekertarisnya benar-benar menghasilkan seorang gadis secantik dirimu. Dan jika saya bertanya pada Gumira pun, dia akan menjawab, bahwa kamu sangat mirip dengan sekertaris itu."
Mardiyah tidak tahu ingin berbicara apa.
"Mardiyah ... jelaskan pada saya. Kenapa Ayahmu tidak bisa membuka hatinya untuk saya?" Netra Cecilia berkaca-kaca. "Jika saya bandingkan Ibumu dengan saya. Tentu saja saya lebih unggul dari segala hal. Tapi kenapa hati Ayahmu sampai detik ini juga masih menjadi milik Ibumu? Padahal saya ... adalah istrinya."
Astaghfirullah, batin Mardiyah dengan tangan yang mencengkram kuat-kuat baju tidurnya. Kerudung yang digunakan Cecilia padanya belum ia lepas masih terpakai.
"Saya tidak akan menyalahkan Ibumu. Karena itu adalah keberuntungannya, bisa dicintai oleh Gautama." Cecilia menghadap kiri, tangannya mengusap air mata yang menetes. "Kamu memang terlahir di dunia ini tanpa pernikahan, tapi saya yakin, kamu ada di dunia ini pun karena adanya cinta ... tidak seperti anak-anak saya, yang hadirnya tanpa cinta, justru karena tuntutan."
"Gautama tidak pernah membuka hatinya untuk siapa pun. Selain, Zanitha," imbuh Cecilia.
Netra Mardiyah tiba-tiba saja memanas, ia sadar suara istri dari Ayahnya terdengar seperti menangis. Lihat Abhimata, justru saya yang menyakiti Ibumu. Saya membuat Ibumu menangis, batinnya dengan mencengkeram kuat-kuat bajunya. "Maafkan saya, Nyonya."
"Jika Zanitha masih hidup. Jika kamu di minta untuk memilih. Apa kamu akan meminta Ayahmu bersatu kembali dengan Ibumu?"
"Nyonya, saya---"
"Jawab pertanyaan saya."
Mardiyah menggeleng. "Jika Ibu saya masih hidup pun, beliau tidak akan pernah menikah dengan Pak Gautama. Karena seharusnya Nyonya sadar, bahwa tidak ada perempuan yang ingin menikah dengan laki-laki yang sudah kurang ajar menodainya."
"Lalu bagaimana denganmu?"
Mardiyah menunduk, mengusap hidung. "Berakhir di panti asuhan pun, saya tidak masalah."
Cecilia terdiam.
__ADS_1
"Saya hanya tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang lain." Mardiyah menjeda. "Tolong maafkan saya, Nyonya. Karena saya lancang memasuki kehidupan bahagia anda."
"Dan yang Rajendra bilang benar, seharusnya saya ikut mati bersama Ibu saja," sambung Mardiyah dengan air mata yang menetes.