
Kepulangan dari Panti Jompo membuat Lutfan merasa sadar, bahwa istrinya telah menemukan lagi satu kebahagiaan hidup. Yaitu, Ibu Cecilia. Bahkan sampai detik ini dirinya masih tidak percaya bahwa Bu Cecilia bisa begitu menyayangi Mardiyah layaknya seorang anak. Beliau seakan-akan lupa jika Mardiyah adalah anak Pak Gautama dengan perempuan lain.
Wanita itu sebesar apakah hatinya?
Sejak pertemuan pertama Lutfan selalu sadar bahwa Bu Cecilia adalah orang yang tegas. Waktu itu beliau pernah dengan gamblang menanyainya tentang gugatan yang ia tanda tangani. Jujur ia langsung merasa tersinggung. Bagaimana bisa, orang yang bukan Ibu kandung membela anak suaminya sedemikian rupa? Padahal telah menjadi hak beliau untuk tidak menyayangi istrinya. Namun beliau memilih memberi segala kasih dan sayangnya untuk Mardiyah.
"Lutfan, kenapa kamu diam aja?"
Lutfan menggeleng. "Nggak pa-pa. Pengen diem aja."
"Kamu aneh."
Lutfan tertawa ringan.
"Kalau nanti. Aku ketemu Nenek, aku bakal ngapain ya, Lutfan?" Mardiyah terlihat memandang keluar jendela. "Aku pasti peluk beliau. Tapi ... apa beliau bakal ngenalin aku?"
Lutfan mengambil tangan Mardiyah, lalu menariknya mendekat pada paha kirinya. Hingga sang istri langsung menatapnya. "Kata Pak Gautama sama Dokter Gumira kamu mirip sama Ibumu. Aku yakin. Beliau pasti langsung kenal sama kamu."
"Sebagai Ibu?"
Lutfan menjawab, "Mungkin aja. Maka dari itu, setelah ketemu kamu bisa jelasin. Kalau kamu itu cucu beliau."
Mardiyah mengangguk-angguk.
Mobil berhenti. Tepatnya di outlet yang biasa Lutfan jaga, bukan di tempat panti asuhan. Karena tadi Mardiyah menyarankan untuk mampir, istrinya itu tidak ingin libur tiba-tiba mengganggu pekerjaannya.
"Makasih, Pak. Kita turun di sini aja," ujar Mardiyah.
Sopir Bu Cecilia tersenyum ramah. "Baik, Nona Muda. Saya pamit. Izin menjemput Nyonya Cecilia."
"Silakan, Pak."
Nona Muda? Padahal Mardiyah udah jadi istri gue. Harusnya bukan Nona lagi. Lebih tepatnya Nyonya, batin Lutfan yang baru saja turun di bantu oleh sopir itu dan Mardiyah.
"Aku nggak pernah ke outlet ini. Malu," bisik Mardiyah yang berada di belakangnya belum berkenan mendorong kursi roda sama sekali. "Kayaknya juga lebih banyak karyawanmu yang di sini. Dari pada di outlet biasa yang ada Mas Uwais itu."
"Mas?" Lutfan mendongak. "Aku nggak salah dengerkan?"
Mardiyah menggeleng. "Enggak. Emang benarkan? Aku panggil dia ... Mas? Emang mau panggil apa selain Mas?"
Ngeselin banget denger dia manggil orang lain Mas. Perasaan dulu biasa aja. Lagian gue juga nggak mau di panggil Mas, batin Lutfan yang kesal bergulat dengan diri sendiri. "Udah lah. Ayo masuk. Nggak usah malu. Mereka semua tahu kalau aku udah nikah."
Dugaan Lutfan benar. Seluruh karyawannya menggoda Mardiyah. Karena outlet ini adalah outlet pertama yang pendapatannya lebih banyak dari outlet-outlet lain. Jadi ia dan Mas Jafar menempatkan begitu banyak karyawan di sini.
"Kamu mah ikut-ikutan godaan aku. Nggak belain juga, ngeselin tahu nggak?" keluh Mardiyah yang langsung memasuki kamar mandi. Selang beberapa detik berlalu Mardiyah keluar dengan wajah yang basah. "Aah, aku malu."
"Kamu semenjak kita makin deket, kelihatan pemalu banget. Padahal dulu, Mar ..." Lutfan menahan senyumnya. "Kamu yang agresif. Suka banget goda-godain aku. Sekarang kenapa jadi pemalu?"
"Y-ya jangan tanya aku!"
"Astagfirullah." Lutfan mengusap wajahnya dengan tertawa. "Terus aku harus tanya siapa? Yang malu kan kamu. Bukan orang lain. Mana bisa orang lain yang aku tanyai, Mar?"
"Udah, ah!"
Duh, gemes banget lho gue, batin Lutfan yang menatap Mardiyah malu. "Nggak pa-pa. Sekali-kali kamu submisif."
Mardiyah kian malu. Hingga tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sepertinya Lutfan akan sibuk. Jadi Mardiyah langsung bangkit, menunjuk kamar dan berujar, "Aku mau istirahat di kamar itu nggak pa-pa?"
"Nggak pa-pa. Itu kamar aku. Masuk sana. Nanti aku bangunin kalau kamu ketiduran. Aku mau bahas kerjaan dulu," jawab Lutfan.
__ADS_1
Mardiyah bangun saat merasa tangan berat menumpu pada perutnya bahkan sesekali bergerak ke atas. Niat hati ia ingin berbalik, tapi saat menyadari aroma tubuh seseorang yang memeluknya adalah Lutfan, ia langsung mengurungkan niatnya.
"Lutfan?" Mardiyah tidak mendengar jawaban. Melainkan pergerakan. "Lutfan, kamu tidur?"
"Iya."
"Eh?" Mardiyah tertawa ringan, dengan memukul pelan tangan Lutfan. "Orang kalau tidur itu nggak bicara. Bisa-bisanya kamu ngejawab."
"Habisnya, daripada kamu tanya-tanya terus," ujar Lutfan pelan. Tangan lelaki itu tiba-tiba saja menarik lepas kerudung Mardiyah. "Gerah, Mar. Mending di lepas aja."
"Ada AC. Aku nggak ngerasa gerah," jawab Mardiyah.
Lutfan berdecak. Entah kenapa suaminya ini. Dia semakin mendekat mengecup kecil pada leher belakangnya. Karena hari ini Mardiyah tidak menggunakan ciput, jadi setelah kerudung di lepas rambut cokelat gelapnya langsung tergerai.
"Kamu capek nggak?"
"Enggak."
"Aku capek tahu, Mar." Helaan napas Lutfan terasa pada leher Mardiyah. "Kira-kira hilangin capek pakai apa, ya?"
Mardiyah hendak berbalik. Namun Lutfan tahan.
"Jawabnya sambil posisi gini aja. Nggak usah balik badan," pinta Lutfan.
"Ya udah. Kamu mau aku pijetin nggak?" tawar Mardiyah.
Lutfan menggeleng. "Lainnya apasih?"
"Makan?"
"Enggak. Lainnya, Mar."
"Ih." Lutfan nampaknya kesal. Lelaki itu tiba-tiba saja memintanya untuk terlentang dan saling menatap. "Kamu mah nggak paham-paham. Ngeselin."
Mardiyah tersenyum lebar. "Terus kamu maunya apa? Aku nggak bisa baca pikiran kamu, Lutfan. Bilang coba sekarang kamu mau apa?"
Bibir Lutfan yang mengerucut lama-lama memudar. Suaminya itu nampak membuang muka, hingga ia bisa melihat dengan jelas telinga Lutfan memerah. Dia mau apasih? batinnya yang masih menanti permintaan apa yang akan keluar dari bibir suaminya.
"Lutfan?"
"A-ku ... mau itu."
"Itu apa coba?" Kedua tangan Mardiyah meraba sampai pada tengkuk Lutfan. Meminta suaminya itu kembali menatap. "Jelasin sambil lihat aku."
"Kamu mah pura-pura nggak tahu. Padahal kamu ngerti maksud aku," kesal Lutfan.
Mardiyah tertawa ringan. Tangan kanannya meraba ke telinga kanan Lutfan. "Kamu tahu nggak ini bukan di rumah? Mungkin kalau di hotel aku mau-mau aja. Tapi masalahnya, ini di outlet, Lutfan. Aku tahu kamar ini di dalam ruangan, tapi siapa yang jamin kalau orang-orang nggak denger apa yang kita lakuin?"
"Ya ... kan i-tu aku bisa tahan suara aku," ujar Lutfan dengan melirik ke arah lain.
"Terus kamu juga suruh aku tahan suara?"
Lutfan melongo.
"Iya?"
Bibir Lutfan kembali mengerucut. "Kamu nggak mau?"
__ADS_1
"Ya Allah ... bukan nggak mau. Aku kan udah bilang kita ini bukan lagi di rumah atau di hotel. Aku takut kalau ada yang tahu Lutfan," jelas Mardiyah.
Lutfan melepas pelan kedua tangan Mardiyah yang berada di tengkuknya. Kemudian lelaki itu merubah posisi menjadi duduk. "Kalau gitu. Ayo pulang," lirihnya.
"Ayo ke hotel terdekat."
"Nggak usah pulang aja." Lutfan menarik kursi rodanya mendekat.
"Kamu marah sama aku?"
Lutfan langsung menengok. "Enggak! Emang aku kelihatan marah?"
📍Rumah Umma Sarah.
Sesampai di rumah. Mardiyah langsung mendorong kursi roda Lutfan ke kamar. Suaminya itu bilang tidak marah, namun Mardiyah tahu Lutfan merajuk. Dirinya paham betul bahwa tadi sama saja dengan menolak, Lutfan pantas untuk merasa kesal. Dan sesuai janjinya tadi, bahwa jika di rumah Mardiyah akan langsung mengabulkan. Bahkan tanpa mengganti pakaiannya ia langsung memberi kesenangan yang Lutfan mau.
Kata suaminya, melakukan ini sama dengan penghilang lelah. Padahal menurutnya, ini melelahkan walau memiliki akhir yang penuh nikmat.
"Lagi?" tanya Mardiyah yang masih duduk di atas Lutfan dengan napas yang perlahan-lahan teratur. "Aku masih bisa."
"Enggak usah. Nanti kamu capek," jawab Lutfan.
"Aku bilang aku masih bi---"
Lutfan menyentuh kepala Mardiyah dan menariknya pada dekapan. "Nggak usah, Sayang. Nggak usah. Aku udah bilang, kan? Aku udah selesai."
Usapan lembut pada kepala serta panggilan sayang dari Lutfan membuat jantung Mardiyah berdebar-debar. Bahkan pipinya merona enggan rasanya untuk mendongak menatap suami.
"Kalau gitu aku mau mandi," ujar Mardiyah yang melepas pelan pelukan Lutfan. "Kamu mau mandi bareng?"
"Enggak. Aku bisa sendiri."
Mardiyah turun, langsung memasuki kamar mandi. Setelah beberapa menit di kamar mandi, ia berpikir untuk menuju dapur, membantu Umma Sarah untuk memasak atau sekadar mengobrol dengan beliau mengenai kemajuan tentang pertemuannya dengan sang Nenek.
"Umma ..."
Umma Sarah yang tadinya sibuk dengan pisaunya menengok. "Lho? Udah pulang?"
"Sudah Umma dari tadi."
Umma Sarah berjalan ke wastafel, lalu mencuci bersih tangannya dan mengambil duduk tepat di sebelah Mardiyah. "Gimana, Nak?"
"Kata pihak pantinya, Nenek sakit. Tapi kita belum boleh jenguk, Umma. Jadi Mama Cecilia minta Mardiyah pulang dulu, terus kata beliau, Mardiyah di suruh nunggu sampai Nenek dipindahkan ke Adiwangsa hospital," jelas Mardiyah.
Umma Sarah mengangguk-angguk. "Umma setuju sama Bu Cecilia. Beliau bener-bener orang yang baik, Nak."
"Umma, Mardiyah mau tanya."
"Tanya apa?"
"Kalau nanti Mardiyah ketemu Nenek. Dan mungkin Nenek bakalan agak pikun. Terus ... beliau nganggap Mardiyah adalah Ibu. Apa Umma nggak pa-pa kalau ... semisal ..." Mardiyah menunduk gugup. "Mardiyah a-jak Nenek tinggal di sini?"
"Mardiyah janji nggak bakal ngerepotin Umma. Mardiyah juga janji nggak bakal lalai sama semuanya. Mardiyah bakal bantu Umma, Mardiyah bakal tetep bantu-bantu di panti dan Mardiyah juga nggak bakal lalai sama tugas Mardiyah sebagai istri Lutfan," lanjut Mardiyah cepat.
Umma Sarah tersenyum tipis dan mengusap-usap kepala menantunya yang tertutupi kerudung. "Kamu ini kayak sama siapa? Ini kamu lagi ngomong sama Umma, Nak. Umma nggak pa-pa banget kalau kamu ajak Nenekmu tinggal disini. Umma malah ngerasa seneng, nanti pasti bakal rame."
"Be-neran Umma?"
__ADS_1
Umma Sarah mengangguk. "Iya."
"Makasih, Umma." Mardiyah reflek memeluk Umma Sarah. Alhamdulillah. Aku tinggal minta izin sama Lutfan. Aku tahu dia bakal izinin tapi aku tetep harus bicara dulu, lanjutnya dalam hati.