Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
57 (2) : Yang Anda Sakiti Bukan Hanya Ibu Saya Saja. Melainkan Juga Putrinya!


__ADS_3


Nona Muda Mahika? Aku ... Mahika? batin Mardiyah yang menggeleng tak setuju.


"Di mana kerudung dan pakaian saya?"


"Kami sedang mencucinya, Nona. Tuan Gautama memberikan beberapa pakaian yang bisa anda gunakan." Wanita paruh baya itu meletakkan beberapa tas yang dibawa tadi. Lantas mengeluarkan baju-baju semacam dress, dan lain-lainnya yang bahkan tidak bisa menutupi auratnya dengan lengkap.


"Saya tidak mau menggunakan ini. Saya ingin pakaian saya!" ujar Mardiyah.


"Nona, baju ini memang khusus untuk di gunakan di dalam rumah. Untuk keluar rumah, Tuan Gautama yang akan memilihkannya untuk anda sendiri,"


Pak Gautama sengaja. Beliau sengaja ... nggak. Aku harus pergi. Lutfan ... batin Mardiyah yang hendak turun dari ranjang mencari-cari keberadaan gawainya. "Di mana tas saya? Ponsel? Semuanya milik saya di mana?"


"Tuan Gautama melarang kami---"


"Itu milik saya!" Mardiyah hendak berjalan ke arah pintu lantas berniat membukanya. Namun detik itu juga, pintu terbuka, Manggala masuk dengan meminta pelayan paruh baya itu pergi.


"Mahika ... cucu Kakek," ujar Manggala dengan mengambil duduk di sofa single menatapi Mardiyah yang masih berdiri. "Duduk. Kakek tahu kamu lelah."


Mardiyah menatap tajam Manggala. "Anda ... mengingkari janji. Anda sengaja menyuruh Pak Gautama untuk---"


"Mahika, kamu adalah bagian dari Adiwangsa. Dan akan sangat tidak pantas jika kamu tinggal di panti asuhan." Manggala menjeda. "Kakek juga telah mengirim uang untuk Ibu pantimu. Kakek rasa itu lebih dari cukup untuk membayar semua biaya hidupmu dulu."


Mardiyah tidak mengindahkan ucapan Manggala. Ia masih menatap tajam dan bertanya, "Di mana barang-barang saya? Ponsel, tas dan lain-lainnya!"

__ADS_1


"Kamu tidak membutuhkan itu lagi."


"Anda tidak bisa melarang saya. Karena saya bukan---"


Manggala menyentak, "Mahika!"


"Anda ... jangan pernah memanggil saya dengan nama selain yang diberikan oleh Umma Sarah!" ujar Mardiyah dengan tak kalah keras.


Pintu yang semula tertutup terbuka lagi. Terlihat Gautama masuk dan menghampiri Manggala. Sedangkan Mardiyah memilih mundurkan dirinya, ke sisi ranjang.


"Pa, jangan seperti ini." Gautama menyentuh punggung Manggala. "Papa lebih baik pulang. Tama nggak mau Papa kenapa-napa."


"Papa akan pulang. Kalau kamu ..." Manggala bergantian menatap anak dan cucunya. "Bisa mengurus dia dengan benar, Tama. Dan ingat yang Papa ucap, jangan membiarkan di kembali ke panti asuhan itu lagi. Lalu juga secepatnya kamu urus surat perceraiannya dengan cucu Bashir itu."


"Akhh!" erang Mardiyah yang merasa tarikan itu terlalu keras. Bahkan Manggala telah keluar, dan pintu di kunci dari luar. Mardiyah telah menebak bahwa Gautama memiliki kuncinya juga. "Lepas ... lepaskan saya, Pak!"


"Diam," ujar Gautama, lantas sedikit berjongkok, mengangkat Mardiyah dengan dua tangan hendak membawanya berbaring di ranjang lagi.


"Lepas!"


Mardiyah di baringkan di ranjang dengan selembut mungkin. Salah satu tangannya di tahan kuat-kuat oleh Gautama. Supaya sang anak tiada bisa bergerak lagi. "Nak, apa kamu tidak pernah mau sedikit saja berbicara lembut dengan Papa? Atau setidaknya sekali saja kamu memanggil saya dengan sebutan Papa?"


Pandangan keduanya beradu. Netra Mardiyah berkaca-kaca, Gautama memandangnya dengan sendu. Bahkan terlihat juga berkaca-kaca, namun tangan itu menyentuh dengan kasar, menahan dengan erat. Mardiyah bahkan merasa sakit.


"Jangan pernah menyebut diri anda dengan kata Ayah di depan saya." Mardiyah menghela napas pelan, dadanya terasa penuh dengan rasa sakit. Salah satu tangannya mencengkram kuat selimut. "Jelaskan kepada saya ... bagaimana bisa anda mengaku bahwa anda adalah seorang Ayah? Anda membawa saya dengan paksa, anda berlaku kasar dan ... anda berniat memisahkan putri anda sendiri ..."

__ADS_1


Air mata Mardiyah menetes di kedua pipinya. "Dari suaminya."


"Seharusnya anda tahu ... bahwa kebahagiaan putri anda sekarang adalah suaminya." Mardiyah menggeleng. "Bukan hidup bersama anda!"


Jeda tiga detik Mardiyah berujar, "Kenapa? Kenapa jika laki-laki yang putri anda nikahi itu lumpuh? Apa tolak ukur kebaikan dan tanggungjawab seseorang laki-laki tidak bisa di nilai lagi karena kelumpuhan?"


"Anda salah ..." Mardiyah menunduk, memutuskan kontak matanya dengan Gautama. "Anda salah jika berpikir bahwa putri anda merasa rugi hidup bersama suaminya. Anda salah ..."


"Karena saya benar-benar merasa miliki keluarga dengan hidup bersama suami dan mertua saya," lirih Mardiyah.


Genggaman di tangan Mardiyah melonggar, perlahan-lahan Gautama melepaskan, di tatapi surai cokelat Putrinya dan tubuh bergetar hebat yang tiada sanggup menahan isakkan.


"Anda tidak pernah tahu ba-bagaimana sakitnya saya harus hidup ... selama dua puluh tiga tahun tanpa orang tua." Mardiyah terisak-isak. "Bahkan semasa kecil hingga remaja saya harus mendengar orang-orang menghina Ibu saya dengan sebutan p*elacur."


"Bahkan ... dari cerita yang anda sendiri bagikan. Orang-orang juga menghina Ibu saya." Mardiyah mengusap kasar kedua pipinya. "Padahal jelas-jelas ... yang bersalah di sini adalah anda!"


Mardiyah mendongak, netranya bertemu tatap lagi dengan Gautama. "Bahkan Ibu saya harus pergi dengan cara semenyakitkan itu. Tanpa menepati janji yang sudah beliau tuliskan untuk putrinya ini."


Gautama membisu. Air mata tiba-tiba saja menetes di pipi kirinya perlahan, tatapannya tak lepas dari Mardiyah yang terlihat sangat menyedihkan.


"Dan asal anda tahu. Nama Lunara Mardiyah. Bukan ..." Mardiyah menggeleng pelan. "Bukan di berikan oleh Ibu saya ... melainkan oleh Umma Sarah."


"Sekarang anda memahami bahwa yang anda sakiti bukan hanya Ibu saya saja. Melainkan juga putrinya! Saya!" Mardiyah menunduk, mendorong Gautama. "Anda juga menyakiti saya!"


"Anda membuat saya hidup tanpa keluarga! Anda mempupuskan harapan saya sebagai seorang anak perempuan! Benar ... anda jahat. Anda benar-benar jahat ... hiks ... anda jahat ..."

__ADS_1


__ADS_2