
Jyotika Ira.
Tulisan itu terpampang jelas dan besar di depan rerumputan saat memasuki penginapan. Baru saja Kak Devina mengatakan bahwa ternyata penginapan ini milik keluarga Nyonya Cecilia Maharani Adiwangsa. Ya, entah kebetulan entahlah apa ini, bagaimana bisa ia harus menginjakkan kaki di penginapan mewah milik istri Ayahnya?
"Itu tulisannya parkiran. Mungkin emang di sini, Mar. Ayo lah," ujar Kak Devina.
Saat memasuki penginapan ini benar-benar terlihat mewah. Hiasannya cenderung pada lukisan-lukisan, bahkan warna pun cenderung pada gold dan putih. Wanita yang dinikahi oleh Ayahnya benar-benar setara.
"Kak Dev, saya izin ke kamar mandi, ya?"
"Iya, jangan lama-lama. Nanti di ruangan ini lho inget-inget Mar."
Mardiyah mengangguk dan berlalu pergi mencari-cari toilet yang sempat dilihatnya tadi di lorong samping. Sesaat ia ingin memasuki toilet, entah kesialan dari mana tiba-tiba seorang wanita keluar dari toilet berpapasan dengannya.
"Eh. Kamu ..."
Nyonya Cecilia? batin Mardiyah langsung mematung di tempat.
"Kamu stafnya Harsa 'kan?"
Seulas senyuman terpaksa Mardiyah tampakkan. "Iya, Nyonya."
"Pasti ke sini meeting ya sama Devina?"
Mardiyah mengangguk. "Iya, Nyonya."
Hanya perbincangan singkat saja, ia merasa sediki lega. Setelah itu Nyonya Cecilia berpamitan pergi, lantas Mardiyah buru-buru memasuki kamar mandi dan menuntaskan semuanya. Saat keluar, entah mengapa rasa dahaga benar-benar memenuhi tenggorokannya, dilihat di pojok kiri ada mesin penjual minuman otomatis.
Beruntung. Akhirnya aku dapat minum, batin Mardiyah yang langsung berjalan ke arah sana. Dan di lihatnya ternyata bisa membayar menggunakan uang kertas, sekalipun berkali-kali lipat mahalnya. Tak apa. Bagian terpentingnya ia bisa minum dengan puas.
Brak!
"Bangsat!"
Deg.
__ADS_1
Jantung Mardiyah berdegup kencang saat mendengar suara umpatan yang benar-benar tepat di belakang. Apa seseorang jatuh? Atau ... apa? Mengapa sampai sedemikian kesal? Belum lagi sekeliling penginapan ini sepi.
"Permisi. Apa masih lama?"
Mardiyah menengok, dengan menunduk.
"Sorry. Sebentar." Pria itu menahannya. Mardiyah masih menunduk, ia sedikit menciut takut-takut orang di depannya bukan lah orang baik. "Anda ... menggunakan kerudung? Sebentar ... Anda pembantu? Tidak-tidak. Tidak mungkin. Anda anak siapa? Orang kaya? Bagaimana bisa anda memasuki penginapan mewah ini?"
Aku harus jawab apa? batin Mardiyah dengan menatapi tampilan pria itu dari bawah. Seperti pakaian formal. "Saya ... ada meeting di sini."
"Oh. Dengan ... pakaian kasual? Eghmm, tidak-tidak lebih ke ... pakaian selayaknya orang ingin berziarah."
Mardiyah hendak berjalan. Namun ditahan lagi. "Saya permisi."
"Sebentar. Saya hanya ingin memastikan bahwa anda bukan pencuri, ter*ris, atau yang lain-lainnya. Tolong, angkat wajah anda."
Mardiyah menghela napas pelan, dengan terpaksa ia mendongak perlahan dan tepat saat ia menatap. Netranya melebar. Pria di depannya ini adalah Adiwangsa. "Rajendra ..." lirih Mardiyah.
Netra Rajendra terlihat menyipit seperti menilai. "Kerudung, pakaian norak dan ... hmm, lumayan cantik. Sekilas memang mirip dengan ... akhh! Ini gila ... siapa sangka saya bisa secepat ini bertemu dengan anak haram sepertimu?"
"Oh. Maaf. Saya tidak sopan, ya?" Rajendra terlihat terbahak-bahak, dan melangkah maju yang spontan membuat Mardiyah mundur. "Kakak. Iya, seharusnya saya memanggil anda dengan sebutan Kakak 'kan?!"
Rajendra benar-benar ... kepribadiannya--- batin Mardiyah tertahan saat tiba-tiba saja Rajendra menariknya paksa, dengan sekuat tenang Mardiyah menolak. Namun entah bagaimana ia telah sampai di satu ruang tertutup dengan di dalamnya bersama Rajendra saja.
Rajendra merogoh sakunya, lantas mengeluarkan gawai, mengutak-atik sejenak. Tidak lama kemudian membalikkan gawai, menunjuk fotonya yang terpampang di sana. "Ini anda 'kan?"
Dia ... mengawasi panti asuhan? batin Mardiyah.
"Saya tidak ada urusan denganmu, Rajendra."
Rajendra menatap tajam, mengambil duduk di salah satu meja dan mulai berujar sembari melihat gawai. "Lunara Mardiyah. Terpaksa di buang ke panti asuhan saat baru berusia lima hari oleh Ibunya, karena rasa malu memiliki anak di luar pernikahan. Di tahun yang sama kelahirannya, sang Ibu meninggal dunia dengan bunuh diri meminum racun. Ck, nasibmu benar-benar menyedihkan sekali, Kakak."
Mardiyah terdiam.
"Kenapa diam? Takut? Terkejut? Melihat saudara sendiri?" Rajendra menjeda, menaruh gawainya di meja. "Mardiyah. Kenapa tidak sekalian anda ikut mati saja?"
"Supaya anda tidak merepotkan saya. Bahkan akan semakin rumit dan merepotkan, jika Mama saya mendengar kabar bahwa suami tercintanya memiliki anak dari perempuan lain. Tentu dia akan sedih, menangis. Bahkan lebih parahnya mereka berdua tidak bisa menikmati masa tua bersama, karena Papa saya sibuk mengurusi anak haram sepertimu."
__ADS_1
Mardiyah menatap lurus. Untuk apa menangis? Tidak akan. Matanya menatap Rajendra dengan tajam. "Sudah mengocehnya?"
"Oh. Terdengar seperti ocehan, ya? Bukan hinaan?" Rajendra menatap rendah pada saudara tirinya. "Sayang sekali."
Mardiyah terdiam.
"Saya ingin bertanya, bagaimana perasaan anda? Saat sadar bahwa anda terlahir menjadi Adiwangsa? Bahagia? Merasa puas memiliki harta melimpah?" lanjut Rajendra.
"Rajendra, untuk apa kamu habiskan waktu mengawasi anak haram seperti saya?" Mardiyah tersenyum miring. "Bukankah ... biasanya kamu sibuk dengan gadis-gadis muda?"
"Wah. Tidak disangka. Kakak tiri saya adalah seorang pengamat yang baik." Senyum menjijikkan Rajendra tunjukkan. "Berarti ... anda melihat berita itu 'kan? Bagaimana? Terkejut, tidak? Kuasa dari Adiwangsa benar-benar bisa menyelamatkan saya dari ... berita yang mengada-ada itu."
Mengada-ada dia bilang? batin Mardiyah.
"Hei, Rajendra." Mardiyah berjalan mendekati Rajendra tanpa takut. "Tidak usah menganggap saya keluarga atau pun saudara. Bukankah kamu tidak sudi? Dan juga, Rajendra. Jangan merasa terancam akan warisan, harta dan segalanya milik Ayahmu. Tenang saja, itu semua tidak akan pernah diturunkan untuk saya."
"Jadi sekarang ... bisakah, saya keluar?" lanjut Mardiyah yang langsung berbalik hendak pergi, namun sedetik kemudian lengannya di tahan.
"Anda berani sekali." Sentuhan itu berubah menjadi cengkeraman kuat-kuat. "Tidak kah anda mendengar rumor tentang betapa kasarnya saya?"
"Lepas, Rajendra," ujar Mardiyah dengan menatap tajam dan memaksa melepaskan tangan itu.
Rajendra bangkit, menarik kasar Mardiyah lalu melemparkan ke kiri. Hingga Mardiyah tersungkur di bawah, telapak tangannya terbuka bergesekan langsung dengan lantai yang sedikit kotor.
"Aakhh!" Mardiyah mendongak. "Rajendra! Kamu gila? Berani sekali kamu mendorong saya?!"
Rajendra tersenyum miring, memandangi Mardiyah yang tersungkur di bawah. "Tentu saja berani. Sedangkan anda sendiri? Berani sekali datang ke mari dengan alasan meeting? Jelas-jelas anda tidak lagi bekerja dengan Harsa Jayantaka!"
Mardiyah menelan saliva, lalu menghela napas pelan. Kemudian bangkit, menatap Rajendra tajam. "Saya benar-benar tidak menyangka bisa memiliki darah yang sama dengan orang kasar sepertimu, Rajendra."
"Anda!"
Brak!
Pintu tiba-tiba saja terbuka. Saat Mardiyah menengok terlihat Abhimana dan Abhimata berdiri di sana.
"Kak ... please. Kenapa harus sampai begini?" ujar Abhimana.
__ADS_1