Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
102 :


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Lutfan telah meminta pada pihak undangan untuk mempercepat proses percetakan yang mana ternyata hari ini selesai. Dan ia juga telah meminta pada Mardiyah untuk bersama-sama mendatangi Manggala Adiwangsa dan Gautama Adiwangsa. Setidaknya, ia harus bersopan santun, meskipun jujur ia masih tidak bisa menerima perlakuan kedua orang itu terhadap istrinya dulu.


Seperti yang ditebak oleh Abhimana, Cecilia Maharani Adiwangsa mengomel habis-habisan. Kata Abhimana singkatnya seperti ini omelan sang Ibu, mengapa tidak menyewakan gedung Jyotika Ira dengan suka rela? Mengapa harus dengan biaya? Lucu. Dirinya ingin tertawa saja melihat dan mendengar rengekan sang Adik ipar. Bahkan hal yang paling ia tidak habis pikir dengan Abhimana adalah kesombongannya. Lelaki itu tiba-tiba ingin membayar semua biaya gedung. Katanya, supaya terhindar dari amarah Cecilia Maharani Adiwangsa.


Ada-ada saja. Sungguh ia tidak akan pernah biarkan Abhimana membayar semuanya. Karena jika Mardiyah tahu, istrinya itu akan marah.


"Lutfan!"


Lutfan tersadar dengan menatap lurus, yang langsung di suguhi penampilan memukau dari Mardiyah. Netranya membinar-binar. Gaun yang di gunakan istrinya itu sangat cocok, menampilkan kesan anggun dalam balutan tubuh elok sang istri. Masya Allah istri gue. Ya Allah Umma ... bidadari dari mana ini? batinnya dengan segala pujian.


"Lutfan, tolong komentarnya," ujar Mardiyah lagi.


Sungguh perlahan-lahan setiap sudut bibirnya terangkat. "Kamu cantik. Aku harus komentar apa lagi?"


"Cocok?"


"Cocok, Mar. Bagus banget."


Mardiyah menunduk sejenak. Kemudian menatap diri di depan cermin. Benar gaun ini bagus. Dan wajah aku ... aku jadi ingat Ibu, batinnya.


"Gaun yang di buatin sama Pak Manggala menurutmu gimana, Mar?" tanya Lutfan.


Dengan pandangan sendu Mardiyah menatapi dirinya. Dan mulai menjawab, "Bagus juga."


"Jadi, pakai dua gaun, ya?"


Mardiyah mengangguk. "Iya."



Sayangnya, sampai menjelang resepsi pernikahan. Nenek Aisha masih tidak bisa mengingat dengan jelas. Bahkan beliau masih menganggap diri Mardiyah adalah 'Nitha'. Padahal harapannya sebelum melaksanakan resepsi setidaknya ia bisa berziarah ke makam sang Ibu, Zanitha. Namun apalah daya kepikunan masih melanda sang Nenek.


Gaun-gaun yang telah di cobanya beberapa kali. Jujur saja semuanya indah dan jelas ... mahal. Mardiyah tidak pernah memiliki impian pernikahan yang seperti ini. Dulu pintanya dalam setiap sujud hanyalah pernikahan sederhana, yang tidak memberatkan pembelai pria. Namun jika Lutfan meminta untuk di buat acara yang megah dan khusus keluarga serta teman-teman terdekat pun ia akan kabulkan. Toh, seperti kata orang-orang, pernikahan adalah sekali seumur hidup.


"Nitha, jadinya gimana? Maksudnya ini ... resepsi gitu?" tanya Nenek Aisha.


Mardiyah mengangguk dengan mengusap-usap punggung tangan Nenek Aisha. "Iya, Ma. Resepsi pernikahan aku sama Lutfan."


"Oala gitu. Ya udah, nggak pa-pa. Nanti Mama di ukur juga?"


"Iya, Ma. Mau dibuatin baju."


Lutfan baru saja keluar dari kamar mandi butik langsung mendekatinya dan berbisik, "Mar, aku laper."


"Laper?"


"Iya."


Mardiyah menatap Nenek Aisha sejenak. "Ma, Mama di sini dulu buat di ukur sama orang butik nggak pa-pa?"


"Nggak pa-pa. Lagian ada mertuamu kan di balik gorden itu," jawab Nenek Aisha.


Mungkin maksud Nenek di ruang ganti, batin Mardiyah yang tersenyum tipis. "Iya, Ma. Ada Umma di sana. Aku sama Lutfan mau ke restoran depan buat pesen makan sekaligus tempat duduk dulu. Jadi nanti selesai mesen aku balik lagi buat jemput Mama sama Umma."


"Iya. Udah sana. Kasian suamimu kayaknya laper banget."


Mardiyah langsung mendorong kursi roda Lutfan untuk keluar dari dalam butik. Sungguh kebetulan yang menguntungkan, di depan ada rumah makan Padang yang jelas enaknya. Sebenarnya bisa menyebrang langsung tetapi akan memakan durasi saat mengangkat kursi roda Lutfan di tanah yang lebih tinggi. Jadi Mardiyah meminta bantuan pada Cak Sur untuk mengantarnya ke sana.


Setelah sampai Mardiyah buru-buru memesan. Lutfan terlihat sibuk berpikir. Rumah makan ini benar-benar ramai dan untungnya masih ada meja kosong. "Lutfan, aku duduk dulu, ya?" bisiknya.


"Di mana?" Lutfan mengedarkan pandangannya. "Nomor tujuh gimana?"

__ADS_1


"Ya udah, duduk sana aja."


Mardiyah menunggu beberapa menit akhirnya Lutfan datang sendiri, di susul dengan makanan yang dibawakan oleh pelayan.


"Minumnya mau apa, Mar?"


"Aku es teh aja. Nenek teh hangat tapi gulanya dikit banget," jawab Mardiyah.


Dua makanan dan empat minuman datang. Karena Umma Sarah dan Nenek Aisha belum datang Mardiyah ataupun Lutfan tidak bisa memesankan, takut tidak sesuai selera. Umma Sarah belum mengirimkan pesan, beliau bilang, nggak pa-pa. Nanti Umma kirim pesan, biar langsung di antar sama Cak Sur. Kalian puas-puasin dulu makan berdua. Padahal rumah makan ini berbaur, jadi tidak ada yang namanya berdua-duaan.


"Mar, aku mau tanya."


Mardiyah menyuapkan nasi pada mulutnya.


"Duduk sebelah aku coba. Aku mau tanya serius."


Mardiyah menghela napas. "Kan lagi makan. Nggak bisa nanti?"


"Bisa. Cuma maunya sekarang, mumpung akunya inget lho," ujar Lutfan dengan wajah cemberut.


Mardiyah mencoba dengan segala keikhlasan untuk bangkit dari duduknya dan mengambil duduk lagi tepat di sebelah sang suami. "Mau tanya apa?"


"Kamu udah haid belum sih?"


Astaghfirullah. Pertanyaan dia, batin Mardiyah yang lagi-lagi menghela napas, mendengar pertanyaan suaminya. Dan untungnya saja pertanyaan itu benar-benar pelan. "Biasanya akhir bulan," jawabnya.


"Akhir bulan beneran?"


Mardiyah mengangkat bahu. "Nggak tahu juga. Di kalender mens sih perkiraan empat belas hari lagi. Memangnya kenapa sih, Lutfan?"


"Ya ... ya nggak pa-pa." Lutfan memutuskan kontak mata dengan memakan makanannya. Sayang banget nggak ada malam-malam indah setelah resepsi, batinnya.


Lutfan dengan cepat menengok pada Mardiyah dan menggeleng-geleng. "Enggak-enggak. Kapan aku bisa kecewa sama kamu? Kan haid itu juga takdir, bukan kamu yang nentuin juga. Ya nggak pa-pa. Aku bakalan fine-fine aja kok."


"Sssttt. Suaramu," tegur Mardiyah yang sedetik kemudian, mendekatkan diri dengan berbisik pada telinga suaminya. "Masih banyak cara, Lutfan. Kamu nggak perlu merasa kecewa."


Anjir jantung gue, batin Lutfan yang berdebar-debar, kedua pipinya merona, dan matanya mengerjap berkali-kali menatapi sang istri. "U-udah sana! Kamu jemput Umma. Kok beliau nggak kirim-kirim pesan sih?"


"Kebiasaan, suka ngusir. Kamu suka gini kalau lagi malu," jujur Mardiyah.


"Ish, Mar! Kamu mah ... ini lagi di rumah makan lho. Kamu jangan godain aku dong!" Lutfan terlihat cemberut dengan memegangi pipi kanannya.



"Wah, gila! Lo mau tambah istri, Lut?!"


Lutfan mendelik. "Lo! Anjir, baca dong baca undangannya! Itu resepsi bukan akad lagi!"


"Ooh kirain. Gue kan kaget lo tiba-tiba nyebar undangan lagi." Aldo melirik ke arah kiri. "Padahal lo kan udah ada istri. Ya kali satu spek bidadari surga gitu masih kurang lo nya."


Cukup Mardiyah aja, batin Lutfan yang mulai menatap tajam Aldo. "Nggak usah bacot lo, Do. Awas aja lo nggak dateng. Lo nikah gue juga bakalan nggak dateng!"


"Halah. Iya-iya." Aldo membuka plastik yang menutupi lembaran undangan. Kemudian ia membaca sejenak. "Tempat ... Jyotika Ira?"


"Iya."


"Lo beneran mau nikah di sana? Padahal kan ... lahan panti asuhan ini luas. Ngapain nggak di panti aja?"


Lutfan berdeham. "Sekali-kali di gedung. Acara khusus soalnya, nggak terlalu banyak orang."


"Ooh."

__ADS_1


Lutfan menatapi Aldo yang celingak-celinguk seperti mencari-cari sesuatu. "Lo cari siapa, hah?" ujar Lutfan.


"Enggak cari siapa-siapa." Aldo menggeleng dan melipat kembali undangan pernikahan Lutfan. "Cuma ... btw adik lo kok nggak kelihatan, ya?"


"Adik gue?" Kening Lutfan mengerut. "Siapa?"


"Salwa?"


Pandangan Lutfan berubah tajam. "Lo ngapain cari-cari dia?"


"Enggak-enggak. Lo jangan salah paham. Gue cuma tanya aja, Lut! Cuma tanya!"


"Inget dia juga cucu Kiai Bashir. Lebih-lebih dia cewek, sekalipun masih di bawah umur, lo harus jaga jarak," tegas Lutfan.


Aldo menjawab, "Iya, Lut. Iya. Bukan mahram. Gue ngerti. Lo mah ngomong seolah-olah gue mau ajak adik lo nikah aja!"


"Ya, siapa yang tahu, kan?"



Panggilan video bersama yang melibatkan Mardiyah, Kak Devina dan juga Regita benar-benar pecah. Terutama Kak Devina yang begitu banyak bicara. Dirinya merasa semangat Kak Devina dalam berbicara semakin bertambah. Sedangkan Regita, semenjak menikah aura-aura dia bertambah kali-kali lipat. Semakin cantik saja.


"Akhirnya, kamu ngadain resepsi, Mar." Kak Devina menyikap rambut hitamnya ke belakang. "Habisnya, masa kamu menikah diem-dieman aja. Saya sama Regita kan juga mau lihat kamu pakai gaun-gaun gitu. Iya, kan Git?"


Regita menyahut, "Iya, Kak. Saya setuju. Lagian Mar saya pernah denger ada orang bicara. Katanya, pernikahan itu harus dikabarkan biar nggak terjadi fitnah atau jenis kesalahpahaman lainnya."


"Kamu benar, Git. Saya juga takut ada yang nggak tahu kalau saya dan Lutfan sudah menikah," ujar Mardiyah.


Kak Devina menggulum senyum. "Ngomong-ngomong lingerie yang saya beliin cocok?"


"Hah?" Pipi Mardiyah merona. Ia sedikit menunduk dan menjawab, "Cocok, Kak. Bagus."


"Syukur banget deh." Pandangan mata Kak Devina beralih ke lain arah. "Regita juga. Lingerie yang saya beliin cocok."


"Astaga, Kak Dev. Jujur. Lingerie itu terlalu vulgar. Maksudnya kayak ... penutupnya segitu doang, Kak?" protes Regita yang spontan mengundang tawa Kak Devina.


"Sengaja. Kalian kan pengantin baru."


Mardiyah hanya tersenyum tipis dan menggeleng.


"Jangan senyum-senyum gitu, Mar! Nanti saya mau kirim lingerie yang lebih hot lagi biar hadiah saya lebih berguna untuk kehidupan rumah tangga kalian," sambung Kak Devina.


"Astaga, Kak Dev! Ih, pikiran Kakak," ujar Regita malu-malu.


"Kak Dev sama Regita, jangan lupa datang, ya?"


"Pasti kita datang, Mar. Saya bakal datang sama Kak Devina," jawab Regita.


Kak Devina terkejut. "Sama saya, Git? Suamimu?"


"Dokter Gumira sibuk." Regita menggaruk pucuk hidungnya. "Regan juga pasti sibuk, Kak."


"Tapi ... kalau semisal ada acara yang lebih penting dari resepsi pernikahan saya. Lebih baik Kak Dev sama Regita nggak usah datang," pinta Mardiyah.


Kak Devina terlihat menggeleng. "Enggak-enggak. Semoga nggak ada. Pernikahan kamu ini penting banget!"


"Oh iya, Mar. Nyonya Harsa kamu undang?"


Mardiyah mengangguk. "Iya. Undangannya sudah aku kirim kok, waktu kemarin aku masih di kota. Sekalian juga sama undangan Nyonya Jessica."


"Ya udah, sampai ketemu di pernikahan kamu!"

__ADS_1


__ADS_2