
Mardiyah tahu pikiran Lutfan akan terus menerus seperti itu. Namun untuk direpotkan sebagai seorang istri, sungguh Mardiyah ikhlas. Karena seiring berjalannya waktu membalas kebaikan Umma Sarah dengan menikahi Lutfan, bukan lagi sekadar untuk menjaga anak beliau saja. Melainkan untuk mematuhi Lutfan layaknya seorang istri yang berbakti.
Umma Sarah sama sekali tidak pernah menuntutnya untuk mencintai Lutfan. Atau bahkan untuk memilih Lutfan sebagai suami. Di hari itu ia masih ingat jelas, Umma Sarah mengizinkannya untuk membatalkan pernikahan yang telah ditetapkan, karena keadaan Lutfan pasca kecelakaan. Yang berakhir lumpuh. Kesedihan Ibu pantinya, Umma Sarah pasti bertambah banyak, dan sebagai seorang anak angkat yang begitu beliau sayangi, Mardiyah memilih menerima pernikahan.
Dipikirannya sempat terlintas, bahwa mungkin Lutfan tidak akan memperlakukannya sebaik dulu. Karena sejujurnya Lutfan begitu banyak berubah, tiada panggilan Kak Mar lagi walau ia sama sekali tidak ingin di panggil seperti itu. Bahkan ia juga ingat, atas kejadian Aryandra yang dengan sadar berani menariknya masuk ke dalam mobil. Lutfan dengan mudahnya bertanya, 'apakah ia suka diperlakukan seperti itu?' Padahal Lutfan yang dulu tidak pernah menilainya rendah.
Seiring berjalannya waktu. Saat pernikahan telah terjadi. Ia tahu penyebab Lutfan memberi pertanyaan seburuk itu. Jelas karena lelaki itu telah memiliki perasaan padanya sejak lama.
"Maafin aku udah mikir yang enggak-enggak."
"Aku paham kamu gelisah."
Lutfan tiba-tiba saja tersenyum tipis. "Aku jadi pengen peluk."
"Boleh." Mardiyah merentangkan kedua tangan. "Sini deketan sama aku."
Lutfan menyentuh pinggang Mardiyah. Karena istrinya itu tiba-tiba saja berdiri dan menarik kepalanya mendekat pada dada. "Aku nggak ngerti lagi sama pikiran kamu, Mar. Kamu nggak cuma beda kayak perempuan lain. Kamu lebih ke langka, jarang di temui."
"Aku percaya kalau perempuan baik itu ada, tapi kalau buat nerima kekurangan pasangan yang jelas-jelas kelihatannya, bakalan susah, Mar. Aku bisa ditemui sama kamu aja, aku bener-bener bersyukur, sampai nggak habis pikir kebaikan apa yang aku lakuin sampai punya istri kayak kamu," lanjut Lutfan.
Mardiyah merasa tangan Lutfan mengerat bahkan helaan napas lelaki itu terasa di lengannya yang terbuka. "Kebaikanmu banyak, Lutfan. Mungkin kamu nggak menyadarinya."
"Kebaikan kamu juga banyak. Tapi kenapa kamu harus ... dapat suami kayak--ya maksudnya, kenapa harus ... kayak aku?"
Tangan Mardiyah yang mengusap-usap surai belakang Lutfan seketika berhenti. "Memangnya kamu kenapa? Kamu baik, Lutfan. Kamu juga bertanggungjawab, aku nggak mengeluhkan apapun tentang kamu." Mungkin cuma ... kamu memang sedikit lebih pencemburu, lanjutnya dalam hati.
"Kamu tahu nggak, Mar?" Lutfan mendongak.
"Apa?"
"Kamu kayak bidadari tahu. Nggak cuma cantik berseri-seri tapi hati kamu juga baik." Melihat Mardiyah tersenyum tipis menatapnya. Lutfan kembali berujar, "Ibu kamu. lebih tepatnya ibu mertua aku. Beliau kalau masih hidup pasti bangga banget sama kamu." Dan aku bener-bener berterimakasih karena beliau ikhlas melahirkan kamu di dunia ini, Mar. Meskipun beliau harus pergi dengan cara kayak gitu, lanjutnya.
Mardiyah hanya tersenyum tipis.
"Aku dulu sempet mikir, kayaknya buat jadiin kamu istri itu nggak mungkin. Karena jelas kamu bakal cari suami yang lebih tua dan bisa mengayomi kamu. Nggak kayak aku yang umurnya di bawah kamu, dan kadang-kadang pun aku masih labil," ujar Lutfan.
"Umur kamu nggak ada sangkut pautnya. Kamu lebih bertanggung jawab dari laki-laki yang umurnya di atas kamu," jawab Mardiyah. "Dan kalau masalah labil. Kamu emang kadang sedikit labil."
"Tuh kan. Umur itu ngaruh, buktinya kamu iyain kalau aku labil," ujar Lutfan pelan dengan melepas salah satu tangannya dari pinggang Mardiyah.
Mardiyah menggeleng cepat. "Enggak, Lutfan. Aku kan cuma bilang kadang. Udah nggak pa-pa pelan-pelan kan nanti bisa di benahi."
Lutfan mengangguk. "Pokoknya kalau tiba-tiba aku nggak bisa ambil keputusan tepat, atau kalau tiba-tiba aku buat salah. Kamu harus ingetin aku, ya?"
"Iya, Lutfan."
__ADS_1
Bakda magrib Mama Cecilia datang sendirian bersama sopir beliau. Mardiyah yang baru saja melipat mukenah mendengar kabar itu dengan terburu-buru langsung keluar kamar, untuk menyambut istri dari Ayahnya.
"Udah selesai sholatnya, Nak?"
Mardiyah ikut mengambil duduk si sofa dan menjawab, "Sudah, ... Ma."
"Maaf. Mama ke sini nggak bilang-bilang."
"Nggak pa-pa. Ada apa Mama ke sini?"
Mama Cecilia menatapnya. "Sudah di buka yang di kirimkan kurir tadi?"
"Sudah."
"Sudah di baca juga?"
"Sudah."
Cecilia bangkit mengambil duduk lagi, tetapi di sebelah Mardiyah. Tangan beliau menyentuh punggung anak dari suaminya. "Sekitar jam lima tadi. Orang suruhan Mama ngasih kabar, kalau panti jompo yang di tinggali Nenek kamu sudah ditemukan di mana alamatnya. Jadi Mama ke sini rencana mau minta izin ajak kamu ke sana besok."
"Saya mau, Ma," sahut Mardiyah cepat.
"Mama tahu kamu mau. Tapi Mama harus minta izin ke suami kamu." Mata Cecilia mengedar. "Di mana dia?"
Tak lama terdengar suara pintu terketuk. Lutfan datang bersama Abian yang langsung pamit berlari kembali ke asrama. Suaminya itu masuk perlahan, dengan tersenyum tipis menatap Mama Cecilia.
"Lutfan, ya?"
Lutfan mengangguk. "Iya, Bu."
"Saya ke sini." Mama Cecilia melirik Mardiyah sejenak. "Mau minta izin mengajak Mardiyah ke panti jompo besok pagi."
"Buat temui Nenek istri saya?" tanya Lutfan. "Kalau memang iya. Saya bakal izini."
Mardiyah menyahut, "Kalau saya ajak Lutfan nggak pa-pa, Ma?"
"Nggak pa-pa." Pandangan Mama Cecilia beralih pada Lutfan. "Tapi emang kamu nggak kerja, Lutfan?"
"Saya bisa ambil libur, Bu."
Cecilia mengangguk. "Baik. Jadi, besok pagi kita berangkat." Beliau langsung berdiri. Dan pamit untuk ke asrama tamu. Ternyata Mama Cecilia sudah terlebih dahulu bertemu dengan Umma Sarah. Mertuanya itu, langsung memberi tempat menginap untuk Ibu sambungnya. Padahal Jyotika Ira masih dekat dengan panti asuhan. Tetapi Mama Cecilia lebih memilih menghargai Umma Sarah.
"Lutfan kamu beneran bisa libur besok?"
__ADS_1
Lutfan yang tadi menatap pintu kini beralih pandang pada sang istri. "Insya Allah bisa."
"Ya udah ayo makan. Aku barusan goreng mujair. Mau?"
Lutfan mengangguk. "Suapin aku, ya?"
"Iya."
📍Panti Jompo
"Dengan Ibu Cecilia Maharani Adiwangsa?"
Mama Cecilia terlihat mengangguk. "Iya."
"Terimakasih atas sumbangan yang anda berikan, Bu. Pihak kami sangat-sangat terbantu," ujar pengurus panti jompo.
Dirinya dan Lutfan hanya memandang dari tempat duduk penunggu. Entah apa yang di bicarakan lagi oleh Mama Cecilia dan orang itu Mardiyah tidak bisa mendengar jelas. Samar-samar pengurus panti menyebut nama Neneknya. Dan setelah beberapa menit berlalu akhirnya Mama Cecilia berdiri.
"Nenekmu masuk rumah sakit, Nak."
Netra Mardiyah melebar, ia terkejut. "Di ... rumah sakit mana?"
"Yang pasti bukan Adiwangsa Hospital." Mama Cecilia menghela napas berat, sesekali memijat keningnya. "Pihak panti bilang kita nggak diperbolehkan berkunjung, Nak. Karena beliau baru saja masuk ke rumah sakit."
"Tapi kan sa ... ya keluarganya, Ma." Tangan hangat Lutfan terasa menyentuh pinggangnya. "Apa nggak bisa lihat dari luar?"
"Ini bukan penyakit menular. Tapi keadaan beliau benar-benar lagi nggak baik. Jadi saran Mama kamu pulang aja sama suamimu, biar semuanya Mama yang urus sampai Nenek kamu pindah ke Adiwangsa hospital," jelas Mama Cecilia.
Mardiyah terdiam sejenak menatapi Mama Cecilia. Bagaimana bisa ada seorang wanita berhati layaknya malaikat? Mama Cecilia seakan-akan lupa bahwa Neneknya adalah Ibu dari Zanitha, seorang perempuan yang dicintai oleh suami beliau. Jika mengingat kisah pernikahan Mama Cecilia, langsung membuatnya sadar, bahwa menjadi seorang istri dan Ibu memerlukan keikhlasan hati. Kelapangan beliau dalam menerima takdir benar-benar membuat Mardiyah terkagum.
"Nggak pa-pa, kan Nak? Mama suruh sopir Mama anter kalian dulu," ujar Mama Cecilia, lagi.
Mardiyah mengangguk pelan. Sebelum mendekati Lutfan, Mardiyah bangkit untuk mendekat pada Mama Cecilia. Bahkan spontan ia berujar, "Saya ... boleh peluk ... Mama?"
"Hah?" Mama Cecilia jelas terkejut.
"Saya ... boleh peluk Mama?"
Mama Cecilia mengangguk dan merentangkan tangan. "Boleh. Sini, Nak."
Saya nggak pernah tahu takdir hidup saya akan seperti ini. Memiliki Umma Sarah dan Lutfan saja sudah membuat saya sangat bahagia. Namun pertemuan dengan anda, jauh membuat saya berkali-kali lipat bahagia dibandingkan bertemu dengan Ayah saya sendiri. Tangan hangat itu mengusap-usap punggungnya. Bahkan beberapa kali ia merasa kepalanya di kecup. Ma, Mama tahu? Nanti jika saya memiliki anak. Saya mau menjadi Ibu seperti Mama Cecilia.
"Maafin Mama, Nak."
__ADS_1
Kenapa harus minta maaf, Ma? Saya rasa. Saya yang harus meminta maaf. Terima kasih atas semuanya, Ma. Saya benar-benar merasa memiliki seorang Ibu, lanjut Mardiyah dalam hati.