
^^^Maaf, Lutfan.^^^
^^^Enggak semua hal tentang saya kamu harus tahu^^^
Beberapa detik berikutnya. Ada balasan dari Lutfan bahwa ia harus menghubungi Umma Sarah. Iya, hampir saja ia lupa. Setelah mencari-cari kontak Umma Sarah dan memberitahu kabar tentangnya, Mardiyah memasukkan kembali gawai di tas.
"Kamu memberi kabar orang tuamu?" tanya Aryandra Adyuta---lelaki yang Kak Devina maksud. Karena bisa-bisanya Regita ikut serta dengan Kak Devina untuk meninggalkannya sendirian di hotel.
Mardiyah menatap lurus dan berkata, "Saya tinggal di panti asuhan. Kenapa kamu setuju mengenal saya dari Kak Devina?"
"Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula." Aryandra tersenyum tipis. "Memangnya kenapa jika kamu tinggal di panti asuhan?"
Mardiyah menengok. "Perlu saya jelaskan?"
"Perlu."
"Tidak semua anak yang tinggal di panti asuhan itu adalah yatim piatu. Ada juga karena hubungan gelap dan lain-lainnya," jelas Mardiyah.
"Jadi kamu ingin mengatakan apa, Mardiyah?"
Jeda lima detik Mardiyah berujar, "Saya bukan yatim piatu. Tapi saya tinggal di panti asuhan. Silakan berpikir, keluarga seperti apa yang saya punyai?"
Mobil BMW hitam meninggalkan perumahan pertama yang ia menyatu dengan kawasan Lazuardi hotel. Terdengar Aryandra menghela napas pelan. "Kamu sedang mencoba memperlihatkan keburukanmu di hadapan saya?"
"Tidak. Saya hanya menjelaskan saja. Saya hanya takut perempuan yang ingin kamu kenal lebih dekat ini, tidak sesuai dengan harapanmu," jawab Mardiyah.
Lampu merah. Mobil berhenti, tepat saat itu pula Aryandra menatapnya. "Seorang anak tetap akan terlahir suci. Meskipun berasal dari hubungan yang tidak baik."
"Jangan memperhalus ucapanmu, Aryandra. Ucapkan saja, anak hubungan buruk, anak di luar pernikahan dan kata hina lainnya. Saya sudah terbiasa mendengarkan itu," ujar Mardiyah dengan tenang, walau sebenarnya ia mulai tersulut.
Mobil kembali melaju saat lampu telah berubah hijau. Tak habis pikir rasanya dengan wanita di samping ini. "Menghina seseorang adalah perbuatan buruk," ujar Aryandra.
"Setelah ini, bisakah kamu jangan menghubungi saya?"
__ADS_1
Aryandra menggeleng. "Kenapa?"
"Saya tidak mau berurusan dengan keluarga Adyuta."
Aryandra tersenyum tipis, lagi. "Kamu berbicara seolah-olah kelurga saya sangat buruk saja."
"Keluarga Adyuta adalah orang-orang baik."
Aryandra mengangguk-angguk. "Bahkan Ibu saya berhijab. Kamu ingin saya kenalkan?"
Mobil berhenti tepat di Toko Bunga Harsa. Sebelum keluar Mardiyah menengok, netranya bertemu tatap langsung dengan Aryandra. "Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Saya bukan lah daftar orang yang tepat untuk berada di keluargamu, Aryandra. Karena keluarga Adyuta terlalu sempurna untuk seorang anak di luar pernikahan."
"Permisi," imbuh Mardiyah dan keluar dari mobil.
Memasuki toko bunga Mardiyah langsung mencari-cari di mana Kak Devina? Telinganya mendengar suara gelak tawa dari kamar istirahat.
"Kak Dev," ujar Mardiyah dengan berdiri tepat di hadapan Kak Devina dan Regita.
"Lho? Udah pulang? Nggak kencan?"
Setelah mengucap itu, Mardiyah berbalik. Meninggalkan tempat istirahat dan menuju dapur yang disediakan untuk menegak segelas air mineral. Supaya amarahnya mereda.
"Mar ... Mardiyah." Kak Devina menyusulnya dan duduk tepat di samping. "Jangan marah dong. Maafin saya, ya?"
Mardiyah terdiam.
"Saya nggak maksud apa-apa. Saya cuma mau kamu itu kenal ke orang-orang, nggak tertutup gini. Saya cuma mau kamu cepet-cepet ada pasangan gitu, Mar," jelas Kak Devina.
Mardiyah menengok, tepat menatap Kak Devina. "Tahu apa Kak Devina tentang kehidupan saya?"
Kak Devina terdiam.
"Mengenalkan keluarga Adyuta yang jelas-jelas adalah orang terhormat seperti itu rasanya salah, Kak."
__ADS_1
Kak Devina bertanya, "Apa yang salah?"
"Karena Kakak nggak tahu asal usul keluarga saya. Coba Kak Dev tanya kek Aryandra itu, dia tahu apa yang saya maksud, Kak. Jadi, saya mohon berhenti, Kak!"
Kak Devina terdiam sejenak. "Maaf, Mar."
Air mata itu kembali menetes di pipi kanan dan kirinya. Kak Devina pergi. Sedangkan ia merebahkan kepalanya di meja, menangis tanpa suara di sana. Kenapa ... Kenapa harus seperti ini?
Kenapa ia tidak bisa mengatakan bahwa ia juga ingin jatuh cinta? Ia ingin dicintai dan mencintai orang lain. Namun hati kecilnya berkata, seolah-olah ia tak pantas untuk siapa pun.
Ya, siapa pun.
Kelahiran ini benar-benar menyakitkan. Entah untuk dirinya, entah juga kelak untuk orang yang mencintainya. Jafar ... Lelaki itu yang berada dalam ingatannya. Apa pantas ia sukai? Apa pantas ia juga bersanding dengan lelaki itu? Dirinya menggeleng.
Tidak pantas.
Sama sekali, tidak pantas.
"Sakit, Bu. Sakit ... Umma ..."
Bahkan dengan jahatnya tadi. Ia memutuskan janji yang sudah dibuatnya dengan Lutfan. Ia telah membuat anak tersayang Umma Sarah kecewa. Salahnya. Semua ini adalah kesalahannya.
"Gimana ... gimana a-aku bisa tahan, Bu?" gumamnya.
Isakkan demi isakkan terdengar. Tak peduli Kak Devina dan Regita mendengarnya. Lagi pula, kedua orang itu hanya lah orang kota yang tidak pernah tahu semenyedihkan apa kehidupannya di panti asuhan.
"Aku ... aku butuh Ibu. Aku butuh Umma. Ke-napa ...?" Mardiyah meremas bajunya di bagian dada. Sakit. Sesak rasanya. "Kenapa aku harus baca surat Ibu? ... Menjadi anak yang dibuang sudah cukup, Bu."
Mardiyah mengusap matanya. Make up di wajah pasti telah luntur, karena air mata. "Itu lebih baik! Karena demi Allah sakit rasanya hanya tahu fakta tentang nama Ibu saja ..."
"Sakit ... Umma tolong ..." Mardiyah membungkam mulutnya. Supaya tangis ini tak semakin keras.
^^^
__ADS_1
Note:
Saingan nyata Lutfan adalah Aryandra Adyuta. Bukan Masnya, Jafar. Si Jafar udah ada pawang, cukup Alma seorang.