Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 22 (2)


__ADS_3

Setelah sarapan sekitar pukul 10.15 WIB Kak Devina, dan Regita telah mendahului pergi ke pantai. Sedangkan Mardiyah masih di dalam kamar, niatnya ingin berganti kerudung yang lebih santai. Namun sesaat ia hendak melepas kerudung, terdengar suara pintu terbuka lagi.


Pikirnya mungkin Kak Devina atau kalau tidak Regita, yang merasa tertinggal barangnya. Tetapi sampai beberapa detik pun tidak terdengar suaranya, Mardiyah telah menggunakan kerudung lagi, namun belum membenarkan di bagian dada. Ia ingin melihat siapa yang masuk.


Sedetik ia membuka pintu. Netranya menangkap sesosok lelaki yang berdiri membelakanginya. Mardiyah ingin menutup pintu lagi, tetapi lelaki itu berbalik, dan menahan.


"Keluar kamu, Aryandra."


Aryandra berujar, "Saya hanya mengkhawatirkanmu, Mardiyah. Kamu terlalu lama di hotel. Saya takut ada apa-apa denganmu."


"Mengkhawatirkan orang dengan cara seperti ini ..." Mardiyah mendorong kuat pintu kamar mandi. "Kamu pikir sopan?"


"Lepaskan tanganmu!" Mardiyah mulai kehilangan pasokan oksigen. "Keluar dari sini!"


Aryandra menggeleng.


"Saya butuh berbicara dengan kamu."


Mardiyah melangkah maju, dan mendorong kedua bahu Aryandra. "Keluar, Aryandra. Kamu sudah melewati batasan!"


Aryandra tetap terdiam di tempat, dorongan dari Mardiyah sama sekali tidak berpengaruh. Pandangannya fokus menunduk menatapi Mardiyah yang terus menerus mencoba mendorong dan menggertaknya.


"Hal seperti ini." Aryandra menjeda. "Masih dalaman batasan, Mar. Saya tidak melakukan apa-apa padamu, kan?"


Ucapan Aryandra benar-benar memiliki maksud yang lain. Seketika itu membuat Mardiyah merasa takut, namun selalu ia usahakan untuk tidak terlihat lemah di hadapan lelaki ini.


"Ingin berbicara apa? Sampai repot-repot memasuki kamar wanita?" ujar Mardiyah datar.


Aryandra mengambil duduk di sofa abu-abu yang di sediakan oleh pihak hotel.


"Saya baru-baru ini mendapatkan informasi." Netra Aryandra meliriknya. "Tentang ... kamu."


Mardiyah terdiam.


"Jadi ... kamu benar-benar anak hasil hubungan gelap?"


Mardiyah masih terdiam. Bahkan sebenarnya ia tidak tahu pasti hubungan apa yang dijalani Ibunya dengan sang Ayah. Namun yang Mardiyah tahu, sang Ibu di perkosa---jelas melakukan itu tidak sama-sama senang. Dan juga tidak bisa di sebut dengan hubungan gelap.


"Di buang saat berusia lima hari. Bahkan tanpa nama." Aryandra menjeda. "Kehidupanmu benar-benar menyedihkan, Mar."


Mardiyah terdiam.


"Jadi itu alasanmu menolak saya?"


Mardiyah yang sendari tadi berdiri dengan diam. Akhirnya berujar, "Anggap saja seperti itu."


"Mardiyah ... apa sulit?" Aryandra mendongak menetap Mardiyah. "Untuk menerima saya? Apa kamu pikir saya juga akan menjadi orang tua yang buruk? Atau ... di dalam pikiranmu saya adalah laki-laki yang buruk?"


Mardiyah telah kembali menetralkan napasnya. "Satu kali, kamu berani mendorong saya untuk memasuki mobilmu, dan kedua kali ini, dengan kurang ajarnya kamu memasuki kamar wanita."

__ADS_1


"Jadi simpulkan saja. Apa kamu terlihat baik atau buruk di mata saya," imbuh Mardiyah.


Aryandra mengangguk.


"Mardiyah, sekarang ... apa kamu merasa takut dengan saya?" Aryandra bangkit, melangkah mendekati Mardiyah. "Kamar ini lebih luas. Lebih tertutup, dan tidak terlihat oleh orang lain. Bahkan juga kedap suara."


Mardiyah memundurkan langkahnya. Aryandra mencoba mengintimidasi, lelaki ini mencoba menguasai dirinya. "Kamu akan menyesal seumur hidup jika berani melangkah mendekati saya."


"Benarkah?"


Mardiyah menelan ludah, ia sudah terpojok di dinding. Ingin mengambil jalur kiri, namun tangan besar Aryandra sudah menahan bahunya.


"Demi Allah, Aryandra. Saya tidak akan memaafkan kamu, jika kamu tidak menjauhi saya!" bentak Mardiyah.


Salah satu tangan Aryandra terangkat, mengusap-usap lembut pucuk kepala Mardiyah yang tertutup oleh kerudung.


"Kamu cantik, Mardiyah."


Mardiyah mendorong kuat Aryandra dengan siku kiri dan kanan. Namun na'as gagal. Lelaki itu bahkan tidak bergerak sama sekali, tenanganya tidak sebanding.


"Saya tidak akan melakukan apa-apa. Saya hanya ingin melihatmu dari dekat saja," ujar Aryandra memandangi setiap wajah Mardiyah.


Netra Mardiyah berkaca-kaca. Ia menunduk menghindari tatapan Aryandra, dengan tangan yang telah menyerah.


"Saya benar-benar membencimu."


Pintu hotel terbuka. Hingga detik berikutnya Kak Devina mendekat, mendorong Aryandra untuk menjauh. "Apa-apaan ini, Aryandra?" tanya Kak Devina.


"Mar, kenapa?"


Mardiyah menjawab, "Saya mau pulang, Kak."


...🌺...


Sirna.


Di dalam hati serta pikirannya tidak ada lagi laki-laki yang benar-benar bisa ia anggap baik. Sang Ayah pun tega melakukan perbuatan sekeji itu pada Ibunya. Bahkan Lutfan tiba-tiba saja berubah, dan Aryandra orang yang Mardiyah kira baik, ternyata tidak seperti yang ada di pikirannya.


Ia telah pulang ke panti asuhan, dengan di antar oleh Kak Devina. Sekali lagi, ia merasa bahwa kehidupan yang di berikan oleh sang Ibu benar-benar menyakitkan.


Sandaran Mardiyah hanyalah sang pencipta. Umma Sarah pun, ternyata akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan perempuan baru itu. Kasih sayang beliau terasa berbeda, terasa terbagi-bagi. Padahal dulunya Mardiyah biasa-biasa saja, saat Umma Sarah bersama Kirana dan Inayah.


Sesaat netranya terpejam, ingatan tentang Umma Sarah menelisik masuk ke dalam pikiran.


"Kalau Mardiyah kasih pertanyaan. Umma mau jawab enggak?"


Umma Sarah terlihat tersenyum. "Apa memang pertanyaannya?"


"Umma lebih sayang Mardiyah atau Lutfan?"

__ADS_1


Umma Sarah tiba-tiba saja tertawa dan mengusap-usap surainya. "Umma sayang dua-duanya."


"Kan Mardiyah tanyanya Umma lebih sayang ke siapa?"


"Iya-iya. Umma jelas lebih sayang sama anak perempuan Umma ini." Di cubitnya kedua pipi chubby Mardiyah. "Gemes soalnya. Mana cantik banget lho."


Dari arah jauh Lutfan berlari memeluk Umma Sarah erat-erat. "Umma! Umma! Kok cuma Kakak aja yang di sayang-sayang!"


"Iya. Sini-sini Umma sayang kamu juga."


Mardiyah memandangi Lutfan dengan senyuman manis. "Lutfan!"


"Iya, Kak?"


"Umma bilang, Umma lebih sayang sama aku," ujar Mardiyah.


Netra Lutfan melebar. "Kok gitu? Umma nggak sayang aku?"


"Sayang, kok. Umma sayang kalian berdua." Tangan Umma Sarah terangkat mengusap lembut pucuk kepala Lutfan. "Tapi Lutfan ... Umma minta, jagain Kakakmu, ya? Jangan bertengkar, jangan buat Kakakmu nangis. Inget terus lho, ya?"


Lutfan mengangguk-angguk. "Aku inget terus. Kata Umma kan aku harus kuat buat jagain Kakak!"


Tiba-tiba saja air mata mengalir, netranya masih tertutup. Tetapi ingatan tentang Umma Sarah dan Lutfan lama-lama memudar.


"Pembohong kamu, Lutfan."


Mardiyah mengangkat tangan kanannya menutup kedua mata, dan berbaring telentang di ranjang.


"Bahkan pertanyaanmu waktu itu ..."


"Lo bisa ... berhubung sama cowok yang pengecut kayak gitu, Mar?"


Mardiyah menghela napas berat.


"Apa urusanmu, Lutfan?" ujar Mardiyah datar.


Lutfan melambungkan tawanya. Seperti bukan tawa biasa yang di dengar oleh Mardiyah, lelaki tengil itu seperti sedang mengejek.


"Nggak ada." Lutfan menjeda. "Lo suka di gituin?"


Semua ucapan Lutfan beberapa bulan lalu kembali terlintas. "Suka? ... bagian ma-mana yang saya sukai?"


"Kamu lihat semuanya ... tapi ... tapi kamu malah menyimpulkannya seperti itu," gumam Mardiyah dengan bibir yang bergetar.


Mardiyah terisak-isak. "A-apa karena ... kamu tahu fakta tentang hidup saya?"


"Kamu pikir ... saya yang menggoda Aryandra?" Mardiyah meringkuk, menutup wajahnya dengan kedua tangan meredam tangisannya yang kian keras. "Kamu jahat, Lutfan ... kamu sama sekali bukan Lutfan yang saya kenal."


"Kamu bohong tentang janjimu ... kamu pembohong, Lutfan!"

__ADS_1


Suara Mardiyah kian serak. "Kamu buat saya nangis ... kamu ... kamu bahkan mengeluh menjaga saya. Kamu juga menghina saya!"


__ADS_2