Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 40 : Gen Siapa?


__ADS_3

"Kamu nggak mau bantu?"


Spontan Lutfan menggeleng cepat. "Eh! Ma-maksud gue iya-iya gue bantu."


Tangan Lutfan bergerak, dengan mendongakkan kepala Mardiyah sedikit, lantas di tariknya jarum pentul di bawah dagu. Sedetik itu juga kain persegi empat yang di lipat menjadi dua bagian terbuka, ke sisi kanan dan kiri. Beruntung, masih ada ciput. Apa mungkin sekalian juga di buka?


"Itu juga tolong buka, Lutfan."


Lutfan mengangguk-angguk. Selain berdebar-debar ia juga menelan saliva beberapa kali, lantas perlahan di tariknya penutup kepala terakhir Mardiyah yang berada di tengkuk. Hingga terlihat lah leher serta surai yang benar-benar indah, Lutfan pun terpaku sejenak.


"I-ini gue taruh kerudungnya di meja, ya?"


"Iya."


Masya Allah ... jantung gue. Dia ... dia makin cantik! Rambutnya juga tetep cokelat, mana harum shampoonya kerasa banget. Astaghfirullah bikin gue makin deg-degan aja, batin Lutfan meletakkan kerudung tepat di meja samping yang berada di dekat ranjang.


"Lutfan, maaf."


Lutfan langsung tersadar. "A-apa? Lo minta maaf buat apa?"


Netra Mardiyah masih terpejam menahan nyeri yang kadang-kadang menyerang lagi. "Kucir saya. Bisa tolong bukain juga? Kepala saya pusing ... saya ngiketnya terlalu erat."


"O-oh. Bisa-bisa." Lutfan mengangkat kepala Mardiyah sedikit, lantas menarik kucir kuda yang memang benar-benar erat. "Gue tarik, ya? Kalau sakit bilang."


"Iya."


Kucir terlepas.


Lutfan masih terduduk memandangi penampilan Mardiyah sekarang. Kiranya sudah berapa tahun ia tidak pernah melihat surai indah milik Mardiyah? Ia ingat terakhir dulu saat usia Mardiyah tujuh tahun. Sedangkan dirinya empat tahun. Sebenarnya ia hanya ingat samar-samar, namun saat melihat langsung, ingatannya seakan pulih.


"Haaaa." Mardiyah tidak lagi memegangi perutnya. Netra indah dengan bulu mata panjang yang lentik itu terbuka perlahan. "Saya ... makasih, Lutfan."


Mardiyah merubah posisinya dengan duduk.


"Tidur, Mar."


Mardiyah menggeleng. "Saya mau minum."


"Sorry." Lutfan tertunduk. "Gue nggak bisa ambilin."


Tangan Mardiyah terangkat, menyentuh pipi kiri Lutfan. "Enggak pa-pa. Saya bisa ambil sendiri. Makasih atas bantuannya tadi."


Mardiyah turun dari ranjang, surai cokelatnya ikut terayun seiring bergerak tubuhnya. Ia sendiri tidak tahu gen siapa rambut indah ini. Apakah milik Ibunya? Sebab sepertinya, setiap orang yang melihat pasti akan takjub seperti Kak Devina, Regita dan juga Natasha Jayantaka.


Dia bener-bener cantik kalau nggak pakai kerudung gini, batin Lutfan tadi yang terus menerus memandangi pergerakan Mardiyah.


Air mineral yang berada di meja dekat pintu di ambil oleh Mardiyah. Kemudian ia kembali duduk di ranjang, meneguk perlahan air itu.


"Kamu mau minum?"


Lutfan menggeleng. "Enggak."


"Kamu ngapain lihatin saya terus?"


Lutfan membuang muka. "A-apaan? Jangan ge-er lo!"


"Enggak juga. Faktanya kamu emang lihatin saya."


Pipi Lutfan memerah, ia memundurkan diri merebahkan tubuhnya perlahan tanpa menatap Mardiyah lagi. "Gue mau tidur. Lo istirahat juga sana. Tidur."


"Iya."


...🌺...

__ADS_1


Regita


Mardiyah, tadi siang saya lihat kamu di parkiran Adiwangsa hospital


Siapa yang sakit?


Mardiyah tidak pernah terkejut, memang di kota seluas apa pun. Namun jika satu area, ia pasti akan bertemu dengan orang-orang yang di kenalnya dahulu.


^^^Suami saya, Gita^^^


Regita


Suamimu?


Suamimu sakit, Mar?


^^^Kecelakaan, Gita^^^


^^^Tapi syukur alhamdulilah baik-baik saja^^^


Regita


Ya ampun


Kamu kok nggak kasih tahu sih


Kan aku sama Kak Dev bisa jenguk ke sana


^^^Suami saya sudah membaik, Git^^^


^^^Ohiya, gimana persiapan pernikahanmu sama Regan?^^^


Regita


Do'ain ya Mar


^^^Iya pasti saya do'ain^^^


Gawai miliknya di letakkan kembali di atas meja. Sekarang sudah memasuki waktu magrib. Lutfan bilang ingin salat bersama di Mushola panti asuhan, bersama yang lainnya.


Entah mengapa ... lelaki yang menjadi suaminya ini terasa memiliki sedikit saja kesedihan. Padahal jelas Lutfan menerima cobaan ini, kakinya harus lumpuh. Bahkan Mardiyah tidak tahu akan pulih atau pun tidak. Mimik wajah yang selalu dipasang Lutfan hanya senyum, tawa dan kesal terkadang-kadang pun marah. Namun yang jarang adalah kesedihan, Mardiyah tidak pernah mengharapkan itu dari Lutfan. Tetapi ia ingin tahu, dinding setinggi dan sekuat apa yang Lutfan bangun? Sampai-sampai ia sendiri tidak bisa mengerti, sisi terlemah Lutfan itu seperti apa?


Namun jikalau suatu saat Lutfan merasa lemah dan membutuhkan dirinya. Mardiyah hanya berharap penawar luka itu adalah pelukan juga, seperti semasa kecilnya dulu.


"Abian udah dateng. Gue berangkat," ujar Lutfan.


Mardiyah tersenyum tipis menyambut Abian, adik panti asuhan yang seumuran dengan Inayah dan Kirana. "Abian, jagain Mas Lutfan, ya? Nanti kalau udah pulang dari sholat isya, Kak Mar kasih hadiah buat kamu."


"Iya, Kak Mar. Pokoknya Mas Lutfan kalau sama aku pasti aman. Buktinya Kirana sama Inayah kalau sama aku aman terus Kak Mar," jawab Abian.


"Alhamdulillah. Kalau gitu hati-hati. Bisa dorongnya, kan?"


Abian mengangguk-angguk. "Bisa, Kak Mar. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Sekitar lima menit Lutfan dan Abian pergi. Tiba-tiba saja Inayah menghampiri rumah Umma Sarah, mengetuk-ngetuk pintu.


"Ada apa, Nay?"


"I-itu, Kak Mar. Kakak di suruh ke kantor panti asuhan sama Umma," jelas Inayah.


"Iya, habis ini Kakak ke sana. Kamu cepet-cepet ke Mushola sana udah iqamah ini."

__ADS_1


Mardiyah berlalu ke kamar, sejenak bercermin. Ternyata kerudungnya tak rapi, dan sedikit berantakan di bagian dada tidak tertutup sempurna. Setelah usai Mardiyah cepat-cepat menuju kantor, sebab tidak biasanya Umma Sarah yang telah menjadi mertuanya sekarang, meminta berbicara di kantor.


"Assalamualaikum."


Umma Sarah terlihat duduk sendiri di sofa abu-abu. Mengapa beliau di sana? Bahkan sudah memasuki iqamah. "Waalaikumussalam. Masuk, Nak."


"Umma, ada apa?"


Seulas senyuman Umma Sarah tampakkan, tangan beliau melambai meminta sang menantu mendekat, dan duduk tepat di samping. "Ada yang mau bertemu."


"Siapa?"


"Ada. Orang."


Mardiyah mengangguk. "Umma lagi nggak sholat?"


"Iya nih, Umma. Libur. Barusan tadi Umma cek bocor."


Mardiyah menghela napas, menatap sekeliling kantor panti asuhan. "Umma ... siapa yang mau bertemu Mardiyah?"


"Orangnya lagi magriban, Nak. Tunggu sebentar saja."


Waktu berlalu. Setelah menunggu sekitar dua puluh lima menit, terdengar langkah kaki yang mendekat dari arah luar. Sepertinya dua orang.


Saat Mardiyah menatap lurus, menunggu siapa yang akan masuk. Tangan kanannya di genggam erat oleh Umma Sarah seperti menyambut sesuatu hal yang mendebarkan.


"Assalamualaikum."


Pak Gautama? Dokter Gumira? batin Mardiyah yang benar-benar tidak menyangka keturunan Adiwangsa mengunjungi panti asuhan secepat ini? Padahal baru saja kemarin malam dan tadi pagi berbincang tentang panti. Namun secepat ini pula keduanya berkunjung.


"Waalaikumussalam."


Bapak Gautama selalu menatap aneh. Mardiyah menyadari itu, entah tatapan sendu, sedih, semua sulit di deskripsikan, tapi ia memahami tatapan dalam sang Adiwangsa. Jadi maksud Umma Sarah yang ingin bertemu adalah beliau-beliau?


"Nak Mardiyah, bagaimana kabarmu?" ucap Dokter Gumira yang mengambil duduk bersebrangan di susul oleh Bapak Gautama juga.


Tanpa senyum lebih ke arah bingung. Mardiyah menjawab, "Saya baik."


"Syukurlah."


Umma Sarah masih menggenggam tangannya. Sehingga ia menengok. "Umma, jadi Pak Gautama sama Dokter Gumira yang mau bertemu sama Mardiyah?"


"Iya, Nak."


Mardiyah menatap tepat pada keempat netra secara bergantian. "Ada keperluan apa Pak Gautama dan Dokter Gumira dengan saya?"


"Mardiyah ..." Ucapan Dokter Gumira tertahan saat tangan beliau di sentuh oleh Bapak Gautama. Seperti mengisyaratkan untuk diam, supaya beliau saja yang berbicara.


"Nak ... siapa nama Ibumu?"


Mardiyah tidak suka bila pertanyaan merujuk pada hal-hal pribadi. "Kenapa saya harus menjawab pertanyaan Bapak?"


"Saya hanya ingin memastikan."


Netra Mardiyah memandang datar. "Saya tidak mau menjawab. Lagi pula apa yang perlu Bapak Gautama pastikan? Ini panti asuhan, Pak. Apa kepentingan keluarga Adiwangsa selain memberi sumbangan? Apa berniat mengusir?"


"Tolong jangan pernah berpikir seperti itu."


"Lalu?"


Terdengar helaan napas dari Bapak Gautama. "Saya ... hanya perlu memastikan. Apa kamu bener-bener darah daging Zanitha?"


Za-zanitha? I-ibu? Maksud Pak Gautama Ibuku?

__ADS_1


__ADS_2