
Tiga hari berlalu.
Yang datang mengabarkan hasil test DNA adalah Regan. Tetapi dua menit berlalu datanglah Dokter Gumira, Bapak Gautama dan juga Bapak Manggala yang benar-benar tidak Mardiyah sangka-sangka. Hasil test mengatakan bahwa ia adalah darah daging dari Gautama Adiwangsa. Ini akurat. Sehingga entah dari mana Bapak Manggala mengetahui fakta itu, beliau langsung meluncur ke panti asuhan Al-Hikmah.
Sedangkan Mardiyah bersyukur. Sebab Kiai Bashir telah sembuh, beliau pun juga datang untuk berdiri bersamanya. Walaupun beliau tahu bahwa Bapak Manggala adalah teman karibnya.
"Jadi, cucu pertama saya ... bukan Rajendra, ya?" ucap Bapak Manggala.
Mardiyah diam, entah mengapa rasanya ia takut untuk memandang Bapak Manggala, yang selaku Ayah dari Bapak Gautama dan Dokter Gumira.
"Bisa dibilang seperti itu, Manggala," jawab Kiai Bashir.
Bapak Manggala menatap putra pertamanya. "Tama, bagaimana bisa kamu memiliki anak di luar pernikahan seperti ini? Dan ... siapa Ibunya? Sekertarismu itu? OKB itu 'kan? Yang mentah-mentah menolak lamaranmu, dan bagaimana bisa tiba-tiba mengandung anakmu?"
"Papa. Maafkan, Tama," ujar Bapak Gautama.
Terlihat Bapak Manggala menggeleng. "Enggak-enggak. Papa nggak menyuruhmu meminta maaf lho, Tama. Papa suruh kamu jawab pertanyaannya Papa. Jadi rumor itu benar? Yang menggoda siapa? Perempuan itu 'kan pasti?"
__ADS_1
Kenapa aku harus memiliki darah yang sama dari orang-orang seperti mereka? batin Mardiyah yang benar-benar ingin menyanggah segala ucapan dari Bapak Manggala. Namun ia teringat, bahwa semua akan diselesaikan secara baik-baik oleh Kiai Bashir, tanpa membuat hubungan baik dari kedua keluarga ini retak.
"Pa, Tama rasa papa tahu seperti apa anak Papa ini. Tanpa harus Tama bicara," ujar Bapak Gautama.
Bapak Manggala mengangguk-angguk. "Jelas. Kamu yang memulai duluan. Papa sudah paham bahwa kamu itu terpesona sekali dengan perempuan bernama Zanitha-zanitha itu."
"Dan jika Papa lihat-lihat. Anak ini ... mirip sekali 'kan? Dengan sekertarismu itu." Bapak Manggala menatapinya dari atas dan bawah seakan-akan menilainya. "Cantik. Matanya saja yang mirip denganmu."
"Manggala, tidak perlu meributkan sesuatu yang sudah jelas," sahut Kiai Bashir.
Bapak Manggala menatap Kiai Bashir. "Bagian mana yang sudah jelas, Bashir?"
"Saya berencana menerima dia, Bashir." Tangan Bapak Manggala terangkat, mengayun meminta Mardiyah mendekat. "Mardiyah, ya namamu? Dekat sini dengan Kakek, Nak."
Seluruh mata di ruangan memandang pada Mardiyah yang sama sekali tidak bergerak. Hanya menatap pada Bapak Manggala, tanpa berniat menuruti ucapan sang Kakeknya.
"Kamu takut? Padahal Kakek hanya ingin memelukmu saja," ujar Bapak Manggala, lantas pandangan beliau mengarah pada anak keduanya. "Gumira, menurutmu bagaimana perasaan istrimu saat tahu bahwa suaminya memilik anak dari perempuan lain?"
"Pa, kita sedang membicarakan sesuatu yang penting---"
__ADS_1
Bapak Manggala menyanggah, "Justru karena ini sesuatu yang penting. Makanya Papa membutuhkan jawabanmu. Apa susahnya kamu menjawab?"
"Manggala, kamu ingin penyelesaian yang bagaimana untuk masalah ini? Dan tolong jangan memperpanjang semuanya," sahut Kiai Bashir.
Bapak Manggala terlihat menyandarkan punggung. Lelaki paruh baya ini masih terlihat tegap dan gagah, walau surainya telah memutih dan bagian tangannya sedikit keriput. "Saya ingin membawa Mardiyah. Saya akan mengganti namanya. Saya juga ingin cucu saya bercerai dengan cucumu, Bashir."
Deg.
Spontan Mardiyah meremas gamis. Lutfan tidak ada di sini, tapi ia yakin suaminya itu pasti mendengar. "Apa maksud Bapak?"
"Akhirnya, kamu bicara. Dan cucuku ... jangan panggil Kakek dengan sebutan Bapak," ujar Bapak Manggala dengan beralih menatap Kiai Bashir lagi. "Bashir, jika saja cucumu tidak lumpuh. Saya benar-benar berbangga hati memiliki cucu-mantu dari turunan ulama. Namun sayangnya ... cucumu itu lumpuh. Dia hanya akan menjadi beban untuk cucu saya nanti."
Kiai Bashir hendak bicara.
"Dan lagi pula, Bashir. Pernikahan baru berjalan lima hari 'kan?" Bapak Manggala menatap Mardiyah sejenak. "Saya yakin, cucumu belum sama sekali menyentuh Mardiyah. Maksud saya ... berhubung layaknya suami istri. Jadi, tidak ada salahnya jika saya ingin mengakhiri pernikahan yang sangat merugikan cucu saya di masa depan, 'kan?"
Note:
OKB : Orang kaya baru.
__ADS_1