Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 29 : Pewarna Bibir


__ADS_3

Umma Sarah berbohong. Kata beliau bakda subuh sudah sampai? Buktinya di tunggu-tunggu oleh Lutfan pun tidak kunjung datang. Dirinya benar-benar merasa canggung saat berdua dengan Mardiyah saja. Mengapa Ummanya tidak memahami sama sekali? Perempuan itu---Mardiyah baru saja selesai salat menggunakan mukena yang menjadi mahar kemarin.


"Lutfan."


"Apa?"


Mardiyah telah melipat mukena, ia berjalan mendekati Lutfan. "Mau ganti baju?"


"Siapa?"


"Kamu." Mardiyah tiba-tiba saja mendekatkan diri, sedikit menunduk ia mencium pakaian Lutfan di bagian dada kiri. "Bau. Nggak ganti?"


Dia wangi, batin Lutfan dengan mendorong pelan Mardiyah untuk menjauh. "A-apaan, sih lo?"


Mardiyah berbalik mengambil pakaian ganti untuk Lutfan. Kamar yang di huni ini VIP, jadi setiap perawat dan dokter masuk pasti memberitahu dengan mengetuk pintu, atau kalau tidak dari arah sofa pun sudah bisa terlihat.


"Sini," ujar Mardiyah dengan tangan yang hendak menjalar pada bagian pinggang Lutfan.


Namun Lutfan sudah menahan siku kiri dan kanan Mardiyah lebih dulu. "Gue bukan anak kecil. Kenapa sih lo sampai sebegitunya?"


"Saya nggak bilang kamu anak kecil." Mardiyah meletakkan pakaian polos seperti baju tidur di pangkuan Lutfan. "Kamu pakai sendiri."


Saat Mardiyah baru saja terduduk di sofa, gawainya bergetar hebat, dilihatnya ternyata dari nomor yang tidak diketahui. Cepat-cepat di angkat, Mardiyah percaya bahwa perempuan itu adalah Ibunya.


"Halo?"


Sunyi.


Mardiyah menjauh dari jakauan Lutfan. "Siapa? Jangan menghubungi saya jika tidak ada kepentingan."


"Bagaimana kabarmu, Nak?"


Jantung Mardiyah berdebar-debar, bukan perempuan, suara ini condong pada suara laki-laki. "Siapa anda?"


"Kamu akan segera bertemu dengan Ayah, Nak."


Panggilan terputus, Mardiyah mematung di depan jendela. Orang itu bilang apa? Ayah? Ayah? Padahal kemarin, ia mendengar suara perempuan. Mardiyah yakin, tetapi kenapa sekarang beralih menjadi suara laki-laki.


"Mar, Mardiyah!"


Mardiyah tersadar berbalik. "Ya?"


"Siapa yang telepon?"

__ADS_1


Mardiyah menggeleng.


"Oh, pribadi, ya? Gue nggak---"


"Saya nggak tahu, Lutfan. Beberapa hari ini ada orang yang menghubungi saya dengan nomor tersembunyi," sanggah Mardiyah.


Lutfan mengangguk. "Mending lo ganti nomor aja."


"Saya nggak mau."


Lutfan menatapnya seolah bertanya, kenapa?


"Orang itu bilang, dia Ayah saya, Lutfan."


Lutfan terdiam tanpa ekspresi, ia pun sudah berganti pakaian. Orang itu bilang, Ayah Mardiyah? Sangat tidak mungkin, bagaimana bisa? Sedangkan Ummanya dulu bilang bahwa Ibu Mardiyah di perkosa. Bahkan beliau tidak mau Mardiyah bertemu dengan sang Ayah.


"Ganti nomor lo, Mar," ujar Lutfan sekali lagi dengan nada serius.


Mardiyah menjawab, "Saya mau masti---"


"Enggak perlu ada yang di pastiin, Mar. Bukannya semua udah jelas di surat yang Ibu lo tinggalin itu? Dan sekarang lo ... lo mau ketemu sama orang yang ngaku-ngaku jadi Ayah lo, hah?" sanggah Lutfan.


Mardiyah berjalan, mendekati Lutfan dan berdiri tepat di sana dengan menatap lurus. "Iya. Nggak salah kan ka---"


"Salah." Lutfan menatapi Mardiyah dengan tajam. "Bisa aja orang itu cuma nipu lo. Nggak usah cepet percaya deh! Dari dulu lo itu gampang banget nangis. Nanti kalau pada akhirnya orang itu bukan---maksud gue ... i-intinya, ganti nomor lo, Mar!"


"Ada, temen gue."


"Hm." Mardiyah menyandarkan punggung. "Saya boleh bantu?"


Lutfan berdecak kesal. "Kalau lo juga bantu gue soal kerjaan, gue makin nggak guna hidup, Mar. Lo makin kayak pembantu gue."


Pembantu? Dia terus saja berucap seperti itu, batin Mardiyah dengan muak, yang mana ia mulai meletakkan gawai, dan berdiri mendekati Lutfan pada sisi kiri brankar.


"Lo mau ngapain?"


Netra Mardiyah memandang dengan sayu. Bahkan tanpa aba-aba dan membuat Lutfan terkejut saat tangan lembut Mardiyah menyentuh kedua rahangnya. Perempuan di depannya ini mendekatkan wajahnya.


"Lo ma-mau---"


"Pembantu, ya?" Lutfan tidak bisa menjawab selain mengangguk. Mardiyah semakin mengikis jarak, deru napas Lutfan dan detak jantung keduanya terdengar. Sedetik Lutfan memejamkan netra benda kenyal dan lembut itu saling menempel.


Di-dia nyium gue?! batin Lutfan dengan netra yang kembali terbuka karena terkejut bukan main. Pikirnya mungkin hanya kecupan, tapi tiba-tiba saja Mardiyah menggerakan bibirnya ke sisi kiri dan semakin memperdalam ciuman.

__ADS_1


Pipi dan telinga Lutfan memerah. Detak jantungnya tidak bisa terkontrol lagi, tangan yang meremas seprai rumah sakit beralih menyentuh pinggang kecil Mardiyah, dan ... mulai menikmati.


Di lepas?! batin Lutfan dengan benar-benar kesal.


Mardiyah mengusap bibir Lutfan yang basah dan sedikit tertempel lip tint dari bekas bibirnya. Ia tidak pernah menyangka akan melakukan ini, spontanitas yang ia lakukan tadi hanya berniat menggertak saja. Namun pada akhirnya, ia benar-benar mengecup bibir Lutfan. Tidak-tidak, tidak hanya kecupan, lebih dari itu juga.


"Pembantu nggak bisa melakukan hal seperti ini 'kan?" Lutfan terdiam hanya memandangi Mardiyah saja yang kini beralih menyentuh tengkuknya. "Saya istrimu, Lutfan. Walaupun seumur hidup kamu nggak bisa berjalan pun, saya benar-benar nggak keberatan."


Pintu ruang rawat inap tiba-tiba saja terbuka. Mardiyah melepaskan tangannya dari rahang dan tengkuk Lutfan, dan melihat Umma Sarah baru saja datang dengan Kiai Bashir.


"Saya ke kamar mandi dulu," ujar Mardiyah cepat-cepat memasuki kamar mandi. Ia takut aktivitas yang baru saja ia lakukan membuat lip tint di bibirnya tidak karuan.


Pintu kamar mandi tertutup. Umma Sarah mendekat duduk di kursi single sedangkan Kiai Bashir mengambil duduk di sofa. Beliau membawa buah-buahan yang sedang diinginkannya kemari.


"Eh? Udah ganti baju, ya?"


Lutfan mengangguk. "Udah, Umma."


"Di bantu Mardiyah, ya?"


Lutfan menggeleng. "Apaan sih kan Lutfan bukan anak kecil. Ngapain di bantu-bantu segala sih?"


Umma Sarah terlihat heran menatapi pada satu titik. "Lho itu ..."


"Apa, Umma?"


Tangan beliau terangkat menyentuh bibir bawah sang Anak. "Bibirmu merah. Kamu pakai lipstick, Nak?"


Lutfan panik, cepat-cepat ia menutup bibirnya, dan merebahkan diri dengan menutupi selimut sampai mulutnya. "Apasih, Umma! I-ini itu anu ... bibir asli Lutfan emang gini 'kan? Umma masa lupa sih sama anak sendiri! Aneh, Umma aneh!"


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Mardiyah keluar langsung berjalan mendekat pada Kiai Bashir. Setelah itu, ia mendekat pada Umma Sarah untuk mencium punggung tangan beliau.


"Umma sama Kakek sudah sarapan?" tanya Mardiyah.


Umma Sarah tersenyum tipis. "Harusnya yang tanya itu Umma, Nak. Kamu udah sarapan belum?"


Mardiyah menggeleng. "Lutfan juga belum, Umma."


Kiai Bashir yang sendari tadi diam menatapi cucu mantunya tiba-tiba menyahut, "Kok manggilnya masih Lutfan, Nduk? Ndak pakai yang lain? Mas atau apa gitu?"


"Lutfan aja cukup, Kek. Kenapa harus pakai Mas-mas segala? Lagian juga tua-an Mardiyah di bandingkan Lutfan. Jadi nggak usah pakai embel-embel kayak gitu," protes Lutfan.


Umma Sarah mengangguk-angguk dengan senyum jahil beliau berujar, "Udah, Abi. Terserah Lutfan aja ... Oh iya, Mar."

__ADS_1


"Apa, Umma?"


"Warna bibirmu hari ini cantik banget, Nak. Sama gitu, kayak bibirnya Lutfan," lanjut Umma Sarah.


__ADS_2