Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 7 (1)


__ADS_3

Asshalaatu khairum minan naum


Asshalaatu khairum minan naum


Mardiyah sedang berkutik di dapur bersama Salsa, dan anak-anak panti asuhan senior. Setelah menyelesaikan tugasnya memasak sayur, ia berpamitan dengan Salsa. Untuk ke kantor Umma Sarah, karena nanti tepat pukul enam pagi, ia langsung berangkat meninggalkan panti asuhan.


"Umma ... assalamualaikum,"


Umma Sarah terlihat sedang bersama Lutfan. Lelaki tengil yang manja itu langsung duduk tegak saat mendengar suaranya.


"Waalaikumussalam, Mar. Masuk, Nak."


Lutfan berdiri, keluar dari kantor. Mungkin malu.


"Umma, Mardiyah nanti berangkat jam enam. Dan, maaf Mardiyah datang tiba-tiba," ujar Mardiyah tanpa duduk.


Umma Sarah menggeleng, beliau bangkit dari duduknya dan mengusap-usap bahu kanan kiri Mardiyah. "Nggak pa-pa. Hati-hati. Nanti berangkat naik apa?"


"Naik motor, Umma."


Umma Sarah menggeleng. "Di antar Cak Sur, ya? Kebetulan nanti Lutfan langsung ke kota juga jam enam."


"Merepotkan Cak Sur, Umma."


Umma Sarah menggeleng, lagi. "Siapa yang bilang? Coba nanti kalau mau berangkat kamu tanya beliau. Pasti Cak Sur nggak kerepotan, kok.


Saat Mardiyah hendak membuka mulut. Umma Sarah berteriak, "Lutfan!"


"Dalem, Umma?"


Umma Sarah melirik Mardiyah sekilas. "Berangkat sama Mardiyah, ya nanti?"


"Enggak usah, Umma. Mardiyah bawa motor saja," ujar Mardiyah.


Lutfan memutarkan bola matanya. Gadis datar di depannya ini keras kepala sekali. Menyebalkan!


"Iya, Umma." Lutfan menatap Mardiyah dari belakang. "Dan lo, Mar. Udah deh nurut aja apa kata Umma gue. Buat kebaikan lo juga."

__ADS_1


Mardiyah terdiam sejenak. "Baik, Umma. Terima kasih. Nanti Mardiyah berangkat bersama Lutfan."


Saat berbalik Mardiyah menatap Lutfan tajam.


Kenapa dia natap gue gitu? batin Lutfan.


Mardiyah berlalu pergi. Sedikit menyeramkan, jarang-jarang Mardiyah menatapnya seperti itu, belum lagi tidak ada senyum sama sekali.


"Kayaknya nanti aku ikut datang deh Umma," ucap Lutfan.


"Ke mana?"


"Lazuardi hotel. Kan ... Bapak Manggala itu temennya Kakek, lah yang menikah ini cucunya beliau yang perempuan lupa gitu namanya ..." Lutfan mengingat-ingat. "Ah iya, Callista Adiwangsa, Umma."


"Terus?"


"Ya terusannya. Aku di suruh Kakek datang. Karena Kakek kebetulan tahu kalau aku temennya Natasha."


Umma Sarah mengangguk-angguk. "Bener. Lebih baik kamu datang. Sekalian jaga Mardiyah. Walau sebenarnya Umma nggak suka kamu ke acara gitu-gituan, pasti rame banget. Belum lagi itu acaranya orang elit, pasti banyak minuma---"


"Umma ..." Lutfan menggeleng menatap Ummanya. "Nggak boleh bilang gitu, dong. Lagian anak Umma ini udah tahu kok mana yang boleh mana yang enggak. Aku ini udah besar Umma, bisa bedain yang bener sama yang salah."


Bahu Lutfan di pukul dengan cukup keras.


"Akhhh! Umma ... suka banget mukul-mukul ih."


"Udah-udah sana. Salat subuh, udah mau iqamah ini," ujar Umma Sarah.


Subuh berlalu begitu cepat. Mentari telah terbit menerangi hunian manusia ini dengan cahaya yang teduh. Sepertinya akan hujan, karena sedikit mendung. Pukul enam lebih lima menit, mobil toyota putih hendak meninggalkan pelataran panti asuhan. Di mana Mardiyah duduk di belakang sendiri, sedangkan Lutfan tepat di samping Cak Sur. Entah sadar diri, atau memang tak mau dekat-dekat, Mardiyah tak peduli.


"Mbak Mar, mau di anter ke---"


"Toko Bunga Harsa, Cak. Nanti saya tunjukkin jalannya," sahut Mardiyah.


Cak Sur mengangguk. "Nggih, Mbak."


"Terus Mas Lutfan mau--"

__ADS_1


Lutfan menyanggah, "Anterin dia dulu aja, Cak. Nanti ke outletnya."


"Nggih, Mas."


Keduanya aneh. Mungkin Cak Sur sedang membatin yang tidak-tidak, dalam perjalanan pun rasanya seperti membeku. Cak Sur saja merasa canggung juga sampai-sampai menghela napas saja terdengar. Sebenarnya kenapa ini?


Gawai Mardiyah tiba-tiba saja bergetar terus, pertanda panggilan masuk. Tertulis, Kak Devina di sana, cepat-cepat di angkatnya.


"Halo, Mar."


Mardiyah mengubah posisi gawainya di telinga kiri. "Saya udah berangkat, Kak."


"Nggak lupa bawa hijab navy 'kan?"


"Saya inget, Kak."


Terdengar dari seberang Kak Devina seperti sedang berbicara dengan orang lain. Lantas sedetik kemudian Kak Devina berkata, "Kita bolak-balik ke Lazuardi hotel nanti. Banyak bunga yang harus di kirim. Baju yang kamu pakai sekarang pantas 'kan?"


Mardiyah menunduk melihat tampilannya hari ini. Gamis dan kerudung hitam, outer abu-abu, kaus kaki hitam serta sneakers putih polos.


"Pantas, Kak."


"Yang kamu maksud pantas biasanya nggak pantas, Mar. Jangan bilang kamu pakai hitam-hitam semua, nggak lucu deh. Kita kan mau ngirim bunga buat orang menikah bukan ngelayat," omel Devina.


Jarang-jarang Kak Devina mengomel. Langka. Atau memang karena dirinya yang jarang berbicara dengan beliau saja?


"Iya. Gamis hitam lagi. Tapi outernya abu-abu terang, Kak. Aman. Nggak kayak orang ngelayat," ujar Mardiyah.


Dari seberang terdengar Kak Devina terbahak-bahak. "Bisa ngelawak juga, ya kamu? Udah, ah! Saya tunggu kamu datang, Mar."


"Siap, Kak."


Mobil telah memasuki kota. Bahkan melewati outlet pertama di mana Lutfan biasa berhenti di sana.


"Yakin nggak berhenti?" tanya Mardiyah.


Lutfan menatap Mardiyah dari kaca depan. "Yakin."

__ADS_1


[.]


__ADS_2