
Bahkan sampai melewati dua, tiga outlet selanjutnya lelaki tengil itu tetap pada pendirian, meminta pada Cak Sur untuk mengantarnya terlebih dahulu tanpa protes apa-apa.
Kehidupan yang dijalani oleh Lutfan. Mardiyah benar-benar tak tahu seperti apa? Namun yang diketahuinya, pergaulan di kota memang lah sangat berbahaya. Tetapi kalau di lihat-lihat Lutfan tak akan pernah melewati batas. Karena ketakutan terbesar lelaki itu adalah membuat Umma Sarah marah dan menangis.
"Berhenti ndek parkiran apa ndek depan toko, Mbak?"
Mardiyah menjawab, "Depan toko aja, Cak."
Mobil toyota putih berhenti tepat di depan toko bunga yang mana dirinya langsung melihat Kak Devina sedang menyirami bunga-bunga yang di depan. Ditatapnya Lutfan dari kaca mobil depan sekilas. "Terima kasih, Cak Sur ... dan Lutfan."
"Assalamualaikum."
Netra Lutfan melebar tak terima. "Apaan nyebut nama gue nggak ada terima kasih terima kasihnya. Parah banget."
"Mas, jawab dulu toh salamnya Mbak Mar. Sampean belum jawab," ujar Cak Sur menyadarkannya.
Lutfan menahan malu dan berujar, "Oh iya. Lupa, Cak. Waalaikumussalam."
"Terus ini mau ke mana, Mas? Outlet langsung atau pulang ke kostannya sampean dulu?"
"Outlet langsung, Cak. Nggak ada waktu kalau mau pulang ke kost," jawab Lutfan.
Mobil meninggalkan pelataran Toko Bunga Harsa. Sedangkan Mardiyah sibuk menyisihkan bunga mawar putih dan merah yang asli. Untuk bagian yang palsu di serahkan pada Regita. Semua karyawan lain belum datang, hanya ia, Regita dan Kak Devina saja. Itu pun juga menunggu kedatangan Nyonya Harsa Jayantaka.
"Di antar siapa tadi?" tanya Kak Devina.
Mardiyah menjawab, "Orang, Kak."
"Ya siapa? Saya tahu kalau orang, Mar!"
Mardiyah berdiri menyisihkan mawar putih yang telah tersusun di atas meja. "Laki-laki, Kak."
"Ya Tuhan, Mar! Saya nggak tanya jenis kelamin. Saya tanya itu siapa? Siapanya kamu?"
Mardiyah mengangguk-angguk. "Lain kali yang jelas pertanyaannya, Kak."
"Jadi, siapa?"
"Teman kecil," jawab Mardiyah.
Kak Devina mendekatinya dan berkata, "Gitu dong! Jelas. Saya kan jadinya bisa ngenalin kamu ke temen saya."
Mardiyah mendongak---mengalihkan pandangnya dari bunga pada Kak Devina. "Berapa kali saya bilang, Kak? Saya nggak mau."
Pintu toko tiba-tiba saja terbuka.
Nyonya Harsa terlihat datang dengan penampilan yang seperti biasa. Elegan. Baju merah maroon selutut, selendang hitam yang di selempang pada leher dan heels hitam juga.
"Pagi semuanya ..."
__ADS_1
Netra Nyonya Harsa langsung menatapnya. "Hitam lagi?"
Mardiyah mengangguk.
"Masih pantas, Nyonya. Outernya abu-abu terang," sahut Kak Devina.
Netra Nyonya Harsa melebar dan tersenyum tipis. "Saya baru sadar."
"Sebentar lagi kita berangkat. Acara akadnya jam 8an. Nanti malam pestanya, jadi nanti sebelum berangkat kalian ke salon dulu," imbuh Nyonya Harsa.
"Ke NC beauty, Nyonya?" tanya Regita.
Nyonya Harsa mengangguk.
"Iya, Gita. Di salonnya adik Nyonya Harsa," sahut Kak Devina.
...🌺...
Aldo
Lo beneran datang nanti?
^^^Iya. Makanya gue wa lo^^^
^^^Awas aja lo nggak nemenin gue,^^^
Aldo
Ngancem
Mau berangkat bareng gue nggak lo?
^^^Ketemu di hotel aja lah^^^
Aldo
Oke
Nanti gue kabari lagi
Gawai kembali Lutfan letakkan di meja. Lelah. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Sebenarnya untuk hitung-menghitung seperti ini tak sulit sama sekali, namun keliling outlet yang begitu banyak cukup melelahkan. Meskipun tidak wajib setiap hari, Lutfan tetap tak ingin lalai pada tanggung jawab yang diberikan padanya.
"Mas, makan?" tawar Uwais, salah satu staf di outlet ini.
Lutfan mengangguk. Sekarang ia sedang di tempat istirahat staf, jadi tak salah Uwais makan saat ini.
"Silakan," ucap Lutfan.
Lutfan bangkit dari duduknya, menuju pada ruangan pribadi. Ia ingin tidur sejenak saja, karena seperti biasa semenjak kepergian Abinya, ia tak bisa tidur di malam hari. Tidur pun sebentar, berakhir bangun dan ia kesepian. Bahkan parahnya membuat ia terus menerus teringat kenangan dengan sang Abi.
__ADS_1
Kling!
Gawianya berbunyi lagi.
"Baru aja tidur," gumamnya.
Yang Patut Di cinta
Mardiyah udah di antar?
Kening Lutfan mengerut. Sepertinya beliau lebih menyayangi Mardiyah dibandingkan dirinya.
^^^Sudah^^^
^^^Sampai dengan selamat^^^
Yang Patut Di cinta
Sekarang kamu di mana?
^^^Outlet, Umma^^^
^^^Kenapa?^^^
Yang Patut Di cinta
Umma cuma tanya kok
Sekarang kamu ngapain?
^^^Mau tidur^^^
Yang Patut Di cinta
Ya udah tidur
Nggak usah dibalas lagi pesan Umma
^^^Umma aja yang nggak usah balas aku^^^
^^^Assalamualaikum^^^
Kebiasaan memang. Lutfan tak mau pesan berakhir di Umma Sarah. Semua harus berakhir padanya. Sesaat netranya terpejam tiba-tiba saja terlihat suara tangis Umma dan juga wajah Abinya lagi.
"Kenapa, sih? ... Kenapa hidup gue harus kayak gini?"
^^^
^^^
__ADS_1