
Hari demi hari berlalu. Hingga genap dua minggu Mardiyah tinggal di Vila ini sendirian, walau terkadang-kadang Abhimana dan Abhimata datang, tetap saja, ia merasa kesepian. Setiap malam pun sering turun hujan, ia jadi takut tidur sendirian, pelayan-pelayan pun enggan menemani jika bukan perintah langsung dari Gautama dan Manggala.
Bahkan tidak ada barang elektronik yang bisa ia gunakan. Sungguh ia merindukan Lutfan. Lelaki itu ... suaminya, apakah baik-baik saja? Apakah Lutfan makan teratur? Dan tidur dengan wajar?
Makanan yang para pelayan sajikan sangat lah nikmat, namun ia merasa hambar saat memakannya di tengah kesepian. Pakaian-pakaian yang digunakannya sekarang pun hanya dress selutut, tidak ada gamis dan kerudung. Ayahnya itu sengaja, supaya tiada celah baginya untuk kabur.
"Nona Muda Mahika."
Suara itu berasal dari Bi Amah selaku kepala pelayan. "Saya di minta oleh Dokter yang menangani anda untuk memeriksa tanggal terakhir anda menstruasi, Nona."
"Saya tidak mau." Mardiyah menatap Bi Amah dengan datar. Lagi pula untuk apa? Untuk memberi pencegahan? Supaya aku tidak hamil? batinnya yang beralih menatap jendela besar di mana terlihat pepohonan besar di sana. "Jika memaksa saya tidak akan menyentuh makanan sama sekali."
"Tapi Nona---"
Pintu kamar Mardiyah terbuka, datang Manggala bersama Gautama yang membuat Bi Amah berpamitan keluar.
"Ini." Manggala menyerahkan amplop cokelat. "Buka. Dari cucu Bashir."
__ADS_1
Kening Mardiyah mengerut, tangannya perlahan menyentuh amplop cokelat dan membukanya. "Surat ... gugatan perceraian?"
"Iya. Suamimu--ah, tidak. Mantan suamimu sudah menandatanganinya, Nak. Kamu sebentar lagi akan terbebas dari laki-laki cacat itu," jelas Manggala.
Mardiyah menggeleng, dan merobek-robek surat itu lantas melemparnya di lantai. "Anda bohong! Saya sama sekali tidak mau bercerai dengan Lutfan! Dan Lutfan tidak mungkin menandatangani surat gugatan itu! Anda bohong!"
"Untung saja yang Kakek berikan hanya foto kopi," ucap Manggala dengan mendekat pada cucunya. "Mahika ... Kakek sudah memilih calon suami yang pantas bersanding denganmu, Nak. Dia setara dengan kita, dan bagian terpentingnya dia sempurna, kakinya masih berguna."
"Calon suami?" Mardiyah menggeleng tak habis pikir. "Apa anda sadar? Anda memilihkan calon suami untuk perempuan yang sudah menikah!"
"Kamu akan bercerai, Nak. Jadi, menurut Kakek tidak masalah," ujar Manggala.
Manggala menatapi cucunya sejenak. "Baik. Setelah urusanmu dengan cucu Bashir selesai. Kakek akan memperkenalkanmu sebagai cucu pertama keluarga Adiwangsa. Kamu akan menjadi anak dari Tama dan Cecilia. Tenang saja, Ibu tirimu tidak sejahat dalam cerita orang-orang. Dia baik. Secepatnya, Kakek akan mempertemukanmu dengan Cecilia."
Setelahnya Manggala pergi. Meninggalkan Mardiyah dan Gautama berdua di satu ruangan ini.
"Sayang ..." Suara Gautama benar-benar lembut saat memanggil terasa menyentuh sampai pada titik hatinya. Mardiyah merasa bagian kiri ranjangnya bergerak, Gautama mendekatinya. "Maafin Papa, ya? Papa sudah berusaha semampu Papa untuk ... untuk tidak memisahkanmu dari---"
"Anda tidak berusaha."
__ADS_1
Mardiyah merasa pinggangnya di sentuh, lalu tak lama bahunya dan detik berikutnya Gautama menariknya dalam dekapan.
"Papa ... ingin memelukmu. Sebentar saja. Tolong jangan menolak," ujar Gautama yang tidak merasakan perlawanan dari anaknya.
Gautama merasakan dekapan hangat ini. Setidaknya jika bisa ia ingin mengambil segala rasa sakit, penderitaan yang anaknya rasa selama ini. Jika saja ia tidak pernah menjadi lelaki kejam, mungkin Mardiyah tidak akan pernah menderita. Dan mungkin saja, anaknya ini terlahir sebagai seorang anak yang beruntung di dunia.
Senyum serta canda tawa tiada akan pernah sirna dari paras cantik ini. Ia tidak sanggup berucap apa-apa, ia hanya mengusap-usap surai cokelat panjang sang anak. Harum, lembut dan sama seperti Zanitha. Perempuan yang ia cintai.
"Tolong. Pertemukan saya dengan Lutfan ..." Air mata Mardiyah menetes, ia telah memutuskan sesuatu. "Satu kali saja. Setelah itu ... saya berjanji, akan memenuhi semua permintaan anda dan Pak Manggala."
Gautama menggeleng.
"Hanya itu saja permintaan saya sebagai anak anda. Apa ... Pa-pa ..." Mardiyah menjeda, tangannya menyentuh erat-erat selimut. "Tidak mau mengabulkan?"
Gautama merasa tersentuh saat Mardiyah memanggil dirinya dengan sebutan Papa. "Nak, Papa akan berusaha, tetapi Papa tidak bisa berjanji."
"Saya tidak minta anda berjanji. Tetapi setidaknya, tolong ... tolong kabulkan." Tangan Mardiyah terangkat, membalas pelukan Gautama. "Saya butuh melihat Lutfan. Saya butuh berbicara sebentar saja dengan dia. Tolong ..."
Gautama mengangguk pelan.
__ADS_1
"Papa ... akan berusaha. Tolong berhenti menangis, Nak. Jangan menangis."