Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
63 : Papa Mau Nggak Mendengar Pengakuanku Yang Lainnya?


__ADS_3

Kiri.


Pilihannya adalah kiri. Ia berharap bisa menemukan jalan pulang di sana. Benar, ia melihat pagar yang cukup tinggi, mungkin dirinya bisa untuk memanjat. Tetapi netranya menangkap penjaga keamanan di sana. Jelas ia harus mengalihkan pandangan penjaga itu, dengan melempar batu ke arah pintu toilet luar.


"Eh. Ada apa ini?"


Penjaga itu pergi, buru-buru Mardiyah memanjat, dan saat hendak turun ke tanah, terdengar bunyi alarm yang cukup nyaring. Pikirnya itu adalah alarm bahaya yang menjelaskan kehilangannya.


"Nona Muda!"


Netra Mardiyah melebar. Enggak. Aku harus lari tapi ini ... ini di mana? batin Mardiyah yang mencoba berlari ke sembarang arah, jalan setelah vila benar-benar sepi, sedikit ke depan pun gelap. Tidak apa-apa, ia harus terus berlari.


"Nona Muda!"


Itu suara penjaga! Ia harus berlari lebih cepat. Kaki telanjangnya, terkena aspal jalanan yang terkadang-kadang terasa ada kerikil. Saat ia menengok kebelakang tanpa sadar di depannya ada mobil yang melaju.


Mobil? batin Mardiyah dengan memejamkan netranya.


Suara mobil berdecit yang mana tepat berhenti di depannya. Dan seseorang di dalam mobil itu keluar, Abhimana, Abhimata? batin Mardiyah yang dengan sadar menjatuh air matanya. Ia bersyukur orang yang ditemui bukanlah Manggala atau Gautama.


"Lo ..." Abhimana menatap penampilan sang Kakak tiri. Dan sungguh ia benar-benar terkejut bagaimana bisa Kakaknya keluar? "Gimana bisa lo keluar?"


Mardiyah menggeleng, mengambil ancang-ancang untuk berlari lagi. Namun detik berikutnya bagian lengan dalam di tarik oleh Abhimata.


"Lepas."


"Kak ... kenapa---"


"Lepas, Abhimata!"


Mardiyah menyentak hingga tangan Abhimata terlepas, lantas dengan tergesa-gesa ia berlari menjauhi mobil yang dikendarai Abhimana dan Abhimata.


"Percuma! Percuma lo kabur!" teriak Abhimana.


Mardiyah tidak mempedulikan Abhimana, ia terus berlari hingga di detik berikutnya, ia terjatuh. Kakinya seperti terkena batu tajam yang mengakibatkan dirinya tak seimbang dan jatuh, ia merasakan telapak kakinya berdarah.

__ADS_1


"Sialan!"


Umpatan itu terdengar dari Abhimana. Hingga ia merasa seseorang menyentuh pinggangnya, dan menarik dirinya untuk berdiri.


"Lo itu ceroboh banget sih!" ujar Abhimana yang mulai berjongkok mengendong Mardiyah yang terus meronta-ronta. "Lo bisa diam nggak, sih?"


"Turunin saya, Abhimana!"


"Lo diam!"


"Saya mau pulang!"


"Lo itu---"


Dari arah vila terlihat Gautama yang menyusul menggunakan motor, yang mana detik berikutnya mendekati Mardiyah dan membungkam lagi sang anak menggunakan kain yang ditetesi obat bius.


"Lepas. Hmmpp--" Kesadaran Mardiyah hilang. Bisa saja Gautama memukul Mardiyah hingga kesadaran sang anak hilang, namun sungguh ia tak pernah sanggup untuk menyakiti anaknya.


"Pa ..."


"Abhimana bawa motor itu, dan Abhimata setir mobilnya," ujar Gautama.



Kaki Mardiyah yang terluka telah di obati oleh para pelayan. Sekarang Abhimana, Abhimata dan Gautama, sang Ayah sedang duduk bersama di ruang tamu. Suasananya pun sangat canggung.


"Ada keperluan apa kalian di sini?" tanya Gautama.


Abhimana menjawab, "Liburan, Pa. Kan vila ini vila keluarga. Apa masalahnya aku ke sini? Nggak boleh?"


"Iya. Liburan, Pa," jawab Abhimata.


Gautama menggeleng tak percaya.


"Masih banyak vila keluarga, masih banyak penginapan-penginapan mewah yang di suguhi pemandangan indah. Lalu kenapa kalian harus memilih vila ini?" Gautama menjeda dengan memandangi Abhimana. "Bahkan di Bali pun ada. Kenapa kalian tidak ke sana?"

__ADS_1


"Kalau ada yang deket. Ngapain jauh-jauh, Pa?" sahut Abhimana, yang langsung membuang muka ke arah lain. "Lagian, Pa. Kita nggak macem-macem di sini. Kita juga nggak nyebarin apa-apa tentang anak perempuan Papa itu."


Setelah mengucapkan itu Abhimana bangkit dan entah pergi kemana. Sedangkan Abhimata masih terdiam menatapi Ayahnya.


"Kamu, masih ada keperluan dengan Papa?"


"Masih, Pa."


Gautama menyandarkan punggungnya. "Ada apa?"


"Pa ... Papa benar-benar tega, ya? Memaksa dia bercerai dari Lutfan?" Abhimata menatap sang Ayah datar. "Papa nggak cuma berdosa, Papa juga jahat, Papa juga nggak pantas di sebut seorang Ayah. Atau memang ... Papa sedang mengikuti jejak Kakek? Yang tega mengusir Tante Geeta dari keluarga Adiwangsa karena menikahi laki-laki biasa? Iya, Pa? Papa gitu nggak, sih?"


"Abhimata, jaga ucapanmu."


Abhimata mengangguk. "Dari dulu aku selalu menjaga ucapan jika berbicara dengan Papa. Tapi sekarang ... Papa bukan lagi orang yang pantas untuk di hormati."


"Abhimata, kamu---"


"Papa meminta setiap anak-anak Papa berperilaku baik, sopan dan terjaga. Nyatanya apa? Jika figur Ayah yang di dapatkan oleh Abhimana, Kak Ranjedra dan aku adalah Papa. Jelaskan ... jelaskan bagaimana bisa kita meniru hal baik dari Papa?" Abhimata tersenyum getir. "Dan melihat Papa memperlakukan dia seperti itu, semakin membuat aku yakin bahwa Papa nggak beda jauh dari Kakek. Aku juga nggak tahu gimana dulu Papa memperlakukan Mama, aku juga nggak tahu gimana dulu Kakek memperlakukan kedua Nenekku."


"Tapi dalam pandangan yang bisa aku nilai. Nggak lebih Papa dan Kakek cuma bisa ... menyakiti dia aja. Jadi nggak memungkiri juga Papa dan Kakek pernah menyakiti Mama dan Nenek, kan?" imbuh Abhimata.


Gautama menghela napas, tidak berniat menjawab sang anak.


"Papa mau nggak mendengar pengakuanku yang lainnya?" Abhimata mengepalkan tangannya, dengan masih menatap lurus sang Ayah. "Aku nggak pernah sedikitpun ngerasa senang terlahir menjadi bagian dari Adiwangsa. Tapi aku bersyukur punya Mama seperti Mama Cecilia, ada juga saat-saat di mana aku bersyukur punya Papa. Tapi lama-lama, aku ngerasa kalau Papa ini ... nggak baik. Jujur Pa, sedikitpun aku nggak pernah mempermasalahkan masa lalu Papa."


"Tapi ... melihat cara Papa membebankan segala rasa bersalah Papa ke dia itu jadi buat aku mikir, Pa. Kok ada ya orang tua yang setega itu ke anaknya?" Abhimata menjeda tiga detik. "Sedangkan Kak Rajendra yang berbuat salah, yang bersikap semena-mena aja Papa baik-baikin lho. Nggak ada gitu Papa ngelarang Kak Rajendra ngelakuin ini itu, semua bisa dilakukan sepuasnya."


"Oh ... atau karena Kak Rajendra murni anak kandung Pa--"


"Abhimata, cukup," sanggah Gautama.


Abhimata mengangguk. "Ya, cukup, Pa. Aku ngerasa ucapan pun ku ini lebih dari cukup untuk menyadarkan Papa. Dan kalau sampai Papa berbuat sesuatu yang lebih dari ini. Sebaiknya aku kasih tahu Mama aja. Toh, sekalipun Mama kecewa beliau nggak akan sejahat Papa dan Kakek."


Note:

__ADS_1


Mengenai Geeta pernah saya jelaskan di Bagian 9


__ADS_2