
Mardiyah terdiam.
"Mar ..."
Mardiyah menepis tangan Lutfan yang berada di perutnya. "Enggak. Saya nggak hamil---"
"Terus ... yang Bidan bilang, maksudnya apa? Gue nggak bodoh, Mar. Pendarahan yang di maksud Bidan itu kandungan lo kan?" Lutfan menjeda. "Dia baik-baik aja kan? Lo habis jatuh atau apa? Gimana bisa---"
"Lutfan berhenti bicara. Saya mau kamu keluar." Mardiyah membuang muka ke arah kiri. "Saya mau istirahat."
Lutfan menggeleng.
"Lutfan, keluar."
Jeda tiga detik Lutfan berujar, "Gue bakal keluar. Setelah lo jawab pertanyaan gue ... berapa usia kandungan lo?"
"Sudah saya bilang, kalau saya nggak---"
"Bohong, Mar. Lo bohong!"
Mardiyah bangun dari tidurnya, mengambil posisi duduk sedikit ke kiri, hendak menekan tombol. Namun detik itu juga Lutfan menarik lengannya. "Lutfan, lepas."
"Jawab, Mar. Setelah lo jawab gue bakal lepasin tangan gue," ujar Lutfan.
Mardiyah masih terdiam. Kali ini ia mematung. Suatu kebohongan telah ia katakan, namun sepertinya Lutfan tidak akan pernah percaya. Sebab lelaki yang berada di sampingnya ini telah percaya bahwa ia tengah mengandung seorang bayi. Darah daging yang telah di nanti, telah gugur ... akibat kesalahannya.
Sakit.
Bagaimana ia harus berbicara pada Lutfan?
"Lutfan, lepas," lirih Mardiyah.
Lutfan melepas genggaman tangannya pada lengan. Ia tertunduk, dan berujar, "Gue cuma mau lo jujur. Apa susahnya, sih Mar? Lo bilang di surat itu ... lo hamil."
"Saya nggak pernah berbicara seperti itu."
"Karangan lo itu nggak bohong."
Mardiyah menetap Lutfan datar. "Itu cuma fiksi. Gimana bisa kamu percaya?"
"Gue percaya apapun yang lo dongengin ke gue itu nyata, Mar." Lutfan menjeda. "Kalau lo hamil apa susahnya lo bilang ke gue? Lo masih istri gue, Mar. Dan anak yang lo kandung itu anak gue. Gue berhak tahu. Dan lo bilang, kalau lo hamil nggak akan ada kesempatan lagi buat mereka bawa lo. Kita bisa hidup sama-sama lagi, Mar. Gue mohon dong ... lo jujur. Yang lo tulis di surat itu, yang Bidan bilang. Semuanya bener 'kan?"
__ADS_1
Mardiyah menghela napas berat. Nyeri di perutnya telah mereda, netranya yang semula telah membaik, kembali berkaca-kaca lagi. Tatapannya pada Lutfan berubah, ia meremas kuat seprai dan menunduk dalam enggan menatap sang suami. "Iya ... semua benar. Tapi ... dia sudah pergi Lutfan ... dia pergi. Jangan maafin saya, karena saya rasa ... kesalahan saya nggak bisa di maafin. Saya bodoh. Saya harusnya ... saya harusnya jaga dia, saya harusnya makan teratur, saya harusnya nggak stress saya .... saya bodoh, Lutfan."
Cengkraman kuat tangan Lutfan di brankar perlahan-lahan terlepas. Segala hal yang di ucap Mardiyah membuatnya ikut melemah.
"Bahkan ... Dokter bilang ... saya ..." Mardiyah menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Saya akan sulit hamil lagi. Karena keguguran ini ... benar-benar ... menimbulkan risiko yang buruk untuk ... rahim saya."
"Jadi buat apa? Buat apa kamu memperistri perempuan yang nggak bisa kasih kamu anak, Lutfan?" Mardiyah menjeda. "Cerai adalah pilihan---"
"Enggak," sanggah Lutfan.
Lutfan mencoba menarik kedua tangan Mardiyah yang menutupi wajah. Hingga terlihat wajah memerah sang istri yang enggan menatap.
"Masih sakit ya, Mar? Sini ..." Tangan Lutan mengusap-usap lembut perut sang istri. "Gue usap-usap. Maaf ... maafin A-ayah, ya Nak?"
Mendengar Lutfan menyebut diri sendiri Ayah seketika air mata Mardiyah menetes tanpa bisa di tahan. "Kenapa kamu minta maaf?" lirih Mardiyah.
"Rebahan coba, Mar. Jangan duduk gini ..." Lutfan menuntun Mardiyah untuk merebahkan diri perlahan. Kemudian ia mengusap-usap kedua mata sang istri. "Gue jadi pingin peluk elo. Udah lama banget 'kan?"
Tangan Mardiyah terangkat menyentuh bawah mata Lutfan yang terlihat menghitam. "Kamu ... kelihatan beda."
"Oh, ya?" Lutfan mencoba tersenyum tipis di sela-sela kesakitan hatinya. "Mungkin karena satu bulan lebih kita nggak ketemu."
"Lutfan ..."
"Apa?"
"Marah buat apa?"
Mardiyah menggigit bibir bawahnya pelan. "Soal bayi---"
"Gue nggak mau marah. Rasanya gue ..." Lutfan tiba-tiba tertunduk, usapan tangan Mardiyah menjalar ke telinga kanan, hingga sampai pada pucuk surai sang suami. "Mau nangis aja."
Lutfan terisak. "Sakit banget ... pasti ya, Mar? Kalau sakitnya bisa di pindah, biar gue aja yang rasain." Lo dari dulu udah sakit. Lo dari dulu udah hidup sendirian. Lo nggak tahu wajah Ibu lo sendiri, dan di saat lo udah ketemu sama Ayah lo. Beliau ... beliau malah misahin kita, Mar ... dan sekarang, lo harus kehilangan lagi ... lo kehilangan bayi kita. Gue ngerasa bahagia lo itu nggak banyak. Lo selalu ngerasain sakit. Gue nggak tahu sehancur apa fisik dan hati lo. Gue nggak tahu ... pasti sakitnya nggak kira-kira. Makanya gue harap, sakit itu pindah ke gue aja, pindahin semuanya ke gue. Gue bisa nahan semua, lanjut Lutfan dalam batinnya, dengan masih tertunduk, ia merasakan usapan Mardiyah berhenti.
"Kalau sakitnya di pindah. Kamu pasti nggak bisa nahan," ujar Mardiyah pelan.
Lutfan menjawab, "Bisa."
"Lutfan ..."
"Apa?"
"Saya mau lihat wajah kamu. Coba lihat saya."
__ADS_1
Lutfan mendongak dengan mata memerah dan masih tersisa air mata di sekitar pipinya. "Mau lihat gue nangis?"
Mardiyah menggeleng, tangannya berpindah pada pipi kanan Lutfan. "Maafin saya."
Lo jatuh? Atau apa? Gimana bisa sampai pendarahan separah itu? batin Lutfan dengan segala pertanyaan yang memenuhi pikirannya. "Lo nggak salah. Kenapa minta maaf?"
"Kalau aja saya jaga---"
"Semua ini ketetapan, Mar." Lutfan menjeda. "Insya Allah gue ikhlas. Lo harus ikhlas, ya?"
Mardiyah mengangguk pelan.
"Gue bakal temui Pak Gautama sama Pak Manggala juga. Gue ..." Lutfan mengusap pucuk kepala Mardiyah yang tertutupi hijab. "Gue bakal batalin gugatan itu. Gue nggak mau cerai sama lo."
"Kamu nggak denger yang saya bilang? Kalau saya bakal sulit buat hamil---"
Lutfan menyanggah, "Lo pikir, gue nikahi lo cuma buat keturunan aja? Enggak, Mar."
Mardiyah terdiam lama. Kemudian mengalihkan perhatian. "Kamu sudah makan?"
Lutfan terdiam sejenak. Kemudian menggeleng.
"Saya suruh orang beliin kamu makan, ya? Kamu coba tidur---"
"Nggak usah. Gue nggak laper." Lutfan menolak, dengan menatap langsung Mardiyah. "Lo sendiri, udah makan?"
"Belum." Mardiyah menatap Lutfan lembut. "Nggak pa-pa, Lutfan. Makannya nanti aja kalau kamu udah laper."
Clek.
Pintu terbuka, terlihat Abhimana, Abhimata dan juga Aldo memasuki ruang rawat inap. Hingga spontan membuat Lutfan menjauh dari Mardiyah.
"Lut," ujar Abhimata yang mengambil duduk di sofa hitam dengan meletakkan bingkisan di atas meja kaca. "Gue beli nasi padang. Makan sana."
Lutfan hanya menatap.
Sedangkan pandangan Abhimana beralih pada sang Kakak. "Kakak gue nggak bakal hilang. Lo cukup duduk. Makan. Kalau lo sakit, nyusahin Kakak gue!"
Lutfan memutar ke kanan kursi rodanya, dan mulai mendorong roda perlahan-lahan hingga berjalan mendekati teman-teman. "Nanti aja. Aldo tuh, kayaknya belum makan."
"Makanya ayo makan bareng-bareng." Aldo mulai membuka bungkusan. "Istri lo juga bakal makan. Lagi di buatin bubur sama Tante Cecilia."
"Tenang aja." Abhimata menatap Lutfan yang terlihat ragu-ragu. "Lo boleh di sini. Nanti kalau Kakak gue udah sembuh ... lo bisa bawa dia pulang. Gue bakal bantu lo ngomong ke Papa sama Kakek gue."
__ADS_1